Minggu, 28 Desember 2014
Esensialisme
Aliran Filsafat Esensialisme adalah suatu aliran
filsafat yang menginginkan agar manusia kembali kepada kebudayaan lama. Mereka
beranggapan bahwa kebudayaan lama itu telah banyak memperbuat kebaikan-kebaikan
untuk umat manusia. Yang mereka maksud dengan kebudayaan lama itu adalah yang
telah ada semenjak peradaban manusia yang pertama-tama dahulu. Akan tetapi yang
paling mereka pedomani adalah peradaban semenjak zaman Renaissance, yaitu yang
tumbuh dan berkembang disekitar abad 11, 12, 13 dan ke 14 Masehi. Didalam zaman
Renaissance itu telah berkembang dengan megahnya usaha-usaha untuk menghidupkan
kembali ilmu pengetahuan dan kesenian serta kebudayaan purbakala, terutama
dizaman Yunani dan Romawi purbakala. Renaissance itu merupaka reaksi terhadapa
tradisi dan sebagai puncak timbulnya individualisme dalam berpikir dan
bertindak dalam semua cabang dari aktivitas manusia. Sumber utama dari
kebudayaan itu terletak dalam ajaran para ahli filsafat, ahli-ahli pengetahuan
yang telah mewariskan kepada umat manusia segala macam ilmu pengetahuan yang
telah mampu menembus lipatan qurun dan waktu dan yang telah banyak menimbulkan
kreasi-kreasi bermanfaat sepanjang sejarah umat manusia.
Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan
pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari
gerakan progrevisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya/
sosial. Menurut Esensialisme, nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara
berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama
beratus-ratus tahun, dan didalamnya berakar gagasan-gagasan dan cita-cita yang
telah teruji dalam perjalanan waktu. Bagi aliran ini
“Education as Cultural Conservation”, Pendidikan Sebagai Pemelihara Kebudayaan.
Karena ini maka aliran Esensialisme dianggap para ahli “Conservative Road to
Culture” yakni aliran ini ingin kembali kekebudayaan lama, warisan sejarah yang
telah membuktikan kebaikan-kebaikannya bagi kehidupan manusia. Esensialisme
percaya bahwa pendidikan itu harus didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan
yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Karena
itu esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai
yang memiliki kejelasan dan tahan lama sehinga memberikan kestabilan dan arah
yang jelas.
·
Ciri-Ciri Aliran Esensialisme
Esensialisme yang berkembang pada zaman Renaissance
mempunyai tinjauan yang berbeda dengan progressivisme mengenai pendidikan dan
kebudayaan. Jika progressivisme menganggap pendidikan yang penuh fleksibelitas,
serba terbuka untuk perubahan, tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu,
toleran dan nilai-nilai dapat berubah dan berkembang, maka aliran Esensialisme
ini memandang bahwa pendidikan yang bertumpu pada dasar pandangan fleksibilitas
dalam segala bentuk dapat menjadi sumber timbulnya pandangan yang berubah-ubah,
mudah goyah dan kurang terarah dan tidak menentu serta kurang stabil. Karenanya
pendidikan haruslah diatas pijakan nilai yang dapat mendatangkan kestabilan dan
telah teruji oleh waktu, tahan lama dan nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan
terseleksi
Nilai-nilai yang dapat memenuhi adalah yang berasal
dari kebudayaan dan filsafat yang korelatif, selama empat abad belakangan ini,
dengan perhitungan zaman Renaisans, sebagai pangkal timbulnya
pandangan-pandangan Esensialistis awal. Puncak refleksi dari gagasan ini adalah
pada pertengahan kedua abad ke sembilan belas.
