BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Metode
adalah suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode sangat diperlukan oleh guru
dan penggunaannya juga bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
setelah pengajaran berakhir. Seorang guru tidak akan dapat melaksanakan
tugasnya bila dia tidak menguasai satu
pun metode mengajar yang dirumuskan dan dikemukakan para ahli psikologi
dan pendidikan (Syaiful Bahri Djamarah, 1991:72).
Dalam kegiatan belajar mengajar, guru tidak harus
terpaku dengan menggunakan satu metode, tetapi guru sebaiknya menggunakan
metode yang bervariasi agar jalannya pengajaran tidak membosankan, tetapi
menarik perhatian anak didik. Tetapi juga penggunaan metode yang tidak
bervariasi akan menguntungkan kegiatan belajar mengajar bila penggunaannya
tidak tepat dan tidak sesuai dengan kondisi psikologis anak didik. Oleh karena
itu, di sinilah kompetensi guru diperlukan dalam pemilihan metode yang tepat
yang tentang hal ini akan dibahas tentang beberapa metode mengajar. Oleh karena
itu, pemilihan dan penggunaan metode yang bervariasi tidak selamanya menguntungkan
bila guru mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi penggunaannya.
Demikian pembicaraan tentang mengenai metode ini
secara umum, yang dalam makalah ini akam dibahas lebih mendalam.
B. Rumusan Masalah
Permasalahan
yang akan di bahas dalam makalah ini antara lain :
1. Apa
yang dimaksud dengan metode pembelajaran?
2. Apa
saja macam-macam metode pembelajaran
yang dapat diterapkan?
3. Bagaimana
pemilihan dan penentuan metode dalam pengajaran dan pembelajaran?
4. Bagaimana
cara mengembangkan metode pembelajaran?
C. Tujuan
Tujuan
dari dibuatnya makalah ini antara lain untuk :
1. Mengetahui
pengertian metode pembelajaran
2. Mengetahui
macam-macam metode pembelajaran
3. Mengetahui
kedudukan dan cara pemilihan serta penentuan metode dalam pengajaran dan
pembelajaran
4. Mengetahui
cara mengembangkan metode pembelajaran
BAB II
KAJIAN
TEORITIK
Metode (Yunani: methodos=jalan, cara), dalam
filsafat dan ilmu pengetahuan metode artinya cara memikirkan dan memeriksa
suatu hal menurut rencana tertentu. Dalam dunia pengajaran, metode adalah
rencana penyajian bahan yang menyeluruh dengan urutan yang sistematis
berdasarkan approach tertentu. Jadi metode merupakan cara melaksanakan
pelajaran, sedangkan approach bersifat filosofis/aksioma. Karena itu, dari
suatu approach, dapat tumbuh beberapa metode. Misalnya dari aural-oral approach
(mendengar bicara) dapat tumbuh metode memikri-memorisasi (mimom), metode
pattern-practice (pola-pola praktis), dan metode lainnya yang mengutamakan
kemampuan berbahasa khususnya kemampuan berbicara (bahasa lisan) melalui
latihan intensif (drill). Cognitive cove learning theory melahirkan metode
gramatika-terjemahan yang mengutamakan penguasaan kaidah tata bahasa dan
pengetahuan tentang bahasa. Pada hakikatnya, metode terdiri atas empat langkah,
yaitu seleksi, gradasi, presentasi, dan repetisi. Unsure seleksi dan gradasi materi
pelajaran merupakan unsur yang tak terpisahkan dengan unsure prsentasi dan
repetisi dalam membentuk suatu metode mengajar (Mackey, 1965:157).
Metode merupakan upaya untuk
mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan
yang telah disusun tercapai dengan optimal. Metode digunakan untuk
merealisasikan strategi yang telah ditetapkan. Strategi menunjuk pada suatu
perencanaan untuk mencapai sesuatu, sedangkan metode adalah cara yang dapat
digunakan untuk melaksanakan strategi (Direktorat Tenaga Kependidikan, 2008:3).
Tidak semua metode cocok digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Hal ini tergantung dari karakteristik peserta didik, materi pembelajaran, dan
konteks lingkungan dimana pembelajaran berlangsung. Pengembang pembelajaran dan
guru, dosen atau instruktur memegang peran penting dalam menciptakan kondisi
belajar yang dapat memfasilitasi peserta didik di dalam mencapai hasil belajar
yang diharapkan. Oleh karena itu, metode-metode yang dapat diterapkan dalam
pembelajaran metode ceramah, demonstrasi adalah diskusi simulasi, pemberian
tugas dan resitasi, tanya jawab, pemecahan masalah (problem solving), sistem
regu,metode latihan (drill), karyawisata (field trip), ekspositori, inkuiri,
kontekstual, bermain peran, induktif dan deduktif. Metode seperti yang dipaparkan
di atas hanyalah sebagian kecil dari paling tidak sekitar empat puluh sembilan
metode (Reigeluth and Chellman, 2009), atau sekitar dua puluh metode (Suparman,
2012).
Selain itu, menurut J.R. David dalam Teaching Strategies for College Class Room (1976)
menyebutkan bahwa method is a way in achieving something (cara untuk mencapai
sesuatu). Artinya, metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah
ditetapkan. Dengan demikian, metode dalam rangkaian sistem pembelajaran
memegang peranan yang sangat penting. Keberhasilan implementasi strategi
pembelajaran sangat tergantung pada cara guru menggunakan metode pembelajaran
karena suatu strategi pembelajaran hanya mungkin dapat diimplementasikan
melalui penggunaan metode pembelajaran.
Komponen metode pembelajaran mencakup
beberapa metode yang disesuaikan dengan langkah-langkah pada urutan kegiatan.
Setiap langkah dapat disesuaikan dengan satu atau lebih metode tergantung dari
metode mana yang cocok dengan tujuan, materi, dan jenis media yang digunakan.
BAB III
PEMBAHASAN
A. Pengertian Metode Pembelajaran
Metode pembelajaran adalah cara untuk mempermudah
peserta didik mencapai kompentensi tertentu.
Hal ini berlaku baik bagi guru (dalam pemilihan metode mengajar) maupun
bagi peserta didik (dalam memilih strategi belajar). Dengan demikian, makin
baik metode, maka makin efektif juga pencapaian tujuan belajar (Winarno
Surahmad, 1982). Langkah metode pembelajaran yang dipilih memainkan peranan
utama yang berakhir pada semakin meningkatnya prestasi belajar peserta didik.
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai titik
tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada
pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Di
dalam mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoritis tertentu.
B. Macam-macam Metode Pembelajaran
Perkembangan mental peserta didik di sekolah, antara
lain meliputi kemampuan untuk bekerja secara abstraksi menuju
konseptual.implikasinya kepada pembelajaran, harus memeberikan pengalaman yang
bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi. pembelajaran yang harus
memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik.
Penggunaan metode yang tepat akan turut menentukan
efektifitas dan efisiensi pembelajaran. pembelajaran perlu dilakukan dengan
sedikit ceramah dan metode-metode yang berpusat pada guru serta lebih
menekankan pada interaksi peserta didik. penggunaan metode yang kreatif akan
sangat membantu peserta didik mencapai tujuannnya.
Pengalaman belajar di sekolah harus
fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menenkankan pada reativitas, rasa ingin
tahu, bimbingan dan kedewasaan.
1. Metode
Demonstrasi
Melalui metode demonstrasi guru memeperlihatkan
suatu proses, peristiwa, atau cara kerja suatu alat kepada peserta didik.
demonstrasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, dari yang sekedar memberikan
pengetahuan yang sudah diterima begitu saja oleh peserta didik, sampai pada
cara agar peserta didik dapat memecahkan suatu masalah.
Agar pembelajaran dengan menggunakan metode
demonstrasi berlangsung secara efektif, langkah-langkah yang dianjurkan adalah:
a. Lakukan
perencanaan yang matang sebelum pembelajaran dimulai.
b. Rumuskanlah
tujuan pembelajaran dengan menggunakan metode demonstrasi dan pilihlah materi
yang tepat juga.
c. Buatlah
garis besar langkah-langkah demonstrasi, akan lebih efektif jika dikuasai dan
dipahami oleh peserta didik maupun guru.
d. Mulailah
demontrasi dengan menarik perhatian seluruh peserta didik dan ciptakanlah
suasana yang tenang dan menyenangkan.
e. Upayakan
agar semua peserta didik terlibat aktif dalam kegiatan pembelajaran.
f. Lakukan
evaluasi erhadap pembelajaran yang telah dilaksanakan.
Untuk menetapkan hasil pembelajaran
melalui metode demonstrasi, pada akhir ertemuan dapat diberikan tugas-tugas
yang sesuai dengan kegiatan yang telah dilaksanakan.
2. Metode
Inquiri
Inquiri berasal dari bahasa Inggris “inquiry” yang
secara harfiah berarti penyelidikan. Carin dan Sund (1975) mengemukakan bahwa
inquiri adalah the process of investigating a problem. Adapaun piaget
mengemukakan bahwa metode inquiri merupakan metode yang memepersiapkan peserta
didik pada situasi untuk melakukan eksperimen sendiri secara luas agar melihat
apa yang terjadi, ingin melaukukan sesuatu, mengajukan pertanyaan-pertanyaaan,
mencari jawabannya sendiri, serta menghubungkan penemuan dengan yang lain,
membandingkan apa yang ditemukannya dengan yang ditemukan peserta didik lain.
Metode inquiri merupakan metode penyelidikan yang melibatkan proses mental dan
kegiatan-kegiatan sebagai berikut:
a. Mengajukan
pertanyaan-pertenyaan dtentang fenomena alam.
b. Merumuskan
masalah yang ditemukan.
c. Merumuskan
hipotesis.
d. Merancang
dan melakukan eksperimen.
e. Mengumpulkan
dan menganalisis data.
f. Menarik
kesimpulan mengembangkan sikap ilmiah yakni: objektif, jujur, hasrat ingin
tahu, terbuks, berkemauan, dan tanggung jawab.
Sund and Trowbridge (1973) mengemukakan tiga macam
metode inquiri sebagai berikut:
a. Inquri
terpimpin (Guide Inquiri), pesert didik memperoleh pedoman sesuai dengan yang
dibutuhkan.
b. Inquri
bebas (free inquiri), peserta didik melakukan penelitian sendiri bagaikan
seorang ilmuawan.
c. Inquiri
bebas yang dimodifikasi, pada inquri ini guru memberikan permasalahan atau
problem dan kemudian peserta didik diminta untuk memecahkan permasalahan
tersebut malaui pengamatan, eksplorasi, dan prosedur penelitian.
3. Metode
Penemuan
Penemuan
(discovery) merupakan metode yang lebih menekankan pada pengalaman langsung.
pembelajaran dengan metode penemuan lebih mengutamakan proses dari pada hasil
belajar.
Langkah-langkah mengajar dengan menggunakan metode
penemuan yaitu:
a. Adanya
masalah yang akan dipecahkan.
b. Sesuai
dengan tingkat perkembangan kognitif peserta didik.
c. Konsep
dan prinsip yang harus digunkaan perlu ditulis secara jelas.
d. Harus
tersedia alat dan bahan yang digunakan.
e. Susunan
kelas diatur sedemikian rupa agar memudahkan proses berpikir peserta didik
dalam kegiatan belajar mengajar.
f. Guru
memberikan kesempatan bagi peserta didik untuk mengumpulkan data.
g. Guru
harus memberikan jawaban dengan tepat dan tepat dengan data dan informasi yang
diperlukan oleh peserta didik.
4. Metode
Eksperimen
Metode eksperimen merupakan suatu bentuk
pembelajaran yang melibatkan peserta didik bekerja dengan benda-benda,
bahan-bahan dan peralatan laboratorium, baik secara perorangan maupun kelompok.
Hal-hal yang perlu dipersiapkan guru dalam
menggunakan metode eksperimen adalah:
a. Tetapkan
tujuan eksperimen.
b. Persiapkan
alat dan bahan yang diperlukan.
c. Persiapkan
tempat eksperimen.
d. Pertimbangkan
jumlah peserta didik sesuai dengan alat-alat yang tersedia.
e. Perhatikan
keamanan dan kesehatan untuk menghindarkan risiko berbahaya.
f. Perhatikan
disiplin atau tata tertib, terutama dalam menjaga peralatan dan bahan yang
digunakan.
g. Berikan
penjelasan tentang apa yang harus diperhatikan dan tahapan yang harus dilakukan
peserta didik termasuk yang dilarang dan membahayakan.
5. Metode
Pemecahan Masalah
Menurut Gagne (1985), kalau seorang peserta didik
diperhadapkan dengan suatu masalah, pada akhirnya mereka bukan hanya memecahkan
masalah, tetapi juga belajar sesuatu yang baru.
Pemecahan masalah
memegang peranan penting baik dalam pelajaran sains maupun dalam banyak
disiplin ilmu lainnya, terutama agar pembelajaran berjalan dengan fleksibel.
Para ahli mengemukakan berbagai langkah dalam
mengemukakan masalah, tetapi pada hakikatnya langkah yang dikemukakan adalah
sama. Davis dan Alexander (1974) mengemukakakan langkah-langkah pemecahan
masalah sebagai suatu seri yang meliputi:
a. Merasakan
adanya masalah-masalah yang potensional,
b. Merumuskan
masalah,
c. Mencari
jalan keluar,
d. Memilih
jalan keluar yang tepat,
e. Melaksanakan
pemecahan masalah,
f. Menilai
apakah pemecahan masalah yang dilakukan sudah tepat atau belum.
6. Metode
Karya Wisata
Karya wisata merupakan suatu perjalanan atau pesiar
yang dilakukan oleh peserta didik untuk memperoleh pengalaman belajar, terutama
pengalaman langsung dan merupakan bagian integral dari kurikulum sekolah.
Meskipun karyawisata memiliki banyak hala yang bersifat nonakademis, tujuan
umum pendidikan dapat dicapai, terutama berkaitan dengan pengembangan wawasan
tentang dunia luar.
Hal-hal yang harus dilakukan sebelum menggunakan
metode karyawisata adalah:
a. Menentukan
sumber masyarakan sebagai sumber belajar mengajar,
b. Mengambil
keseuaian sumber belajar dengan tujuan program sekolah,
c. Menganalisis
sumber belajar berdasarkan nilai pedagogis,
d. Menghubungkan
sumber belajar dengan kurikulum,
e. Mengembangkan
karyawisata secara logis dan sistematis,
f. Melaksanakan
karyawisata sesuai dengan tujuan yang ditetapkan,
g. Menganalisis
apakah tujuan karyawisata telah tercapai atau tidak.
7. Metode Perolehan Konsep
Belajar konsep merupakan hasil utama pendidikan,
konsep-konsep merupakan batu-natu pembangunan (building block) berpikir konsep-konsep
merupakan dasar bagi proses-proses mental yang lebih tinggi untuk memasukkan
prinsip-prinsip dan genealisasi-generalisasi. oleh karena itu, untuk memecahkan
masalah seorang peserta didik harus mematuhi aturan antara yang selaras dan
aturan ini didasarkan pada konsep yang diperolehnya.
8. Metode
Penugasan
Metode penugasan merupakan cara penyajian bahan
pelajaran. Pada metode ini guru memberikan seperangkat tugas yang harus
dikerjakan peserta didik baik secara individu maupun kelompok.
Agar metode penugasan dapat berjalan secara efekti
harus memperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tugas
harus direncanakan secara jelas dan sistematis.
b. Tugas
yang diberikan harus dapat dipahami peserta didik.
c. Apabila
tugas dalam bentuk kelompok, perlu diupayakan agar seluruh siswa terlibat
secara aktif dalam proses penyelesaian tugas tersebut.
d. Perlu
diupayakan guru mengontrol proses penyeesaian tugas yang dikerjakan peserta
didik.
e. Berikan
penilaian secara proporsional terhadap tugas-tugas yang dikerjakan peserta
didik.
9. Metode
Ceramah
Ceramah merupakan metode yang paling umum digunakan
dalam proses pembelajaran. Pada metode ini guru memberikan bahan melalui
penuturan dan penjelasan lisan secara langsung terhadap peserta didik.
Hal-hal yang erlu dipersiapkan guru dalam
menggunakan metode ceramah adalah sebagai berikut:
a. Rumuskan
tujuan instruksional khusus, mengembangkan pokok-pokok materi belajar-mengajar
dan mengkajinya apakah materi tersebut tepat untuk diceramahkan.
b. Apabila
akan divariasikan dengan metode lain, perlu dipikirkan apa yang akan
disampaikan melalui ceramah dan apa yang disampaikan melalui yang lain.
c. Siapkan
alat peraga atau media pelajaran secara matang, media apa dan cara
menggunakannya bagaimana.
d. Perlu
dibuat garis besar yang akan diceramahkan.
Akhiri ceramah dengan memeberikan
kesempatan kepada peserta didik untuk menanyakan hal-ha yang belum jelas,
buatlah kesimpulan dan penilaian baik secara lisan maupun tertulis.
10. Metode Tanya Jawab
Metode tanya jawab merupakan cara menyajikan bahan
ajar dalam bentuk pertanyaan yang memerlukan jawaban untuk mencapai tujuan.
Pertanyaan- pertanyaan dan jawaban bisa
muncul dari guru bisa juga dari peserta didik. pertanyaan dapat digukan untuk
merangsang aktivitas dan kreativitas berpikir peserta didik. karena itu mereka
perlu didorong untuk mencari dan menemukan jawaban yang tepat dan memuaskan.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam
menggunakan metode tanya jawab adalah:
a. Guru
perlu menguasai bahan secara utuh.
b. Siapkan
pertanyaan yang akan ditanyakan kepada peserta didik sesuai dengan bahan ajar
yang sedang dipelajari.
Pertanyaan yang baik memiliki kriteria sebagai
berikut:
a. Memberi
acuan, yaitu suatu bentuk pertanyaan yang sebelumnya diberikan uraian singkat
tentang apa yang akan ditanyakan, jadi pertanyaan tersebut merupakan lanjutan
dari ceramah atau cerita guru.
b. Memusatkan
jawaban, yaitu pertanyaan yang diajukan dipusatkan pada apa yang menjadi tujuan
kegiatan pembelajaran.
c. Memberi
tuntunan, guru dapat menuntun peserta didik dengan pernyataan yang menuntun
mereka pada jawan yang benar
d. Melacak
jawaban peserta didik, guru mengajukan beberapa pertanyaan kembali meskipun
jawaban atas pertanyaan pertama sudah benar.
11. Metode Diskusi
Diskusi dapat diartikan sebagai percakapan responsif
yang dijalin oleh pertanyaan-pertayaan problematis yang diarahkan untuk
memperoleh pemecahan masalah. Hal tersebut sejalan dengan pengertian yang
dikemukakan dalam kamus besar bahasa Indonesia (1988) bahwa diskusi adalah
pertemuan ilmiah untuk bertukar pikiran mengenai suatu masalah.
Agar pembelajaran dengan metode diskusi dapat
berjalan dengan lancar dan efektif perlu diperhatikan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Tentusan
topik masalah yang akan dijadikan bahan diskusi,
b. Siapkan
sarana dan prasaranan yang diperlukan,
c. Susun
peran peserta didik dalam diskusi,
d. Berikan
pengarahan kepada peserta didik agar mereka teribiat aktif dalam diskusi,
e. Ciptakan
suasana yang kondusif,
f. Berikan
kesempatan kepada peserta didik secara merata,
g. Sadarlah
akan perannya guru dalam diskusi sebagai fasilitator, pengawas, pembimbing dan
evaluator,
h. Akhiri
diskusi dengan mengambil kesimpulan dari apa yang telah dibicarakan.
C. Pemilihan dan Penentuan Metode
dalam Pengajaran dan Pembelajaran
1.
Kedudukan
Metode dalam Belajar Mengajar
Kegiatan belajar mengajar yang melahirkan interaksi
unsur-unsur manusiawi adalah sebagai suatu
proses dalam rangka mencapai tujuann pengajaran. Guru dengan sadar
berusaha mengatur lingkungan belajar agar bergairah bagi anak didik. Dengan
seperangkat teori dan pengalaman yang dimilki, guru gunakan untuk bagaiman
mempersiapkan program pengajaran dengan baik dan sistematis.
Salah satu usaha yang tidak pernah guru
tinggalkan adalah bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu
komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar mengajar.
Kerangka berpikir yang demikian bukanlah suatu hal yang aneh, tapi nyata; dan
memang betul-betul dipikirkan oleh seorang
guru. Berikut adalah penjelasan tentang pemahaman kedudukan metode dalam
belajar mengajar,
a. Metode
Sebagai Alat Motivasi Ekstrinsik
Metode
menempati peranan yang penting dari komponen lainnya dalam kegiatan belajar mengajar. Tidak adda satu pun
kegiatan belajar mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran. Ini berarti
guru memahami benar kedudukan metode sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan bellajar mengajar. Motivasi
ekstrinsik menurut Sardiman A.M. (1988:
90) adalah motif-motif yang aktif dan berfungsinya, karena aadanya perangsang
dari luar. Karena itu, metode berfungsi
sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar
seseorang.
Dalam
mengajar, guru jarang sekali menggunakan satu metode, karena mereka menyadari
bahwa semua metode ada kebaikan dan kelemahannya. Penggunaan satu metode lebih
cenderung menghasilkan kegiatan belajar mengajar yang membosankan bagi anak
didik. Jalannya pengajaran pun tampak kaku. Anak didik terlihat kurang
bergairah belajar. Kejenuhan dan kemalasan menyelimuti kegiatan belajar anak
didik. Kondisi seperti ini sangat tidak menguntungkan bagi guru dan anak didik.
Guru mendapatkan kegagalan dalam penyampaian pesan-pesan keilmuan dan anak
didik dirugikan. Ini berarti metode tidak dapat difungsikan oleh guru sebagai
alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar.
Akhirnya
dapat dipahami bahwa penggunaan metode yang tepat dan bervariasi akan dapat
dijadikan sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam kegiatan belajar mengajar di
sekolah.
b. Metode
Sebagai Strategi Pengajaran
Dalam kegiatan
belajar mengajar tidak semua anak didik mampu berkontentrasi dalam waktu yang
relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga
bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang dan ada yang lambat. Faktor
inteligensi mempengaruhi daya serap anak didik terhadap bahan pelajaran yang
diberikan oleh guru. Cepat lambatnya penerimaan anak didik terhadap bahan
pelajaran yang diberikan menghendaki pemberian waktu yang bervariasi, sehingga
penguasaan penuh dapat tercapai. Terhadap perbedaan daya serap anak didik
sebagaimana tersebut, memerlukan strategi pengajaran yang tepat.
Karena itu,
dalam kegiatan belajar mengajar, menurut Dra. Roestiyah. N.K.(1989:1), guru
harus memiliki strategi agar anak diddik dapat belajar secara efektif dan
efisien, mengena pada tujua yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki
strategi itu adalah harus menguassai teknik-teknik penyajian atau biasanya
disebut metode mengajar. Dengan demikian, metode mengajar adalah strategi
pengajaran sebagai alat untuk mencapai tujuan pengajaran yang diharapkan.
c. Metode
Sebagai Alat Untuk Mencapai Tujuan
Tujuan
adalah pedoman yang memberi arah ke mana kegiatan belajar mengajar akan dibawa.
Tujuan dari kegiatan belajar mengajar tidak akan pernah tercapai selama
komponen-komponen lainnya tidak diperlukan. Metode merupakan salah satu alat
untuk menunjang pencapaian tujuan. Ketika tujuan dirumuskan agar anak didik
memiliki keterampilan tertentu, maka metode yang digunakan harus disesuaikan
dengan tujuan.
Dengan
menggunakan metode yang tepat dapat menunjang kegiatan belajar mengajar,
sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan
pengajaran.
2.
Pemilihan
dan Penentuan Metode
Metode
mengajar yang digunakan telah melalui seleksi yang sesuai dengan perumusan
tujuan intruksional khusus. Pemakaian metode yang satu digunakan untuk mencapai
tujuan yang satu, sementara penggunaan metode yang lain, juga digunakan untuk
mencapai tujuan yang lain. Untuk itulah dalam pemilihan dan penentuan
penggunaan metode pengajaran harus sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah
dirumuskan.
a. Nilai
Strategis Metode
Kegiatan belajar
mengajar adalah sebuah interaksi yang bernilai pendidikan. Didalamnya terjadi
interaki edukasi antara guru dengan anak didik ketika menyampaikan bahan
pelajaran di kelas. Bahan pelajaran yang disampaikan tanpa memperhatikan
pemakaian metode justru akan mempersulit guru dalam mencapai tujuan pengajaran.
Karena itu, dapat dikatakan bahwa metode adalah salah satu cara yang memiliki
nilai strategi dalam kegiatan belajar. Nilai strateginya adalah metode dapat
mempengaruhi jalannya kegiatan belajar mengajar.
b. Efektivitas
Penggunaan Metode
Penggunaan
metode dapat menunjang pencapaian tujuan pengajaran, namun bukan tujuan yang
harus menyesuaikan diri dengan metode. Efektivitas penggunaan metode dapat
terjadi bila ada kesesuaian antara metode dengan semua komponen pengajaran yang
telah diprogramkan dalam satuan pelajaran, sebagai persiapan tertulis.
c. Pentingnya
Pemilihan dan Penentuan Metode
Kegagalan guru
mencapai tujuan pengajaran akan terjadi bila pemilihan dan penentuan metode
tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap karakteristik dari masing-masing
metode pengajaran. Karena itu, yang terbaik guru lakukan adalah mengetahui
kelebihan dan kelemahan dari beberapa metode pengajaran.
d. Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Pemilihan Metode
Winarno
Surakhmad (1990: 97) mengatakan bahwa pemilihan dan penentuan metode
dipengaruhi oleh beberapa faktor, sebagai berikut :
1)Anak
didik
Perbedaan individual
anak didik pada aspek biologis, intelektual dan psikologis, mempengaruhi
pemilihan dan penentuan metode yang sebaiknya guru ambil untuk menciptakan lingkungan belajar yang
telah dirumuskan secara operasional. Dengan demikian, kematangan anak didik
yang bervariasi mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode pengajaran.
2)Tujuan
Tujuan adalah sasaran
yang dituju dari setiap kegiatan belajar mengajar. Secara hierarki tujuan itu
bergerak dari yang rendah hingga yang tinggi, yaitu tujuan instruksional atau
tujuan pembelajaran, tujuan kurikuler atau tujuan kurikulum, tujuan
institusional, dan tujuan pendidikan nasional. Tujuan pembelajaran dikenal ada
dua, yaitu TIU (Tujuan Instruksional Umum) dan TIK (Tujuan Instruksional
Khusus).
3)Situasi
Situasi kegiatan
belajar mengajar yang diciptakan tidak selamanya sama tiap harinya, adakalanya
guru menciptakan situasi belajar mengajar di alam terbuka. Maka dalam hal ini
guru memilih metode mengajar yang sesuai
dengan situasi tersebut dan sifat bahan serta kemampuan yang ingin dicapai oleh
tujuan.
4)Fasilitas
Fasilitas merupakan hal
yang mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar. Fasilitas adalah kelengkapan yanng menunjang belajar
anak didik di sekolah. Lengkap tidaknya fasilitas belajar akan mempengaruhi
pemilihan metode mengajar. Keampuhan suatu metode mengajar akan terlihat jika
faktor lain mendukung.
5)Guru
Kepribadian, latar belakang
pendidikan, dan pengalaman mengajar adalah permasalahan intern guru yang dapat
mempengaruhi pemilihan dan penentuan metode mengajar unntuk mencapai tujuan
pengajaran.
D.
Mengembangkan
Metode Pembelajaran
Mengenai definisi metode pembelajaran banyak istilah
yang digunakan seperti metode mengajar (teaching methods), strategi mengajar
(teaching strategies), dan metode pembelajaran itu sendiri (instructional
methods). Kizlik (2012:1) mengatakan, for all practical purposes means the same
thing (untuk tujuan praktis semuanya mempunyai makna yang sama), yakni merujuk
pada metode pembelajaran.
Metode adalah alat atau cara yang
digunakan untuk mengajarkan materi pembelajaran kepada peserta didik. Pilihan
metode tergantung pada apa yang ingin diajarkan, siapa yang diajarkan dan
tingkat kemampuan yang diharapkan. Definisi yang lebih komprehensif diberikan
oleh Neumannand Koper (2010:78) yang mengatakan bahwa instructional method is defined as a learning outcome oriented set of
activities performed by learners and learning supporters (metode
pembelajaran didefinisikan sebagai seperangkat aktvitas yang mengarah pada
hasil belajar yang dilakukan oleh peserta didik dan pendukung pembelajaran).
Definisi ini memandang metode sama dengan seperangkat aktivitas yang dapat
mengarahkan proses pembelajaran dalam upaya mencapai hasil belajar yang
diharapkan. Dengan demikian, yang dimaksudkan dengan metode pembelajaran adalah
alat, cara, atau aktivitas yang digunakan untuk meingkatkan hasil pembelajaran.
Banyak sekali metode yang dapat digunakan dalam proses pembelajaran. The
university of north Carolina at charlotte (2012) menyajikan 150 metode
pembelajaran, mulai dari metode ceramah hingga sampai pada metode curah
pendapat (brainstorming). University of Wisconsin (2012:129-132) dengan
mengutip Cruikshank, bainer & Metcalf (1999), 41 jenis metode yang menarik
untuk digunakan dalam proses pembelajaran. Kemudian, Suparman (2012: 261-262)
membagi metode pembelajaran kedalam 20 macam yang dihubungkannya kompetensi dalam
tujuan instruksional (pembelajaran) khusus. Dalam penjelasan ini, ada 24 jenis
metode pembelajaran yang dihubungkan dengan kecerdasan jamak.
|
Kecerdasan jamak
|
Metode dan gambaran umum
|
|
Verbal-linguistik
|
1.
Ceramah (lecture): penjelasan tentang materi pembelajaran yang diberikan
kepada peserta didik.
2.
Curah pendapat (brainstorming): pemaparan tentang garis-garis besar
ide yang melibatkan sebagaian atau seluruh peserta didik yang dipandu oleh
guru, dosen atau isntruktur dalam proses pembelajaran.
3.
Mendongeng atau bercerita (story telling): penyampaian peristiwa
melalui kata-kata, gambar atau suara yang dilakukan dengan improvisasi untuk
memperindah jalannya cerita.
4.
Diskusi (discuccion): tukar-menukar gagasan, pemikiran, informasi atau
pengalaman di antara peserta didik, sehingga dicapai kesepakatan pokok-pokok
pikiran yang dipandu oleh moderator.
|
|
Logis-matematis
|
1.
Penyelasian masalah (problem solving): metode yang melibatkan cara
berfikir tingkat tinggi untuk menemukan, mengubah, menyelesaikan berbagai
persoalan yang dihadapi.
2.
Uji coba (experiment): pengujian pendapat, pandangan, konsep atau
teori yang dilakukan, baik melalui laboratorium maupun melalui pengujian
fakta-fakta di lapangan.
3.
Tanya jawab Socrates (socrates’questions): pengajuan
pertanyaan kritis kepada peserta didik yang diangkat dari jawaban diberikan.
4.
Berpikir kritis (critical thinking): suatu metode yang meibatkan
proses berfikir aktif, rasional, dan reflektif untuk membuat keputusan
berdasarkan kajian mendalam dari bukti-bukti empiris.
|
|
Visual-spasial
|
1.
Kiasan gambar (picture metaphors): perbandingan satu ide dengan ide
lainnya yang kelihatannya tidak berhubungan yang bertujuan untuk
mengekspesikan konsep melalui gambar-gambar visual.
2.
Pemetaan ide (ideas mapping): pengorganisasian dan klarifikasi pikiran
dengan cara visual melalui penggunaan kata-kata kunci dan gambar.
3.
Sketsa ide (idea sketching):pemberian materi pembelajaran dengan
melukis atau menggambar sketsa dari suatu benda, orang, atau tempat tanpa
menguraikan dengan kata secara perinci.
4.
Visualisasi (visualization): penggambaran ide-ide, konsep, dan teori
dalam bentuk papan ide, film atau screen video dalam pikiran tentang bahan
yang perlu dikuasai kemudian disimpan dalam papan mental, seperti ejaan kata,
rumus-rumus dan fakta-fakta sejarah.
|
|
Jasmaniah-kinestetik
|
1.
Demonstrasi (demonstration): peragaan dan pelaksaaan suatu konsep atau
teori dengan menggunakan anggota badan secara langsung.
2.
Bermain peran (role play): metode pembelajaran yang diarahkan untuk
mengkreasi peristiwa-peristiwa actual, atau kejadian-kejadian yang mungkin
muncul pada masa mendatang.
3.
Studi lapangan/karyawisata (field
trip): kunjungan lapangan
yang dilakukan bersama dengan peserta didik untuk melihat secara langsung
kesesuaian antara teori dan konsep dengan fakta di lapangan.
4.
Berpantomim (pantomym): peragaan atau berbuatan tanpa kata sebagai bentuk
ekspresi pendapat, pandangan atau kritik.
|
|
Musical-berirama
|
1.
Diskografi (discography): pengintegrasian lagu-lagu sebagai hasil
karya seni dengan topik-topik pembahasan dalam pembelajaran. Setiap kali
pembahasan tentang suatu tema atau topic tentu dikaitkan dengan lagu-lagu
yang biasa diciptakan untuk kebutuhan pembelajaran.
2.
Sugestopedia (suggestopedia):
pemanfaatan lingkungan belajar yang nyaman disertai dengan music,
gambar dan pewarnaan dengan music, gambar dan pewarnaan dengan keterlibatan
peserta didik secara aktif.
Musik instrument (instrumental music): penyajian pembelajaran yang
dibarengi dengan alunan music yang diatur jenis music, volume dan kondisi
ruangannya.
Pengkondisian suasana music (musical conditioning): penyajian materi
yang melibatkan penciptaan suasana musik ketika menyajikan, berdiskusi, dan berjalan di
dalam kelas dengan mengatur suara, panjang-pendek ucapan, dan intonasi serta
gelombang suara.
|
|
Interpersonal
|
1.
Jigsaw: tipe belajar kooperatif yang menekankan pada kerja sama,
membagi tanggung jawab, dan empati dengan pemberian tugas untuk dilakukan
oleh semua anggota dalam kelompok.
2.
Mengajar teman sebaya (peer tutoring):
Pemberian tugas pembelajaran yang dilakukan dengan
bantuan teman sebaya.
3.
Belajar beregu (team
work): belajar
bersama yang dilakukan sekelompok peserta didik di mana minat dan pendapat
dari setiap anggota dalam menjadi subordinat dari penyatuan kelompok.
4.
Permainan (games): suatu bentuk permainan dalam pembelajaran yang
melibatkan proses pemanasan (ice-breaker) atau penyegaran (energizer) untuk
pemecah situasi.
5.
Kebekuan pikiran atau fisik peserta didik.
|
|
Intrapersonal
|
1.
Studi mandiri (independent study): pemberian tugas yang dilakukan
secara mandiri oleh peserta didik dalam jangka waktu tertentu tanpa bantuan
dari peserta didik peserta didik yang lain, tetapi dapat berkonsultasi dengan
guru, dosen, atau instruktur jika mendapat kesulitan.
2.
Belajar dengan alat bantu komputer (computer assisted learning):
seperangkat aktivitas pembelajaran terprogram yang menggunakan basis komputer
sebagai alat bantu.
3.
Refleksi (reflective learning): pembelajaran yang menekankan pada
ketersambungan atau keterhubungan proses asimilasi, akomodasi dan ekuilibrasi
dalam mengkonstuksi dalam mengkonstruksi pengetahuan baru.
4.
Belajar dengan pengaturan sendiri (self goal setting): pembelajaran
yang menekankan pada keterampilan mengorganisasi tujuan dan aktivitas
pembelajaran yang dilakukan sendiri oleh peserta didik.
|
|
Naturalistic
|
1.
Belajar melalui alam (learning through nature): pemanfaatan alam
sebagai sumber, media, bahan dan objek kajian dengan melibatkan partisipasi aktif dari peserta
didik.
2.
Jendela belajar (windows for learning): pemanfaatan pintu atau jendela sebagai
ruang untuk melihat keluar tentang keadaan alam seperti tumbuh-tumbuhan,
binatang, matahari, hujan dan pelangi.
|
|
Eksistensial spiritual
|
1.
Respons peristiwa: pemberian respons pada suatu peristiwa atau
kejadian dalam kehidupan masyarakat dan mengaitkan dengan berbagai materi
yang dipelajari. Jika perlu peristiwa atau kejadian diangkat sebagai suatu
materi pembelajaran.
2.
Panggung beramal (charity event): pengintegrasian materi pembelajaran
berbasis proyek yang dilakukan dengan melibatkan berbagai komponen terkait di
luar jam pelajaran. Karena besarnya bentuk aktivitasnya, maka dilakukan
secara bersama-sama dengan pekanan pada kerja-kerja voluntir.
|
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Metode pembelajaran dapat diartikan sebagai titik
tolak atau sudut pandang kita terhadap proses pembelajaran yang merujuk pada
pandangan tentang terjadinya suatu proses yang sifatnya masih sangat umum. Di
dalam mewadahi, menginspirasi, menguatkan dan melatari metode pembelajaran
dengan cakupan teoritis tertentu.
Macam-macam metode pembelajaran yang dapat diterapkan
antara lain; metode demonstrasi, inqury, penemuan, eksperimen, pemecahan
masalah, karyawisata, perolehan konsep, penugasan, ceramah, tanya jawab, dan diskusi.
Pemilihan dan penentuan metode dalam kegiatan
belajar mengajar, dengan uraian bertolak dari nilai strategis metode,
efektivitas penggunaan metode, pentinngnya pemilihan dan penentuan metode serta
faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode pengajaran.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan metode
mengajar yang sesuai, yaitu anak didik, tujuan, situasi, fasilitass, dan guru.
Banyak sekali metode yang dapat digunakan untuk
mengajarkan materi pembelajaran kepada peserta didik. Pilihan metode tergantung
apa yang ingin diajarkan, siapa yang diajarkan, dan tingkat kemampuan yang
diharapkan. Pengembangan atau penggunaan metode memiliki keterkaitan dengan
kecerdasan jamak, seperti verbal-linguistik, logis-matematis, visual-spasial,
jasmaniah-kinestetik, musikal-berirama, interpersonal, intrapersonal,
naturalistic, eksistensial-spiritual.
B.
Saran
Sebagai calon guru, yang akan menjadi salah satu
sumber belajar harus memahami betul bagaimana pemilihan dan penentuan dalam penggunaan
metode dan mengetahui kelebihan dan kekurangan dari masing-masing metode
pengajaran serta berkewajiban untuk menyediakan lingkungan belajar yang kreatif
bagi kegiatan belajar mengajar anak didik di kelas. Dengan mengunakan metode
yang berbeda-beda agar dalam proses pembelajaran tidak terjadi kejenuhan pada
anak didik dan harus menyesuaikan dengan tujuan pembelajaran.
DAFTAR
PUSTAKA
Iif
Khoiru Ahmadi, dkk. 2011. Strategi
Pembelajaran Berorientasi KTSP. Jakarta: PT Prestasi Pustakaraya.
M.
Subana dan Sunarti. 2009. Strategi Belajar
Mengajar Bahasa Indonesia. Bandung: CV Pustaka Setia.
Majid,
Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mulyasa,
E. 2006. Menjadi Guru Profesional.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Syaiful
Bahri D. dan Aswan Zain. 2010. Strategi
Belajar Mengajar Edisi Revisi. Jakarta: Rineka Cipta.
Yamin,
Martinis. 2011. Profesionalisasi Guru
& Implementasi KTSP. Jakarta: Gaung Persada Press Jakarta
Yaumi,
Muhammad. 2013. Prinsip-prinsip Desain
Pembelajaran. Jakarta: Kencana
LAMPIRAN
Daftar Lampiran :
1. PowerPoint
2. Profil
Kelompok 4
Tidak ada komentar:
Posting Komentar