BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Pendidikan adalah upaya
yang terorganisasi, berencana dan berlangsung secara terus menerus sepanjang
hayat untuk membina anak didik menjadi manusia paripurna, dewasa, dan
berbudaya. Untuk mencapai pembinaan ini asas pendidikan harus berorientasi pada
pengembangan seluruh aspek potensi anak didik, diantaranya aspek kognitif,
afektif, dan berimplikasi pada aspek psikomotorik. Proses Pendidikan adalah
interaksi aktif antara masuka sarana, terutama pendidik dengan masukan mentah,
dan berwujud dalam proses pembelajaran. Pihak Pendidik atau pembimbing,
berperan untuk membantu peserta didik melakukan belajar yang berdaya guna dan
berhasil guna, sedangkan pihak peserta didik melakukan kegiatan belajar.
Bagi peserta didik,
belajar merupakan sebuah proses interaksi antara berbagai potensi diri siswa
(fisik, nonfisik, emosi, dan intelektual), interaksi siswa dengan guru, siswa
dengan siswa lainnya, serta lingkungan dengan konsep dan fakta, interaksi dari
berbagai stimulus dengan berbagai respons terarah untuk melahirkan perubahan.
Untuk mengembangkan potensi siswa perlu diterapkan sebuah model pembelajaran
inovatif dan konstruktif. Dalam mempersiapkan pembelajaran, para pendidik harus
memahami karakteristik materi pelajaran, para pendidik harus memahami
karakteristik materi pelajaran, karakteristik murid atau peserta didik, serta
memahami metodologi pembelajaran sehingga proses pembelajaran akan lebih
variatif, inovatif, dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan
dan implementasinya sehingga akan meningkatkan aktivitas dan kreativitas
peserta didik. Secara formal dan
institusional, sekolah dasar masuk pada kategori pendidikan dasar. Pendidikan
dasar menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 Pasal
17 ayat 1 dan 2 merupakan jenjang pendidikan yang dilandasi jenjang menengah,
pendidikan dasar berbentuk sekolah dasar dan madrasah ibtidaiyah atau bentuk
lain yang sederajat serta sekolah menengah pertama dan madrasah tsanawiyah atau
bentuk lain yang sederajat. Dengan demikian, sekolah dasar atau pendidikan
dasar tidak semata-mata membekali anak didik berupa kemampuan membaca, menulis
dan berhitung semata, tetapi harus mengembangkan manusia yang beriman dan
bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriman, cakap,
kreatif , mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung
jawab.
Dunia
anak adalah dunia nyata dan tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai
dari tahap berfikir nyata dalam kehidupan sehari-hari yang memandang objek yang
ada di sekelilingnya secara utuh. Untuk itu pembelajaran hendaknya dari
lingkungan terdekat, yaitu mulai dari diri sendiri kemudian dikembangkan kepada
keluarga dan sekolah.Masa usia sekolah dasar adalah masa kanak-kanak akhir yang
berlangsung dari usia enam hingga kira-kira usia sebelas atau dua belas tahun.
Sesuai dengan karakteristik \anak usia sekolah dasar yang suka bermain,
memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah terpengaruh oleh lingkungan, dan
gemar membentuk kelompok sebaya. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah dasar
diusahakan untuk tercipatanya suasana yang kondusif dan menyenangkan. Untuk
itu, guru perlu memerhatikan beberapa prinsip pembelajaran yang diperlukan agar
tercipta suasana yang kondusif dan menyenangkan tersebut, yaitu : prinsip
motivasi, latar belakang, pemusatan perhatian, keterpaduan, pemecahan masalah,
menemukan, belajar sambil bekerja, belajar sambil bermain, perbedaan individu,
dan hubungan sosial.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian dari pembelajaran ?
2. Apa
perbedaan antara pengajaran dengan pembelajaran ?
3. Bagaimana
guru untuk mempersiapkan pembelajaran di sekolah dasar ?
4. Bagaimana
peran guru dalam pembelajaran di sekolah dasar ?
5. Bagaimana
karakteristik siswa sekolah dasar ?
C.
Tujuan
Makalah
ini disusun untuk mengetahui materi Pembelajaran beserta
Karakteristik Siswa Sekolah Dasar. Selain itu, makalah ini juga disusun untuk
memenuhi salah satu tugas mata kuliah
Strategi Pembelajaran SD.
BAB
II
KAJIAN
TEORI
A. Teori-Teori
Pembelajaran
Salah satu kebutuhan vital
bagi manusia dalam usaha mengembangkan diri serta mempertahankan eksistensinya
adalah belajar sepanjang hayatnya. Tanpa belajar, manusia akan mengalami
kesulitan baik dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan maupun dalam memenuhi
tuntutan hidup dan kehidupan selalu berubah.
Belajar sebagai salah satu
bentuk aktiviitas manusia telah dipelajari oleh para ahli sejak lama. Berbagai
upaya untuk menjelaskan prinsip-prinsip belajar telah melahirkan teori belajar.
Beberapa teori dikemukakan dibawah ini sebagai berikut.
1.
Teori Koneksionisme
Teori ini di pelopori oleh
Thorndike dan kemudian di kembangkan oleh pakar-pakar lainnya. Teori
koneksionisme menjelaskan bahwa kegiatan belajar, baik dalam kehidupan hewan
maupun dalam kehidupan manusia, berlangsung menurut prinsip yang sama yaitu
melalui proses pembentukan asosiasi antara kesan panca indera dengan perbuatan.
Proses belajar berlagsung sesuai dengan hukum kesiapan, hukum latihan dan hukum
efek. Hukum kesiapan (Law Of Readiness) menjelaskan bahwa kegiatan belajar
dapat berlangsung secara efektif dan efisien apabila peserta diidik telah
memiliki kesiapan belajar. Hukum ini menjelaskan baahwa materi belajar
hendaknya sesuai dengan kebutuhan belajar dan sesuai dengan cara-cara belajar
yang dimiliki peserta didik, sehingga kegiatan belajar dapat menimbulkan
kepuasan terhadap peserta didik. Hukum latihan atau (Law Of Exercises) menyatakan
bahwa koneksi antara kondisi dan tindakan dalam belajar akan menjadi kuat
karena adaanya latihan penggunaaan sesuatu yang dipelajari. Hukum ini
memberikan pembenaran terhadap pentingnya peserta diidik untuk selalu
mengulangi materi yang di pelajari. Hukum efek atau Law Of effects menyatakan
bahwa kegiatan belajar yang memberikan hasil menyenangkan kepada peserta didik,
serta pujian dan hadiah cenderung kegitan itu akan diulangi dan dikembangkan
oleh peserta didiik. Dengan demikian maka kesiapan, latihan dan pengaruh
merupakan hukum-hukum yang harus diperhatikan dalam kegiatan pembelajaran.
2.
Teori Conditioning
Mula-mula teori ini
dipelopori oleh Ivan Vavlov (1927), kemudian dikembangkan oleh Watson (1970).
Menurut teori ini belajar adalah suatu proses yang disebabkan oleh adanya
syarat tertentu yaitu berupa rangsangan. Pengkondisian dalam bentuk rangsangan
dan pembiasaan mereaksi terhadap perangsang tertentu menimbulakan proses
belajar. Guthrie memanfaatkan teori conditioning dalam meneukan cara mengubah
kebiasaan yang kurang baik. tingkah laku manusia merupakan rangkaian unit
tingkah laku yang saling memberikan respon terhadap rangsangan yang timbul dari
masing-masing unt tingkah laku. Dalma proses conditioning akan terjadi asosiasi
antara unit-unit tingkah laku yang berurutan. Melalui latihan berulangkali maka
terjadilah penguasaan proses asosiasi.
3.
Teori Gestalt
Istilah gestalt berarti
bentuk (shaper). Menurut Wertheimer (1945), peserta didik tidak menangkap
bagian-bagian suatu gejala, melainkan menerimanya secara keseluruhan.
Penelitian Max Wertheimer merekomendasikan hukum pragmanz, hukum kesamaan,
hukum keterdekatan, hukum kontinuasi dan hukum ketertutupan. Menurut hukum
pragmanz, pengamatan terhadap suatu objek akan dikaitkan dengan suatu yang
berarti ditinjau dari segi susunan, bentuk, ukuran, ataupun warna. Menurut
hukum kesamaan atau law of similiarty, orang cenderung mengelompokkan gejala
berdasarkan kesamaan, bukan dengan perbedaan-perbedaan. Menurut hukum
keterdekatan atau law of proximility, oran cenderung mengelompokkan gejala
berdasarkan kedekatannya disbanding dengan kerenggangannya. Menurut hukum kemiripan
atau law of similiarty adalah orang cenderung mengelompokkan gejala menurut
kemiripan antara satu dengan yang lainnya, bukan dari yang saling berjauhan.
Menurut hukum komunitas atau law of continuation, objek biasanya diamati dengan
pola atau bentuk dalam totalitas secara keseluruhan. Sedangkan menurut hukum
ketertutupan atau law of closure, dalam pengamatan itu terdapat kecenderungan
untuk melengkapi yang kurang sehingga keseluruhannya ditangkap secara utuh.
Menurut teori gestalt, inti belajar adalah wawasan (insighate). Dalam wawasan
tersebut, kelima hukum tersebut yaitu pragmanz, kesamaan, keterdekatan,
kontinuasi, dan ketertutupan, saling berkaitan antara satu dengan yang lainnya.
4.
Teori Medan
Teori medan dikembangkan
oleh Kurt Lewin. Lewin mengemukakan bahwa dalam setiap situasi terdapat
kekuatan pendorong (driving forces) dan kekuatan penghambat (restraining force)
yang mempengaruhi perubahan tingkah laku. Lewin mengidentifikasi tiga fase
proses perubahan tingkah laku, yaitu pencairan (unfreezing), pengubahan
(changing), dan pemantapan (refreezing). Tujuan fase pencairan adalah untuk
memotivasi seseorang atau kelompok agar siap mengahadapkan peubahan. Dalam fase
pencairan ini, empat hal berikut perlu diupayakan yaitu : 1) membantu untuk
mengeluarkan orang-orang yang sedang diubah perilakunya dari tempat tinggalnya
yang diliputi kebiasaan, sumber informasi, dan hubungan sosial yang
tradisional; 2) mengurangi atau menghentikan dukungan sosial terhadap perilaku
yang “menghambat” perubahan; 3) mengurangi makna pengalaman mereka yang sedang
diubah dengan menunjukkan tingkah lakunya yang tidak bermanfaat dan karenanya
tingkah laku itu perlu diubah; 4) menghubungkan penghargaan dengan keinginan
untuk berubah dan hukuman dengan keengganan untuk berubah.
Teori-teori lain yang sangat
mendukung tentang pentingnya pembelajaran terpadu ini yaitu teori-teroi tentang
perkembanga jean piaget, teori konstruktivisme, teori vigotsky, teori bandura,
teori brunner. Kelima teori ini dapat dijelaskan sebagai berikut ini.
1.
Teori Perkembangan Jean Piaget
Jean piaget menyatakan bahwa
seorang anak maju melalui empat tahap perkembangan kognitif sejk lahir hingga
dewasa, yaitu : tahap sensori motor, pra-operasional, operasi konkret, dan
operasi formal. Kecepatan perkembangan tiap individu melalui urutan tiap tahap
ini berbeda dan tidak ada individu yang melompati salah satu tahap ini.
2.
Teori Belajar Konstruktivisme
Teori konstruktivisme
menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan informasi
kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama, dan merevisinya
apakah aturan-aturan itu tidak sesuai lagi. Menurut teori ini, satu hal yang
paling penting dalam psikologi pendidikan adalah bahwa guru tidak hanya sekedar
memberikan pengetahuan kepada siswa. Pendekatan konstruktvisme dalam
pembelajaran menerapkan pembelajaran kooperatif secara intensif, atas dasar
teori bahwa siswa akan lebih mudah menemukan dan memahami konsep-konsep yang
sulit apabila mereka dapat saling mendiskusikan maalah-masalah itu dengan
temannya.
3.
Teori Vigotsky
Vigotsky mengatakan bahwa
pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas
yang belum dipelajari namun tuga-tugas itu masih berada dalam jangkauan
kemampuannya, atau tugas-tugas tersebut berada dalam zone proximal development
(Trianto : 2007).
4.
Teori Bandura
Menurut Bandura bahwa
sebagian besar manusia belajar melalui penamatan secara selektif dan mengingat
tingkah laku oprang lain. Seseorang belajar menurut teori ini dilakukan dengan
mengamati tingkah laku orang lain (model), hasil pengamatan ini kemudian
dimantapkan dengan cara menghubungan pengalaman baru dengan penagalaman
sebelumnya atau mengulang-ulang kembali.
5.
Teori Brunner
Jerome Brunner, seorang ahli
psikologi Harvad adalah salah seorang pelopor pengembangan kurikulum terutama
dengan teori yang dikenal dengan pembelajaran penemuan (inquiry). Menurut
Brunner, belajar akan lebih bermakna bagi siswa jika mereke memusatkan
perhatian untuk memahami struktur materi yang dipelajarinya. Untuk mempelajari
struktur informasi, siswa harus aktif , dimana siswa harus mengidentifikasi
sendiri prinsip-prinsip kunci dari pada hanya sekedar menerima penjelasan dari
guru. Oleh Karena itu, guru harus memcahkan masalah yang mendorong siswa untuk
melakukan kegiatan penemuan.
Berdasarkan teori yang mendasarinya yaitu teori
psikologi dan teori belajar maka teri pembelajaran ini dapat dibedakan kedalam
lima kelompok, yaitu :
a.
Pendekatan Modifikasi Tingkah Laku
Teori pembelajaran ini
menganjurkan agar para guru menerapkan prnsip penguatan (reinforcement) untuk
mengidentifikasi aspek situasi pendidikan yang penting dan mengatur kondisi
sedemikian rupa yang memungkinkan peserta didik dapat mencapai tujuan-tujuan pembelajaran.
b.
Teori Pembelajaran Konstruk Kognitif
Teori ini diturunkan dari prinsip atau teori belajar
kognitivisme. Menurut teori ini prinsip pembelajaran harus memperhatikan
perubahan kondisi internal peserta didik yang terjadi selama pengalaman belajar
diberikan dikelas. Pengalaman belajar yang diberikan oleh peserta didik harus
bersifat penemuan yang memungkinkan peserta didik dapat memperoleh informasi
dan keterampilan baru dari pelajaran sbeleumnya (Brunner, 1990).
c.
Teori Pembelajaran berdasarkan prinsip-prinsip
belajar
Bulgelsky (dalam snelbaker 1974) mengidentifikasi
beberapa puluh prisip pembelajaran kemudian dipadatkan menjadi empat prinsip
dasar yang dapat diterapkan oleh para guru dalam melaksanakan tugas
pembelajaran. Keemapat prinsip dasar tersebut adalah :
a)
Untuk belajar peserta didik harus mempunyai
perhatian dan responsip terhadap materi yang akan dipelajari.
b)
Semua proses belajar memerlukan waktu dan untuk
suatu waktu tertentu hanya dapat dipelajari sejumlah materi yang sangat
terbatas.
c)
Didalam diri peserta didik yang sedang belajar
selalu terdapat suatu alat pengatur internal yang dapat mengontrol motivasi
serta menentukkan sejauhmana dan dalam bentuk apa peserta didik bertindak
dengan suatu situasi tertentu.
d)
Pengetahuan tentang hasil yang diperoleh didalam
proses belajar erupakan faaktor penting sebagai pengontrol.
d.
Teori pembelajaran berdasarkan analisis tugas
Teori pembelaajaran yang
diperoleh dari berbagai penelitian di laboratorium dan ini dapat diterapkan
dalam situasi persekolahan, namun hasil penerapannya tidak selalu memuaskan.
Oleh karena itu, sangat penting untuk mengadakan analisis tugas secara
sistematis mengenai tugas-tugas pengalaman belajar yang akan diberikan kepada
peserta didik, yang kemudian diisusun secara hierarkis dan diurutkaan sedemikan
rupa tergantung tujuan yang ingin dicapai.
e.
Teori pembelajaran berdasakan psikologi humanistis
Teori pembelajaran ini sangat menganggap penting
teori pembelajaran dan psikoterapi dari suatu teori belajar. Prinsip yang harus
diterapkan adalah bahwa guru harus memperhatikan pengalaman emosionalnya dan
karakteristik khusus peserta didik seperti aktualisasi diri peserta didik. Agar
belajar bermakna, inisiatif peserta didik harus dimunculkan, dengan kata lain
peserta didik harus selalu dilibatkan dalam proses pembelajaran. Pembelajaran
yang cocok untuk hal ini adalah dengan pembelajaran eksperimental. (Toeti
soekamto, 1992:47)
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Pembelajaran
Kata Pembelajaran
merupakan perpaduan dari dua aktivitas belajar dan mengajar. Aktivitas belajar
secara metodologis cenderung lebih dominan pada siswa, sementara mengajar secara
instruksional dilakukan oleh guru. Jadi, istilah pembelajaran adalah ringkasan
dari kata belajar dan mengajar. Dengan kata lain, pembelajaran adalah
penyerdehanaan dari kata belajar dan mengajar (BM), proses belajar mengajar
(PBM), atau kegiatan belajar mengajar (KBM).
Kata atau istilah
pembelajaran dan penggunaannya masih tergolong baru, yang mulai populer
semenjak lahirnya Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003. Menurut undang-undang ini,
pembelajaran diartikan sebagai proses interaksi peserta didik dengan pendidik
dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Menurut pengertian ini,
pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar terjadi proses pemerolehan
ilmu dan pengetahuan, penguasaan, kemahiran, dan tabiat, serta pembentukan
sikap dan keyakinan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah
proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik.
Dengan demikian, pembelajaran
adalah seperangkat tindakan yang dirancang untuk mendukung proses belajar
siswa, dengan memperhitungkan kejadian-kejadian ekstrim yang berperanan
terhadap rangkaian kejadian-kejadian intern yang berlangsung dialami siswa
(Winkle, 1991). Sementara Gagne (1985), mendefinisikan pembelajaran sebagai
pengaturan peristiwa secara seksama dengan maksud agar terjadi belajar dan
membuatnya berhasil guna. Dalam pengertian lainnya, Winkle (1991)mendefinisikan
pembelajaran sebagai pengaturan dan penciptaan kondisi-kondisi ekstern
sedemikian rupa, sehingga menunjang proses belajar siswa dan tidak
menghambatnya.
Pengertian pembelajaran
yang dikemukakan oleh Miarso (1993), menyatakan bahwa “pembelajaran adalah
usaha pendidikan yang dilaksanakan secara sengaja, dengan tujuan yang telah
ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan, serta pelaksanaannya terkendali”.
Dari beberapa pengertian
pembelajaran yang telah dikemukakan, maka dapat disimpulkan beberapa ciri
pembelajaran sebagai berikut :
a.
Merupakan
upaya sadar dan disengaja
b.
Pembelajaran
harus membuat siswa belajar
c.
Tujuan
harus ditetapkan terlebih dahulu sebelum proses dilaksanakan.
d.
Pelaksanaannya
terkendali, baik isinya, waktu, proses, maupun hasilnya.
Perbedaan antara istilah “pengajaran” (teaching) dan
“pembelajaran” (instruction) bisa diamati pada tabel di bawah ini.
|
No
|
Pengajaran
|
Pembelajaran
|
|
1.
2.
3.
4.
|
Dilaksanakan oleh mereka yang berprofesi sebagai
pengajar.
Tujuannya menyampaikan informasi kepada si
belajar.
Merupakan salah satu penerapan strategi
pembelajaran.
Kegiatan belajar berlangsung bila ada guru atau
pengajar
|
Dilaksanakan oleh mereka yang dapat membuat
orang belajar.
Tujuannya agar terjadi belajar pada diri siswa
atau si belajar.
Merupakan cara untuk mengembangkan rencana yang
terorganisir untuk keperluan belajar.
Kegiatan belajar dapat berlangsung dengan atau
tanpa hadirnya guru.
|
B.
Prinsip-prinsip
Pembelajaran
Dalam melaksanakan
pembelajaran, agar dicapai hasil yang lebih optimal perlu diperhatikan beberapa
prinsip pembelajaran. Prinsip pembelajaran dibangun atas dasar prinsip-prinsip
yang ditarik dari teori psikologi terutama teori belajar dan hasil-hasil
penelitian dalam proses pengembangan pembelajaran dan pelaksanaan pembelajaran
akan diperoleh hasil yang lebih optimal. Selain itu akan meningkatkan kualitas
pembelajaran dengan cara memberikan dasar-dasar teori untuk membangun sistem
instruksional yang berkualitas tinggi.
Beberapa prinsip
pembelajaran dikemukakan oleh Atwi Suparman dengan mengadaptasi pemikiran
Fillbeck (1974), sebagai berikut.
a. Respons-respons
baru (new responses) diulang sebagai akibat dari respons yang terjadi sebelumnya.
b. Perilaku
tidak hanya dikontrol oleh akibat dari respons, tetapi juga dibawah pengaruh
kondisi atau tanda-tanda di lingkungan siswa.
c. Perilaku
yang ditimbulkan oleh tanda-tanda tertentu akan hilang atau berkurang
frekuensinya bila tidak diperkuat dengan akibat yang menyenangkan.
d. Belajar
yang berbentuk respons terhadap tanda-tanda yang terbatas akan ditransfer
kepada situasi lain yang terbatas pula.
e. Belajar
menggeneralisasikandan membedakan adalah dasar untuk belajar sesuatu yang
kompleks seperti yang berkenaan dengan pemecahan masalah.
f. Situasi
mental siswa untuk mengahadapi pelajaran aan mempengaruhi perhatian dan
ketekunan siswa selama proses siswa belajar.
g. Kegiatan
belajar yang dibagi menjadi langkah-langkah kecil dan disertai umpan balik
menyelesaikan tiap langkah, akan membantu siswa.
h. Kebutuhan
memecah materi yang kompleks menjadi kegiatan-kegiatan kecil dapat dikurangi
dengan mewujudkannya dalam suatu model.
i. Keterampilan
tingkat tinggi (kompleks) terbentuk dari keterampilan dasar yang lebih sederhana.
j. Belajar
akan lebih cepat, efisien dan menyenangkan bila siswa diberi informasi tentang
kualitas penampilannya dan cara meningkatkannya.
k. Perkembangan
dan kecepatan belajar siswa sangat bervariasi, ada yang maju dengan cepat ada
yang lebih lambat.
l. Dengan
persiapan, siswa dapat mengembangkan kemampuan mengorganisasikan kegiatan
belajarnya sendiri dan menimbulkan umpan balik bagi dirinya untuk membuat
respons yang benar.
Melihat ke-12
prinsip pembelajaran yang telah diuraikan, maka dapat disimpulkan bahwa
penerapan pinsip-prinsip tersebut dalam pembelajaran merupakan pekerjaan yang
kompleks, namun bila dilakukan dengan saksama diharapkan dapat tercipta
kegiatan pembelajaran yang efektif dan efisien.
Dalam buku Condition Of Learning (Gagne, 1977) mengemukakan
sembilan prinsip yang dapat dilakukan guru dalam melaksanakan pembelajaran,
sebagai berikut.
a.
Menarik
perhatian (gaining attention) : hal yang menimbulkan minat siswa dengan
mengemukakan sesuatu yang baru, aneh, kontradiksi atau kompleks.
b.
Menyampaikan
tujuan pembelajaran (informing learner of the objectives) : memberitahukan
kemampuan yang harus dikuasai siswa setelah selesai mengikuti pelajaran.
c.
Mengingatkan
konsep atau prinsip yang telah dipelajari (stimulating recall or prior
learning) : merangsang ingatan tentang pengetahuan yang telah dipelajari yang
menjadi prasyarat untuk mempelajari materi yang baru.
d.
Menyampaikan
materi pembelajaran (presenting the stimulas) : menyampaikan materi-materi
pembelajaran yang telah direncanakan.
e.
Memberikan
bimbingan belajar (providing learner guidance) : memberikan
pertanyaan-pertanyaan yang membimbing proses atau alur berpikir siswa agar
memiliki pemahaman yang lebih baik.
f.
Memperoleh
kinerja atau penampilan siswa (eliciting performance) : siswa diminta untuk menunjukkan
apa yang telah dipelajari atau penguasaannya terhadap materi.
g.
Memberikan
umpan balik (assessing feedback) : memberitahu seberapa jauh ketepatan
performace siswa.
h.
Menilai
hasil belajar (assessing performace) : memberikan tugas atau tes untuk mengetahui seberapa jauh siswa menguasai
tujuan pembelajaran.
i.
Memperkuat
retensi dan transfer belajar belajar (enhancing retention transfer) :
merangsang kemampuan mengingat-ingat dan mentransfer dengan memberikan
rangkuman, mengadakan review atau mempraktikkan apa yang telah dipelajari.
C.
Pembelajaran
Di Sekolah Dasar
Pendidikan
adalah upaya yang terorganisasi, berencana dan berlangsung secara terus menerus
sepanjang hayat untuk membina anak didik menjadi manusia paripurna, dewasa, dan
berbudaya. Untuk mencapai pembinaan ini asas pendidikan harus berorientasi pada
pengembangan seluruh aspek potensi anak didik, diantaranya aspek kognitif,
afektif, dan berimplikasi pada aspek psikomotorik.
Bagi peserta
didik, belajar merupakan sebuah proses interaksi antara berbagai potensi diri
siswa (fisik, nonfisik, emosi, dan intelektual), interaksi siswa dengan guru,
siswa dengan siswa lainnya, serta lingkungan dengan konsep dan fakta, interaksi
dari berbagai stimulus dengan berbagai respons terarah untuk melahirkan perubahan.
Untuk mengembangkan potensi siswa perlu diterapkan sebuah model pembelajaran
inovatif dan konstruktif. Dalam mempersiapkan pembelajaran, para pendidik harus
memahami karakteristik materi pelajaran, para pendidik harus memahami
karakteristik materi pelajaran, karakteristik murid atau peserta didik, serta
memahami metodologi pembelajaran sehingga proses pembelajaran akan lebih
variatif, inovatif, dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan
dan implementasinya sehingga akan meningkatkan aktivitas dan kreativitas
peserta didik.
Sehubungan
dengan hal diatas, ada beberapa hal lain yang perlu diperhatikan, berkenaan
dengan upaya mewujudkan proses pembelajaran yang variatif, inovatif, dan
konstruktif, yaitu : a) situasi kelas yang dapat merangsang anak melakukan
kegiatan belajar secara bebas; b) peran guru sebagai pengarah dalam belajar; c)
guru berperan sebagai penyedia fasilitas; d) guru berperan sebagai pendorong;
dan e) guru berperan sebagai penilai proses dan hasil belajar anak.
D.
Prinsip-Prinsip
Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Masa usia sekolah dasar
adalah masa kanak-kanak akhir yang berlangsung dari usia enam hingga kira-kira
usia sebelas atau dua belas tahun. Sesuai dengan karakteristik \anak usia
sekolah dasar yang suka bermain, memiliki rasa ingin tahu yang besar, mudah terpengaruh
oleh lingkungan, dan gemar membentuk kelompok sebaya. Oleh karena itu,
pembelajaran di sekolah dasar diusahakan untuk tercipatanya suasana yang
kondusif dan menyenangkan. Untuk itu, guru perlu memerhatikan beberapa prinsip
pembelajaran yang diperlukan agar tercipta suasana yang kondusif dan
menyenangkan tersebut, yaitu : prinsip motivasi, latar belakang, pemusatan
perhatian, keterpaduan, pemecahan masalah, menemukan, belajar sambil bekerja,
belajar sambil bermain, perbedaan individu, dan hubungan sosial. Beberapa
prinsip pembelajaran tersebut dapat diuraikan secara singkat, sebagai berikut :
a. Prinsip
Motivasi adalah upaya guru untuk menumbuhkan dorongan belajar, baik dari dalam
diri anak atau dari luar diri anak, sehingga anak belajar seoptimal mungkin
sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
b. Prinsip
latar belakang adalah upaya guru dalam proses belajar mengajar memerhatikan pengetahuan, keterampilan dan
sikap yang telah dimiliki anak agar tidak terjadi pengulangan yang membosankan.
c. Prinsip
pemusatan perhatian adalah usaha untuk memusatkan perhatian anak dengan jalan
mengajukan masalah yang hendak dipecahkan lebih terarah untuk mencapai tujuan
yang hendak dicapai.
d. Prinsip
keterpaduan adalah hal yang terpenting dalam pembelajaran. Oleh karena itu,
guru dalam menyampaikan materi hendaknya mengaitkan suatu pokok bahasan dengan
pokok bahasan lain, atau subpokok bahasan dengan subpokok bahasan lain agar
anak mendapat gambaran keterpaduan dalam proses perolehan hasil belajar.
e. Prinsip
pemecahan masalah adalah situasi belajar yang dihadapkan pada masalah-masalah.
Hal ini dimaksudkan agar anak peka dan juga mendorong mereka untuk mencari,
memilih, dan menentukan pemecahan masalah sesuai dengan kemampuannya.
f. Prinsip
menemukan adalah kegiatan menggali potensi yang dimiliki anak untuk mencari,
mengembangkan hasil perolehannya dalam bentuk fakta dan informasi. Untuk itu
proses belajar mengajar yang mengembangkan potensi anak tidak merasa kebosanan.
g. Prinsip
belajar sambil bekerja, yaitu suatu kegiatan yang dilakukan berdasarkan
pengalaman untuk mengembangkan dan memperoleh pengalam baru. Pengalaman belajar
yang diperoleh melalui bekerja tidaklah mudah dilupaka oleh anak. Dengan
demikian, proses belajar mengajar yang memberikan kesempatan kepada anak untuk
bekerja, berbuat sesuatu akan memupuk kepercayaan diri, gembira, dan puas
karena kemampuannya tersalurkan dengan melihat hasil kerjanya.
h. Prinsip
belajar sambil bermain adalah kegiatan yang dapat menimbulkan suasana
menyenangkan bagi siswa dalam belajar, karena dengan bermain pengetahuan, keterampilan,
sikap, dan daya fantasi anak berkembang. Suasana demikian akan mendorong anak
aktif dalam belajar.
i. Prinsip
perbedaan individu yakni upaya guru dalam proses belajar mengajar yang
memerhatikan perbedaan individu dari tingkat kecerdasan, sifat, dan kebiasaan
atau latar belakang keluarga. Hendaknya guru tidak memperlakukan anak-anak
seolah-olah sama semua.
j. Prinsip
hubungan sosial adalah sosialisasi pada masa anak yang sedang tumbuh yang
banyak dipengaruhi oleh lingkungan sosial. Kegiatan pembelajaran hendaknya
dilakukan secara berkelompok untuk melatih anak menciptakan suasana kerja sama
dan saling menghargai satu sama lainnya.
Hasil
belajar optimal harus dicapai oleh siswa, karena untuk saat ini hasil belajar
dijadikan patokan keberhasilan siswa serta dijadikan tolok ukur tercapai
tidaknya tujuan pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar. Dengan
melihat hasil belajar, maka bisa diukur
ketercapaian Standar Kompetensi (SK), Kompetensi Dasar (KD), serta bisa
dijadikan patokan untuk menentukan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).
E.
Tujuan
Pembelajaran Di Sekolah Dasar
Pendidikan di sekolah dasar bertujuan memberikan bekal
kemampuan dasar baca, tulis hitung, pengetahuan, dan keterampilan dasar yang
bermanfaat bagi siswa sesuai dengan tingkat perkembangan serta mempersiapkan
mereka untuk mengikuti pendidikan di SMP. Terkait dengan tujuan
memberikan bekal kemampuan dasar baca tulis, maka peran pendidikan mampu
memberikan bekal pada kemampuan dasar baca tulis mulai pada tahap keterwacanaan
(dikelas-kelas awal), sampai pada tercapainya kemahirwacanaan (di kelas-kelas
tinggi).
Minat dan kultur
membaca di negara barat bahkan di kawasan Asia Tenggara (ASEAN), seperti ;
Singapura, Thailand, Filipina, Malaysia lebih
baik dibanding dengan negara indonesia. Di indonesia, minat baca
masyarakat masih rendah, yang otomatis berakibat pada sumber daya manusia yang
rendah pula. Padahal, minat itu merupakan kunci utama dalam belajar, termasuk
minat membaca.
Rendahnya minat baca
menjadi problem uatama yang dihadapi bangsa kita. Hal ini terlihat dari
tertinggalnya kualitas SDM kita oleh negara-negara tetangga, dan ini
menunjukkan kualitas pendidikan kita lebih rendahb dibanding mereka . Salah
satunya adalah akibat dari kebiasaan membaca yang sangat rendah dan ini
berakibat fatal kepada kualitas SDM-nya sendiri, sebab kepintaran daya nalar seseorang
salah satu kunci utamanya ditentukan oleh frekuensi dan banyaknya buku yang
dibaca (kultur membaca).
Di sekolah dasar, bagi
pembaca pemula yang dimulai pada kelas 3 dan seterusnya, misalnya penerapan
strategi Directed Reading Thinking Activity (DRTA) dianggap yang paling
efektif. Karena strategi individual dan menekankan pada pengembangan proses
berpikir tinggi. Selain itu, strategi ini melibatkan pemahaman aktif dan
pertukaran gagasan di antara para pembelajar serta sangat efektif dalam
mengarahkan dinamika sosial yang terjadi dalam kelompok pembelajaran.
F.
Peran
Guru Dalam Pembelajaran
Mengingat pentingnya pendidikan dasar sebagai
tonggak awal peningkatan SDM, banyak pihak menarik perhatian bahwa pendidikan
dasar adalah jembatan upaya peningkatan pengembangan SDM untuk dapat
berkompetensi dalam skala regional maupun internasional. Mutu pendidikan yang
baik ditingkat seklah dasar akan menghasilkan ditingkat secara sistematik mutu
pendidikan pada jenjang pendidikan selanjutnya. Oleh karena itu, pada tingkat
sekolah dasar sangat memungkinkan untuk dikembangkan usaha dalam perubahan mutu
pendidikan hal ini dilakukan melalui penataan
kelembagaan, pengelolaan, dan peningkatan mutu pendidikan.
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan
pendidikan merupakan pihak yang sangat berpengaruh dalam proses pembelajaran.
Guru harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada
beberapa hal yang membentuk kewibawaan guru, antara lain penguasaan materi yang
diajarkan, metode mengajar sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan
antar individu baik dengan siswa maupun antar sesame guru dan unsure lain yang
terkait dalam proses pendidikan seperti administrasi, kepala sekolah dan tata
usaha serta masyarakat sekitarnya.
Menurut Solihatin Raharjo
(2007), menyebutkan bahwa dalam pembelajaran disekolaah dasar saat ini, guru
masih menganggap siswa sebagai objek, bukan sebagai subjek dalam pembelajaran,
sehingga guru dalam proses pembelajaran masih mendominasi aktivitas belajar,
salah satu upaya mengatasi permasalahan ini, guru harus mampu merancang model
pembeelajaran yang bermakna bagi siswa. Untuk itu, guru harus kreatif dalam mendesain model pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat berpartisipasi, aktif, kreatif terhadap
materi yang diajarkan. Pentingnya merancang model pembelajaran yang bermakna
ini karena fungsi utama setiap mata pelajaran disekolah dasar, yaitu
mengembangkan pengetahuan, nilai, dan sikap, serta keterampilan sosial siswa.
G.
Karakteristik
Perkembangan Anak Usia Sekolah Dasar
Satu hal yang juga tidak boleh dilupakan oleh guru
atau pendidik di sekolah dasar ini adalah guru hendaknya memahami karakteristik
siswa yang akan diajarnya. Masa usia dini ini merupakan masa yang pendek tetapi
merupakan masa yang sangat penting bagi kehidupan seseorang. Oleh karena itu,
pada masa ini seluruh potensi yang dimiliki anak perlu didorong sehingga akan
berkembang secara optimal. Pertumbuhan dan perkembangan siswa merupakan bagian
pengetahuan yang harus dimiliki oleh guru. Menurut Sumantri, (2005), pentingnya
mempelajari perkembangan peserta didik bagi guru, sebagai berikut :
a. Kita akan memperoleh ekspetasi yang nyata
tentang anak dan remaja.
b. Pengetahuan tentang psikologi
perkembangan anak membantu kita untuk merespons sebagaimana mestinya pada
perilaku tertentu pada seorang anak.
c. Pengetahuan tentang perkembangan anak
akan membantu mengenali berbagai penyimpangan dari perkembangan yang normal.
d. Dengan mempelajari perkembangan anak akan
membantu memahami diri sendiri.
Perkembangan anak meliputi aspek pertumbuhan dan
perkembangan fisik dan mental. Perkembangan mental terdiri dari perkembangan
intelektual, perkembangan bahasa, perkembangan sosial, perkembangan emosi,
perkembangan moral dan perkembangan keagamaan. Fase perkembangan anak, menurut
Santrok dan yussen terdiri dari lima fase, yaitu :
a. Fase Prenatal, saat dalam kandungan dari masa pembuahan sampai dengan
masa kelahiran.
b. Fase bayi, yaitu saat perkembangan yang
berlangsung sejak lahir sampai usia 18 atau 24 bulan
c. Fase kanak-kanak awal, yaitu fase
perkembangan yang berlangsung sejak akhir masa bayi sampai usia lima atau enam
tahun.
d. Fase kanak-kanak tengah atau akhir, yaitu
fase perkembangan yang berlangsung sejak kira-kira umur enam sampai sebelas
tahun.
e. Fase remaja, yaitu masa perkembangan yang
merupakan transisi dari masa kanak-kanak ke masa dewasa awal.
Perkembangan Fisik pada anak sekolah dasar, yang
paling menonjol meliputi perkembanga fisik motorik.
1. Perkembangan fisik motorik
Perkembangan ini biasanya seperti menggerakan tangan untuk menulis
menggambar, mengambil makanan, dan sebagainya.Fase usia sekolah dasar (7-12
tahun) ditandai dengan gerak atau aktivitas motorik yang lincah. Oleh karena
itu usia ini kerupakan masa yang ideal untuk belajar keterampilan yang
berkaitan dengan motorik baik halus maupun kasar.
Motorik halus diantaranya : menulis, menggambar atau melukis, mengetik,
merupa, menjahit, membuat kerajinan dari kertas.Motorik kasar diantaranya baris
berbaris, seni beladiri, senam, berenang, atletik main sepak bola dan sepak
bola.Upaya-upaya sekolah untuk
mempasilitasi perkembangan motorik secara fungsional diantaranya :
a. Sekolah meranncang pelajaran
keterampilan yang bermanfaat bagi perkembangan atau kehidupan anak, seperti
mengetik, menjahit, merupa, atau kerajinan tangan lainnya.
b. Sekolah memberikan pelajaran senam
atau olahraga kepada paara siswa, yang jenisnya disesuaikan dengan usia siswa.
c. Sekolah perlu merekrut guru-guru
yang memiliki keahlian dalam bidang-bidang tersebut diatas.
d. Sekolah menyediakan sarana untuk keberlangsungan
penyelenggaraan pelajaran tersebut seperti alat-alat yang diperlukan dan tempat
atau lapangan olahraga.
Selain
perkembangan intelektualnya, pada anak usia sekolah dasar ini ditandai dengan
karakteristik-karakteristik perkembangan lainnya. Secara umum, karakteristik
perkembangan anak pada kelas awal (kelas 1,2,3) sekolah dasar biasanya
pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan, mereka telah mampu mengontrol
tubuh dan keseimbangannya. Dalam tahap perkembangannya, siswa yang berada pada tahap
periode perkembangan yang berbeda antara kelas awal (Kelas 1-3) dengan kelas
akhir (4-6) dari segala aspek. Menurut Piaget (1950), yang menyatakan bahwa
setiap tahapan perkembangan kognitif tersebut mempunyai karakteristik yang
berbeda secara garis besarnya dikelompokkan kepada empat tahap, yaitu : tahap
sensori motor, tahap pra-operasional, tahap operasional konkret, dan tahap
operasional formal.
1)
Tahap sensori motor (usia 0-2 tahun),
pada tahap ini belum memasuki usia sekolah.
2)
Tahap pra-operasional (usia 2-7 tahun),
pada tahap ini kemampuan skema kognitifnya masih terbatas.
3)
Tahap operasional konkret (usia 7-11
tahun), pada tahap ini peserta didik sudah mulai memahami aspek-aspek kumuatif
materi, misalnya volume dan jumlah, mempunyai kemampuan memahami cara
mengkombinasikan beberapa holongan benda yang bervariasi tingkatannya.
4)
Tahap operasional formal (usia 11-15
tahun), pada tahap ini peserta didik sudah menginjak usia remaja, perkembangan
kognitif peserta didik pada tahap ini telah memiliki kemampuan mengoordinasikan
dua ragam kemampuan kognitif baik secara simultan (serentak) maupun berurutan.
Hubungan antara
perkembangan fisik motorik dengan pembelajaran, yaitu Perkembangan fisik yang normal (tidak
cacat) merupakan salah satu faktor penentu kelancaran proses belajar, baik
dalam bidang pengetahuan, maupun keterampilan. Perkembangan motorik ini sangat
mendasar bagi belajar keterampilan. Oleh karena itu, kematangan dalam
perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan belajar peserta didik. Pada
masa usia sekolah dasar, kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya telah
dicapainya, oleh karena itu mereka sudah siap menerima pelajaran keterampilan.
Untuk
memfasilitasi perkembangan motorik atau keterampilan ini, maka sekolah perlu
menyiapkan guru khusus untuk mengajar olahraga atau kesenian (melukis, menari,
membatik, atau yang lainnya), berikut sarana dan prasarananya, seperti lapangan
untuk fasilitas olahraga, serta fasilitas kesenian.
Perkembangan
mental pada anak sekolah dasar yang paling menonjol sebagaimana dikemukakan di
atas, meliputi perkembangan intelektual, perkembangan bahasa, perkembangan
sosial, perkembangan emosi, perkembangan moral, dan perkembangan keagamaan,
yang secara terperinci dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Perkembangan Intelektual
Pada usia sekolah dasar (usia 6-12 tahun) anak
sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual, atau melaksanakan tugas-tugas
belajar yang menuntut kemampuan intelektua atau kemampuan kognitif, seperti
membaca, menulis, dan menghitung. Dilihat dari aspek perkembangan kognitif, menurut piaget masa ini
berada pada tahap operasi konkret, yang ditandai dengan kemampuan (1)
mengklasifikasikan benda-benda berdasarkan ciri yang sama; (2) menyusun atau
mengasosiasikan angka-angka atau bilangan; (3) memecahkan masalah yang
sederhana.
Upaya untuk mengembangakan daya nalarnya atau kreativitas anak, maka
perlu diberi peluang-peluang untuk bertanya, berpendapat, menilai, tentang
berbagai hal yang terkait dengan pelajaran atau yang terjadi di
lingkungan.Adapun upaya yang dapat dilakukan disekolah adalah dengan
menyelenggarakan kegiatan-kegiatan seperti perlombaan, cerdas cermat.
2. Perkembangan bahasa
Bahasa adalah sarana berkomunikasi
dengan orang lain. Melalui bahasa, setiap manusia dapat mengenal dirinya,
sesama, alam sekitar, ilmu pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Menurut Syamsu Yusu (2007 : 138), perkembangan bahasa mencakup semua cara untuk
berkomunikasi, dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan,
lisan, isyarat, atau gerak dengan menggunakan kata-kata, kalimat bunyi,
lambang, gambar atau lukisan.
Pada masa usia sekolah dasar anak sudah menguasai sekitar 2500 kata dan
masa akhir (kira-kira usia 11-12 tahun) anak telah menguasai sekitar 50.000
kata ( Abin samsyuddin M, 2001 dan Nana Syaodih. S.1990).
Dengan diberikannya bahasa disekolah, para siswa diharapkan dapaat
menguasai dan menggunakannya sebagai alat untuk (1) berkomunikasi ecara baik
dengan orang lain ; (2) mengekspresikan pikiran , perasaan, sikap, dan
pendapatnya. (3) memahami isi dari setiap bahan bacaan yang dibacanya. Untuk
mengembangkannya anak dilatihkan untuk membuat karangan atau tulisan tentang
berbagai hal dengan pengalaman hidup sendiri. Seperti menyusun autobiografi,
kehidupan keluarga, lingkungan, cita-cita . Hubungan Perkembangan bahasa dengan
pembelajaran yaitu terdapat dua faktor penting yang mempengaruhi perkembangan
bahasa yaitu :
a.
Proses jadi matang, dengan perkataan lain anak itu
menjadi matang atau organ-organ suara/bicara sudah berfungsi untuk berkata-kata.
b.
Proses belajar yang berarti bahwa anak telah matang
untuk berbicara dapat mempelajari bahasa yang lain dengan cara engikuti atau
meniru ucapan atau kata-kata yang didengarnya.
Disekolah diberikan pelajara bahasa dengan sengaja
menambah perbendaharaan kata-katanya, mengejar dan menyusun struktur kalimat,
pribahasa, kesustraan dan keterampilan mengarang dengan dibekali dengan
pelajaran bahasa ini, diharapakan peserta didik dapat menguasai dan
mempergunakannya sebagai alat untuk : a. Berkomunikasi dengan orang lain, b.
Menyatakan isi hatinya atau perasaannya, atau c. memahami keterangan atau
informasi yang diterimanya, d. berfikir atau menyatakan pendapat atau gagasan
dan e. mengembangkan kepribadiannya seperti menyatakan sikap dan keyakinannya.
3.
Perkembangan
emosi
Pada
usia sekolah ( khususnya
dikelas tinggi,kelas 4,5,6) anak mulai menyadari, bahwa pengungkapan
emosi secara kasar tidak ada yang diterima atau tidak disenangi oleh orang
lain. Menurut Juntika Nasution (2007 : 153), emosi adalah suatu suasana yang
kompleks (a complex feeling state) dan getaran jiwa (a stride up state) yang
menyertai atau muncul sebelum atau sesudah terjadinya perilaku.
Dalam
proses peniruan,kemampuan orang tua atau guru dalam mengendalikan emosinya
sangatlah berpengaruh. Apabila anak dikembangkan dilikngkungan keluarga yang suasana
emosionalnnya setabil,maka perkembangan emosi anak cenderung stabil atau
sehat.akan tetapi, apabila kebiasaan orang tua dalam mengekspresikan emosinya
kurang stabil atau kurang kontrol(seperti: marah-marah,mudah mengeluh,kecewa
dan pesimis dalam menghadapi masalah),maka perkembangan emosi anak,cenderung
kurang stabil atau tidak sehat.
Emosi merupakan
faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku individu, dalam hal ini termasuk
pula perilaku belajar. Emosi positif
seperti perasaan senang, bergairah, bersemangat atau rasa ingin tahu yang
tinggi akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya terhadap
aktivitas belajar, seperti memperhaatikan penjelasan guru, membaca buku, aktif
berdiskusi, mengerjakan tugas atau pekerjaan rumah dan disiplin dalam belajar.
Sebaliknya, apabila proses belajar itu emosi yang negative seperti perasaan
tidak senang, kecewa, tidak bergairah, maka proses pembelajaran tersebut akan
mengalami hambatan, dalam arti individu tidak dapat memusatkan perhatiannya
untuk belajar, sehingga kemungkinan besar dia akan mengalami kegagalan dalam
belajar.
Upaya yang
dapat ditempuh guru dalam menciptakan suasana belajar mengajar yang kondusif
itu adalah sebagai berikut :
a.
Mengambangkan
iklim atau suasana kelas yang bebas dari ketegangan seperti guru bersikap
ramah, tidak judes atau galak.
b.
Memperlakukan
siswa sebagai individu yang mempunyai harga diri seperti guru menghargai
pribadi, pendapat, dan hasil karya siswa dn tidak mencemoohkan atau melecehkan
pribadi, pendaapat, dan hasil karya siswa.
c.
Memberikan
nilai secara adil dan objektif.
d.
Menciptakan
kondisi kelas yang tertib, bersih dan sehat.
4. Perkembangan sosial
Maksud perkembangan sosial ini adalah pencaapain
kematangan dalam hubungan atau interaksi sosial. Dapat jugaa diartikan sebagai
proses belajar untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi,
dan moral agama. Perkembangan
sosial pada anak usia SD/MI ditandai dengan adanya perluasan hubungan,
disamping dengan para anggota keluarga, juga dengan teman sebaya, sehingga
ruang gerak hubungan sosialnya bertambah luas. Pada usia ini, anak mulai
memiliki kesanggupan menyesuaikan diri dari sikap berpusat pada diri sendiri,
kepada sikap pekerjasama atau sosiosentris.
Berkat perkembangan sosial, anak dapat menyesuaikan
dirinya dengan kelompok teman sebaya maupun lingkungan masyarakat sekitarnya.
Dalam proses belajar disekolah, kematangan perkembangan sosial ini dapat
dimanfaatkan atau dimaknai dengan memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang
membutuhkan tenaga fisik maupun tugas yang membutuhkan pikiran, seperti
merencanakan kegiatan kemping dan membuat laporan study tour. Tugas-tugas
kelompok ini harus memberikan kempatan kepada setiap peserta didikuntuk
menunjukan prestasinya, dan juga diarahkan untuk mencapai tujuan bersama.
Dengan melaksanakan tugas kelompok, siswa dapat belajar tentang sikap dan
kebiasaan dalam bekerjasama, saling menghormati, bertenggang rasa, dan
bertanggung jawab.
5. Perkembangan Moral
Tingkah laku yang
bermoral merupakan tingkah laku yang sesuai dengan nilai-nilai tata cara/adat
yang terdapat dalam kelompok atau masyarakat. Nilai-nilai moral tersebut tidak
sama tergantung dari faktor kebudayaan setempat. Nilai moral merupakan sesuatu
yang bukan diperoleh dari lahir melainkan dari luar.
Anak menyesuaikan diri
pada aturan-aturan yang ada dalam kelompok dan disepakati bersama oleh kelompok
tersebut (moralitas konvensional atau moralitas dari
aturan-aturan).Faktor-faktor yang Mempengaruhi Moral , antara lain :Usia Sekolah Dasar merupakan
tahun-tahun imajinasi atau keajaiban bagi anak.Berikut ini pendapat para ahli
tentang perkembangan moral.
a. Menurut Piaget
Anak usia 5 tahun masih menilai benar
dan salah secara kaku, disebut tahap moralitas heteronomous (heteronomous
morality). Pada usia sekitar 11 tahun, proses berpikirnya sudah mulai
berkembang sehingga penilaian benar dan salah menjadi relatif.
b. Menurut Kohlberg
b. Menurut Kohlberg
Tingkat pertama, anak mengikuti semua
peraturan yang telah ditentukan dengan harapan dapat mengambil hati orang lain
dan dapat diterima dalam kelompok (moralitas anak baik).Tahap kedua,a.
Lingkungan rumah, b. Lingkungan sekolah, c. Teman sebaya dan aktivitas, d. Intelegensi dan jenis kelamin .
6.
Perkembangan Agama
Menurut Zakiah Darajat
(dalam Martini Jumaris), agama sebagai dari iman, pikiran yang diserapkan oleh
pikiran, perasaan, dilaksanakan dalam tindakan, perbuatan, perkataan dan sikap.
Agama merupakan pengarah dan penentu sikap dan perilaku dalam kehidupan
sehari-hari.
Awalnya anak-anak
mempelajari agama berdasarkan contoh baik di rumah maupun di sekolah. Bambang
Waluyo menyebutkan dalam artikelnya bahwa pendidikan agama di sekolah meliputi
dua aspek, yaitu : 1. Aspek pembentukan kepribadian (yang ditujukan kepada
jiwa), 2. Pengajaran agama (ditujukan kepada pikiran) . Metode yang digunakan dalam
pembelajaran harus berkaitan erat dengan dimensi perkembangan motorik, bahasa,
social, emosional maupun intelegensi siswa. Untuk kelas rendah dapat
menggunakan metode bercerita, bermain, karyawisata, demonstrasi atau pemberian
tugas. Untuk kelas tinggi dapat menggunakan metode ceramah, bercerita, diskusi,
tanya jawab, pemberian tugas atau metode lainnya yang sesuai dengan perkembangan
siswa. Beberapa metode yang dapat
digunakan dalam pembelajaran di SD, antara lain:
a.
Metode Bercerita
b.
Metode Bermain
c.
Metode Karyawisata
d.
Metode Demonstrasi
e.
Metode Pemberian Tugas
f.
Metode Diskusi dan Tanya Jawab.
Hubungan Perkembangan Keagamaan dengan pembelajaran,
yaitu Periode usia sekolah dasar
merupakan masa pembentukan nilai-nilai agama sebagai kelanjutan dari periode
sebelumnya. Oleh karena itu, kualitas keagaman siswa akan sangat dipengaruhi
oleh proses pembentukan atau pendidikan yang diterimanya. Dakam kaitannya
dengan hal ini, pendidikan agama disekolah dasar mempunyai peranan yang sangat
penting. Oleh karena itu, pendidikan agama (pengajran, pembiasaan, dan penanaman
nilai-nilai keagamaan) di sekolah dasar harus menjadi perhatian semua pihak
yang terlibat dalam pendidikan di SD/MI, dalam hal ini bukan hanya guru agama
akan tetapi kepada sekolah dan guru-guru lain.
Dalam kaitannya dengan pemberian materi
agama kepada anak, disamping mengembangkan pemahaman, juga memberikan latihan
atau pembiasaan keagamaan yang menyangkut ibadah dan akhlak. Disamping
membiasakan ibadah tersebut, juga perlu dibiasakan ibadah sosial, yaitu
menyangkut akhlah terhadap sesame manusia, seperti 1) hormat kepada kedua orang
tua, guru, dan orang lain, 2) memberikan bantuan kepada orang yang memerlukan
pertolongan, 3) menyayangi fakir miskin; 4) memelihara kebersihan dan
kesehatan; 5) bersikap jujur (tidak berdusta); dan 6) bersikap amanah
(bertanggung jawab).
Kepada anak SD/MI perlu diperkenalkan juga hukum-hukum
agama : 1) halah-haram, yang menyangkut makanan-minuman, dan perbuatan. Contoh
makanan dan minuman yang haram, yaitu babi, darah, bangkai, minuman keras, dan
hasil curian; dan contoh perbuatan yang haram, seperti mencuri, berjudi,
membunuh, tawuran, saling memusuhkan, durhaka kepada orang tua, dan berdusta
(tidak jujur); 2) wajib-sunah yang menyangkut ibadah, seperti berwudhu, shalat,
shaum, zakat, haji, membaca Al-quran, dan berdoa.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Dari pembahasan
diatas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran adalah seperangkat tindakan yang
dirancang untuk mendukung proses belajar siswa, dengan memperhitungkan
kejadian-kejadian ekstrim yang berperanan terhadap rangkaian kejadian-kejadian
intern yang berlangsung dialami siswa. Dari pengertian pembelajaran terdapat
perbedaan antara pengajaran dengan pembelajaran misalnya yaitu pengajaran
dilaksanakan oleh mereka yang berprofesi sebagai pengajar, tujuannya
menyampaikan informasi kepada si belajar sedangkan pembelajaran dilaksanakan
oleh mereka yang dapat membuat orang belajar, tujuannya agar terjadi belajar
pada diri siswa.Dalam mempersiapkan pembelajaran, para pendidik harus memahami
karakteristik materi pelajaran, para pendidik harus memahami karakteristik
materi pelajaran, karakteristik murid atau peserta didik, serta memahami
metodologi pembelajaran sehingga proses pembelajaran akan lebih variatif,
inovatif, dan konstruktif dalam merekonstruksi wawasan pengetahuan dan
implementasinya sehingga akan meningkatkan aktivitas dan kreativitas peserta
didik. Secara umum, karakteristik perkembangan anak pada kelas awal (kelas
1,2,3) sekolah dasar biasanya pertumbuhan fisiknya telah mencapai kematangan,
mereka telah mampu mengontrol tubuh dan keseimbangannya. Dalam tahap
perkembangannya, siswa yang berada pada tahap periode perkembangan yang berbeda
antara kelas awal (Kelas 1-3) dengan kelas akhir (4-6) dari segala aspek.
Menurut Piaget (1950), yang menyatakan bahwa setiap tahapan perkembangan
kognitif tersebut mempunyai karakteristik yang berbeda secara garis besarnya
dikelompokkan kepada empat tahap, yaitu : tahap sensori motor, tahap
pra-operasional, tahap operasional konkret, dan tahap operasional formal.
Namun, selain itu juga karakteristik siswa terbagi kedalam 2 (dua) perkembangan
anak yaitu perkembangan fisik dan perkembangan mental.
DAFTAR PUSTAKA
Susanto, Ahmad. 2014. Teori Belajar dan
Pembelajaran Di Sekolah Dasar, Hal. 86-94. Jakarta : Kencana Prenada Media
Group.
Suyono, Hariyanto. 2014. Belajar dan
Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sudjana. 2000. Strategi Pembelajaran. Hal
51-57. Bandung : Falah Production.
Yusuf, Syamsu & M. Sugandhi, Nani.
2012. Perkembangan Peserta Didik. Hal 59-76. Jakarta : PT Raja Grafindo
Persada.
Warsita, Bambang. 2008. Teknologi
Pembelajaran Landasan dan Aplikasinya. Hal 90-92. Jakarta : PT Rineka Cipta.
DAFTAR
LAMPIRAN
Yel-yel Kelompok 2 (Kelompok Simulasi)
Kelompok
Simulasi . . . . . . . . . .
Kelompok
Simulasi. . . . . . . . . Kelompok
Simulasi . . . . . . .. . Kelompok Simulasi . . . . . .
Angkat
tangan kananmu . . . . Angkat tangan kirimu . . . .
Kita
belajar sama-sama
Mantapkan
dalam hati. . . . . Tingkatkan Motivasi
Dan
kita raih prestasi
Kelompok
Simulasi . . . . . . . . . . . . Asiiiik
. . . . .
FOTO KELOMPOK
Tidak ada komentar:
Posting Komentar