Senin, 04 Januari 2016

Metode Pembelajaran



BAB  I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Metode adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru dan penggunaannya juga bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan tugasnya bila dia tidak menguasai satu  pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991:72).
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus terpaku dengan menggunakan satu metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan, tetapi menarik perhatian anak didik. Tetapi juga penggunaan metode yang tidak bervariasi akan menguntungkan kegiatan belajar mengajar bila penggunaannya tidak tepat dan tidak sesuai dengan kondisi psikologis anak didik. Oleh karena itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat yang tentang hal ini akan dibahas tentang beberapa metode mengajar. Oleh karena itu, pemilihan dan penggunaan metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan bila guru mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaannya.
Demikian pembicaraan tentang mengenai metode ini secara umum, yang dalam makalah ini akam dibahas lebih mendalam.

B.     Rumusan Masalah

Permasalahan yang akan di bahas dalam makalah ini antara lain :
1.      Apa yang dimaksud dengan metode pembelajaran?
2.      Apa saja  macam-macam metode pembelajaran yang dapat diterapkan?
3.      Bagaimana pemilihan dan penentuan metode dalam pengajaran dan pembelajaran?
4.      Bagaimana cara mengembangkan metode pembelajaran?



C.    Tujuan

Tujuan dari dibuatnya makalah ini antara lain untuk :
1.      Mengetahui pengertian metode  pembelajaran
2.      Mengetahui macam-macam metode pembelajaran
3.      Mengetahui kedudukan dan cara pemilihan serta penentuan metode dalam pengajaran dan pembelajaran
4.      Mengetahui cara mengembangkan metode pembelajaran


BAB  II
KAJIAN TEORITIK

Metode (Yunani: methodos=jalan, cara), dalam filsafat dan ilmu pengetahuan metode artinya cara memikirkan dan memeriksa suatu hal menurut rencana tertentu. Dalam dunia pengajaran, metode adalah rencana penyajian bahan yang menyeluruh dengan urutan yang sistematis berdasarkan approach tertentu. Jadi metode merupakan cara melaksanakan pelajaran, sedangkan approach bersifat filosofis/aksioma. Karena itu, dari suatu approach, dapat tumbuh beberapa metode. Misalnya dari aural-oral approach (mendengar bicara) dapat tumbuh metode memikri-memorisasi (mimom), metode pattern-practice (pola-pola praktis), dan metode lainnya yang mengutamakan kemampuan berbahasa khususnya kemampuan berbicara (bahasa lisan) melalui latihan intensif (drill). Cognitive cove learning theory melahirkan metode gramatika-terjemahan yang mengutamakan penguasaan kaidah tata bahasa dan pengetahuan tentang bahasa. Pada hakikatnya, metode terdiri atas empat langkah, yaitu seleksi, gradasi, presentasi, dan repetisi. Unsure seleksi dan gradasi materi pelajaran merupakan unsur yang tak terpisahkan dengan unsure prsentasi dan repetisi dalam membentuk suatu metode mengajar (Mackey, 1965:157).
Metode merupakan upaya untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai dengan optimal. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Strategi menunjuk pada suatu perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008:3). Tidak semua metode cocok digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Hal ini tergantung dari karakteristik peserta didik, materi pembelajaran, dan konteks lingkungan dimana pembelajaran berlangsung. Pengembang pembelajaran dan guru, dosen atau instruktur memegang peran penting dalam menciptakan kondisi belajar yang dapat memfasilitasi peserta didik di dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan. Oleh karena itu, metode-metode yang dapat diterapkan dalam pembelajaran metode ceramah, demonstrasi adalah diskusi simulasi, pemberian tugas dan resitasi, tanya jawab, pemecahan masalah (problem solving), sistem regu,metode latihan (drill), karyawisata (field trip), ekspositori, inkuiri, kontekstual, bermain peran, induktif dan deduktif. Metode seperti yang dipaparkan di atas hanyalah sebagian kecil dari paling tidak sekitar empat puluh sembilan metode (Reigeluth and Chellman, 2009), atau sekitar dua puluh metode (Suparman, 2012).
Selain itu, menurut J.R. David dalam Teaching Strategies for College Class Room (1976) menyebutkan bahwa method is a way in achieving something (cara untuk mencapai sesuatu). Artinya, metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan melalui penggunaan metode pembelajaran.
Komponen metode pembelajaran mencakup beberapa metode yang disesuaikan dengan langkah-langkah pada urutan kegiatan. Setiap langkah dapat disesuaikan dengan satu atau lebih metode tergantung dari metode mana yang cocok dengan tujuan, materi, dan jenis media yang digunakan.



