Abstrak
Sifat materialisme merupakan
pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi adalah
cara orang berada di dunia. Eksistensialisme lahir sebagai reaksi terhadap
idealisme. Materialisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakikat
yang ekstrim. Keduanya bersi benih-benih kebenaran, tetapi keduanya juga salah.
Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dan kedua ekstrimitas
itu.materilisme memandang kejasmanian (materi) sebagai keseluruhan manusia,
pada hal itu hanyalah aspek manusia. Materialisme menganggap manusia hanyalah
sesuatu yang ada, tanpa subjek. Manusia berpikir, kesadaran inilah yang tidak
disadari oleh materialisme. Sebaliknya berpikir, kesadaran dilebih-lebihkan
oleh idealisme, sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi
menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
I.
Pendahuluan
Definisi
eksistensialisme tidak mudah dirumuskan, bahkan kaum eksistensialis sendiri
tidak sepakat mengenai rumusan apa sebenarnya eksistensialisme itu. Sekalipun
demikian, ada sesuatu yang disepakati, baik filsafat eksistensi maupun filsafat
eksistensialisme sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.
II.
Eksistensialisme
Eksistensialisme
pertama kali muncul pada abad ke 19. Eksistensialisme memiliki akar dalam karya
– karya para filosof, khususnya Soeren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche.
Kedua filsuf ini mendekati filsafat dari sudut pandang manusia nyata. Selain
itu mereka memiliki keyakinan bahwa eksistensi manusia tidak bisa dibawa ke
dalam system rasional, sistematis dan logis. Eksistensialisme
merupakan sebuah mazhab pemikiran yang memandang manusia secara holistik
dan mengakui kebebasan manusia untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Dengan kata lain manusia memiliki eksistensinya sendiri yang menyatu
dengan kehidupan dunia. Eksistensi manusia disini dipahami bukanlah sebagai
manusia alam, kumpulan – kumpulan reflek maupun sekedar mekanisme – mekanisme.
Akan tetapi semua perihal yang dilakukan manusia, itulah yang menjadi inti dari
eksistensi itu sendiri. Manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang
menyeluruh, yakni sebagai kesatuan individu dan dunianya. Eksistensialisme merupakan sebuah mazhab yang dirasa
penting untuk dikaji, karena ranah kajiannya yang menekankan pada perlunya
berada sedekat mungkin dengan dunia kehidupan, dimana semua orang menjalaninya.
Eksistensialisme cenderung memberikan hak kebebasan seluas – luasnya bagi
manusia. Hal ini dirasa perlu karena manusia butuh mengeksplorasi dunianya
tanpa harus dipengaruhi oleh stimulasi – syimulasi dari lingkungan yang akan
mendeterminasi diri manusia itu sendiri.
Eksistensial
bukanlah mazhab yang didirikan oleh satu tokoh sebagaimana psikoanalisis. Akan
tetapi didirikan oleh banyak pikiran – pikiran tokoh. Tokoh – tokoh yang
berperan penting dalam mazhab eksistensial adalah Soeren Kierkegaard dan
Friedrich Nietzsche. Dimana kedua tokoh itu merupakan pencetus utama tentang
gerakan eksistensialisme. Pemikiran Kierkegaard menekankan pada perestorasian
kedalaman iman dalam agama – agama yang telah mongering di tengah masyarakat.
Sedangkan gagasan utama Nietsche adalah tentang “Matinya Tuhan”. Eksistensialisme berpandangan bahwa realitas adalah kenyataan
hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus melihat apa yang
ada dalam diri kita sendiri. Pengetahuan tergantung pada pemahaman dan
interpretasi manusia terhadap realitas. Untuk nilai, manusia memiliki kebebasan
untuk memilih. Eksistensialisme sebagai paham yang bersifat liberal, memandang
individu sebagai makhluk unik dan bertanggung jawab atas keunikannya.
Pendidikan hanya dilakukan manusia, dan memiliki tujuan mendorong individu
mampu mengembangkan semua potensi untuk pemenuhan diri. Memberi bekal
pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan. Adapun
proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan –
”Dialog”. Dan metode yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai
kebahagiaan dan karakter yang baik. Mengenai kurikulum, kuruklum yang
memberikan para peserta didik kebebasan individual yang luas. Begitu pula guru
harus memberi kebebasan peserta didik memilih dan memberi pengalaman yang akan
menemukan makna dari kehidupan mereka sendiri, namun guru pun harus mampu
membimbing dan mengarahkan peserta didik dengan seksama. Pengetahuan manusia tergantung pada
pemahamannya tentang realitas dan tergantung pada interpretasi manusia terhadap
realitas. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri,
bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk
pada isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan
kebenaran-kebenaran dalam kebenaran. Pemahaman eksistensialisme pada
nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk
memilih, namun menentukan pilihan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik
adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang
harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak
pernah selesai, karena setiap akibat akan menghasilkan kebutuhan untuk pilihan
berikutnya.
Sedangkan
tokoh eksistensialisme yang terkenal adalah Ludwig Binswanger dan Medard Boss.
