BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Semakin berkembangnya dunia modern
pada zaman sekarang ini, maka semakin banyak pula penemuan-penemuan yang baru,
Umumnya untuk dunia olahraga dan khususnya untuk atletik. Telah banyak sekali
perubahan dari zaman ke zaman, baik berupa peraturan-peraturan dalam atletik
dan lain sebagainya. Cabang olahraga atletik adalah mother of sport, yaitu ibu
dari sebagian besar cabang olahraga, di mana gerakan-gerakannya seperti :
jalan, lari , lempar dan lompat dimiliki oleh sebagian besar cabang olahraga.
Dengan mempelajari olahraga pada
cabang atletik diharapkan dapat mengikuti pola kehidupan yang sehat dan dapat
pula memberikan motivasi untuk menumbuhkembangkan minat pada cabang-cabang
olahraga khususnya pada cabang atletik itu sendiri.
Atletik merupakan kegiatan jasmani
yang terdiri dari gerakan-gerakan yang dinamis dan harmonis seperti: jalan,
lari, lompat dan lempar.
Atletik juga merupakan sarana untuk
pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan daya tahan, kekuatan, kecepatan,
kelincahan dan lain sebagainya, selain untuk sarana pendidikan juga sebagai
sarana penelitian bagi para ilmuan. Atletik berasal dari bahasa Yunani Athlon atau Athlum yang berarti perlombaan, pertandingan, pergulatan atau
suatu perjuangan, orang yang melakukannya disebut Athleta (atlet). Cabang dari atletik meliputi lari, lompat, tolak dan
lempar. Lari merupakan salah satu nomor yang paling dominan di kecabangan
atletik yaitu dimana nomor-nomor lari itu paling banyak diperlombakan.
B. Rumusan Masalah
1.
Apa Pengertian Atletik?
2.
Apa yang dimaksud dengan lari?
3.
Apa yang dimaksud dengan lari jarak pendek?
4.
Bagaimanacara memegang peluru?
5.
Bagaimana cara memegang cakram?
C. Tujuan
Makalah ini disusun untuk memberikan
pengetahuan dan informasi yang lebih yang berkaitan dengan cabang olahraga
atletik. Selain itu, makalah ini juga disusun untuk memenuhi salah satu tugas
mata kuliah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Sejarah
Singkat Atletik di Indonesia
Awal sejarah Atletik di Indonesia
tercatat pada permulaan tahun 1930-an, ketika Pemerintah Hindia Belanda
memasukkan Atletik sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah. Di
kalangan masyarakat pada waktu itu cabang olahraga ini belum tersebar luas,
karena hanya dikenal di lingkungan pendidikan saja. Walaupun demikian,
masyarakat lambat laun mengenal sifat dan manfaat Atletik ini dan dari hari ke
hari penggemarnya bertambah.
Oleh kalangan Belanda telah dibentuk
sebuah organisasi, yang akan menangani penyelenggaraan
pertandingan-pertandingan Atletik dengan nama Nederlands Indische Athletiek
Unie (NIAU). Di Medan pada tahun 1930 - an juga telah berdiri sebuah Organisasi
bernama Sumatera Athletiek Bond (SAB), yang menyelenggarakan
perlombaan-perlombaan Atletik antar sekolah Mulo, HBS dan perguruan-perguruan
swasta.
Perkembangan Atletik di Pulau Jawa
ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi Atletik seperti ISSV Hellas
dan IAC di Jakarta, PAS di Surabaya dan ABA di Surakarta. Dalam mengikuti
sejarah pertumbuhan dan perkembangan Atletik diperoleh kesimpulan bahwa Atletik
Indonesia masih berumur setahun jagung. Akan tetapi berkat perananan NIAU pada
zaman Belanda telah tampil bintang-bintang Atletik Indonesia yang dapat
diandalkan, seperti Effendi Saleh, Tomasoa, Mochtar Saleh, M. Murbambang, Harun
Al Rasyid, Mohd. Abdulah dan F.G.E. Rorimpandey.
Pada nomor lari ditinjau dari jarak
yang ditempuh dapat dibedakan adanya lari jarak pendek (sprint), jarak sedang
atau lari jarak menengah dan jarak jauh. Ditinjau atas dasar lapangan ataupun
rintangan yang dilalui dikenal adanya lari gawang, lari 3000 m steeple chase,
dan lain-lain . Nomor lompat terdiri dari lompat tinggi, lompat tinggi galah,
lompat jauh dan lompat jangkit. Sedangkan nomor lempar meliputi lempar lembing,
lempar cakram, tolak peluru, dan lontar martil.
Lari sebagai olahraga dalam bentul
perlombaan sudah dikenal oleh bangsa mesir kuno pada tahun 1500 SM , sedangkan
bangsa Aisyira purba dan bangsa Babylonia purba di Mesopotamia pada tahun 1000
SM. Disamping perlombaan lari sudah mengenal pula perlombaan-perlombaan lempar
dan lompat. Dengan mencapai loncatan setinggi 1,86 m, Harun Al Rasyid berhasil
mencetak prestasi yang mengagumkan, sedang Nur Bambang dengan kecepatan 10.8
detik dalam lari 100 m mengukir prestasi terbaik di Indonesia.
