Selasa, 18 November 2014

Pendekatan Eksistensial dalam Memahami Manusia



Abstrak
Sifat materialisme merupakan pendorong lahirnya eksistensialisme. Yang dimaksud dengan eksistensi adalah cara orang berada di dunia. Eksistensialisme lahir sebagai reaksi terhadap idealisme. Materialisme dan idealisme adalah dua pandangan filsafat tentang hakikat yang ekstrim. Keduanya bersi benih-benih kebenaran, tetapi keduanya juga salah. Eksistensialisme ingin mencari jalan keluar dan kedua ekstrimitas itu.materilisme memandang kejasmanian (materi) sebagai keseluruhan manusia, pada hal itu hanyalah aspek manusia. Materialisme menganggap manusia hanyalah sesuatu yang ada, tanpa subjek. Manusia berpikir, kesadaran inilah yang tidak disadari oleh materialisme. Sebaliknya berpikir, kesadaran dilebih-lebihkan oleh idealisme, sehingga menjadi seluruh manusia, bahkan dilebih-lebihkan lagi menjadi tidak ada barang lain selain pikiran.
I.       Pendahuluan
Definisi eksistensialisme tidak mudah dirumuskan, bahkan kaum eksistensialis sendiri tidak sepakat mengenai rumusan apa sebenarnya eksistensialisme itu. Sekalipun demikian, ada sesuatu yang disepakati, baik filsafat eksistensi maupun filsafat eksistensialisme sama-sama menempatkan cara wujud manusia sebagai tema sentral.
II.    Eksistensialisme
Eksistensialisme pertama kali muncul pada abad ke 19. Eksistensialisme memiliki akar dalam karya – karya para filosof, khususnya Soeren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche. Kedua filsuf ini mendekati filsafat dari sudut pandang manusia nyata. Selain itu mereka memiliki keyakinan bahwa eksistensi manusia tidak bisa dibawa ke dalam system rasional, sistematis dan logis. Eksistensialisme merupakan sebuah mazhab pemikiran yang memandang  manusia secara holistik dan mengakui kebebasan manusia untuk menentukan kehidupannya sendiri.  Dengan kata lain manusia memiliki eksistensinya sendiri yang menyatu dengan kehidupan dunia. Eksistensi manusia disini dipahami bukanlah sebagai manusia alam, kumpulan – kumpulan reflek maupun sekedar mekanisme – mekanisme. Akan tetapi semua perihal yang dilakukan manusia, itulah yang menjadi inti dari eksistensi itu sendiri. Manusia dipandang sebagai satu kesatuan yang menyeluruh, yakni sebagai kesatuan individu dan dunianya. Eksistensialisme merupakan sebuah mazhab yang dirasa penting untuk dikaji, karena ranah kajiannya yang menekankan pada perlunya berada sedekat mungkin dengan dunia kehidupan, dimana semua orang menjalaninya. Eksistensialisme cenderung memberikan hak kebebasan seluas – luasnya bagi manusia. Hal ini dirasa perlu karena manusia butuh mengeksplorasi dunianya tanpa harus dipengaruhi oleh stimulasi – syimulasi dari lingkungan yang akan mendeterminasi diri manusia itu sendiri.
Eksistensial bukanlah mazhab yang didirikan oleh satu tokoh sebagaimana psikoanalisis. Akan tetapi didirikan oleh banyak pikiran – pikiran tokoh. Tokoh – tokoh yang berperan penting dalam mazhab eksistensial adalah Soeren Kierkegaard dan Friedrich Nietzsche. Dimana kedua tokoh itu merupakan pencetus utama tentang gerakan eksistensialisme. Pemikiran Kierkegaard menekankan pada perestorasian kedalaman iman dalam agama – agama yang telah mongering di tengah masyarakat. Sedangkan gagasan utama Nietsche adalah tentang “Matinya Tuhan”. Eksistensialisme berpandangan bahwa realitas adalah kenyataan hidup itu sendiri. Untuk menggambarkan realitas, kita harus melihat apa yang ada dalam diri kita sendiri. Pengetahuan tergantung pada pemahaman dan interpretasi manusia terhadap realitas. Untuk nilai, manusia memiliki kebebasan untuk memilih. Eksistensialisme sebagai paham yang bersifat liberal, memandang individu sebagai makhluk unik dan bertanggung jawab atas keunikannya. Pendidikan hanya dilakukan manusia, dan memiliki tujuan mendorong individu mampu mengembangkan semua potensi untuk pemenuhan diri. Memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam semua bentuk kehidupan. Adapun proses belajar mengajar, pengetahuan tidak dilimpahkan, melainkan ditawarkan – ”Dialog”. Dan metode yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan karakter yang baik. Mengenai kurikulum, kuruklum yang memberikan para peserta didik kebebasan individual yang luas. Begitu pula guru harus memberi kebebasan peserta didik memilih dan memberi pengalaman yang akan menemukan makna dari kehidupan mereka sendiri, namun guru pun harus mampu membimbing dan mengarahkan peserta didik dengan seksama. Pengetahuan manusia tergantung pada pemahamannya tentang realitas dan tergantung pada interpretasi manusia terhadap realitas. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak harus patuh dan tunduk pada isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran. Pemahaman eksistensialisme pada nilai, menekankan kebebasan dalam tindakan. Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan diantara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan menghasilkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya.