Idealisme dan Realisme adalah aliran-aliran filsafat
yang membentuk corak Esensialisme. Sumbangan yang diberikan oleh masing-masing
ini bersifat eklektik, artinya dua aliran filsafat ini bertemu sebagai
pendukung Esensialisme, tetapi tidak lebur menjadi satu. Berarti, tidak
melepaskan sifat-sifat utama masing-masing. Realisme modern yang menjadi salah
satu eksponen esensialisme, titik berat tinjauannya adalah mengenai alam dan
dunia fisik; sedangkan idealisme modern sebagai eksponen yang lain,
pandangan-pandangannya bersifat spiritual. Idealisme modern mempunyai pandangan
bahwa realita adalah sama dengan substansi gagasan-gagasan(ide-ide). Di balik
duni fenomenal ini ada jiwa yang tidak terbatas yaitu Tuhan, yang merupakan
pencipta adanya kosmos. Manusia sebagai makhluk yang berpikir berada dalam
lingkungan kekuasaan Tuhan. Dengan menguji menyelidiki ide-ide serta
gagasan-gagasannya, manusia akan dapat mencapai kebenaran, yang sumbernya
adalah Tuhan sendiri.
Sedangkan, ciri-ciri filsafat pendidikan esensialisme
yang disarikan oleh William C. Bagley adalah sebagai berikut :
1. Minat-minat yang kuat dan tahan lama
sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian
bukan karena dorongan dari dalam diri siswa.
2. Pengawasan pengarahan, dan bimbingan
orang yang dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan
ketergantungan yang khusus pada spsies manusia.
3. Oleh karena kemampuan untuk mendisiplin
diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakan disiplin adalah suatu cara
yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.
4. Esensialisme menawarkan sebuah teori
yang kokoh, kuat tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya
(progresivisme) memberikan sebuah teori yang lemah.
·
Pola dasar pendidikan essensialisme
Uraian berikut ini akan memberikan penjelasan tentang
pola dasar pendidikan aliran esensialisme yang didasari oleh pandangan
humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniaan,
serba ilmiah dan materialistik. Untuk mendapatkan pemahaman pola dasar yang
lebih rinci kita harus mengenal dari referensi pendidikan esensialisme. Imam
Barnadib (1985)11) mengemukakan beberapa tokoh terkemuka yang berperan dalam
penyebaran aliran essensialisme dan sekaligus memberikan pola dasar pemikiran
mereka.
1) Desidarius Erasmus, humanis
Belanda yang hidup pada akhir abad ke15 dan permulaan abad ke 16, adalah tokoh
pertama yang menolak pandangan hidup yanag berbijak pada “dunia lain”. Ia
berusaha agar kurikulum di sekolah bersifat humanistis dan bersifat
internasional, sehingga dapat diikuti oleh kaum tengahan dan aristokrat.
2) Johann Amos Comeniuc (1592-1670),
tokoh Reinaissance yang pertama yang berusaha mensistematiskan proses
pengajaran. Ia memiliki pandangan realis yang dogmatis, dan karena dunia ini
dinamis dan bertujuan, maka tugas kewajiban pendidikaan adalah membentuk anak
sesuai dengan kehendak Tuhan.
3) John Lock (1632-1704), tokoh dari
inggris dan populer sebagai “pemikir dunia” mengatakan bahwa pendidikan
hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi.
4) Johann Henrich Pestalozzi
(1746-1827), mempunyai kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada
manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya.
Selain itu ia percaya kepada hal-hal yang transendental, dan manusia mempunyai
hubungan transendental langsung dengan Tuhan.
5) Johann Frederich Frobel (1782-1852),
seorang tokoh transendental pula yang corak pandangannya bersifat
kosmissintetis, dan manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian
dari alam ini. Oleh karena itu ia tunduk dan mengikuti ketentuan dari
hukum-hukum alam. Terhadap pendidikan ia memandang anak sebagai makhluk yang
berekspresi kreatif, dan tugas pendidikan adalah memimpin peserta didik kearah
kesadaran diri sendiri yang murni, sesuai fitrah kejadiannya.
6) Johann Fiedrich Herbart (1776-1841),
salah seorang murid Immanuel Kant yang berpandangan kritis. Ia berpendapat
bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan
dari Yang Mutlak, berarti penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan, dan ini
pula yang disebut “pengajaran yang mendidik” dalam proses pencapaian
pendidikan.