Baik hasil yang telah dicapai oleh Harun Al Rasyid
maupun hasil Nurbambang baru belasan dan puluhan tahun dapat diperbaiki oleh
atlet-atlet Indonesia. Selama pendudukan Jepang kegiatan cabang olahraga
Atletik praktis terhenti. Dengan terbentuknya Persatuan Olahraga Republik Indonesia
(PORI) pada awal tahun 1946, bagian Atletik dalam PORI segera menghidupkan
kegiatan cabang olahraga menuju perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia yang
baru merdeka.
Usaha nyata dibuktikan dengan
terbentuknya Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) pada tanggal 3
September 1950 di Semarang. Kegiatan pertama tercatat pada akhir tahun 1950
juga dengan mengadakan perlombaan Atletik di Bandung. Perlombaan tersebut sekaligus dimaksudkan
sebagai persiapan atlet-atlet Indonesia menghadapi Asian Games I pada tahun
1951 di New Delhi. Organisasi Induk PASI telah diterima sebagai anggota Atletik
Internasional (IAAF).
B. Pengertian Atletik
Atletik adalah cabang olahraga yang
mendasari dari semua cabang olahraga yang lain, Atletik mempunyai karakteristik
gerakan yang paling dasar yang menjadi kebiasaan kita sehari-hari seperti
contoh : Berjalan, berlari, melompat dan melempar. Gerakan-gerakan tersebut
adalah gerakan alami.
Melihat dari hal diatas jadi
sewajarnya apabila Atletik menjadi Induk dari semua cabang olahraga, karena
dicabang cabang lain sudah mengandung unsur-unsur gerakan pada Atletik.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani "athlon"
yang berarti "kontes". Atletik merupakan cabang olahraga yang
diperlombakan pada olimpiade pertama
pada 776 SM. Induk
organisasi untuk olahraga atletik di Indonesia adalah PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia).
C. Cabang Atletik
Cabang-cabang yang diperlombakan
dalam atletik meliputi lari, lompat, dan lempar. Pada umumnya, nomor-nomor yang
diperlombakan dalam cabang olahraga atletik adalah berbeda antara wanita dan
pria. Baik dalam lari jarak jauh, jalan cepat, lompat, dan lempar. Nomor-nomor
atletik yang diperlombakan seperti terlihat pada tabel berikut .
|
No.
|
Nama Nomor Atletik
|
Nomor-Nomor Perlombaan Atletik
|
|
|
Wanita
|
Pria
|
||
|
1.
|
Jalan Cepat
|
3 km, 5 km, 10 km, dan 20 km
|
10 km, 20 km, 30 km, 50 km.
|
|
2.
|
Lari
|
100 m, 200 m, 400 m, 800 m, 1500 m, 3000 m, 5.000 m,
10.000 m, 100m gawang, marathon, 4x100 m estafet, 4 x 400 m estafet.
|
100m, 200m, 400m, 800m, 1500m, 3000m, 5000m, 10000m,
marathon, 110m gawang, 4x100m estafet, 4x400m estafet.
|
|
3.
|
Lempar
|
Lempar lembing, lempar cakram, dan tolak peluru
|
Lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru, dan
lontar martil.
|
|
4.
|
Lompat
|
Lompat tinggi, dan lompat jauh
|
Lompat tinggi, lompat jauh, lompat tinggi galah, dan
lompat jangkit.
|
|
5.
|
Pancalomba
|
Lari 100m gawang, tolak peluru, lompat tinggi (hari
ke-1). Lompat jauh dan lari 800m hari ke 2.
|
|
|
6.
|
Saptalomba
|
Lari 100m gawang, lompat jauh, lempar lembing, lari
200m hari ke 1.
Lompat tinggi, tolak peluru dan lari 800m hari ke 2.
|
|
|
7.
|
Dasalomba
|
|
Lari 100m, lompat jauh, tolak peluru, lompat tinggi
dan lari 400m hari ke 1.
Lari 110 m gawang, empar cakram, lompat tinggi
galah, lempar lembing, lari 1500m hari ke 2.
|
1.