Kedua tokoh ini mendasarkan prinsip – prinsip eksistensialnya pada pemikiran –
pemikiran Martin Heiddeger. Prinsip dari Binswanger adalah tentang Umwelt
(dunia – fisik), Mitwelt (dunia social) dan Elgenwelt (dunia
personal). Sedangkan Boss memilih prinsip tentang konsep eksistensialisme (dari
Heiddeger), yaitu bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kita itu ada
dalam kehidupan. Dalam eksistensialisme,
memahami konsep “aku” berarti bagaimana kita menjalani hidup tanpa tahu diri
kita sebenarnya. Satre mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului esensi
manusia itu sendiri. Manusia tidak tahu bagaimana dia menjalani hidupnya. Hidup
manusia, siapa manusia sebenarnya tidak ditentukan oleh Tuhan, hukum alam,
genetika maupun lingkungan sekitar. Semuanya itu hanya sebatas sebagai bahan
baku bagi siapa sesungguhnya manusia. Akan tetapi bagaimana manusia menjalani
hidupnya, itulah yang akan membentuk siapa manusia yang sebenarnya. Berarti,
saya adalah yang membentuk diri manusia.
Eksistensialisme
memiliki manfaat dalam dunia psikologi. Salah satu manfaat itu adalah
penerapannya dalam kehidupan nyata adalah yang terjadi pada proses konseling.
Jadi, eksistensialisme merupakan salah satu aliran dari beberapa aliran yang
dapat dijadikan dasar dari proses konseling. Selain itu, eksistensialisme
juga berfungsi sebagai landasan dalam melakukan terapi. Penerapan mazhab
eksistensialisme juga memasuki wilayah pendidikan. Penerapan yang dimaksud
berupa diterbitkannya jurnal pendidikan dan jurnal kebidanan, meskipun hanya
beberapa jurnal yang hanya bisa diterbitkan. Dalam
kaitannya dengan teori humanistik, secara histori sebenarnya eksistensialisme menjadi
dasar – dasar awal peletakan konsep humanisme. Humanisme sendiri berpusat pada
diri, keseluruhan, berharap akan aktualisasi diri, serta mengajarkan optimisme
mengenai kekuatan manusia untuk mengubah diri dan masyarakat.
Dalam
kajian ilmu psikologi, psikolgi eksistensial dapat dimanfaatkan secara maksimal
untuk memahami keberadaan manusia dilihat dari unsur kebebasan yang dimiliki.
Manusia adalah individu yang unik dalam mempersepsi dan mengevaluasi dunia.
Disini keberadaan manusia sangatlah subjektif. Eksistensialisme menganggap
manusia sebagai individu yang memiliki kebebasan penuh dalam menentukan jalan
hidupnya kedepan. Sehingga manusia bisa mengarahkan dirinya untuk melakukan
yang terbaik buat dirinya. Sebaliknya,
eksistensial menjadi tidak berlaku ketika apa yang dilakukan manusia tidak
sesuai dengan apa yang terdapat dilingkungan social. Apabila kebebasan manusia
telah bercampur dengan kepentingan yang bersifat mekanis, dimana manusia sudah
tidak bisa mengontrol dirinya dan lebih mendapat kontrol dari orang lain.
Seperti aliran – aliran yang lainnya,
eksistensialisme menuai beberapa kritik. Kritik – kritik itu muncul pada hal
ide atau gagasan baru yang cenderung sulit diekspresikan oleh siapapun. Bahasa
yang digunakan dalam eksistensialisme cukup membingungkan. Hal ini berpengaruh
pada penulisan – penulisan ilmiah, sehingga hanya ada beberapa jurnal yang bisa
diterbitkan. Selain itu, psikologi eksistensial dianggap tidak ilmiah. Hal ini
dikarenakan tidak adanya hipotesis atau data statistik, serta sampel – sampel
yang digunakan tidak bersifat acak.
Adapun
solusi untuk masalah gagasan baru yang sulit diekspresikan, seharusnya ada
penulis – penulis eksistensialis berbahasa inggris yang benar – benar mahir.
Terkait dengan psikologi eksistensialisme yang tidak ilmiah karena tidak
ada hipotesis dan sampel yang cukup mewakili, psikologi eksistensial bisa turun
ke wilayah kualitatif guna melakukan pengkajian lebih mendalam tentang manusia.
Sekalipun dalam kualitatifpun masih ditemui beberapa kekurangan.
III.
Kesimpulan
Eksistensialisme
merupakan salah satu aliran dari beberapa aliran yang dapat dijadikan dasar
dari proses konseling. Selain itu, eksistensialisme juga berfungsi
sebagai landasan dalam melakukan terapi. Penerapan mazhab eksistensialisme juga
memasuki wilayah pendidikan. Penerapan yang dimaksud berupa diterbitkannya
jurnal pendidikan dan jurnal kebidanan, meskipun hanya beberapa jurnal yang
hanya bisa diterbitkan.
IV.
Referensi
Boore, C.G.,
2010. Pesonality Theories. Yogyakarta: Prismasophie
biography: Indonesan cetakan 2. Jakarta Pusaka Jaya
(1976)