7) Tokoh terakhir dari Amerika Serikat,
William T. Harris (1835-1909)-pengikut Hegel, berusaha menerapkan Idealisme
Obyektif pada pendidikan umum. Menurut dia bahwa tugas pendidikan adalah
mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan
kesatuan spiritual. Keberhasilan sekolah adalah sebagai lembaga yang memelihara
nilai-nilai yang telah turun temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri
setiap orang kepada masyarakat
·
Beberapa pandangan dalam esensialisme
Sebagai reaksi dalam tuntutan zaman yang ditandai oleh
suasana hidup yang menjurus kepada keduniaan, perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, yang mulai terasa sejak abad ke15, realisme dan idealisme perlu
menyusun pandangan-pandangan yang modern. Untuk itu perlu disusun kepercayaan
yang dapat menjadi penuntun bagi manusia agar dapat jadi penuntun bagi manusia
agar dapat menyesuaikan diri dengan tuntutan keadaan itu. Kepercayaan yang
dimaksud diusahakan tahan lama, kaya akan isinya dan mempunyai dasar-dasar yang
kuat. Dasar-dasar yang telah diketemukan, yang akhirnya dirangkum menjadi
konsep filsafat pendidikan esensialisme ini, tamapk manifestasinya dalam
sejarah dari zaman Renaisans sampai timbulnya Progresivisme.
ü Pandangan mengenai realita
Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsepsi bahwa
dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia beserta
isinya dengan tiada cela pula, ini berarti bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak
dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata tersebut. Dibawah ini
adalah uraian mengenai penjabarannya menurut realisme dan idealisme.
o
Realisme
yang mendukung esensialisme disebut realisme obyektif karena mempunyai
pandangan yang sistematis mengenai alam serta tempat manusia didalamnya.
Terutama sekali ada dua golongan ilmu pengetahuan yang mempengaruhi realisme
ini.
Dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang
sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisik ini dapat dipahami
berdasarkan adanya tata yang jelas khusus. Ini berarti bahwa suatu kejadian
yang sederhanapun dapat ditafsirkan menurut hukum alam, seperti misalnya daya
tarik bumi.
o
Idealisme
obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan
realisme obyektif. Yang dimaksud dengan ini adalah bahwa pandangan-pandangannya
bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Dengan
landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah
jiwa atau spirit, idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu
yang ada ini nyata. Ajaran-ajaran Hegel memperjelas pandangan tersebut diatas.
ü Pandangan mengenai nilai
Nilai, seperti halnya pengetahuan berakar pada dan
diperoleh dari sumber-sumber obyektif. Sedangkan sifat-sifat nilai tergantung
dari pandangan yang timbul dari realisme dan idealisme. Kedua aliran ini
menyangkutkan masalah nilai dengan semua aspek peri kehidupan manusia yang
berarti meliputi pendidikan. Pandangan dari dua aliran ini, yang mengenai nilai
pada umumnya dan nilai keindahan pada khususnya akan dipaparkan berikut ini.
Untuk hal yang pertama, dapatlah ditunjukan bahwa nilai
mempunyai pembawaan atas dasar komposisi yang ada. Misalnya, kombinasi warna
akan menimbulkan kesan baik, bila penempatan dan fungsinya disesuaikan dengan
pembawaan dari komponen-komponen yang ada. Untuk hal yang kedua, dapatlah
diutarakan bahwa sikap, tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai
hubungan dengan kualitas baik dan buruk.
ü Pandangan mengenai pendidikan
Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini
bersifat umum, simplikatif dan selektif, dengan maksud agar semata-mata dpat
memberikangambaran mengenai bagian-bagian utama dari esensialisme. Disamping
itu karena tidak setiap filsuf idealis dan realis mempunyai faham esensialistis
yang sistematis, maka uraian ini bersifat eklektik. Esensialisme timbul karena
adanya tantangan mengenai perlunya usaha emansipasi diri sendiri, sebagaimana
dijalankan oleh para filsuf pada umumnya ditinjau dari sudut abad pertengahan.
Usaha ini diisi dengan pandangan-pandangan yang bersifat menanggapi hidup yang
mengarah kepada keduniaan, ilmiah dan teknologi, yang ciri-cirinya telah ada
sejak zaman Renaisans.
Tokoh yang perlu dibicarakan dalam rangka menyingkap
sejarah esensialisme ini adalah William T. Harris (1835-1909). Sebagai tokoh
Amerika Serikat yang dipengaruhi oleh Hegel ini berusaha menerapkan idealisme
obyektif pada pendidikan umum. Menurut Harris, tugas pendidikan adalah
mengijinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang tidak terelakan (pasti)
bersendikan kesatuan spiritual. Sekolah adalah lembaga yang memelihara
nilai-nilai yang telah turun-menurun, dan menjadi penuntun penyesuaian orang
kepada masyarakat.