Lari
Lari merupakan salah satu nomor yang paling dominan di kecabangan atletik
yaitu dimana nomor-nomor lari itu paling banyak diperlombakan. Dalam perlombaan
nomor lari tidak hanya melakukan lari saja, tapi dibutuhkan suatu reaksi yang
cepat ketika melakukan awalan lari dan juga dibutuhkan kecepatan yang maksimal
untuk nomor-nomor pendek seperti nomor 60m, 100m, 200m, dan lainnya. Dengan
reaksi yang cepat seorang atlet bisa melakukan awalan yang lebih baik
dibandingkan dengan atlet yang reaksi lambat. Maka dari itu diperlukan sekali
latihan-latihan yang bisa mendukung reaksi kita untuk bisa cepat lagi. Ini
adalah salah satu contoh latihan-latihan reaksi untuk pemula, untuk latihannya
kita bisa menggunakan suara (bunyi), atau dengan sentuhan, seperti contoh untuk
suara, kita bisa menyuruh atlet untuk berbaring tengkurap dengan posisi kepala
berada pada arah berlawanan dengan arah yang digunakan untuk berlari
(belakang). Kemudian kita memberitahu kepada atlet, bahwa jika anda terdengar
suara hitungan angka 5, anda harus berlari kebelakang. Kita bisa mengecoh
konsentrasi mereka dengan menyebut angka 15, 50, dan lain-lainnya. Dan jika
kita menyebut angka 5, mereka pasti bereaksi dengan membangun badan mereka,
berbalik dan lari kearah belakang. Inilah salah satu contoh untuk melatih
reaksi untuk atlet pemula tetapi menggunaakan tepuk tangan.
1.
Teknik Lari Sprint
Lari jarak sprint adalah semua perlombaan lari dimana peserta berlari dengan
kecepatan penuh/maksimal sepanjang jarak yang harus ditempuh. Lari cepat
meliputi jarak: 100 m, 200 m, 400m. kelangsungan gerak pada sprint secara
teknik sama, kalau ada perbedaan hanyalah terletak pada penghematan penggunaan
tenaga karena perbedaan jarak yang harus ditempuh. Makin jauh jarak yang harus
ditempuh makin membutuhkan daya tahan yang besar, sehingga ada yang dinamakan
“edurance”. Teknik lari jarak pendek terbagi menjadi tiga, yaitu start jongkok,
gerakan lari, dan teknik memasuki garis finish.
a.
Start jongkok
Macam-macam
start jongkok yaitu Bunch start, medium start, dan long start. Cara melakukan
start jongkok adalah sebagai berikut:
1)
Posisi berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada sandaran
blok start, lutut kaki belakang berada sejajr dengan ujung kaki depan.
2)
Kedua lengan lurus sejajr dengan bahu, dan jari-jari
tangnan diletakkan dibelakang garis start.
3)
Berat badan bertumpu di kedua tangan, sehingga sikap
seimbang dapat dipertahankan sampai ada aba-aba.
4)
Start jongkok yang digunakan oleh pelari jarak pendek,
dapat dibedakan menjadi 3, yaitu: Start jongkok pendek (bunch start) : jarak
kaki saat jongkok 14-28 meter, start jongkok menengah (medium start) : jarak
kaki saat jongkok 35-42 meter, start jongkok panjang (long start) : jarak kaki
saat jongkok 50-70 meter.
Aba – aba start pada perlombaan lari sprint adalah sebagai berikut:
Aba – aba start pada perlombaan lari sprint adalah sebagai berikut:
Pelari
maju ke depan garis start. Kemudian, mundur untuk menempatkan kaki, bertumpu
pada balok start. Kaki yang kuat ditempatkan di depan (biasanya kaki kiri).
Berlutut (lutut kaki belakang diletakkan di tanah, lutut kaki depan rileks.
Selanjutnya bersihkan tangan, kemudian letakkan tangan tepat dibelakang garis
start).
a.
aba-aba “Bersedia” adalah
sebagai berikut.
o Letakkan tangan lebih lebar sedikit dari lebar bahu
o Jari-jari dan ibu jari membentuk huruf V terbalik.
o Bahu condong ke depan
o Kepala dan leher tidak tegang
o Pandangan ke depan kira-kira 2,5 meter di muka garis start.
o Pusatkan perhatian pada aba-aba berikutnya.
o Jarak letak kaki terhadap garis start tergantung dari bentuk start yang
digunakan.
b.
Pada aba-aba “Siap”
o Anyunkan panggul ke arah depan atas sedikit lebih tinggi dari bahu
o berat badan lebih ke depan
o Kepala rendah, leher tetap kendor, pandangan ke bawah 1-1,5 meter di muka
garis start.
o Lengan tetap lurus, siku jangan bengkok.
o Pada waktu mengangkat panggul ambil nafas dalam-dalam.
c.
Pada waktu aba-aba “Ya” atau
“Bunyi Pistol”
o Ayunkan lengan kiri ke depan dan lengan kanan ke belakang kuat-kuat
o Kaki kiri menolak kuat-kuat sampai terkejang lurus.
o Kaki kanan melangkah secepat mungkin, dan secepatnya mencapai tanah
o Langkah pertama ini kira-kira 45-57 cm di depan garis start
o Berat badan harus meluncur lurus ke depan.
o Langkah lari makin lama makin menjadi lebar.
o Bernafaslah seperti biasa (Menahan nafas berarti akan menenangkan badan)
d.