Sedangkan tokoh eksistensialisme yang terkenal adalah Ludwig Binswanger dan Medard Boss. Kedua tokoh ini mendasarkan prinsip – prinsip eksistensialnya pada pemikiran – pemikiran Martin Heiddeger. Prinsip dari Binswanger adalah tentang Umwelt (dunia – fisik), Mitwelt (dunia social) dan Elgenwelt (dunia personal). Sedangkan Boss memilih prinsip tentang konsep eksistensialisme (dari Heiddeger), yaitu bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan kita itu ada dalam kehidupan. Dalam eksistensialisme, memahami konsep “aku” berarti bagaimana kita menjalani hidup tanpa tahu diri kita sebenarnya. Satre mengatakan bahwa eksistensi manusia mendahului esensi manusia itu sendiri. Manusia tidak tahu bagaimana dia menjalani hidupnya. Hidup manusia, siapa manusia sebenarnya tidak ditentukan oleh Tuhan, hukum alam, genetika maupun lingkungan sekitar. Semuanya itu hanya sebatas sebagai bahan baku bagi siapa sesungguhnya manusia. Akan tetapi bagaimana manusia menjalani hidupnya, itulah yang akan membentuk siapa manusia yang sebenarnya. Berarti, saya adalah yang membentuk diri manusia.
Eksistensialisme memiliki manfaat dalam dunia psikologi. Salah satu manfaat itu adalah penerapannya dalam kehidupan nyata adalah yang terjadi pada proses konseling. Jadi, eksistensialisme merupakan salah satu aliran dari beberapa aliran yang dapat dijadikan dasar dari proses  konseling. Selain itu, eksistensialisme  juga berfungsi sebagai landasan dalam melakukan terapi. Penerapan mazhab eksistensialisme juga memasuki wilayah pendidikan. Penerapan yang dimaksud berupa diterbitkannya jurnal pendidikan dan jurnal kebidanan, meskipun hanya beberapa jurnal yang hanya bisa diterbitkan. Dalam kaitannya dengan teori humanistik, secara histori sebenarnya eksistensialisme menjadi dasar – dasar awal peletakan konsep humanisme. Humanisme sendiri berpusat pada diri, keseluruhan, berharap akan aktualisasi diri, serta mengajarkan optimisme mengenai kekuatan manusia untuk mengubah diri dan masyarakat.
Dalam kajian ilmu psikologi, psikolgi eksistensial dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memahami keberadaan manusia dilihat dari unsur kebebasan yang dimiliki. Manusia adalah individu yang unik dalam mempersepsi dan mengevaluasi dunia. Disini keberadaan manusia sangatlah subjektif. Eksistensialisme menganggap manusia sebagai individu yang memiliki kebebasan penuh dalam menentukan jalan hidupnya kedepan. Sehingga manusia bisa mengarahkan dirinya untuk melakukan yang terbaik buat dirinya. Sebaliknya, eksistensial menjadi tidak berlaku ketika apa yang dilakukan manusia tidak sesuai dengan apa yang terdapat dilingkungan social. Apabila kebebasan manusia telah bercampur dengan kepentingan yang bersifat mekanis, dimana manusia sudah tidak bisa mengontrol dirinya dan lebih mendapat kontrol dari orang lain. Seperti aliran – aliran yang lainnya, eksistensialisme menuai beberapa kritik. Kritik – kritik itu muncul pada hal ide atau gagasan baru yang cenderung sulit diekspresikan oleh siapapun. Bahasa yang digunakan dalam eksistensialisme cukup membingungkan. Hal ini berpengaruh pada penulisan – penulisan ilmiah, sehingga hanya ada beberapa jurnal yang bisa diterbitkan. Selain itu, psikologi eksistensial dianggap tidak ilmiah. Hal ini dikarenakan tidak adanya hipotesis atau data statistik, serta sampel – sampel yang digunakan tidak bersifat acak.
Adapun solusi untuk masalah gagasan baru yang sulit diekspresikan, seharusnya ada penulis – penulis eksistensialis berbahasa inggris yang benar – benar mahir.  Terkait dengan psikologi eksistensialisme yang tidak ilmiah karena tidak ada hipotesis dan sampel yang cukup mewakili, psikologi eksistensial bisa turun ke wilayah kualitatif guna melakukan pengkajian lebih mendalam tentang manusia. Sekalipun dalam kualitatifpun masih ditemui beberapa kekurangan.
III. Kesimpulan
Eksistensialisme merupakan salah satu aliran dari beberapa aliran yang dapat dijadikan dasar dari proses  konseling. Selain itu, eksistensialisme  juga berfungsi sebagai landasan dalam melakukan terapi. Penerapan mazhab eksistensialisme juga memasuki wilayah pendidikan. Penerapan yang dimaksud berupa diterbitkannya jurnal pendidikan dan jurnal kebidanan, meskipun hanya beberapa jurnal yang hanya bisa diterbitkan.

IV. Referensi
 Boore, C.G., 2010. Pesonality Theories. Yogyakarta: Prismasophie
biography: Indonesan cetakan 2. Jakarta Pusaka Jaya (1976)