Oleh karena terasaskan adanya saingan dari
progresivisme, maka pada sekitar tahun 1930 timbul organisasi yang bernama Esentialist
Comittee for the Advancement of Education. Dengan timbulnya Komite ini
pandangan-pandangan esensialisme (menurut tafsiran abad xx), mulai
diketengahkan dalam dunia pendidikan.
ü Pandangan mengenai pengetahuan
Pada kacamata realisme masalah pengetahuan ini,
manusia adalah sasaran pandangan sebagai makhluk yang padanya berlaku hukum
yang mekanistis evolusionistis. Sedangkan menurut idealisme, pandangan mengenai
pengetahuan bersendikan pada pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang
adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul dari hubungan antara
makrokosmos dan mikrokosmos.
ü Pandangan mengenai belajar
Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya
mengenai pribadi individual dengan menitikberatkan pada aku, menurut idealisme,
seseorang belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus
bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju
kemakrokosmos.
Sebagai contoh, dengan landasan pandangan diatas,
dapatlah dikemukakan pandangan Immanuel Kant (1724-1804). Dijelaskan bahwa
segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia lewat indera memerlukan unsur a
priori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.
ü Pandangan mengenai kurikulum
Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu
hendaklah berpangkal pada landasan ideal dan organisasi yang kuat. Bersumber
atas pandangan ini, kegiatan-kegiatan pendidikan dilakukan. Pandangan dari dua
tokoh dipaparkan dibawah ini.
Herman Harrell Horne menulis dalam bukunya yang
berjudul This New Education mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu
bersendikan atas fundamental tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan
ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan
dan ditujukan kepada yang serba baik tersebut. Atas dasar ketentuan ini berarti
bahwa kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan
dengan fundamen-fundamen itu.
DAFTAR
PUSTAKA
1. H.B. Hamdani Ali, M.A.M.Ed.1986. Filsafat
Pendidikan. Yogyakarta: Kota Kembang
2. Redja Mudyahardjo. 2001. Pengantar
Pendidikan, Jakarta: Raja Grafindo
3. Mohammad Noor Syam. 1986. Fisafat
Pendidikan Islam. Surabaya: Usaha Nasional
4. Dra. Zuhairini, dkk.1994. Filsafat
Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara
5. Drs. H. M. Djumberansyah Indar,
M.Ed. 1994. Filsafat Pendidikan. Surabaya: Karya Abditama
6. Prof. Imam Barnadib, M. A. Ph. D.
1990.Filsafat Pendidikan. Yogyakarta: Andi Offset
Idealisme
Di
dalam filsafat, idealisme adalah doktrin yang mengajarkan bahwa hakikat dunia
fisik hanya dapat dipahami dalam kebergantungannya pada jiwa (mind) dan
roh (spirit). Istilah ini diambil dari kata “idea”, yaitu sesuatu yang
hadir dalam jiwa.Kata idealisme dalam filsafat mempunyai arti yang sangat
berbeda dari arti yang biasa dipakai dalam bahasa sehari-hari. Kata idealis itu
dapat mengandung beberapa pengertian, antara lain:Seorang yang menerima ukuran
moral yang tinggi, estetika, dan agama serta menghayatinya;Orang yang dapat
melukiskan dan menganjurkan suatu rencana atau program yang belum ada.
Arti
falsafi dari kata idealisme ditentukan lebih banyak oleh arti dari kata ide
daripada kata ideal. W.E. Hocking, seorang idealis mengatakan bahwa
kata idea-ism lebih tepat digunakan daripada idealism. Secara
ringkas idealisme mengatakan bahwa realitas terdiri dari ide-ide,
pikiran-pikiran, akal (mind) atau jiwa (self) dan bukan benda
material dan kekuatan. Idealisme menekankan mind sebagai hal yang lebih
dahulu (primer) daripada materi. Alam, bagi orang idealis, mempunyai arti dan
maksud, yang diantara aspek-aspeknya adalah perkembangan manusia. Oleh karena
itulah seorang idealis akan berpendapat bahwa, terdapat suatu harmoni yang
dalam arti manusia dengan alam. Apa yang “tertinggi dalam jiwa” juga merupakan
“yang terdalam dalam alam”. Manusia merasa ada rumahnya dengan alam; ia
bukanlah orang atau makhluk ciptaan nasib, oleh karena alam ini suatu sistem
yang logis dan spiritual; dan hal ini tercermin dalam usaha manusia untuk
mencari kehidupan yang lebih baik. Jiwa (self) bukannya satuan yang
terasing atau tidak rill, jiwa adalah bagian yang sebenarnya dari proses alam.