Gerakan Lari
o Kaki bertolak kuat-kuat sampai terkejang lurus
o Lutut diangkat tinggi-tinggi (setinggi panggul)
o Usahakan agar badan tetap rileks, badan condong ke depan dengan sudut lutut
antara 25-30 derajat.
o Siku ditekuk kira-kira 90 derajat.
o Pandangan lurus ke depan
o Pelari harus menggerakkan kaki yang tinggi dan langkah selebar mungkin
e.
Gerakan Melewati garis
finish
Cara melakukan gerakan melewati garis
finish adalah sebagai berikut. Melewati garis finish merupakan faktor yang
sangat menentukan kaah menangnya pelari. Dalam prakteknya, teknik melewati
garis finish ada tiga macam sesuai dengan kebutuhan.
o Pelari berlari terus tanpa mengubah kecepatan
o Pelari menyondongkan dada ke depan, kedua tangan dianyunkan ke bawah
bagian belakang
o Pelari yang menggunakan dada di putar dengan anyunan tangan ke depan,
sehingga bahu sebelah maju ke depan.
v Dari ketiga
teknik dalam lari sprint tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
Ø Konsentrasilah
pada saat start dan lari
Ø Pertahankan
lari dari mulai start sampai garis finish
Ø 30 meter
menjelang finish lari harus dipercepat
Ø Sikap lari
tetap pada jalur lurus
Ø Badan tidak
oleng ke kiri maupun kanan.
2.
Lompat
Di atletik
tidak hanya ada nomor lari saja, tetapi juga ada nomor-nomor yang lainnya
seperti lompat, sedangkan lompat itu sendiri terbagi menjadi; lompat jauh,
lompat tinggi, dan lompat gala. Dimana pada ini semua merupakan gabungan antara
kecepatan, kekuatan, dan ketangkasan dalam upaya untuk melompat semaksimal
mungkin. Pada nomor lompat sangat diperlukan sekali kekuatan kaki, karena kaki
digunakan sebagai tumpuan dan mendarat ketika melakukan lompatan. Pada model
latihan lompat untuk pemula kita bisa memilih beberapa permainan yg sering kita
jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti contoh: lari
karung karena sehingga dengan
otomatisnya kita akan
meloncat-loncat sampai ke garis
finish, dan inilah yang kita perlukan pada cabang
atletik terutama pada nomor lompat.
Selain lomba
lari karung kita juga bisa menggunakan permainan yang lainnya, yang tujuannya
biar seorang atlet pemula itu tidak merasa jenuh dan bosen terhadap latihan dan
permainan yang seperti itu terus, kita seorang pelatih harus mampu berfikir
kreatif, yaitu mencari permainan sperti apa lagi yang harus digunakan untuk
latihan melompat. Ini adalah contoh yang kedua untuk model latihan
melompat untuk pemula, yaitu; permaianan melompat
kardus, dimana kita bisa menyuruh atlet kita untuk melompat kardus mie
baik dengan cara kekiri dan kekanan maupun
depan belakang dengan satu syarat tanpa
menyentuh karsus tersebut.
Ø Lompat Jauh
Lompat
jauh merupakan salah satu nomor yang dilombakan dalam cabang olahraga atletik.
Dalam nomor lompat jauh ada 3 gaya, yaitu :
1)
Gaya Jongkok (Tuck)
2)
Gaya berjalan diudara (walking in the air)
3)
Gaya menggantung (Schapper)
Dari
ketiga gaya lompat jauh, yang termudah adalah gaya jongkok. pada bagian ini,
akan membahas lompat jauh gaya jongkok. Dalam Lompat jauh gaya jongkok, si
pelompat harus berusaha melompat sejauh-jauhnya. Bagaimana agar pelompat dapat
mencapai prestasi yang maksimal ? Ada 3 faktor pendukungnya yaitu :
a.
Kecepatan horisontal yaitu kecepatan yang ditumbuhkan
dari awalan (awalan yang cepat)
b.
Kecepatan vertikal yaitu kecepatan yang ditumbuhkan
dari kekuatan (tolakan atau tumpuan yang kuat)
c.
Memadukan antara kecepatan horisontal dan vertikal,
sehingga memperoleh momentum vertikal yang besar serta daya dorong ke depan
yang kuat.
Ada 5 dasar teknik yang harus
dikuasai oleh atlet lompat jauh gaya jongkok.
o Awalan
Awalan
merupakan gerakan penting yang turut menentukan jauh pendeknya lompatan. Maka
perlu adanya latihan awalan. Tujuannya yaitu : merangsang kecepatan berlari
pada waktu akan melompat, tidak mengubah langkah pada waktu akan melakukan
tolakan (sehingga kaki tolak tepat pada balok lompatan)
Cara melakukan latihan awalan.