BAB  III
PEMBAHASAN


A.    Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah peserta didik mencapai kompentensi tertentu.  Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun bagi peserta didik (dalam memilih strategi belajar). Dengan demikian, makin baik metode, maka makin efektif juga pencapaian tujuan belajar (Winarno Surahmad, 1982). Langkah metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan utama yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar peserta didik.
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Di dalam mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.

B.     Macam-macam Metode Pembelajaran
Perkembangan mental peserta didik di sekolah, antara lain meliputi kemampuan untuk bekerja secara abstraksi menuju konseptual.implikasinya kepada pembelajaran, harus memeberikan pengalaman yang bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi. pembelajaran yang harus memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik.
Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan efektifitas dan efisiensi pembelajaran. pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru serta lebih menekankan pada interaksi peserta didik. penggunaan metode yang kreatif akan sangat membantu peserta didik mencapai tujuannnya.
Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menenkankan pada reativitas, rasa ingin tahu, bimbingan dan kedewasaan.


1.      Metode Demonstrasi
Melalui metode demonstrasi guru memeperlihatkan suatu proses, peristiwa, atau cara kerja suatu alat kepada peserta didik. demonstrasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sekedar memberikan pengetahuan yang sudah diterima begitu saja oleh peserta didik, sampai pada cara agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah.
Agar pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi berlangsung secara efektif, langkah-langkah yang dianjurkan adalah:
a.       Lakukan perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dimulai.
b.      Rumuskanlah tujuan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dan pilihlah materi yang tepat juga.
c.       Buatlah garis besar langkah-langkah demonstrasi, akan lebih efektif jika dikuasai dan dipahami oleh peserta didik maupun guru.
d.      Mulailah demontrasi dengan menarik perhatian seluruh peserta didik dan ciptakanlah suasana yang tenang dan menyenangkan.
e.       Upayakan agar semua peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.
f.       Lakukan evaluasi erhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Untuk menetapkan hasil pembelajaran melalui metode demonstrasi, pada akhir ertemuan dapat diberikan tugas-tugas yang sesuai dengan kegiatan yang telah dilaksanakan.
2.      Metode Inquiri
Inquiri berasal dari bahasa Inggris “inquiry” yang secara harfiah berarti penyelidikan. Carin dan Sund (1975) mengemukakan bahwa inquiri adalah the process of investigating a problem. Adapaun piaget mengemukakan bahwa metode inquiri merupakan metode yang memepersiapkan peserta didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat apa yang terjadi, ingin melaukukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaaan, mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan dengan yang lain, membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.
Metode inquiri merupakan metode penyelidikan  yang melibatkan proses mental dan kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a.       Mengajukan pertanyaan-pertenyaan dtentang fenomena alam.
b.      Merumuskan masalah yang ditemukan.
c.       Merumuskan hipotesis.
d.      Merancang dan melakukan eksperimen.
e.       Mengumpulkan dan menganalisis data.
f.       Menarik kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah yakni: objektif, jujur, hasrat ingin tahu, terbuks, berkemauan, dan tanggung jawab.
Sund and Trowbridge (1973) mengemukakan tiga macam metode inquiri sebagai berikut:
a.       Inquri terpimpin (Guide Inquiri), pesert didik memperoleh pedoman sesuai dengan yang dibutuhkan.
b.      Inquri bebas (free inquiri), peserta didik melakukan penelitian sendiri bagaikan seorang ilmuawan.
c.       Inquiri bebas yang dimodifikasi, pada inquri ini guru memberikan permasalahan atau problem dan kemudian peserta didik diminta untuk memecahkan permasalahan tersebut malaui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.

3.      Metode Penemuan
Penemuan (discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung. pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses dari pada hasil belajar.
Langkah-langkah mengajar dengan menggunakan metode penemuan yaitu:
a.       Adanya masalah yang akan dipecahkan.
b.      Sesuai dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik.
c.       Konsep dan prinsip yang harus digunkaan perlu ditulis secara jelas.
d.      Harus tersedia alat dan bahan yang digunakan.
e.       Susunan kelas diatur sedemikian rupa agar memudahkan proses berpikir peserta didik dalam kegiatan belajar mengajar.
f.       Guru memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengumpulkan data.
g.      Guru harus memberikan jawaban dengan tepat dan tepat dengan data dan informasi yang diperlukan oleh peserta didik.

4.      Metode Eksperimen
Metode eksperimen merupakan suatu bentuk pembelajaran yang melibatkan peserta didik bekerja dengan benda-benda, bahan-bahan dan peralatan laboratorium, baik secara perorangan maupun kelompok.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode eksperimen adalah:
a.       Tetapkan tujuan eksperimen.
b.      Persiapkan alat dan bahan yang diperlukan.
c.       Persiapkan tempat eksperimen.
d.      Pertimbangkan jumlah peserta didik sesuai dengan alat-alat yang tersedia.
e.       Perhatikan keamanan dan kesehatan untuk menghindarkan risiko berbahaya.
f.       Perhatikan disiplin atau tata tertib, terutama dalam menjaga peralatan dan bahan yang digunakan.
g.      Berikan penjelasan tentang apa yang harus diperhatikan dan tahapan yang harus dilakukan peserta didik termasuk yang dilarang dan membahayakan.

5.      Metode Pemecahan Masalah
Menurut Gagne (1985), kalau seorang peserta didik diperhadapkan dengan suatu masalah, pada akhirnya mereka bukan hanya memecahkan masalah, tetapi juga belajar sesuatu yang baru.
Pemecahan masalah  memegang peranan penting baik dalam pelajaran sains maupun dalam banyak disiplin ilmu lainnya, terutama agar pembelajaran berjalan dengan fleksibel.
Para ahli mengemukakan berbagai langkah dalam mengemukakan masalah, tetapi pada hakikatnya langkah yang dikemukakan adalah sama. Davis dan Alexander (1974) mengemukakakan langkah-langkah pemecahan masalah sebagai suatu seri yang meliputi:
a.       Merasakan adanya masalah-masalah yang potensional,
b.      Merumuskan masalah,
c.       Mencari jalan keluar,
d.      Memilih jalan keluar yang tepat,
e.       Melaksanakan pemecahan masalah,
f.       Menilai apakah pemecahan masalah yang dilakukan sudah tepat atau belum.

6.      Metode Karya Wisata
Karya wisata merupakan suatu perjalanan atau pesiar yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah. Meskipun karyawisata memiliki banyak hala yang bersifat nonakademis, tujuan umum pendidikan dapat dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan tentang dunia luar.
Hal-hal yang harus dilakukan sebelum menggunakan metode karyawisata adalah:
a.       Menentukan sumber masyarakan sebagai sumber belajar mengajar,
b.      Mengambil keseuaian sumber belajar dengan tujuan program sekolah,
c.       Menganalisis sumber belajar berdasarkan nilai pedagogis,
d.      Menghubungkan sumber belajar dengan kurikulum,
e.       Mengembangkan karyawisata secara logis dan sistematis,
f.       Melaksanakan karyawisata sesuai dengan tujuan yang ditetapkan,
g.      Menganalisis apakah tujuan karyawisata telah tercapai atau tidak.

7.       Metode Perolehan Konsep
Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan, konsep-konsep merupakan batu-natu pembangunan (building block) berpikir konsep-konsep merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk memasukkan prinsip-prinsip dan genealisasi-generalisasi. oleh karena itu, untuk memecahkan masalah seorang peserta didik harus mematuhi aturan antara yang selaras dan aturan ini didasarkan pada konsep yang diperolehnya.



8.      Metode Penugasan
Metode penugasan merupakan cara penyajian bahan pelajaran. Pada metode ini guru memberikan seperangkat tugas yang harus dikerjakan peserta didik baik secara individu maupun kelompok.
Agar metode penugasan dapat berjalan secara efekti harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Tugas harus direncanakan secara jelas dan sistematis.
b.      Tugas yang diberikan harus dapat dipahami peserta didik.
c.       Apabila tugas dalam bentuk kelompok, perlu diupayakan agar seluruh siswa terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut.
d.      Perlu diupayakan guru mengontrol proses penyeesaian tugas yang dikerjakan peserta didik.
e.       Berikan penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta didik.

9.      Metode Ceramah
Ceramah merupakan metode yang paling umum digunakan dalam proses pembelajaran. Pada metode ini guru memberikan bahan melalui penuturan dan penjelasan lisan secara langsung terhadap peserta didik.
Hal-hal yang erlu dipersiapkan guru dalam menggunakan metode ceramah adalah sebagai berikut:
a.       Rumuskan tujuan instruksional khusus, mengembangkan pokok-pokok materi belajar-mengajar dan mengkajinya apakah materi tersebut tepat untuk diceramahkan.
b.      Apabila akan divariasikan dengan metode lain, perlu dipikirkan apa yang akan disampaikan melalui ceramah dan apa yang disampaikan melalui yang lain.
c.       Siapkan alat peraga atau media pelajaran secara matang, media apa dan cara menggunakannya bagaimana.
d.      Perlu dibuat garis besar yang akan diceramahkan.
Akhiri ceramah dengan memeberikan kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan hal-ha yang belum jelas, buatlah kesimpulan dan penilaian baik secara lisan maupun tertulis.
10.   Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab merupakan cara menyajikan bahan ajar dalam bentuk pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan. Pertanyaan- pertanyaan dan jawaban  bisa muncul dari guru bisa juga dari peserta didik. pertanyaan dapat digukan untuk merangsang aktivitas dan kreativitas berpikir peserta didik. karena itu mereka perlu didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan  metode tanya jawab adalah:
a.       Guru perlu menguasai bahan secara utuh.
b.      Siapkan pertanyaan yang akan ditanyakan kepada peserta didik sesuai dengan bahan ajar yang sedang dipelajari.
Pertanyaan yang baik memiliki kriteria sebagai berikut:
a.       Memberi acuan, yaitu suatu bentuk pertanyaan yang sebelumnya diberikan uraian singkat tentang apa yang akan ditanyakan, jadi pertanyaan tersebut merupakan lanjutan dari ceramah atau cerita guru.
b.      Memusatkan jawaban, yaitu pertanyaan yang diajukan dipusatkan pada apa yang menjadi tujuan kegiatan pembelajaran.
c.       Memberi tuntunan, guru dapat menuntun peserta didik dengan pernyataan yang menuntun mereka pada jawan yang benar
d.      Melacak jawaban peserta didik, guru mengajukan beberapa pertanyaan kembali meskipun jawaban atas pertanyaan pertama sudah benar.

11.   Metode Diskusi
Diskusi dapat diartikan sebagai percakapan responsif yang dijalin oleh pertanyaan-pertayaan problematis yang diarahkan untuk memperoleh pemecahan masalah. Hal tersebut sejalan dengan pengertian yang dikemukakan dalam kamus besar bahasa Indonesia (1988) bahwa diskusi adalah pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah.
Agar pembelajaran dengan metode diskusi dapat berjalan dengan lancar dan efektif perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Tentusan topik masalah yang akan dijadikan bahan diskusi,
b.      Siapkan sarana dan prasaranan yang diperlukan,
c.       Susun peran peserta didik dalam diskusi,
d.      Berikan pengarahan kepada peserta didik agar mereka teribiat aktif dalam diskusi,
e.       Ciptakan suasana yang kondusif,
f.       Berikan kesempatan kepada peserta didik secara merata,
g.      Sadarlah akan perannya guru dalam diskusi sebagai fasilitator, pengawas, pembimbing dan evaluator,
h.      Akhiri diskusi dengan mengambil kesimpulan dari apa yang telah dibicarakan.

C.    Pemilihan dan Penentuan Metode dalam Pengajaran dan Pembelajaran

1.      Kedudukan Metode dalam Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu  proses dalam rangka mencapai tujuann pengajaran. Guru dengan sadar berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan seperangkat teori dan pengalaman yang dimilki, guru gunakan untuk bagaiman mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis.
Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar. Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata; dan memang betul-betul dipikirkan oleh seorang  guru. Berikut adalah penjelasan tentang pemahaman kedudukan metode dalam belajar mengajar,
a.      Metode Sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Metode menempati peranan yang penting dari komponen lainnya dalam kegiatan  belajar mengajar. Tidak adda satu pun kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Ini berarti guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan bellajar mengajar. Motivasi ekstrinsik menurut Sardiman  A.M. (1988: 90) adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena aadanya perangsang dari luar. Karena itu, metode berfungsi  sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang.
Dalam mengajar, guru jarang sekali menggunakan satu metode, karena mereka menyadari bahwa semua metode ada kebaikan dan kelemahannya. Penggunaan satu metode lebih cenderung menghasilkan kegiatan belajar mengajar yang membosankan bagi anak didik. Jalannya pengajaran pun tampak kaku. Anak didik terlihat kurang bergairah belajar. Kejenuhan dan kemalasan menyelimuti kegiatan belajar anak didik. Kondisi seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi guru dan anak didik. Guru mendapatkan kegagalan dalam penyampaian pesan-pesan keilmuan dan anak didik dirugikan. Ini berarti metode tidak dapat difungsikan oleh guru sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.
Akhirnya dapat dipahami bahwa penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan dapat dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah.

b.      Metode Sebagai Strategi Pengajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkontentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang dan ada yang lambat. Faktor inteligensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga penguasaan penuh dapat tercapai. Terhadap perbedaan daya serap anak didik sebagaimana tersebut, memerlukan strategi pengajaran yang tepat.
Karena itu, dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Dra. Roestiyah. N.K.(1989:1), guru harus memiliki strategi agar anak diddik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengena pada tujua yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguassai teknik-teknik penyajian atau biasanya disebut metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.

c.       Metode Sebagai Alat Untuk Mencapai Tujuan
Tujuan adalah pedoman yang memberi arah ke mana kegiatan belajar mengajar akan dibawa. Tujuan dari kegiatan belajar mengajar tidak akan pernah tercapai selama komponen-komponen lainnya tidak diperlukan. Metode merupakan salah satu alat untuk menunjang pencapaian tujuan. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik memiliki keterampilan tertentu, maka metode yang digunakan harus disesuaikan dengan tujuan.
Dengan menggunakan metode yang tepat dapat menunjang kegiatan belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran.

2.      Pemilihan dan Penentuan Metode
Metode mengajar yang digunakan telah melalui seleksi yang sesuai dengan perumusan tujuan intruksional khusus. Pemakaian metode yang satu digunakan untuk mencapai tujuan yang satu, sementara penggunaan metode yang lain, juga digunakan untuk mencapai tujuan yang lain. Untuk itulah dalam pemilihan dan penentuan penggunaan metode pengajaran harus sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah dirumuskan.
a.      Nilai Strategis Metode
Kegiatan belajar mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Didalamnya terjadi interaki edukasi antara guru dengan anak didik ketika menyampaikan bahan pelajaran di kelas. Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan pemakaian metode justru akan mempersulit guru dalam mencapai tujuan pengajaran. Karena itu, dapat dikatakan bahwa metode adalah salah satu cara yang memiliki nilai strategi dalam kegiatan belajar. Nilai strateginya adalah metode dapat mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar.
b.      Efektivitas Penggunaan Metode
Penggunaan metode dapat menunjang pencapaian tujuan pengajaran, namun bukan tujuan yang harus menyesuaikan diri dengan metode. Efektivitas penggunaan metode dapat terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang telah diprogramkan dalam satuan pelajaran, sebagai persiapan tertulis.
c.       Pentingnya Pemilihan dan Penentuan Metode
Kegagalan guru mencapai tujuan pengajaran akan terjadi bila pemilihan dan penentuan metode tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap karakteristik dari masing-masing metode pengajaran. Karena itu, yang terbaik guru lakukan adalah mengetahui kelebihan dan kelemahan dari beberapa metode pengajaran.
d.      Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Metode
Winarno Surakhmad (1990: 97) mengatakan bahwa pemilihan dan penentuan metode dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut :
1)Anak didik
Perbedaan individual anak didik pada aspek biologis, intelektual dan psikologis, mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode yang sebaiknya guru ambil  untuk menciptakan lingkungan belajar yang telah dirumuskan secara operasional. Dengan demikian, kematangan anak didik yang bervariasi mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pengajaran.
2)Tujuan
Tujuan adalah sasaran yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Secara hierarki tujuan itu bergerak dari yang rendah hingga yang tinggi, yaitu tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran, tujuan kurikuler atau tujuan kurikulum, tujuan institusional, dan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pembelajaran dikenal ada dua, yaitu TIU (Tujuan Instruksional Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional Khusus).
3)Situasi
Situasi kegiatan belajar mengajar yang diciptakan tidak selamanya sama tiap harinya, adakalanya guru menciptakan situasi belajar mengajar di alam terbuka. Maka dalam hal ini guru  memilih metode mengajar yang sesuai dengan situasi tersebut dan sifat bahan serta kemampuan yang ingin dicapai oleh tujuan.
4)Fasilitas
Fasilitas merupakan hal yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar. Fasilitas  adalah kelengkapan yanng menunjang belajar anak didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi pemilihan metode mengajar. Keampuhan suatu metode mengajar akan terlihat jika faktor lain mendukung.
5)Guru
Kepribadian, latar belakang pendidikan, dan pengalaman mengajar adalah permasalahan intern guru yang dapat mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar unntuk mencapai tujuan pengajaran.

D.    Mengembangkan Metode Pembelajaran
Mengenai definisi metode pembelajaran banyak istilah yang digunakan seperti metode mengajar (teaching methods), strategi mengajar (teaching strategies), dan metode pembelajaran itu sendiri (instructional methods). Kizlik (2012:1) mengatakan, for all practical purposes means the same thing (untuk tujuan praktis semuanya mempunyai makna yang sama), yakni merujuk pada metode pembelajaran.
Metode adalah alat atau cara yang digunakan untuk mengajarkan materi pembelajaran kepada peserta didik. Pilihan metode tergantung pada apa yang ingin diajarkan, siapa yang diajarkan dan tingkat kemampuan yang diharapkan. Definisi yang lebih komprehensif diberikan oleh Neumannand Koper (2010:78) yang mengatakan bahwa instructional method is defined as a learning outcome oriented set of activities performed by learners and learning supporters (metode pembelajaran didefinisikan sebagai seperangkat aktvitas yang mengarah pada hasil belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan pendukung pembelajaran). Definisi ini memandang metode sama dengan seperangkat aktivitas yang dapat mengarahkan proses pembelajaran dalam upaya mencapai hasil belajar yang diharapkan. Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan metode pembelajaran adalah alat, cara, atau aktivitas yang digunakan untuk meingkatkan hasil pembelajaran. Banyak sekali metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. The university of north Carolina at charlotte (2012) menyajikan 150 metode pembelajaran, mulai dari metode ceramah hingga sampai pada metode curah pendapat (brainstorming). University of Wisconsin (2012:129-132) dengan mengutip Cruikshank, bainer & Metcalf (1999), 41 jenis metode yang menarik untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Kemudian, Suparman (2012: 261-262) membagi metode pembelajaran kedalam 20 macam yang dihubungkannya kompetensi dalam tujuan instruksional (pembelajaran) khusus. Dalam penjelasan ini, ada 24 jenis metode pembelajaran yang dihubungkan dengan kecerdasan jamak.
Kecerdasan jamak
Metode dan gambaran umum
Verbal-linguistik
1.      Ceramah (lecture): penjelasan tentang materi pembelajaran yang diberikan kepada peserta didik.
2.      Curah pendapat (brainstorming): pemaparan tentang garis-garis besar ide yang melibatkan sebagaian atau seluruh peserta didik yang dipandu oleh guru, dosen atau isntruktur dalam proses pembelajaran.
3.      Mendongeng atau bercerita (story telling): penyampaian peristiwa melalui kata-kata, gambar atau suara yang dilakukan dengan improvisasi untuk memperindah jalannya cerita.
4.      Diskusi (discuccion): tukar-menukar gagasan, pemikiran, informasi atau pengalaman di antara peserta didik, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok pikiran yang dipandu oleh moderator.
Logis-matematis
1.      Penyelasian masalah (problem solving): metode yang melibatkan cara berfikir tingkat tinggi untuk menemukan, mengubah, menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi.
2.      Uji coba (experiment): pengujian pendapat, pandangan, konsep atau teori yang dilakukan, baik melalui laboratorium maupun melalui pengujian fakta-fakta di lapangan.
3.      Tanya jawab Socrates (socrates’questions): pengajuan pertanyaan kritis kepada peserta didik yang diangkat dari jawaban diberikan.
4.      Berpikir kritis (critical thinking): suatu metode yang meibatkan proses berfikir aktif, rasional, dan reflektif untuk membuat keputusan berdasarkan kajian mendalam dari bukti-bukti empiris.
Visual-spasial
1.      Kiasan gambar (picture metaphors): perbandingan satu ide dengan ide lainnya yang kelihatannya tidak berhubungan yang bertujuan untuk mengekspesikan konsep melalui gambar-gambar visual.
2.      Pemetaan ide (ideas mapping): pengorganisasian dan klarifikasi pikiran dengan cara visual melalui penggunaan kata-kata kunci dan gambar.
3.      Sketsa ide (idea sketching):pemberian materi pembelajaran dengan melukis atau menggambar sketsa dari suatu benda, orang, atau tempat tanpa menguraikan dengan kata secara perinci.
4.      Visualisasi (visualization): penggambaran ide-ide, konsep, dan teori dalam bentuk papan ide, film atau screen video dalam pikiran tentang bahan yang perlu dikuasai kemudian disimpan dalam papan mental, seperti ejaan kata, rumus-rumus dan fakta-fakta sejarah.
Jasmaniah-kinestetik
1.      Demonstrasi (demonstration): peragaan dan pelaksaaan suatu konsep atau teori dengan menggunakan anggota badan secara langsung.
2.      Bermain peran (role play): metode pembelajaran yang diarahkan untuk mengkreasi peristiwa-peristiwa actual, atau kejadian-kejadian yang mungkin muncul pada masa mendatang.
3.      Studi lapangan/karyawisata (field trip): kunjungan lapangan yang dilakukan bersama dengan peserta didik untuk melihat secara langsung kesesuaian antara teori dan konsep dengan fakta di lapangan.
4.      Berpantomim (pantomym): peragaan atau berbuatan tanpa kata sebagai bentuk ekspresi pendapat, pandangan atau kritik.
Musical-berirama
1.      Diskografi (discography): pengintegrasian lagu-lagu sebagai hasil karya seni dengan topik-topik pembahasan dalam pembelajaran. Setiap kali pembahasan tentang suatu tema atau topic tentu dikaitkan dengan lagu-lagu yang biasa diciptakan untuk kebutuhan pembelajaran.
2.      Sugestopedia (suggestopedia):
pemanfaatan lingkungan belajar yang nyaman disertai dengan music, gambar dan pewarnaan dengan music, gambar dan pewarnaan dengan keterlibatan peserta didik secara aktif.
Musik instrument (instrumental music): penyajian pembelajaran yang dibarengi dengan alunan music yang diatur jenis music, volume dan kondisi ruangannya.
Pengkondisian suasana music (musical conditioning): penyajian materi yang melibatkan penciptaan suasana musik ketika menyajikan, berdiskusi, dan berjalan di dalam kelas dengan mengatur suara, panjang-pendek ucapan, dan intonasi serta gelombang suara.
Interpersonal
1.      Jigsaw: tipe belajar kooperatif yang menekankan pada kerja sama, membagi tanggung jawab, dan empati dengan pemberian tugas untuk dilakukan oleh semua anggota dalam kelompok.
2.      Mengajar teman sebaya (peer tutoring):
Pemberian tugas pembelajaran yang dilakukan dengan bantuan teman sebaya.
3.      Belajar beregu (team  work): belajar bersama yang dilakukan sekelompok peserta didik di mana minat dan pendapat dari setiap anggota dalam menjadi subordinat dari penyatuan kelompok.
4.      Permainan (games): suatu bentuk permainan dalam pembelajaran yang melibatkan proses pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer) untuk pemecah situasi.
5.      Kebekuan pikiran atau fisik peserta didik.
Intrapersonal
1.      Studi mandiri (independent study): pemberian tugas yang dilakukan secara mandiri oleh peserta didik dalam jangka waktu tertentu tanpa bantuan dari peserta didik peserta didik yang lain, tetapi dapat berkonsultasi dengan guru, dosen, atau instruktur jika mendapat kesulitan.
2.      Belajar dengan alat bantu komputer (computer assisted learning): seperangkat aktivitas pembelajaran terprogram yang menggunakan basis komputer sebagai alat bantu.
3.      Refleksi (reflective learning): pembelajaran yang menekankan pada ketersambungan atau keterhubungan proses asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi dalam mengkonstuksi dalam mengkonstruksi pengetahuan baru.
4.      Belajar dengan pengaturan sendiri (self goal setting): pembelajaran yang menekankan pada keterampilan mengorganisasi tujuan dan aktivitas pembelajaran yang dilakukan sendiri oleh peserta didik.
Naturalistic
1.      Belajar melalui alam (learning through nature): pemanfaatan alam sebagai sumber, media, bahan dan objek kajian dengan  melibatkan partisipasi aktif dari peserta didik.
2.      Jendela belajar (windows for learning):  pemanfaatan pintu atau jendela sebagai ruang untuk melihat keluar tentang keadaan alam seperti tumbuh-tumbuhan, binatang, matahari, hujan dan pelangi.
Eksistensial spiritual
1.      Respons peristiwa: pemberian respons pada suatu peristiwa atau kejadian dalam kehidupan masyarakat dan mengaitkan dengan berbagai materi yang dipelajari. Jika perlu peristiwa atau kejadian diangkat sebagai suatu materi pembelajaran.
2.      Panggung beramal (charity event): pengintegrasian materi pembelajaran berbasis proyek yang dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen terkait di luar jam pelajaran. Karena besarnya bentuk aktivitasnya, maka dilakukan secara bersama-sama dengan pekanan pada kerja-kerja voluntir.



BAB  IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan

Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai titik tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Di dalam mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran dengan cakupan teoritis tertentu.
Macam-macam metode pembelajaran yang dapat diterapkan antara lain; metode demonstrasi, inqury, penemuan, eksperimen, pemecahan masalah, karyawisata, perolehan konsep, penugasan, ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
Pemilihan dan penentuan metode dalam kegiatan belajar mengajar, dengan uraian bertolak dari nilai strategis metode, efektivitas penggunaan metode, pentinngnya pemilihan dan penentuan metode serta faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pengajaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode mengajar yang sesuai, yaitu anak didik, tujuan, situasi, fasilitass, dan guru.
Banyak sekali metode yang dapat digunakan untuk mengajarkan materi pembelajaran kepada peserta didik. Pilihan metode tergantung apa yang ingin diajarkan, siapa yang diajarkan, dan tingkat kemampuan yang diharapkan. Pengembangan atau penggunaan metode memiliki keterkaitan dengan kecerdasan jamak, seperti verbal-linguistik, logis-matematis, visual-spasial, jasmaniah-kinestetik, musikal-berirama, interpersonal, intrapersonal, naturalistic, eksistensial-spiritual.

B.     Saran
Sebagai calon guru, yang akan menjadi salah satu sumber belajar harus memahami betul bagaimana pemilihan dan penentuan dalam penggunaan metode dan mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode pengajaran serta berkewajiban untuk menyediakan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar mengajar anak didik di kelas. Dengan mengunakan metode yang berbeda-beda agar dalam proses pembelajaran tidak terjadi kejenuhan pada anak didik dan harus menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Iif Khoiru Ahmadi, dkk. 2011. Strategi Pembelajaran Berorientasi KTSP. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
M. Subana dan Sunarti. 2009. Strategi Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: CV Pustaka Setia.
Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa, E. 2006. Menjadi Guru Profesional. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syaiful Bahri D. dan Aswan Zain. 2010. Strategi Belajar Mengajar Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Yamin, Martinis. 2011. Profesionalisasi Guru & Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta
Yaumi, Muhammad. 2013. Prinsip-prinsip Desain Pembelajaran. Jakarta: Kencana



LAMPIRAN


Daftar Lampiran :
1.      PowerPoint
2.      Profil Kelompok 4

Tidak ada komentar:

Posting Komentar