Proses ini dalam tingkat yang tinggi menunjukkan dirinya sebagai aktivis, akal,
jiwa, atau perorangan. Manusia sebagai satuan bagian dari alam menunjukkan
struktur alam dalam kehidupan sendiri.
Pokok
utama yang diajukan oleh idealisme adalah jiwa mempunyai kedudukan yang utama
dalam alam semesta. Sebenarnya, idealisme tidak mengingkari materi. Namun,
materi adalah suatu gagasan yang tidak jelas dan bukan hakikat. Sebab,
seseorangakanmemikirkan materi dalam hakikatnya yang terdalam, dia harus
memikirkan roh atau akal. Jika seseorang ingin mengetahui apakah sesungguhnya
materi itu, dia harus meneliti apakah pikiran itu, apakah nilai itu, dan apakah
akal budi itu, bukannya apakah materi itu. Paham ini beranggapan bahwa jiwa
adalah kenyataan yang sebenarnya. Manusia ada karena ada unsur yang tidak
terlihat yang mengandung sikap dan tindakan manusia. Manusia lebih dipandang
sebagai makhluk kejiwaan/kerohanian. Untuk menjadi manusia maka peralatan yang
digunakannya bukan semata-mata peralatan jasmaniah yang mencakup hanya
peralatan panca indera, tetapi juga peralatan rohaniah yang mencakup akal dan
budi. Justru akal dan budilah yang menentukan kualitas manusia.
a. Jenis-Jenis
Idealisme
Sejarah
idealisme cukup berliku-liku dan meluas karena mencakup berbagai teori yang
berlainan walaupun berkaitan. Ada beberapa jenis idealisme: yaitu idealisme
subjektif, idealisme objektif, dan idealisme personal.
1.
Idealisme Subjektif
Idealisme
subjektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide
manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia.
Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil
atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam
dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide
manusia. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah seorang dari inggris
yang bernama George Berkeley (1684-1753 M). Menurut Berkeley, segala sesuatu
yang tertangkap oleh sensasi/perasaan kita itu bukanlah materi yang real dan
ada secara
objektif.
2.
Idealisme Objektif
Idealisme
Objektif adalah idealisme yang bertitik tolak pada ide di luar ide manusia.
Idealisme objektif ini dikatakan bahwa akal menemukan apa yang sudah terdapat
dalam susunan alam. Menurut idealisme objektif segala sesuatu baik dalam alam
atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil. Pandangan filsafat
seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materi, yang ada secara
abadi di luar manusia, sesuatu yang bukan materi itu ada sebelum dunia alam
semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Filsuf
idealis yang pertama kali dikenal adalah Plato. Ia membagi dunia dalam dua
bagian. Pertama, dunia persepsi, dunia yang konkret ini adalah temporal
dan rusak; bukan dunia yang sesungguhnya, melainkan bayangan alias penampakan
saja. Kedua, terdapat alam di atas alam benda, yakni alam konsep, idea,
universal atau esensi yang abadi.
3.
Idealisme Personal (personalisme)
Idealisme
personal yaitu nilai-nilai perjuangannya untuk menyempurnakan dirinya.