‒
Lari sprint 50 meter berulang-ulang
‒
Lari sprint 30 meter di tempat awalan lompat
jauh.Tentukan kaki yang menginjak balok tumpuan (kanan atau kiri). Ukur jarak
titik awalan sampai balok tumpuan. Setelah mengetahui jaraknya dan kaki tumpu
(Kanan/kiri), lakukan latihan secara berulang-ulang.
o Tolakan
Dalam
tolakan, pergunakan kaki tolak yang kuat untuk memperoleh tinggi lompatan tanpa
kehilangan kecepatan awalan. Saat melakukan tolakan, hindari tolakan yang
salah, misalnya kaki tidak melewati balok tolakan/tumpuan. Untuk memperoleh
kekuatan tolakan perlu adanya latihan, antara lain :
‒
Jingkat-jingkat di tempat dengan menggunakan kaki tumpuan/tolak.
‒
lari engklek pada jarak tertentu menggunakan kaki
tolak, naik turun tangga dengan menggunakan kaki tolak.
‒
Lakukan secara berulang-ulang.
Cara melakukan tolakan sebagai
berikut :
‒
Pada saat bertumpu, badan agak condong kedepan.
‒
Berat badan sedikit berada di depan kaki tumpu
‒
Pandangan jauh ke depan
‒
Lakukan secara berulang-ulang.
o Saat
Melayang
‒
Usahakan pada saat melayang di udara dapat lebih lama
‒
Kepala jangan menunduk dan pandangan tetap ke muka
‒
Sikap badan tetap condong ke depan
‒
Kedua kaki dilipat, kedua tangan lurus ke muka atau
memeluk kaki
‒
jaga keseimbangan badan untuk persiapan pendaratan.
o Mendarat
‒
Mendarat dengan kedua kaki bersama-sama
‒
Pada saat tumit menyentuh pasir, badan di gerakkan ke
depan untuk menghindari pendaratan pinggul.
Latihan-latihan Pendukung
a.
Melompat dengan awalan 4 langkah dan mendarat dengan
kedua kaki bersama-sama
Cara melakukannya :
‒
Berdiri tegak, salah satu kaki di depan (misalnya kaki
kanan di depan, kaki kiri di belakang). Ayunkan kaki kiri ke depan diikuti kaki
kanan, kemudian kaki kiri dan tolakkan dengan kaki kanan.
‒
Lakukan berulang-ulang.
b.
Lompatan meraih benda diatasnya.
Cara melakukannya :
‒
Berdiri kira-kira 3 langkah dari benda diatasnya.
‒
Bergerak maju ke depan pada langkah ketiga lalu
melompat sambil meraih benda diatasnya
‒
Saat mendarat gunakan kedua kaki dalam posisi jongkok.
3. Tolak
Tolak peluru
termasuk salah satu nomor cabang olahraga atletik. Ada dua gaya tolak peluru
yaitu gaya samping, posisi menghadap arah tolakan (Ortodok) dan gaya posisi
membelakangi arah tolakan (Perry O’Brein). Cabang olah raga ini dilakukan dengan
cara melemparkan bola besi yang sangat berat ( peluru ) sejauh mungkin.
Ada beberapa
dasar yang harus dikuasai atlet, antara lain :
1)
Lapangan
Lapangan tolak peluru bentuknya lingkaran
dengan ketentuan sebagai berikut.
1) Lapangan tolak peluru dengan tebal garisnya 5 cm.
2) Sektor lemparan sudutnya ± 65o.
3) Garis tengah lingkaran 2,50 meter.

1) Lapangan tolak peluru dengan tebal garisnya 5 cm.
2) Sektor lemparan sudutnya ± 65o.
3) Garis tengah lingkaran 2,50 meter.

Perlatan
peluru dengan ukurannya
Ketentuan peluru sebagai berikut.
- Bahan dari besi, kuningan, atau logam.
- Bentuknya bulat, permukaannya harus licin.
- Bahan dari besi, kuningan, atau logam.
- Bentuknya bulat, permukaannya harus licin.
Untuk senior
: Putra beratnya 7,257 kg dan putri beratnya 4 kg.
Untuk yunior
: Putra beratnya 5 kg dan putri beratnya 3 kg.
- Peluru untuk pria diameter minimal 110
mm dan maksimal 130 mm.
- Peluru untuk wanita diameter minimal 95 mm dan maksimal 110 mm.
- Rol meter terbuat dari baja, gunanya untuk mengukur jarak tolakan.
- Bendera untuk memberi tanda pada bekas tolakan.
- Peluru untuk wanita diameter minimal 95 mm dan maksimal 110 mm.
- Rol meter terbuat dari baja, gunanya untuk mengukur jarak tolakan.
- Bendera untuk memberi tanda pada bekas tolakan.
2)
Cara memegang peluru
Peluru
diletakan pada telapak tangan bagian atas atau pada ujung telapak tangan yang
dekat dengan jari tangan. Jari tangan diregangkan atau dibuka, jari manis, jari
tengah dan jari penunjuk dipergunakan untuk menahan peluru bagian
belakang.Sedangkan jari kelingking dan ibu jari digunakan untuk menahan peluru
bagian samping. Yaitu agar peluru tidak tergelincir kedalam atau keluar
3)
Sikap badan pada waktu
awalan dan tolakan
Mengambil
posisi awal dengan membelakangi arah tolakan badan, berdiri tegak dengan kaki dibuka
lebar ( kangkang ) dengan posisi kaki kiri lurus kedepan dan berat badan ada di
atas kaki kanan, pada saat badan diturunkan, tumit kaki penunjang diangkat,
kaki belakang juga diangkat sedikit bengkok, kearah belakang atas, kemudian
badan dibungkukkan kedepan dan lutut kanan ditekuk lurus kedepan demikian juga
ujung kakinya. Sedangkan keadaan tangan kanan memegang peluru dan ditempelkan
pada bahu dan tangan kiri dengan siku dibengkokkan berada didepan sedikit agak
serong keatas lemas. Tangan kiri berfungsi untuk membantu dan menjaga
keseimbangan.
4)
Cara menolakan peluru
Kaki kanan
sekarang segera diluruskan, memberi dorongan bermula dari sol tumit kaki
belakang, sedang kaki kiri menendang ke belakang kuat-kuat terhadap / ke arah
balok batas tolakan. Bersamaaan dengan memutar badan dari belakang kearah
samping kiri atau kearah tolakan, siku ditarik serong keatas kebelakang (
kearah samping kiri ), pinggul, pinggang dan perut didorong kedepan agak keatas
hingga dada terbuka menghadap kedepan serong keatas kearah tolakan. Dagu
diangkat dan pandangan kearah tolakan. Pada saat seluruh badan menghadap kearah
tolakan, secepatnya peluru itu ditolakan sekuat-kuatnya kedepan kearah tolakan
( parabola ). Seanjutnya setelah tangan kanan meolak diikuti gerak loncat kaki
kanan ke depan.
4. Lempar
1)
Lempar
lembing
Lempar
lembing termasuk salah satu nomor lempar dalam cabang olahraga atletik,
prestasi yang diukur adalah hasil lemparan sejauh mungkin. Ada beberapa teknik
dasar yang harus dikuasai oleh atlet lempar lembing yaitu cara memegang
lembing, cara membawa lembing, lempar lembing tanpa awalan, dan lempar lembing
dengan awalan. Lembing yang digunakan terbuat dari logam untuk
Putra beratnya 800 gram dengan panjang 2,70 m, sedangkan Putri beratnya 600
gram dengan panjang 2,30 m. Teknik dalam lempar lembing. yang pertama, yaitu:
a.
Cara Memegang
o Cara
Finlandia
Pertama
lembing diletakkan pada telapak tangan dengan ujung atau mata lembing serong
hamper menuju arah badan. Kemudian jari tengah memegang tepian atau pangkal
ujung dari tali bagian belakang (dilingkarkan, dibantu dengan ibu jari
ndiletakkan pada tepi belakang dari pegangan dan pada badan lembing. Jari
telunjuk harus lemas ke belakang membantu menahan badan lembing. Sedangkan
jari-jari yang lainnya turut memegang lilitan pegangan di atasnya dalam keadaan lemas. Dengan cara
Finlandia ini, jari tengah dan ibu jari yang memegang peranan penting untuk
mendorong tali pegangan pada saat melempar (Syarifuddin, 1992).
o
Cara Amerika
Pertama
lembing diletakkan pada telapak tangan, dengan ujung atau mata lembing serong
hamper menuju kea rah badan. Kemudian jari telunjuk memegang tepian atau
pangkal dari ujung tali bagian belakang lembing, dibantu dengan ibu jari
diletakkan pada tepi belakang dari pegangan dan pada badan lembing serta dalam
keadaan lurus. Sedangkan ketiga jari lainya berimpit dan renggang dengan jari telunjuk
turut membantu dan menutupi lilitan tali lembing. Jadi dengan pegangan cara
Amerika ini jari telunjuk dan ibu jari memegang peranan mendorong tali pegangan
lembing pada saat melempar (Syarifuddin, 1992).
o
Cara menjepit
Caranya
hanya menjepitkan lembing diantara dua jari tengah dan jari telunjuk,
sedangkan jari jari lainnya memegang biasa.
b.
Peraturan lomba lempar lembing
o Lembing
terdiri atas 3 bagian yaitu mata lembing, badan lembing dan tali pegangan
lembing. Panjang lembing putra : 2,6
m – 2,7 m sedangkan untuk putri :
2,2 m – 2,3 m. berat lembing putra :
800 gram sedangkan untuk putri : 600
gram.
o Lembing
harus dipegang pada tempat pegangan
o Lemparan sah
bila lembing menancap atau menggores ke tanah
o Lemparan
tidak sah bila sewaktu melempar menyentuh tanah di depan lengkung lemparan
c.
Cara membawa lembing :
Cara mengambil awalan pada lempar lembing sangat erat
kaitannya dengan cara membawa lembing. Oleh karena itu perlu juga diketahui
oleh para atlet lempar lembing.
o Membawa
lembing diatas pundak
Lembing dipegang di atas pundak di samping kepala
dengan mata lembing serong ke atas, siku tangan dilipat atau ditekuk menuju
depan. Cara ini digunakan oleh para pelempar yang menggunakan awalan gaya
jangkit (hop-step) pada waktu akan melempar.
o Membawa
lembing Di bawah
Membawa lembing di bawah adalah dengan lengan kanan
lurus ke bawah, mata lembing menuju serong ke atas dan ekornya menuju serong ke
bawah hamper dekat dengan tanah.
o Membawa
lembing di depan dada
Mata lembing menuju serong ke bawah sedangkan ekornya
menuju serong ke atas melewati pundak sebelah kanan.
d.
Awalan
Dalam lempar
lembing ada dua macam awalan yang sering digunakan, yaitu : awalan silang
(cross-step) dan awalan jangkit (hop-step). Lempar lembing yang mempergunakan
awalan silang (sross-step) lebih dikenal dengan lempar lembing gaya silang,
sedangkan lempar lembing yang mempergunakan awalan jingkat (hop-step) lebih
dikenal dengan lempar lembing gaya jingkat (Adisasmita, 1986).
e.
Gerakan Melempar
Saat kaki
kiri mendarat, kaki kanan ditekuk hingga badan benar-benar jauh condong ke
belakang dan badan sebagian besar pada kaki kanan. Pada saat ini lengan yang
membawa lembing sudah dalam sikap lurus serong ke bawah, mata lembing dan
pandangan terarah kesudut lemparan dan tangan kiri tetap rileks. Saat inilah
terjadi sikap melempar yang sebenarnya. Setelah lembing ditarik melaui
pundak/bahu mendekat telinga, seluruh badan ditinggikan dan dengan
secepat-cepatnya melecutkan lembing. Bersamaan dengan itu lepasnya lembing
dengan hentakan pergelangan tangan sebagai sumber kekeuatan terakhir
(Adisasmita, 1986).
f.
Sikap Badan Setelah Melempar
Dengan
lepasnya lembing dari pergelangan tangan secara otomatis keseimbangan atau yang
lebih dikenal dengan titik berat badan akan menjadi labil dan hilang. Hal ini
disebabkan kekuatan yang yang dikeluarkan untuk melempar dimulai dari kaki
sampai kepergelangan tangan yang diawali kecepatan lari . sehingga secara
ototomatis kaki yang menjadi tumpuan untuk titik berat badan tidak bias menahan
badan yang terdorong ke depan untuk itu, agar keseimbangan dapat terjaga dan
dikembalikan secara baik, maka pada saat tubuh condong kedepan, tangan yang
melempar lembing turun dari hasil pecutan yang dilakukan.
g.
Persyaratan Suatu Lemparan yang Syah
o
Lembing harus di pegang pada bagian
pegangannya, dan harus di lempar lewat atas bahu atau bagian teratas
dari lengan si pelempar dan harus tidak dilempar secara membandul. Gaya non
orthodox tidaklah di izinkan untuk dipakai.
o
Lemparan itu tidak syah apabila mata lembing tidak
menggores tanah sebelum bagian lembing lainnya.
o
Pelempar pada waktu membuat awalan lempar tidak boleh
memotong salah satu garis atau jalur paralel.
o
Lemparan tidak syah bila si pelempar menyentuh dengan
bagian tubuhnya atau anggota badan garis lempar, atau garis perpanjangan (garis
lempar) yang siku-siku terhadap garis paralel, atau menyentuh tanah didepan
garis lempar dan garis-garis itu semua.
o
Sesudah membuat gerakan awalan lempar sampai
lembingnya dilepaskan dan mengudara, tidak sekali-kali pelempar memutar
tubuhnya penuh sehingga punggungnya membelakangi sektor lemparan.
o
Pelempar tidak boleh meninggalkan jalur lari awalan
sebelum lembing yang dilemparkan jatuh ke tanah. Dari sikap berdiri
meninggalkan jalur lari awalan dari belakang lengkung garis lempar dan garis perpanjangan.
o
Tali pegangan (melilit pada badan lembing) berada
dititik pusat gravitasi dan tidak melibihi garis tengah badan lembing dari 8
mm. Lilitan tali pegangan lembing harus sama tebal dan bergerigi, tanpa sabuk
atau benjolan.
o
Panjang lembing untuk putra adalah 2,6 – 2,7 m dan
putri adalah 2,2 – 2,3 m. Berat untuk putra 800 gr dan putri 600 gr.
h.
Jalur Lari Awalan
Panjang
jalur awalan lempar harus tidak lebih dari 36,5 m dan tak kurang dari 30 m dan
harus di batasi dengan dua garis paralel selebar 5 cm yang saling terpisah
sejauh 4 m. Kemiringan kesamping dari jalur lari awalan max 1:1.000.
i.
Garis Lengkung Lemparan
Lemparan
harus dilakukan dari belakang garis lengkung lempar atau sebuah busur dengan
jari-jari 8 cm. Garis lempar ini terdiri dari garis batas lempar dicat putih
selebar 7 cm, atau terbuat dari kayu atau metal dan dipasang rata dengan tanah.
Garis lempar ini di perpanjang ke arah kanan dan kiri 75 cm di buat siku-siku
atau tegak lurus dengan garis paralel 4 m. Garis perpanjangan inipun dicat
putih, lebar 7 cm dan panjangnya 0,75 m.
j.
Sektor Lemparan
Semua
lemparan (lembing) yang di anggap syah harus jatuh di dalam sektor lemparan,
suatu daerah yang dibatasi oleh garis 5 cm di sebelah kanan dan kiri garis
lempar. Garis 5 cm ini di buat di tanah dari titik A yaitu titik dari busur
atau garis lempar, garis itu ditarik melalui titik Bdan C pada titik mana busur
atau garis lempar itu berpotongan dengan garis 5cm untuk membentuk sektor
lemparan. Sektor lemparan ini boleh atau dapat di beri tanda jarak : 30 cm, 50
cm, 70 cm,dan seterusnya.
2)
Lempar
cakram
Lempar
cakram adalah satu cabang olahraga atletik. Cakram yang di lempar berukuran
garis tengah 220 mm dan berat 2 kg untuk laki-laki,1 kg untuk perempuan. Lempar
cakram di perlombakan sejak olimpiade I tahun 1896 di Athena, Yunani.
Cara melempar cakram dengan awalan dua kali putaran badan caranya yaitu:
memegang cakram ada 3 cara, berdiri membelakangi arah lemparan, lengan memegang
cakram diayunkan ke belakang kanan diikuti gerakan badan, kaki kanan agak di
tekuk, berat badan sebagian besar ada di kanan, cakram diayunkan ke kiri, kaki
kanan kendor dan tumit diangkat, lemparan cakram 30 derajat lepas dari
pegangan, ayunan cakram jangan mendahului putaran badan, lepasnya cakram
diikuti badan condong ke depan.
a. Latihan
dasar menggunakan ring karet atau rotan
o
Diawali dengan sikap tegap
o
Langkahkan salah satu kaki sambil mengayunkan ring ke
depan
o
Lanjutkan ayunan hingga mengelilingi tubuh, jaga agar
lengan memegang ring tetap lurus dan berada di bawah ketinggian bahu
o
Langkahkan kaki lurus ke depan (berlawanan dengan arah
tangan). Ikuti gerakan pinggul dan dada ke depan. Kemudian lepaskan ring,
ayunkan tangan ke atas dan langkahkan kaki belakang ke depan.
b.
Cara memegang cakram :
Pegang
dengan buku ujung jari-jari tangan, ibu jari memegang samping cakram, kemudian
pergelangan tangan ditekuk sedikit ke dalam.
c.
Mengayunkan cakram
Mengayunkan cakram, tangan yang
memegang cakram direntangkan sampai lurus. Jangan sampai lepas.
d.
Gerakan lempar cakram
Ada 2 tahap
dalam melempar cakram:
o Persiapan
□
Berdiri dengan kedua kaki dibuka lebar
□
Pegang cakram dengan tangan kanan. Ayunkan sampai di
atas bahu sambil memutar badan ke kiri, kemudian ke kanan secara
berulang-ulang. Saat cakram diayun ke kiri, bantu tangan kiri dengan cara
menyangganya.
o Pelaksanaan
□
Ayunkan cakram ke depan lalu ke belakang
□
Pada saat cakram di belakang, putar badan dan ayunkan
cakram ke samping-depan-atas (membentuk sudut 40o )
□
Lepaskan cakram pada saat berada di depan muka
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Atletik adalah cabang olahraga yang
mendasari dari semua cabang olargara yang lain, Atletik mempunyai karakteristik
gerakan yang paling dasar yang menjadi kebiasaan kita sehari-hari seperti
contoh : Berjalan, berlari, melompat dan melempar. Gerakan-gerakan tersebut
adalah gerakan alami. Cabang-cabang dari atletik sendiri yaitu lari, lompat,
tolak dan lempar.
Atletik bukan cabang olahraga yang
sulit dan rumit untuk dipelajari tetapi atletik adalah cabang olahraga dasar
yang sederhana yang mengembangkan beberapa gerakan dasar olahraga, seperti
lari, lempar dan lompat. Mempelajari olahraga pada cabang atletik diharapkan
dapat memberikan motivasi untuk menumbuhkembangkan minat pada cabang-cabang
olahraga khususnya pada cabang atletik itu sendiri.
DAFTAR
PUSTAKA
Heryana, Dadan & Verianti, Giri. 2010. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas V SD. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional.
Suyatno & Santosa, Teguh. 2010. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan
Kelas VI SD. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional.
Hidayah, Taufik. 2014. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelas X. Jakarta ;
Kemendikbud.
zinxperiax8.blogspot.com/2011/.../makalah-atletik.ht...
www.mas-fariz.com › Education
wildanyuslih.blogspot.com/2013/.../makalah-atletik.ht...
adindaputri29.blogspot.com/2012/11/atletik-dasar.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar