Senin, 04 Januari 2016

Atletik



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Semakin berkembangnya dunia modern pada zaman sekarang ini, maka semakin banyak pula penemuan-penemuan yang baru, Umumnya untuk dunia olahraga dan khususnya untuk atletik. Telah banyak sekali perubahan dari zaman ke zaman, baik berupa peraturan-peraturan dalam atletik dan lain sebagainya. Cabang olahraga atletik adalah mother of sport, yaitu ibu dari sebagian besar cabang olahraga, di mana gerakan-gerakannya seperti : jalan, lari , lempar dan lompat dimiliki oleh sebagian besar cabang olahraga.
Dengan mempelajari olahraga pada cabang atletik diharapkan dapat mengikuti pola kehidupan yang sehat dan dapat pula memberikan motivasi untuk menumbuhkembangkan minat pada cabang-cabang olahraga khususnya pada cabang atletik itu sendiri.
Atletik merupakan kegiatan jasmani yang terdiri dari gerakan-gerakan yang dinamis dan harmonis seperti: jalan, lari, lompat dan lempar.
Atletik juga merupakan sarana untuk pendidikan jasmani dalam upaya meningkatkan daya tahan, kekuatan, kecepatan, kelincahan dan lain sebagainya, selain untuk sarana pendidikan juga sebagai sarana penelitian bagi para ilmuan. Atletik berasal dari bahasa Yunani Athlon atau Athlum yang berarti perlombaan, pertandingan, pergulatan atau suatu perjuangan, orang yang melakukannya disebut Athleta (atlet). Cabang dari atletik meliputi lari, lompat, tolak dan lempar. Lari merupakan salah satu nomor yang paling dominan di kecabangan atletik yaitu dimana nomor-nomor lari itu paling banyak diperlombakan.

B.       Rumusan Masalah
1.    Apa Pengertian Atletik?
2.    Apa yang dimaksud dengan lari?
3.    Apa yang dimaksud dengan lari jarak pendek?
4.    Bagaimanacara memegang peluru?
5.    Bagaimana cara memegang cakram?

C.    Tujuan
Makalah ini disusun untuk memberikan pengetahuan dan informasi yang lebih yang berkaitan dengan cabang olahraga atletik. Selain itu, makalah ini juga disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.
BAB II
PEMBAHASAN

A.      Sejarah Singkat Atletik di Indonesia
Awal sejarah Atletik di Indonesia tercatat pada permulaan tahun 1930-an, ketika Pemerintah Hindia Belanda memasukkan Atletik sebagai salah satu mata pelajaran di sekolah-sekolah. Di kalangan masyarakat pada waktu itu cabang olahraga ini belum tersebar luas, karena hanya dikenal di lingkungan pendidikan saja. Walaupun demikian, masyarakat lambat laun mengenal sifat dan manfaat Atletik ini dan dari hari ke hari penggemarnya bertambah.
Oleh kalangan Belanda telah dibentuk sebuah organisasi, yang akan menangani penyelenggaraan pertandingan-pertandingan Atletik dengan nama Nederlands Indische Athletiek Unie (NIAU). Di Medan pada tahun 1930 - an juga telah berdiri sebuah Organisasi bernama Sumatera Athletiek Bond (SAB), yang menyelenggarakan perlombaan-perlombaan Atletik antar sekolah Mulo, HBS dan perguruan-perguruan swasta.
Perkembangan Atletik di Pulau Jawa ditandai dengan berdirinya organisasi-organisasi Atletik seperti ISSV Hellas dan IAC di Jakarta, PAS di Surabaya dan ABA di Surakarta. Dalam mengikuti sejarah pertumbuhan dan perkembangan Atletik diperoleh kesimpulan bahwa Atletik Indonesia masih berumur setahun jagung. Akan tetapi berkat perananan NIAU pada zaman Belanda telah tampil bintang-bintang Atletik Indonesia yang dapat diandalkan, seperti Effendi Saleh, Tomasoa, Mochtar Saleh, M. Murbambang, Harun Al Rasyid, Mohd. Abdulah dan F.G.E. Rorimpandey.
Pada nomor lari ditinjau dari jarak yang ditempuh dapat dibedakan adanya lari jarak pendek (sprint), jarak sedang atau lari jarak menengah dan jarak jauh. Ditinjau atas dasar lapangan ataupun rintangan yang dilalui dikenal adanya lari gawang, lari 3000 m steeple chase, dan lain-lain . Nomor lompat terdiri dari lompat tinggi, lompat tinggi galah, lompat jauh dan lompat jangkit. Sedangkan nomor lempar meliputi lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru, dan lontar martil.
Lari sebagai olahraga dalam bentul perlombaan sudah dikenal oleh bangsa mesir kuno pada tahun 1500 SM , sedangkan bangsa Aisyira purba dan bangsa Babylonia purba di Mesopotamia pada tahun 1000 SM. Disamping perlombaan lari sudah mengenal pula perlombaan-perlombaan lempar dan lompat. Dengan mencapai loncatan setinggi 1,86 m, Harun Al Rasyid berhasil mencetak prestasi yang mengagumkan, sedang Nur Bambang dengan kecepatan 10.8 detik dalam lari 100 m mengukir prestasi terbaik di Indonesia.
Baik hasil yang telah dicapai oleh Harun Al Rasyid maupun hasil Nurbambang baru belasan dan puluhan tahun dapat diperbaiki oleh atlet-atlet Indonesia. Selama pendudukan Jepang kegiatan cabang olahraga Atletik praktis terhenti. Dengan terbentuknya Persatuan Olahraga Republik Indonesia (PORI) pada awal tahun 1946, bagian Atletik dalam PORI segera menghidupkan kegiatan cabang olahraga menuju perkembangan dan kemajuan bangsa Indonesia yang baru merdeka.
Usaha nyata dibuktikan dengan terbentuknya Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PASI) pada tanggal 3 September 1950 di Semarang. Kegiatan pertama tercatat pada akhir tahun 1950 juga dengan mengadakan perlombaan Atletik di Bandung.  Perlombaan tersebut sekaligus dimaksudkan sebagai persiapan atlet-atlet Indonesia menghadapi Asian Games I pada tahun 1951 di New Delhi. Organisasi Induk PASI telah diterima sebagai anggota Atletik Internasional (IAAF).

B.       Pengertian Atletik
Atletik adalah cabang olahraga yang mendasari dari semua cabang olahraga yang lain, Atletik mempunyai karakteristik gerakan yang paling dasar yang menjadi kebiasaan kita sehari-hari seperti contoh : Berjalan, berlari, melompat dan melempar. Gerakan-gerakan tersebut adalah gerakan alami.
Melihat dari hal diatas jadi sewajarnya apabila Atletik menjadi Induk dari semua cabang olahraga, karena dicabang cabang lain sudah mengandung unsur-unsur gerakan pada Atletik.
Kata ini berasal dari bahasa Yunani "athlon" yang berarti "kontes". Atletik merupakan cabang olahraga yang diperlombakan pada olimpiade pertama pada 776 SM. Induk organisasi untuk olahraga atletik di Indonesia adalah PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia).

C.      Cabang Atletik
       Cabang-cabang yang diperlombakan dalam atletik meliputi lari, lompat, dan lempar. Pada umumnya, nomor-nomor yang diperlombakan dalam cabang olahraga atletik adalah berbeda antara wanita dan pria. Baik dalam lari jarak jauh, jalan cepat, lompat, dan lempar. Nomor-nomor atletik yang diperlombakan seperti terlihat pada tabel berikut .
No.
Nama Nomor Atletik
Nomor-Nomor Perlombaan Atletik
Wanita
Pria
1.
Jalan Cepat
3 km, 5 km, 10 km, dan 20 km
10 km, 20 km, 30 km, 50 km.
2.
Lari
100 m, 200 m, 400 m, 800 m, 1500 m, 3000 m, 5.000 m, 10.000 m, 100m gawang, marathon, 4x100 m estafet, 4 x 400 m estafet.
100m, 200m, 400m, 800m, 1500m, 3000m, 5000m, 10000m, marathon, 110m gawang, 4x100m estafet, 4x400m estafet.
3.
Lempar
Lempar lembing, lempar cakram, dan tolak peluru
Lempar lembing, lempar cakram, tolak peluru, dan lontar martil.
4.
Lompat
Lompat tinggi, dan lompat jauh
Lompat tinggi, lompat jauh, lompat tinggi galah, dan lompat jangkit.
5.
Pancalomba
Lari 100m gawang, tolak peluru, lompat tinggi (hari ke-1). Lompat jauh dan lari 800m hari ke 2.

6.
Saptalomba
Lari 100m gawang, lompat jauh, lempar lembing, lari 200m hari ke 1.
Lompat tinggi, tolak peluru dan lari 800m hari ke 2.

7.
Dasalomba

Lari 100m, lompat jauh, tolak peluru, lompat tinggi dan lari 400m hari ke 1.
Lari 110 m gawang, empar cakram, lompat tinggi galah, lempar lembing, lari 1500m hari ke 2.

1.        Lari
Lari merupakan salah satu nomor yang paling dominan di kecabangan atletik yaitu dimana nomor-nomor lari itu paling banyak diperlombakan. Dalam perlombaan nomor lari tidak hanya melakukan lari saja, tapi dibutuhkan suatu reaksi yang cepat ketika melakukan awalan lari dan juga dibutuhkan kecepatan yang maksimal untuk nomor-nomor pendek seperti nomor 60m, 100m, 200m, dan lainnya. Dengan reaksi yang cepat seorang atlet bisa melakukan awalan yang lebih baik dibandingkan dengan atlet yang reaksi lambat. Maka dari itu diperlukan sekali latihan-latihan yang bisa mendukung reaksi kita untuk bisa cepat lagi. Ini adalah salah satu contoh latihan-latihan reaksi untuk pemula, untuk latihannya kita bisa menggunakan suara (bunyi), atau dengan sentuhan, seperti contoh untuk suara, kita bisa menyuruh atlet untuk berbaring tengkurap dengan posisi kepala berada pada arah berlawanan dengan arah yang digunakan untuk berlari (belakang). Kemudian kita memberitahu kepada atlet, bahwa jika anda terdengar suara hitungan angka 5, anda harus berlari kebelakang. Kita bisa mengecoh konsentrasi mereka dengan menyebut angka 15, 50, dan lain-lainnya. Dan jika kita menyebut angka 5, mereka pasti bereaksi dengan membangun badan mereka, berbalik dan lari kearah belakang. Inilah salah satu contoh untuk melatih reaksi untuk atlet pemula tetapi menggunaakan tepuk tangan.
1.        Teknik Lari Sprint
       Lari jarak sprint adalah semua perlombaan lari dimana peserta berlari dengan kecepatan penuh/maksimal sepanjang jarak yang harus ditempuh. Lari cepat meliputi jarak: 100 m, 200 m, 400m. kelangsungan gerak pada sprint secara teknik sama, kalau ada perbedaan hanyalah terletak pada penghematan penggunaan tenaga karena perbedaan jarak yang harus ditempuh. Makin jauh jarak yang harus ditempuh makin membutuhkan daya tahan yang besar, sehingga ada yang dinamakan “edurance”. Teknik lari jarak pendek terbagi menjadi tiga, yaitu start jongkok, gerakan lari, dan teknik memasuki garis finish.
a.       Start jongkok
Macam-macam start jongkok yaitu Bunch start, medium start, dan long start. Cara melakukan start jongkok adalah sebagai berikut:
1)      Posisi berjongkok dengan kedua kaki bertumpu pada sandaran blok start, lutut kaki belakang berada sejajr dengan ujung kaki depan.
2)      Kedua lengan lurus sejajr dengan bahu, dan jari-jari tangnan diletakkan dibelakang garis start.
3)      Berat badan bertumpu di kedua tangan, sehingga sikap seimbang dapat dipertahankan sampai ada aba-aba.
4)      Start jongkok yang digunakan oleh pelari jarak pendek, dapat dibedakan menjadi 3, yaitu: Start jongkok pendek (bunch start) : jarak kaki saat jongkok 14-28 meter, start jongkok menengah (medium start) : jarak kaki saat jongkok 35-42 meter, start jongkok panjang (long start) : jarak kaki saat jongkok 50-70 meter.
Aba – aba start pada perlombaan lari sprint adalah sebagai berikut:
Pelari maju ke depan garis start. Kemudian, mundur untuk menempatkan kaki, bertumpu pada balok start. Kaki yang kuat ditempatkan di depan (biasanya kaki kiri). Berlutut (lutut kaki belakang diletakkan di tanah, lutut kaki depan rileks. Selanjutnya bersihkan tangan, kemudian letakkan tangan tepat dibelakang garis start).
a.         aba-aba “Bersedia” adalah sebagai berikut.
o  Letakkan tangan lebih lebar sedikit dari lebar bahu
o  Jari-jari dan ibu jari membentuk huruf V terbalik.
o  Bahu condong ke depan
o  Kepala dan leher tidak tegang
o  Pandangan ke depan kira-kira 2,5 meter di muka garis start.
o  Pusatkan perhatian pada aba-aba berikutnya.
o  Jarak letak kaki terhadap garis start tergantung dari bentuk start yang digunakan.
b.        Pada aba-aba “Siap”
o  Anyunkan panggul ke arah depan atas sedikit lebih tinggi dari bahu
o  berat badan lebih ke depan
o  Kepala rendah, leher tetap kendor, pandangan ke bawah 1-1,5 meter di muka garis start.
o  Lengan tetap lurus, siku jangan bengkok.
o  Pada waktu mengangkat panggul ambil nafas dalam-dalam.
c.         Pada waktu aba-aba “Ya” atau “Bunyi Pistol”
o  Ayunkan lengan kiri ke depan dan lengan kanan ke belakang kuat-kuat
o  Kaki kiri menolak kuat-kuat sampai terkejang lurus.
o  Kaki kanan melangkah secepat mungkin, dan secepatnya mencapai tanah
o  Langkah pertama ini kira-kira 45-57 cm di depan garis start
o  Berat badan harus meluncur lurus ke depan.
o  Langkah lari makin lama makin menjadi lebar.
o  Bernafaslah seperti biasa (Menahan nafas berarti akan menenangkan badan)
d.        Gerakan Lari
o  Kaki bertolak kuat-kuat sampai terkejang lurus
o  Lutut diangkat tinggi-tinggi (setinggi panggul)
o  Usahakan agar badan tetap rileks, badan condong ke depan dengan sudut lutut antara 25-30 derajat.
o  Siku ditekuk kira-kira 90 derajat.
o  Pandangan lurus ke depan
o  Pelari harus menggerakkan kaki yang tinggi dan langkah selebar mungkin
e.         Gerakan Melewati garis finish
       Cara melakukan gerakan melewati garis finish adalah sebagai berikut. Melewati garis finish merupakan faktor yang sangat menentukan kaah menangnya pelari. Dalam prakteknya, teknik melewati garis finish ada tiga macam sesuai dengan kebutuhan.
o  Pelari berlari terus tanpa mengubah kecepatan
o  Pelari menyondongkan dada ke depan, kedua tangan dianyunkan ke bawah bagian belakang
o  Pelari yang menggunakan dada di putar dengan anyunan tangan ke depan, sehingga bahu sebelah maju ke depan.

v  Dari ketiga teknik dalam lari sprint tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut:
Ø Konsentrasilah pada saat start dan lari
Ø Pertahankan lari dari mulai start sampai garis finish
Ø 30 meter menjelang finish lari harus dipercepat
Ø Sikap lari tetap pada jalur lurus
Ø Badan tidak oleng ke kiri maupun kanan.

2.        Lompat
Di atletik tidak hanya ada nomor lari saja, tetapi juga ada nomor-nomor yang lainnya seperti lompat, sedangkan lompat itu sendiri terbagi menjadi; lompat jauh, lompat tinggi, dan lompat gala. Dimana pada ini semua merupakan gabungan antara kecepatan, kekuatan, dan ketangkasan dalam upaya untuk melompat semaksimal mungkin. Pada nomor lompat sangat diperlukan sekali kekuatan kaki, karena kaki digunakan sebagai tumpuan dan mendarat ketika melakukan lompatan. Pada model latihan lompat untuk pemula kita bisa memilih beberapa permainan yg sering kita jumpai dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti contoh: lari  karung  karena  sehingga  dengan      otomatisnya     kita    akan   meloncat-loncat   sampai   ke  garis   finish, dan inilah  yang kita  perlukan   pada cabang  atletik  terutama pada nomor lompat.
Selain lomba lari karung kita juga bisa menggunakan permainan yang lainnya, yang tujuannya biar seorang atlet pemula itu tidak merasa jenuh dan bosen terhadap latihan dan permainan yang seperti itu terus, kita seorang pelatih harus mampu berfikir kreatif, yaitu mencari permainan sperti apa lagi yang harus digunakan untuk latihan melompat. Ini adalah contoh yang kedua untuk model latihan   melompat   untuk    pemula, yaitu; permaianan melompat kardus, dimana kita bisa menyuruh atlet kita  untuk melompat kardus mie baik  dengan cara  kekiri dan kekanan maupun   depan   belakang   dengan  satu syarat tanpa  menyentuh karsus tersebut.
Ø  Lompat Jauh
       Lompat jauh merupakan salah satu nomor yang dilombakan dalam cabang olahraga atletik. Dalam nomor lompat jauh ada 3 gaya, yaitu :
1)        Gaya Jongkok (Tuck)
2)        Gaya berjalan diudara (walking in the air)
3)        Gaya menggantung (Schapper)
       Dari ketiga gaya lompat jauh, yang termudah adalah gaya jongkok. pada bagian ini, akan membahas lompat jauh gaya jongkok. Dalam Lompat jauh gaya jongkok, si pelompat harus berusaha melompat sejauh-jauhnya. Bagaimana agar pelompat dapat mencapai prestasi yang maksimal ? Ada 3 faktor pendukungnya yaitu :
a.    Kecepatan horisontal yaitu kecepatan yang ditumbuhkan dari awalan (awalan yang cepat)
b.    Kecepatan vertikal yaitu kecepatan yang ditumbuhkan dari kekuatan (tolakan atau tumpuan yang kuat)
c.    Memadukan antara kecepatan horisontal dan vertikal, sehingga memperoleh momentum vertikal yang besar serta daya dorong ke depan yang kuat.
Ada 5 dasar teknik yang harus dikuasai oleh atlet lompat jauh gaya jongkok.
o   Awalan
       Awalan merupakan gerakan penting yang turut menentukan jauh pendeknya lompatan. Maka perlu adanya latihan awalan. Tujuannya yaitu : merangsang kecepatan berlari pada waktu akan melompat, tidak mengubah langkah pada waktu akan melakukan tolakan (sehingga kaki tolak tepat pada balok lompatan)
Cara melakukan latihan awalan.
        Lari sprint 50 meter berulang-ulang
        Lari sprint 30 meter di tempat awalan lompat jauh.Tentukan kaki yang menginjak balok tumpuan (kanan atau kiri). Ukur jarak titik awalan sampai balok tumpuan. Setelah mengetahui jaraknya dan kaki tumpu (Kanan/kiri), lakukan latihan secara berulang-ulang.
o  Tolakan
Dalam tolakan, pergunakan kaki tolak yang kuat untuk memperoleh tinggi lompatan tanpa kehilangan kecepatan awalan. Saat melakukan tolakan, hindari tolakan yang salah, misalnya kaki tidak melewati balok tolakan/tumpuan. Untuk memperoleh kekuatan tolakan perlu adanya latihan, antara lain :
           Jingkat-jingkat di tempat dengan menggunakan kaki tumpuan/tolak.
           lari engklek pada jarak tertentu menggunakan kaki tolak, naik turun tangga dengan menggunakan kaki tolak.
           Lakukan secara berulang-ulang.
Cara melakukan tolakan sebagai berikut :
           Pada saat bertumpu, badan agak condong kedepan.
           Berat badan sedikit berada di depan kaki tumpu
           Pandangan jauh ke depan
           Lakukan secara berulang-ulang.
o  Saat Melayang
           Usahakan pada saat melayang di udara dapat lebih lama
           Kepala jangan menunduk dan pandangan tetap ke muka
           Sikap badan tetap condong ke depan
           Kedua kaki dilipat, kedua tangan lurus ke muka atau memeluk kaki
           jaga keseimbangan badan untuk persiapan pendaratan.
o  Mendarat
           Mendarat dengan kedua kaki bersama-sama
           Pada saat tumit menyentuh pasir, badan di gerakkan ke depan untuk menghindari pendaratan pinggul.
Latihan-latihan Pendukung
a.    Melompat dengan awalan 4 langkah dan mendarat dengan kedua kaki bersama-sama
Cara melakukannya :
           Berdiri tegak, salah satu kaki di depan (misalnya kaki kanan di depan, kaki kiri di belakang). Ayunkan kaki kiri ke depan diikuti kaki kanan, kemudian kaki kiri dan tolakkan dengan kaki kanan.
           Lakukan berulang-ulang.
b.    Lompatan meraih benda diatasnya.
Cara melakukannya :
           Berdiri kira-kira 3 langkah dari benda diatasnya.
           Bergerak maju ke depan pada langkah ketiga lalu melompat sambil meraih benda diatasnya
           Saat mendarat gunakan kedua kaki dalam posisi jongkok.


3.    Tolak
Tolak peluru termasuk salah satu nomor cabang olahraga atletik. Ada dua gaya tolak peluru yaitu gaya samping, posisi menghadap arah tolakan (Ortodok) dan gaya posisi membelakangi arah tolakan (Perry O’Brein). Cabang olah raga ini dilakukan dengan cara melemparkan bola besi yang sangat berat ( peluru ) sejauh mungkin.
Ada beberapa dasar yang harus dikuasai atlet, antara lain :
1)        Lapangan
Lapangan tolak peluru bentuknya lingkaran dengan ketentuan sebagai berikut.
1) Lapangan tolak peluru dengan tebal garisnya 5 cm.
2) Sektor lemparan sudutnya ± 65o.
3) Garis tengah lingkaran 2,50 meter.
Description: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhCYMYScHdquB3HAngM7tcaNISWthlG-WAdflERrdTilm6D1PIWUyYJAK-EOEjO9G5uD9xA6nOKlqsC6q2C29TWWW76mfCttZXCTWvypoVF4PumTjsgodWRYcisofeIYBoGr_3tkb0_DJQ/s400/dd.png
Perlatan peluru dengan ukurannya
Ketentuan peluru sebagai berikut.
-  Bahan dari besi, kuningan, atau logam.
-  Bentuknya bulat, permukaannya harus licin.
Untuk senior : Putra beratnya 7,257 kg dan putri beratnya 4 kg.
Untuk yunior : Putra beratnya 5 kg dan putri beratnya 3 kg.
-  Peluru untuk pria diameter minimal 110 mm dan maksimal 130 mm.
-  Peluru untuk wanita diameter minimal 95 mm dan maksimal 110 mm.
-  Rol meter terbuat dari baja, gunanya untuk mengukur jarak tolakan.
-  Bendera untuk memberi tanda pada bekas tolakan.
2)        Cara memegang peluru
Peluru diletakan pada telapak tangan bagian atas atau pada ujung telapak tangan yang dekat dengan jari tangan. Jari tangan diregangkan atau dibuka, jari manis, jari tengah dan jari penunjuk dipergunakan untuk menahan peluru bagian belakang.Sedangkan jari kelingking dan ibu jari digunakan untuk menahan peluru bagian samping. Yaitu agar peluru tidak tergelincir kedalam atau keluar
3)        Sikap badan pada waktu awalan dan tolakan
Mengambil posisi awal dengan membelakangi arah tolakan badan, berdiri tegak dengan kaki dibuka lebar ( kangkang ) dengan posisi kaki kiri lurus kedepan dan berat badan ada di atas kaki kanan, pada saat badan diturunkan, tumit kaki penunjang diangkat, kaki belakang juga diangkat sedikit bengkok, kearah belakang atas, kemudian badan dibungkukkan kedepan dan lutut kanan ditekuk lurus kedepan demikian juga ujung kakinya. Sedangkan keadaan tangan kanan memegang peluru dan ditempelkan pada bahu dan tangan kiri dengan siku dibengkokkan berada didepan sedikit agak serong keatas lemas. Tangan kiri berfungsi untuk membantu dan menjaga keseimbangan.
4)        Cara menolakan peluru
Kaki kanan sekarang segera diluruskan, memberi dorongan bermula dari sol tumit kaki belakang, sedang kaki kiri menendang ke belakang kuat-kuat terhadap / ke arah balok batas tolakan. Bersamaaan dengan memutar badan dari belakang kearah samping kiri atau kearah tolakan, siku ditarik serong keatas kebelakang ( kearah samping kiri ), pinggul, pinggang dan perut didorong kedepan agak keatas hingga dada terbuka menghadap kedepan serong keatas kearah tolakan. Dagu diangkat dan pandangan kearah tolakan. Pada saat seluruh badan menghadap kearah tolakan, secepatnya peluru itu ditolakan sekuat-kuatnya kedepan kearah tolakan ( parabola ). Seanjutnya setelah tangan kanan meolak diikuti gerak loncat kaki kanan ke depan.

4.    Lempar
1)        Lempar lembing
Lempar lembing termasuk salah satu nomor lempar dalam cabang olahraga atletik, prestasi yang diukur adalah hasil lemparan sejauh mungkin. Ada beberapa teknik dasar yang harus dikuasai oleh atlet lempar lembing yaitu cara memegang lembing, cara membawa lembing, lempar lembing tanpa awalan, dan lempar lembing    dengan awalan. Lembing yang digunakan terbuat dari logam untuk Putra beratnya 800 gram dengan panjang 2,70 m, sedangkan Putri beratnya 600 gram dengan panjang 2,30 m. Teknik dalam lempar lembing. yang pertama, yaitu:
a.    Cara Memegang
o  Cara Finlandia 
Pertama lembing diletakkan pada telapak tangan dengan ujung atau mata lembing serong hamper menuju arah badan. Kemudian jari tengah memegang tepian atau pangkal ujung dari tali bagian belakang (dilingkarkan, dibantu dengan ibu jari ndiletakkan pada tepi belakang dari pegangan dan pada badan lembing. Jari telunjuk harus lemas ke belakang membantu menahan badan lembing. Sedangkan jari-jari yang lainnya turut memegang lilitan pegangan di atasnya dalam keadaan lemas. Dengan cara Finlandia ini, jari tengah dan ibu jari yang memegang peranan penting untuk mendorong tali pegangan pada saat melempar (Syarifuddin, 1992).
o  Cara Amerika
Pertama lembing diletakkan pada telapak tangan, dengan ujung atau mata lembing serong hamper menuju kea rah badan. Kemudian jari telunjuk memegang tepian atau pangkal dari ujung tali bagian belakang lembing, dibantu dengan ibu jari diletakkan pada tepi belakang dari pegangan dan pada badan lembing serta dalam keadaan lurus. Sedangkan ketiga jari lainya berimpit dan renggang dengan jari telunjuk turut membantu dan menutupi lilitan tali lembing. Jadi dengan pegangan cara Amerika ini jari telunjuk dan ibu jari memegang peranan mendorong tali pegangan lembing pada saat melempar (Syarifuddin, 1992).
o  Cara menjepit
Caranya hanya  menjepitkan lembing diantara dua jari tengah dan jari telunjuk, sedangkan jari jari lainnya memegang biasa.
b.    Peraturan lomba lempar lembing
o   Lembing terdiri atas 3 bagian yaitu mata lembing, badan lembing dan tali pegangan lembing. Panjang lembing putra : 2,6 m – 2,7 m sedangkan untuk putri : 2,2 m – 2,3 m. berat lembing putra : 800 gram sedangkan untuk putri : 600 gram.
o   Lembing harus dipegang pada tempat pegangan
o   Lemparan sah bila lembing menancap atau menggores ke tanah
o   Lemparan tidak sah bila sewaktu melempar menyentuh tanah di depan lengkung lemparan
c.    Cara membawa lembing :
Cara mengambil awalan pada lempar lembing sangat erat kaitannya dengan cara membawa lembing. Oleh karena itu perlu juga diketahui oleh para atlet lempar lembing.
o   Membawa lembing diatas pundak
Lembing dipegang di atas pundak di samping kepala dengan mata lembing serong ke atas, siku tangan dilipat atau ditekuk menuju depan. Cara ini digunakan oleh para pelempar yang menggunakan awalan gaya jangkit (hop-step) pada waktu akan melempar.
o   Membawa lembing Di bawah
Membawa lembing di bawah adalah dengan lengan kanan lurus ke bawah, mata lembing menuju serong ke atas dan ekornya menuju serong ke bawah hamper dekat dengan tanah.
o   Membawa lembing di depan dada
Mata lembing menuju serong ke bawah sedangkan ekornya menuju serong ke atas melewati pundak sebelah kanan.
d.        Awalan
Dalam lempar lembing ada dua macam awalan yang sering digunakan, yaitu : awalan silang (cross-step) dan awalan jangkit (hop-step). Lempar lembing yang mempergunakan awalan silang (sross-step) lebih dikenal dengan lempar lembing gaya silang, sedangkan lempar lembing yang mempergunakan awalan jingkat (hop-step) lebih dikenal dengan lempar lembing gaya jingkat (Adisasmita, 1986).
e.         Gerakan Melempar
Saat kaki kiri mendarat, kaki kanan ditekuk hingga badan benar-benar jauh condong ke belakang dan badan sebagian besar pada kaki kanan. Pada saat ini lengan yang membawa lembing sudah dalam sikap lurus serong ke bawah, mata lembing dan pandangan terarah kesudut lemparan dan tangan kiri tetap rileks. Saat inilah terjadi sikap melempar yang sebenarnya. Setelah lembing ditarik melaui pundak/bahu mendekat telinga, seluruh badan ditinggikan dan dengan secepat-cepatnya melecutkan lembing. Bersamaan dengan itu lepasnya lembing dengan hentakan pergelangan tangan sebagai sumber kekeuatan terakhir (Adisasmita, 1986).
f.         Sikap Badan Setelah Melempar
Dengan lepasnya lembing dari pergelangan tangan secara otomatis keseimbangan atau yang lebih dikenal dengan titik berat badan akan menjadi labil dan hilang. Hal ini disebabkan kekuatan yang yang dikeluarkan untuk melempar dimulai dari kaki sampai kepergelangan tangan yang diawali kecepatan lari . sehingga secara ototomatis kaki yang menjadi tumpuan untuk titik berat badan tidak bias menahan badan yang terdorong ke depan untuk itu, agar keseimbangan dapat terjaga dan dikembalikan secara baik, maka pada saat tubuh condong kedepan, tangan yang melempar lembing turun dari hasil pecutan yang dilakukan.
g.        Persyaratan Suatu Lemparan yang Syah
o  Lembing harus di pegang pada bagian pegangannya, dan harus di lempar lewat atas bahu atau bagian teratas dari lengan si pelempar dan harus tidak dilempar secara membandul. Gaya non orthodox tidaklah di izinkan untuk dipakai.
o  Lemparan itu tidak syah apabila mata lembing tidak menggores tanah sebelum bagian lembing lainnya.
o  Pelempar pada waktu membuat awalan lempar tidak boleh memotong salah satu garis atau jalur paralel.
o  Lemparan tidak syah bila si pelempar menyentuh dengan bagian tubuhnya atau anggota badan garis lempar, atau garis perpanjangan (garis lempar) yang siku-siku terhadap garis paralel, atau menyentuh tanah didepan garis lempar dan garis-garis itu semua.
o  Sesudah membuat gerakan awalan lempar sampai lembingnya dilepaskan dan mengudara, tidak sekali-kali pelempar memutar tubuhnya penuh sehingga punggungnya membelakangi sektor lemparan.
o  Pelempar tidak boleh meninggalkan jalur lari awalan sebelum lembing yang dilemparkan jatuh ke tanah. Dari sikap berdiri meninggalkan jalur lari awalan dari belakang lengkung garis lempar dan garis perpanjangan.
o  Tali pegangan (melilit pada badan lembing) berada dititik pusat gravitasi dan tidak melibihi garis tengah badan lembing dari 8 mm. Lilitan tali pegangan lembing harus sama tebal dan bergerigi, tanpa sabuk atau benjolan.
o  Panjang lembing untuk putra adalah 2,6 – 2,7 m dan putri adalah 2,2 – 2,3 m. Berat untuk putra 800 gr dan putri 600 gr.
h.        Jalur Lari Awalan
Panjang jalur awalan lempar harus tidak lebih dari 36,5 m dan tak kurang dari 30 m dan harus di batasi dengan dua garis paralel selebar 5 cm yang saling terpisah sejauh 4 m. Kemiringan kesamping dari jalur lari awalan max 1:1.000.
i.          Garis Lengkung Lemparan
Lemparan harus dilakukan dari belakang garis lengkung lempar atau sebuah busur dengan jari-jari 8 cm. Garis lempar ini terdiri dari garis batas lempar dicat putih selebar 7 cm, atau terbuat dari kayu atau metal dan dipasang rata dengan tanah. Garis lempar ini di perpanjang ke arah kanan dan kiri 75 cm di buat siku-siku atau tegak lurus dengan garis paralel 4 m. Garis perpanjangan inipun dicat putih, lebar 7 cm dan panjangnya 0,75 m.
j.          Sektor Lemparan
Semua lemparan (lembing) yang di anggap syah harus jatuh di dalam sektor lemparan, suatu daerah yang dibatasi oleh garis 5 cm di sebelah kanan dan kiri garis lempar. Garis 5 cm ini di buat di tanah dari titik A yaitu titik dari busur atau garis lempar, garis itu ditarik melalui titik Bdan C pada titik mana busur atau garis lempar itu berpotongan dengan garis 5cm untuk membentuk sektor lemparan. Sektor lemparan ini boleh atau dapat di beri tanda jarak : 30 cm, 50 cm, 70 cm,dan seterusnya.

2)        Lempar cakram
Lempar cakram adalah satu cabang olahraga atletik. Cakram yang di lempar berukuran garis tengah 220 mm dan berat 2 kg untuk laki-laki,1 kg untuk perempuan. Lempar cakram di perlombakan sejak olimpiade I tahun 1896 di Athena, Yunani. Cara melempar cakram dengan awalan dua kali putaran badan caranya yaitu: memegang cakram ada 3 cara, berdiri membelakangi arah lemparan, lengan memegang cakram diayunkan ke belakang kanan diikuti gerakan badan, kaki kanan agak di tekuk, berat badan sebagian besar ada di kanan, cakram diayunkan ke kiri, kaki kanan kendor dan tumit diangkat, lemparan cakram 30 derajat lepas dari pegangan, ayunan cakram jangan mendahului putaran badan, lepasnya cakram diikuti badan condong ke depan.
a.    Latihan dasar menggunakan ring karet atau rotan
o   Diawali dengan sikap tegap
o   Langkahkan salah satu kaki sambil mengayunkan ring ke depan
o   Lanjutkan ayunan hingga mengelilingi tubuh, jaga agar lengan memegang ring tetap lurus dan berada di bawah ketinggian bahu
o   Langkahkan kaki lurus ke depan (berlawanan dengan arah tangan). Ikuti gerakan pinggul dan dada ke depan. Kemudian lepaskan ring, ayunkan tangan ke atas dan langkahkan kaki belakang ke depan.
b.    Cara memegang cakram :
       Pegang dengan buku ujung jari-jari tangan, ibu jari memegang samping cakram, kemudian pergelangan tangan ditekuk sedikit ke dalam.
c.    Mengayunkan cakram
       Mengayunkan cakram, tangan yang memegang cakram direntangkan sampai lurus. Jangan sampai lepas.
d.        Gerakan lempar cakram
Ada 2 tahap dalam melempar cakram:
o  Persiapan
       Berdiri dengan kedua kaki dibuka lebar
       Pegang cakram dengan tangan kanan. Ayunkan sampai di atas bahu sambil memutar badan ke kiri, kemudian ke kanan secara berulang-ulang. Saat cakram diayun ke kiri, bantu tangan kiri dengan cara menyangganya.
o  Pelaksanaan
     Ayunkan cakram ke depan lalu ke belakang
     Pada saat cakram di belakang, putar badan dan ayunkan cakram ke samping-depan-atas (membentuk sudut 40o )
     Lepaskan cakram pada saat berada di depan muka
















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Atletik adalah cabang olahraga yang mendasari dari semua cabang olargara yang lain, Atletik mempunyai karakteristik gerakan yang paling dasar yang menjadi kebiasaan kita sehari-hari seperti contoh : Berjalan, berlari, melompat dan melempar. Gerakan-gerakan tersebut adalah gerakan alami. Cabang-cabang dari atletik sendiri yaitu lari, lompat, tolak dan lempar.
Atletik bukan cabang olahraga yang sulit dan rumit untuk dipelajari tetapi atletik adalah cabang olahraga dasar yang sederhana yang mengembangkan beberapa gerakan dasar olahraga, seperti lari, lempar dan lompat. Mempelajari olahraga pada cabang atletik diharapkan dapat memberikan motivasi untuk menumbuhkembangkan minat pada cabang-cabang olahraga khususnya pada cabang atletik itu sendiri.




















DAFTAR PUSTAKA

Heryana, Dadan & Verianti, Giri. 2010. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelas V SD. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional.
Suyatno & Santosa, Teguh. 2010. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelas VI SD. Jakarta : Pusat Perbukuan Kementrian Pendidikan Nasional.
Hidayah, Taufik. 2014. Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan Kelas X. Jakarta ; Kemendikbud.
zinxperiax8.blogspot.com/2011/.../makalah-atletik.ht...
www.mas-fariz.com › Education       
wildanyuslih.blogspot.com/2013/.../makalah-atletik.ht...
adindaputri29.blogspot.com/2012/11/atletik-dasar.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar