Kamis, 28 Mei 2015

Neo- Positivisme



Neo-Positivisme menyatakan bahwa kita disini seperti halnya neo-kantianisme berhadapan dengan suatu pergerakan, yang merupakan suatu lanjutan dari aliran-aliran yang lama. Menurut E. von Aster, seorang penulis yang berpengaruh tentang filsafat dewasa ini, neo-positivisme itu mempunyai dua akar utama. Yang satu adalah reaksi terhadap aliran metafisika, yang di tempuh lagi oleh alam fikiran pada akhir abad ke 19 dan awal abad ke 20. Reaksi ini berasal dari ahli-ahli fikir yang terdidik dalam ilmu-ilmu kealaman dan ilmu pasti. Pembaca tentu masih ingat, bahwa kaum Neo-Kantian pun mula-mulanya tidak mau tahu tentang metafisika dan “Weltanschauung”(pandangan tentang dunia) . Husserl pun selalu menentang percampuran filsafat keilmuan dengan apa yang disebut orang jerman “Weltanschauung”. Tetapi kritik dari kaum Neo-Positivis terhadap segala yang berhubungan dengan metafisika dan “Weltanschauung” lebih tajam, lebih prisipil dan lebih tak kenal damai daripada yang pernah di kemukakan oleh mazhab manapun juga.
Akar utama yang kedua dari neo-positivisme terletak dalam perkembangan ilmu pasti dan ilmu alam modern. Perkembangan ini memperlihatkan kearah ketelitian logika dan pendasaran dengan aksioma-aksioma.
Jika kita memperhatikan kedua aspek ini, maka lambat laun akan jelas kepada kita apa yang di maksud dengan kaum neo-positivis. Pertama-tama mereka itu adalah kaum empiris, artinya mereka berpedoman pada pengalaman dan pada pengertian keilmuan dari pengalaman itu.
Auguste  Comte(1978-1857) adalah wakil yang tipis dari kepercayaan modern akan kekuasaan akal keilmuan. Alam pikiran manusia dan sejarah manusia telah menjalani 3 fase . fase yang pertama ialah fase teologi, dimana perasaan dan kepercayaan berkuasa dan dimana manusia menerima bimbingan myte. Yang kedua ialah fase metafisika yang dikuasai oleh pengertian-pengertian umum yang abstrak, dan oleh berbagai sistim dua cita, dan yang terakhir roh manusia tidak boleh berspekulasi, melainkan harus mengorganisasi, bukan hanya dirinya sendiri saja, melainkan juga masyarakatnya ini sesuai dengan revolusi industry yang di alami oleh masyarakat itu.

Filsafat Hidup



Aliran yang penting bagi filsafat abad ke-20 yaitu filsafat tentang hidup atau “filsafat hidup”.  Filsafat hidup kira-kira tiga tahun yang lalu presis adalah suatu “peristiwa mode” sebagaimana juga halnya dengan eksistensialisme sesuadah perang dunia kedua. Seorang neo-kantian Rickert dalam tahun 1920 telah menulis sebuah buku yang terkenal yang menantangnya, dimana ia mencoba membuka arti pengertian “hidup” itu sebagai suatu pengertian mode, dan tidak mungkin dapat dipergunakan sebagai dasar bagi sesuatu filsafat sejati. Sesungguhnya apa yang dikatakan Rickert itu benar. Apa yang menarik perhatian “pendapat umum” dalam waktu tertentu , bagi ilmu senantiasa sebagiannya telah using. Sesungguhnya bahwa mode itu adalah suatu kekuasaan yang berbahaya , yang hendak memaksa manusia untuk mengikutinya dengan menyampaikan pandangan kritis dari manusia itu.
            Karangan yang paling mashur dan yang paling banyak dibaca orang di antara semua filsuf-hidup ialah orang perancis Henri Bergson, yang meninggal pada tahun 1941, antaranya mengarang Essai sur les donnees immediate de la conscience (1889), L’evolution creatrice (1907) dan Les deux sources de la morale at the la religion(1932).
            Dalam filsafat Bergson tampil “hidup” yang terdapat dimana-mana tetapi tidak dapat di pahami oleh akal, menentang gambaran dunia yang statis yang tidak berubah-ubah tentang ilmu modern. Sebagai ilmu mekanis dia tidak mengakui kebebasan rohani , kemungkinan kemerdekaan dan sifat batin daripada waktu. Dia menyerah dengan tidak ada pembatasan kepada cita-cita dari yang kuantitatif, yang hendak membawa segalanya kepada ukuran dan timbangan. Materialisme dan mekanisme menerangkan bahwa roh itu adalah peristiwa yang tidak berdiri sendiri , terjadi sebagai akibat daripada proses-proses zat. Dengan keharusan seperti halnya ginjal-ginjal mengeluarkan urine (air-seni), demikian pulalah otak mengeluarkan buah fikiran.

Filsafat Eksistensi



Filsafat eksistensi mempunyai genealoginya. Bila kita meninjau gambaran alam pikiran Barat Dewasa ini, maka pantas kita mengatakan bahwa hal itu pada pokoknya di tentukan oleh dua aliran yang berlawanan, dapat kita katakan dua sayap radikal. Setiap yang satu dibentuk oleh kaum neo-positivis dan kaum logikus modern. Sayap yang lain oleh kaum eksistensialis. Mereka ini adalah aliran yang mengembangkan aktivitet paling besar dan terletak dipusat perhatian. Kaum neo-positivis adalah pelanjut tradisi keilmuan yang berkuasa dari barat, mereka adalah pembela yang paling ekstrim. Mereka adalah pendukung cita-cita keeksakan dan nuchterheid keilmuan. Diluar ilmu maka filsafat tidak berarti apa-apa dan apa yang tidak dapat di buat nyata oleh ilmu, maka secara filsafat tidaklah mempunyai arti. Membuat nyata ialah menerima nyata. Demikianlah yang di kehendaki oleh positivisme.
Dalam kalangan-kalangan filsafat, kesustraan, teologi berlangsung perdebatan yang hebat tentang sifat penarik atau penolak dari eksistensialisme. Terutama di perancis berlangsung perjuangan hebat antara kaum komunis dengan kaum eksistensialis. Kaum komunis menganggap eksistensialisme sebagai pernyataan krisis yang larut yang di alami manusia. Menurut tingkat filsafat hal itu di anggap mereka sebagai pernyataan dari peristiwa politik historis, bahwa manusia ini kehilangan pegangan, bahwa dia putus asa.
Dalam pengantar kita seluruh filsafat Barat Dewasa ini kita cirikan sebagai filsafat krisis . krisis berarti penentuan. Bila berjangkit suatu krisis, maka orang terpaksa meninjau kembali pokok pangkal yang lama dan mencoba apakah tahan uji . filsafat itu tak pernah lain kerjanya selain daripada berkisar dari krisis ke krisis . Dengan perkataan lain : manusia yang berfikir secara filsafat, senantiasa meninjau diri sendiri.
Dalam filsafat eksistensi ada tugas-tugas manusia itu menjadi tema, menunjukkan bahwa dibaraat sedang berjangkit suatu krisis yang luar biasa hebatnya. Perjuangan untuk cita-cita keilmuan , untuk metode keilmuan , untuk makna logika adalah perjuangan untuk hakekat manusia,  untuk tempatnya dalam hidup dan dalam dunia.

Filsafat Abad ke-20



Sebuah buku tentang filsafat abad ke-20 dapat dikatakan mulai dari akhir.
Dalam filsafat dari tiap-tiap waktu tergabung bermacam-macam corak. Ada corak-corak idealisme dan realisme, rasionalisme dana irasionalisme, optimisme dan pesimisme. Kalau kita hendak membeda-bedakan alam fikiran pada suatu waktu dengan alam fikiran pada waktu yang lain, maka haruslah kita selidiki sifat-sifat mana yang memegang peranan yang terpenting dan mana yang kurang penting.
            Alam fikiran pada abad ke-19 lebih memperhatikan alam, ilmu kealaman dan ajaran pengetahuan, dan abad filsafat ke-20 lebih memperhatikan sejarah, hidup dan manusia. Filsafat abad ke-20 terlihat tendens tidak percaya terhadap akal sebagai fungsi dan daya kebenaran. Kalau tidak percaya lagi maka orang akan mencari sumber-sumber lain, yang dapat menjelaskan kenyataan. Bukan intelek lagi yang di pakai , melainkan misalnya intuisi, yang di anggap dapat “menjangkau” kenyataan dengan langsung, nberbeda dengan akal yang selalu menempuh jalan yang berliku-liku dengan memakai pengertian-pengertian. Atau akal dipertentangkan orang dengan hidup, beserta tenanga-tenaga pendorongnya dan orang menegaskan arti tindakan-tindakan yang praktis yang lebih tinggi di hargai daripada teori. Peristiwa-peristiwa ini berhubungan lanngsung dengan peristiwa yang dinamakan “krisis rasionalisme”. Peristiwa ini memang merupakan salah satu unsur yang penting dari filsafat abad ke-20.

Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan


1.      Filsafat Pendidikan Idealisme
Filsafat idealisme memandang bahwa realitas akhir adalah roh, bukan materi dan juga bukan fisik.  Pengetahuan yang diperoleh  melalui panca indera adalah tidak pasti dan tidak lengkap. Aliran ini memandang nilai adalah tetap dan tidak berubah, seperti apa yang dikatakan baik, benar, cantik, buruk, secara fundamental tidak berubah dari generasi ke generasi. Tokoh-tokoh dalam aliran ini di antaranya Plato, Elea dan Hegel, Emanuel Kant, David Hume, Al Ghazali.

2.      Filsafat Pendidikan Realisme
Realisme merupakan filsafat yang memandang realitas secara dualitis. Realisme berpendapat bahwa hakekat realitas ialah terdiri atas dunia fisik dan dunia ruhani. Realisme membagi realitas menjadi dua bagian, yaitu subjek yang menyadari dan mengetahui di satu pihak lainnya adalah adanya realita di luar manusia, yang dapat dijadikan objek pengetahuan manusia. Beberapa tokoh yang beraliran realisme yaitu diantaranya Aristoteles, Johan Amos Comenius, Wiliam Mc Gucken, Francis Bacon, John Locke, Galileo, David Hume, John Stuart Mill.

3.      Filsafat Pendidikan Materialisme
Aliran Materialisme ini berpandanngan bahwa hakikat realism adalah materi, bukan rohani, spiritual atau supernatural. Beberapa tokoh yang beraliran materialisme ini yaitu diantaranya Demokritos, Ludwig Feurbach.

4.      Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Aliran pragmatism di pandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empirisme inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut aliran filsafat ini adalah Charles sander Peirce, William James, John Dewey, Haracleitos.




5.      Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Aliran filsafat ini memfokuskan pada pengalaman-pengalaman individu. Secara umum, eksistensialisme menekankan pilihan kreatif, subjektifitas pengalaman manusia dan tindakan kongkrit dari keberadaan manusia atas setiap skema rasional untuk hakekat manusia atau realitas. Beberapa tokoh dalam aliran ini yaitu : Jean Paul Satre, Soren Kierkegaard, Martin Buber, Martin Heidegger, Karl Jasper, Gabril Marcel, Paul Tillich.

6.      Filsafat Pendidikan Progresivisme
Progresivisme ini bukan merupakan bangunan filsafat atau aliran filsafat yang berdiri sendiri, melainkan merupakan suatu gerakan dan perkumpulan yang didirikan pada tahun 1918. Aliran ini berpendapat bahwa pengetahuan yang benar pada masa kini mungkin tidak benar di masa mendatang. Pendidikan harus terpusat pada anak bukannya memfokuskan pada guru atau bidang muatan. Ada beberapa tokoh dalam aliran ini yaitu : George Axtelle, William O, Stanley, Ernest Bayley, Lawrence B. Thomas, Frederick C. Neff.

7.      Filsafat Pendidikan Esensialisme
Esensialisme adlah suatu filsafat pendidikan konservatif yang pada mulanya dirumuskan sebagai suatu kritik pada trend-trend progresif di sekolah-sekolah. Mereka berpendapat bahwa pergerakan progresif telah merusak standar-standar intelektual dan moral di antara kaum muda. Bebereapa tokoh dalam aliran ini : William C. Bagley, Thomas Briggs, Frederick Bred dan Isac L. Kandell.

8.      Filsafat Pendidikan Perenialisme
Perenialisme merupakan aliran dalm pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Mereka menentang paandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual dan sosio cultural. Oleh karena itu perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut, yaitu dengan jalan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat dan teruji. Beberapa tokoh dalam aliran ini yaitu : Robert Maynard Hutchins dan ortimer Adler.
9.      Filsafat Pendidikan Rekonstruksionisme
Rekonstruksionisme merupakan kelanjutan dari gerakan progresivisme. Gerakan ini lahir di dasarkan atas suatu anggapan bahwa kaum progresif hanya memikirkan dan melibatkan diri dengan masalah-masalah masyarakat yang ada sekarang . 
Rekonstruksionisme di pelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang panas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini : Caroline Pratt, George Count, Harold Rugg.