Personalisme muncul sebagai protes terhadap materialisme mekanik dan idealisme
monistik. Bagi seorang personalis, realitas dasar itu bukanlah pemikiran yang
abstrak atau proses pemikiran yang khusus, akan tetapi seseorang, suatu jiwa
atau seorang pemikir.
b. Tokoh-Tokoh
Idealisme
1. J.G. Fichte
(1762-1814 M)
Johan
Gottlieb Fichte adalah filosof Jerman. Ia belajar teologi di Jena pada tahun
1780-1788. Filsafat menurut Fichte haruslah dideduksi dari satu prinsip. Ini
sudah mencukupi untuk memenuhi tuntutan pemikiran, moral, bahkan seluruh
kebutuhan manusia. Prinsip yang dimaksud ada di dalam etika. Bukan teori,
melainkan prakteklah yang menjadi pusat yang disekitarnya kehidupan diatur.
Unsur esensial dalam pengalaman adalah tindakan, bukan fakta. Menurut
pendapatnya subjek “menciptakan” objek. Kenyataan pertama ialah “saya yang
sedang berpikir”, subjek menempatkan diri sebagai tesis. Tetapi subjek
memerlukan objek, seperti tangan kanan mengandaikan tangan kiri, dan ini
merupakan antitesis. Subjek dan objek yang dilihat dalam kesatuan disebut
sintesis. Segala sesuatu yang ada berasal dari tindak perbuatan sang Aku.
2.
G.W.F Hegel (1798-1857 M)
Hegel lahir di Stuttgart, Jerman pada tanggal 17 Agustus 1770. Ayahnya
adalah seorang pegawai rendah bernama George Ludwig Hegel dan ibunya yang tidak
terkenal itu bernama Maria Magdalena. Pada usia 7 tahun ia memasuki sekolah
latin, kemudian gymnasium. Hegel muda ini tergolong anak telmi alias telat
mikir! Pada usia 18 tahun ia memasuki Universitas Tubingen. Setelah
menyelesaikan kuliah, ia menjadi seorang tutor, selain mengajar di Yena. Pada
usia 41 tahun ia menikah dengan Marie Von Tucher. Karirnya selain menjadi
direktur sekolah menengah, juga pernah menjadi redaktur surat kabar. Ia
diangkat menjadi guru besar di Heidelberg dan kemudian pindah ke Berlin hingga
ia menjadi Rektor Universitas Berlin (1830).
Ø
Pokok-Pokok Pikiran
(Filsafat) Hegel
Tema
fisafat Hegel adalah Ide Mutlak. Oleh karena itu, semua pemikirannya
tidak terlepas dari ide mutlak, baik berkenaan dari sistemnya, proses
dialektiknya, maupun titik awal dan titik akhir kefilsafatannya. Oleh karena
itu pulalah filsafatnya disebut filsafat idealis, suatu filsafat yang menetapkan
wujud yang pertama adalah ide (jiwa).
a.
Rasio, ide, dan roh
Hegel
sangat mementingkan rasio, tentu saja karena ia seorang idealis. Yang dimaksud
olehnya bukan saja rasio pada manusia perseorangan, tetapi rasio pada subjek
absolut karena Hegel juga menerima prinsip idealistik bahwa realitas
seluruhnya harus disetarafkan dengan suatu subjek. Dalil Hegel yang kemudian
terkenal berbunyi: “ Semua yang real bersifat rasional dan semua yang rasional
bersifat real.” Maksudnya, luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas
seluruhnya adalah proses pemikiran (idea, menurut istilah Hegel) yang
memikirkan dirinya sendiri. Atau dengan perkataan lain, realitas seluruhnya
adalah Roh yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya. Dengan mementingkan
rasio, Hegel sengaja beraksi terhadap kecenderungan intelektual ketika itu yang
mencurigai rasio sambil mengutamakan perasaan.
Pusat
fisafat Hegel ialah konsep Geist (roh,spirit), suatu istilah yang
diilhami oleh agamanya. Istilah ini agak sulit dipahami. Roh dalam pandangan
Hegel adalah sesuatu yang real, kongkret, kekuatan yang objektif, menjelma
dalam berbagai bentuk sebagai world of spirit (dunia roh), yang
menempatkan ke dalam objek-objek khusus. Di dalam kesadaran diri, roh itu
merupakan esensi manusia dan juga esensi sejarah manusia. Demi alam kembalilah
idea atau roh kepada diri sendiri. Dalam fase ini, mula-mula roh itu merupakan
roh subjektif, kemudian roh objektif, dan akhirnya roh mutlak.
Sebagai
roh subjektif, roh itu mengenal dirinya dan merupakan tiga tingkatan:
antropologi, fenomologi, dan psikologi. Dalam antropologi, kenalah roh itu akan
dirinya dalam penjelmaan pada alam. Dalam fenomenologi, kenalah dia akan
dirinya dalam perbedaannya dengan alam. Adapun pada psikologi, roh mengenal dirinya
dalam kemerdekaan terhadap alam, mula-mula teoritis, kemudian praktis dan
akhirnya merdekalah roh itu. Maka meningkatlah kepada roh objektif. Roh
objektif ini roh mutlak yang menjelma pada bentuk-bentuk kemasyarakatan
manusia, hak dan hukum kesusilaan dan kebajikan. Dalam hak dan hukum terdapat
penjelmaan roh merdeka itu pada hukum-hukum umum. Di samping itu adalah
kesusilaan yang merupakan kebatinan. Pada sintesis keduanya itu terlahirlah
kebajikan. Sampailah sekarang kepada roh mutlak. Roh mutlak itu ialah idea yang
mengenal dirinya dengan sempurna itu merupakan sintesis dari roh subjektif dan
objektif. Tak ada lagi, pertentangan antara subjek dan objek antara berpikir
dan ada.
Oleh
karena roh mutlak ini sebenarnya gerak juga, maka dia menunjukkan perkembangan
juga: seni (tesis), agama (antitesis) dan kemudian filsafat (sintesis). Seni
itu memperlihatkan idea dalam pandangan indera terhadap dunia, objeknya masih
di luar subjek. Adapun agama tidak lagi mempunyai subjek di luar objek,
melainkan di dalamnya. Tetapi segala pengertian dan gambaran agama itu dianggap
ada. Filsafat akhirnya merupakan sintesis dari seni dan agama merupakan paduan
yang lebih tinggi. Di sinilah idea mengenal dirinya dengan sempurna. Dalam
sejarah filsafat ternyata benar gerak idea itu, yaitu tesis, antitesis, dan
akhirnya sintesis. Misalnya: Parmenides (tesis), Heraklitos (antitesis), dan
Plato (sintesis).
b.
Dialektika
Untuk menjelaskan filsafatnya, Hegel
menggunakan dialektika sebagai metode. Yang dimaksud oleh Hegel dengan
dialektika adalah mendamaikan, mengompromikan hal-hal yang berlawanan. Proses
dialektika selalu terdiri atas tiga fase. Fase pertama (tesis) dihadapi
antitesis (fase kedua), dan akhirnya timbul fase ketiga (sintesis). Dalam
sintesis itu, tesis dan antitesis menghilang. Dapat juga tidak menghilang, dia
masih ada, tetapi sudah diangkat pada tingkat yang lebih tinggi. Proses ini
berlangsung terus. Sintesis segera menjadi tesis baru, dihadapi oleh antitesis
baru, dan menghasilkan sintesis baru lagi, dan seterusnya.
Tesis
adalah pernyataan atau teori yang didukung oleh argumen yang dikemukakan, lalu
antitesis adalah pengungkapan gagasan yang bertentangan. Sedangkan sintetis
adalah paduan (campuran) berbagai pengertian atau hal sehingga merupakan
kesatuan yang selaras.
Contoh tesis,
antitesis, dan sintesis.
1)
Yang “ada” (being) merupakan tesis kemudian
berkontraksi dengan “tak ada” (not being) sebagai antitesis, kemudian
menghasilkan menjadi (becoming) sebagai sintesis.
2)
Dalam keluarga, suami-istri adalah dua makhluk
berlainan yang dapat berupa tesis dan antitesis. Anak dapat merupakan sintesis
yang mendamaikan tesis dan antitesis.
3)
Mengenai bentuk Negara
Tesis :
Negara diktator. Di Negara ini hidup kemasyarakatan diatur dengan baik, tetapi
para warganya tidak mempunyai kebebasan apapun juga.
Antitesis
: Negara anarki. Dalam Negara anarki para warganya mempunyai
kebebasan tanpa batas, tetapi hidup kemasyarakatan menjadi
kacau.
Sintesis
: Negara konstitusional. Sintesis ini mendamaikan antara pemerintahan diktator
dengan anarki menjadi demokrasi.
Langganan:
Komentar (Atom)
