Senin, 04 Januari 2016

Makalah Media Pembelajaran



BAB I
PENDAHULUAN
A.  Latar Belakang
Media pembelajaran merupakan komponen penting yang membantu tercapainya hasil dari proses pembelajaran yang di dalamnya  meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yaitu metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar.
Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan  retensi belajar siswa. Dalam setiap proses pembelajaran pada akhirnya tentu mempunyai harapan-harapan dan tujuan yang harus dicapai pada akhir pembelajarannya.
Namun jika melihat secara fakta yang terjadi di lapangan, tidak sedikit peserta didik yang tidak bisa mencapai atau memenuhi standar kompetensi dari pembelajaran terebut. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi peserta didik dalam mencapai hasil akhir dari pembelajarannya. Faktor yang mempengaruhi tersebut bisa dari faktor instrinsik ataupun faktor ekstrinsik.  Untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar, maka seorang pendidik harus memiliki inovasi atau perubahan dalam sistem  kegiatan belajar mengajar di kelas. Salah satu faktor pendukung siswa giat belajar adalah dengan diciptakannya media pembelajaran yang menarik dan kreatif. Namun media yang baik tentu bukan hanya dilihat dari segi menariknya saja, tapi juga terdapat faktor-faktor lain sebagai faktor pendukung. Dalam kajian materi ini akan dibahas lebih rinci tentang hal-hal yang terkait atau berhubungan media.
                             


B.  Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian media?
2.      Apa saja fungsi dan manfaat media dalam proses belajar mengajar?
3.      Apa saja macam-macam media?
4.      Apa saja yang dapat menjadi dasar pertimbangan pemilihan dan penggunaan media?
5.      Dimana peran media dalam pembelajaran?
6.      Bagaimana perkembangan media pendidikan?

C.  Tujuan
1.      Untuk mengetahui pengertian media.
2.      Untuk mengetahui fungsi dan manfaat media dalam proses belajar mengajar.
3.      Untuk mengetahui macam-macam media.
4.      Untuk mengetahui apa saja yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan dan penggunaan media.
5.      Untuk mengetahui peran media dalam pembelajaran.
6.      Untuk mengetahui perkembangan media pendidikan.


BAB II
KAJIAN TEORI

A.    Pengertian Media dan Pembelajaran
Pengertian media menurut Gagne (1970) adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsangnya untuk belajar. Definisi lain dari Briggs (1970) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Dan Djamarah dan Aswan (2002: 136) mendefinisikan media sebagai alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran menururt Dimyati dan Mudjiono (1999:297) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. Menurut UUSPN (Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional) No. 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.

B.     Fungsi Media dalam pembelajaran
Nana Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori, sebagai berikut:

1.      Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2.      Pengguaan media pengajaran, merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsure yang harus dikembangkan guru.
3.      Media pengajaran dalam pengajaran, penggunannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan) media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
4.      Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5.      Penggunaan media dalam pengajran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan perkataan lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.
BAB III
PEMBAHASAN
A.    Pengertian Media
Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan.
Bila media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan. Dalam proses belajar mengajar kehadiran media mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.
Namun perlu diingat, bahwa peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian secara efektif dan efisien.
Akhirnya, dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.


B.     Fungsi dan Manfaat Media Pengajaran
Salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru. Hamalik (1986) mengemukakan bahwa penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran,Khususnya media visual, yaitu:
a.      Fungsi atensi
Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
b.      Fungsi afektif
   Fungsi afektif media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar. Gambar atau lambing visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah social atau ras.
c.      Fungsi kognitif
Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambing visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
d.      Fungsi kompensatoris
Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswwa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.

Nana Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori, sebagai berikut:
1.      Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2.    Pengguaan media pengajaran, merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang harus dikembangkan guru.
3.   Media pengajaran dalam pengajaran, penggunannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan) media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
4.   Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5.   Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
6.   Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan perkataan lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.

Nilai-nilai praktis media pengajaran menurut SudirmanN. Dkk. (1991) adalah:
a)    Meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi kepahaman yang bersifat verbalisme.
b)   Menampilkan objek-objek yang terlalu besar yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke dalam kelas.
c)    Memperlambat gerakan yang terlalu cepat dan mempercepat gerakan yang lambat.
d)   Karena informasi yang diperoleh siswa berasal dari satu sumber serta dalam situasi dan kondisi yang sama, maka dimungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi pada siswa.
e)    Membangkitkan motivasi belajar siswa.
f)    Dapat mnengontrol dan mengatur waktu belajar siswa.
g)   Memungkinkan siswa berinteraksi secara langsung dengan lngkungannya (sumber belajar).
h)   Bahan pelajaran dapat diulang sesuai dengan kebutuhan dan atau disimpan untuk digunakan pada saat yang lain.
i)     Memungkinkan untuk menampilkan objek yang langka seperti peristiwa gerhana matahari total atau binatang yang hidup dikutub.
j)     Menampilkan objek yang sulit diamati oleh mata telanjang, misalnya mempelajari tentang bakteri dengan menggunakan mikroskop.


C.    Media Sebagai Alat Bantu
Media sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang tidak dapat dipungkiri. Karena memang gurulah ang menghendakinya untuk membantu tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama bahan pelajaran yang rumit atau kompleks.
Anak didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari, disebabkan penjelasan guru yang sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari penjelasan yang diberikan guru bersimpang siur, tidak ada fokus masalahnya. Hal ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarnya. Jika guru tidak memiliki kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran.
Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.
Walaupun begitu, penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut sekehendak hati guru. Tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan. Media yang dapat menunang tercapainya tujuan tujuan pengajaran tentu lebih diperhatikan. Sedangkan media yang tidak dapat menunjang tentu saja harus disingkirkan jauh-jauh untuk sementara. Kompetensi guru sendiri patut dijadikan perhitungan. Adakah mampu atau tidak untuk mempergunakan media tersebut. jika tidak, maka jangan mempergunakannya, sebab hal itu akan sia-sia. Malahan bisa mengacaukan jalannya proses belajar mengajar. Gerlach & Ely (1971) mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan dan apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu (atau kurang efisien) melakukannya.
a.      Ciri Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau objek. Suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media seperti fotografi, video tape, audio tape, disket computer, dan film.
b.      Ciri Manipulatif (Manipulative Property)
Transformasi suatu kejadian atau objek dimungkinkan karena media memiliki cirri manipulatif. Kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.
c.       Ciri Distributif (Distributive Property)
Ciri distributive dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui rauang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan stimulus pengalaman yang relative sama mengenai kejadian itu.

D.    Media Sebagai Sumber Belajar
Belajar mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumalh nilai untuk dikonsumsi oleh setiap anak didik. nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi terambil dari berbagai sumber. Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali terdapat dimana-mana; di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan sebagainya. Udin Saripuddin dan Winataputra (199;65) mengelompokkan sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku / perpustakaan, media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Karena itu, sumber belajar adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.
Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka macambentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. dalam menerangkan suatu benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung ke hadapan anak didik di kelas. Dengan menghadirkan bedanya seiring dengan penjelasan mengenai benda itu, maka benda itu dijadikan sebagai sumber belajar.
Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yaitu metode mengajar dan media pengajaran segabai alat bantu mengajar. Kedudukan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar ada dalam komponen metodologi, sebagai salah satu lingkungan belajar yang diatur oleh guru.


1.      Nilai dan Manfaat Media Pengajaran
      Media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada beberapa alasan mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa.
Alas an pertama berkenaan dengan manfaat media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain:
a.    Pengajaran akan lebih menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
b.    Bahan pengajaran akan lebih jelas maknanya ssehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan memungkinkan siswa menguasai tujuna pengajaran lebih baik;
c.    Metode mengajar akan lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan tenaga, apalagi bila guru menagajar untuk setiap jam pelajaran;
d.   Siswa lebih banyak melakukan kegiatan belajar mengajar, sebab tidak hanya mendengarkan uaraian guru, tapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan lain-lain.

2.      Jenis dan Kriteria Memilih Media Pengajaran
      Terdapat media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun, komik dan lain-lain. Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu  dalam bentuk model seperti model padat (solid model), model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama dan lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan OHP dan lain-lain. Keempat penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.
Penggunaan media di atas tidak dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting adalah fungsi dan peranannya dalam membantu mempertinggi proses pembelajaran.
      Oleh sebab itu, penggunaan media pengajaran sangat bergantung kepada tujuan pengajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang diperlukan serta kemampuan guru dalam mempergunakannya dalam proses pengajaran.
Dalam memilih media untuk kepentingan pengajarn sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
a)    Ketepatannya dengan tujuan pengajaran; artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis lebih memungkinkan digunakannya media pengajaran.
b)   Dukungan terhadap isi bahan pelajaran; artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami siswa.
c)    Kemudahan memperoleh media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat guru tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya.
d)   Keterampilan guru dalam menggunakannya; apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru dapat menggunakannya dalam proses pengajaran.
e)    Tersedia waktu untuk menggunakannya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama pengajaran berlangsung.
f)    Sesuai dengan taraf berpikir siswa; memilih media harus sesuai dengan taraf berpikir siswa sehingga makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa.
Kehadiran media dalam proses pengajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tapi harus sebaliknya yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran. Oleh sebab itu media bukan keharusan tetapi pelengkap jika dipandang perlu untuk mempertinggi kualitas belajar dan mengajar.
Peranan media dalam proses pengajaran dapat ditempatkan sebagai:
a)    Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. Dalam hal ini media digunakan guru sebagai variasi penjelasan verbal mengenai bahan pengajaran.
b)   Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para siswa dalam proses belajarnya. Paling tidak guru dapat menempatkan media sebagai sumber pertanyaan atau stimulasi belajar siswa.
c)    Sumber belajar bagi siswa, artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para siswa baik individual maupun kelompok.

Melalui penggunaan media pengajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses belajar mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar siswa.

E.     Pengenalan Beberapa Media
Media pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan peralatan. Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan teknologi. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis. Kemudian lahir teknologi audio visual yang menggabungkan penemuan mekanis dan elektronis untuk tujuan pembelajaran. Teknologi yang muncul terakhir adalah teknologi mikro prosesor yang melahirkan pemakaian computer dan kegiatan interaktif (Seels & Richey, 1994). Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, media pembelajaran dapat dikelompokan ke dalam empat kelompok, yaitu:
1)   Media hasil teknologi cetak
2)   Media hasil teknologi audio visual
3)   Media hasil teknologi yang berdasarkan computer
4)   Media hasil gabungan teknologi cetak dan computer.

Ciri-ciri utama teknologi media audio visual adalah sebagai berikut:
a.    Mereka biasanya bersifat linear;
b.    Mereka biasanya menyajikan visual yang dinamis;
c.    Mereka digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh perancang/pembuatnya;
d.   Mereka merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak;
e.    Mereka dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorismen dan kognitif;
f.     Umumnya mereka berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan interaktif murid yang rendah,
                
Perbedaan antara media yang dihasilkan oleh teknologi berbasis computer dengan yang dihasilkan dari dua teknologi lainnya adalah karena informasi/materi disimpan dalam bentuk digital, bukan dalam bentuk cetakan atau visual.
Beberapa ciri media yang dihasilkan teknologi berbasis computer (baik perangkat keras maupun perangkat lunak) adalah sebagai berikut:
a.      Mereka dapat digunakan secara acak, non sekuen sial, atau  secara linear;
b.      Mereka dapat digunakan berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan keinginan perancang/pengembang bagaimana direncanakannya;
c.      Biasanya gagasan-gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, symbol, dan grafik;
d.     Prinsip-prinsip ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini;
e.      Pembelajaran dapat berorientasi siswa dan melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi.
Pengelompokkan berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi oleh Seels & Glasgow (1990:181-183) dibagi ke dalam dua kategori luas, yaitu pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir.
1.      Pilihan Media Tradisional
a.    Visual diam yang diproyeksikan
ü Proyeksi opaque (tak tembus pandang)
ü Proyeksi overhead
ü Slides
ü filmstrips
b.    Visual yang tak diproyeksikan
ü Gambar, poster
ü Foto
ü Charts, grafik, diagram
ü Pameran, papan info, papan bulu
c.    Audio
ü Rekaman piringan
ü Pita kaset, reel, cartridge
d.   Penyajian Multimedia
ü Slide plus suara (tape)
ü Multi image
e.    Visual dinamis yang diproyeksikan
ü Film
ü Televisi
ü Video
f.     Cetak
ü Buku teks
ü Modul, teks terprogram
ü Workbook
ü Majalah ilmiah, berkala
ü Lembaran lepas (hand out)
g.    Permainan
ü Teka teki
ü Simulasi
ü Permainan papan
h.    Realita
ü Model
ü Specimen (contoh)
ü Manipulative (peta, boneka)

2.      Pilihan Media Teknologi Mutakhir
a.    Media berbasis telekomunikasi
ü Telekonferen
ü Kuliah jarak jauh
b.    Media berbasis mikroprosesor
ü Computer assisted instruction
ü Permainan computer
ü System tutor intelijen
ü Interaktif
ü Hypermedia
ü Compact (video) disc


Kemp & Dayton (1985) mengelompokan media ke dalam delapan jenis, yaitu:
1.    Media cetakan
2.    Media pajang
3.    Overhead transparacies
4.    Rekaman audiotape
5.    Seri slide dan filmstrips
6.    Penyajian multi image
7.    Rekaman video dan film hidup
8.    Computer
Media cetakan meliputi bahan-bahan yang disiapkan di atas kertas untuk pengajaran dan informasi.
Keterbatasan media cetakan:
a.      Sulit menampilkan gerak dalam halaman media cetakan
b.      Biaya pencetakan akan mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang berwarna-warni
c.      Proses pencetakan media seringkali memakan waktu beberapa hari sampai berbulan-bulan, tegantung kepada peralatan percetakan dan kerumitan informasi pada halaman cetakan
d.     Perbagian unit-unit pelajaran dalam media cetakan harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak terlalu panjang dan dapat membosankan siswa
e.      Umumnya media cetakan dapat membawa hasil yang baik jika tujuan pelajaran itu bersifat kognitif, misalnya belajar tentang fakta dan keterampilan
f.       Jika tidak dirawat dengan baik media cetakan cepat rusak atau hilang

Dilihat dari Jenisnya, Media Dibagi ke Dalam:
a.    Media Auditif
Media auditif adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media ini tidak cocok untuk orang tuli atau mempunyai kelainan dalam pendengaran.


b.    Media Visual
Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada yang menampilkan gambar diam sepeti film strip (film rangkai), slides (film bingkai) foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan gambar atau symbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.
c.       Media Audiovisual
Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsure gambar. Jenis media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis media yang pertama dan kedua. Media ini dibagi lagi ke dalam:
1)   Audiovisual Diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, cetak suara.
2)   Audiovisual Gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsure suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video-cassette.
Pembagian lain dari media ini adalah :
a)    Audiovisual Murni yaitu baik unsure suara maupun unsure gambar berasal dari suatu sumber seperti film video-cassette, dan
b)   Audiovisual Tidak Murni, yaitu yang unsure suara dan unsure gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsure gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsure suara bersumber dari tape recorder. Contoh lainnya adalah film strip suara dan cetak.

1.      Dilihat dari Daya Liputnya, Media Dibagi Dalam:
a.      Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak
Penggunaan media ini tidak terbetas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama.
Contoh: radio dan televise
b.      Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat
Media ini dalam penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound slide, film rangkai, yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.
c.       Media untuk Pengajaran Individual
Media ini penggunannya hanya untuk seorang diri. Termasuk media ini adalah modul berprogram dan pengajaran melalui komputer.
2.      Dilihat dari Bahan Pembuatannya, Media Dibagi Dalam:
a.      Media sederhana
Media ini bahan dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan penggunannya tidak sulit.
b.      Media kompleks
Media ini adalah media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya, sulit membuatnya, dan penggunannya memerlukan keterampilan yang memadai.

F.     Prinsip-prinsip Pemilihan dan Penggunaan Media
1.    Dasar Pertimbangan Pemilihan Media
Beberapa penyebab orang memilih media antara lain adalah:
a.    Bermaksud mendemonstrasikannya seperti halnya kuliah tentang media:
b.    Merasa sudah akrab dengan meddia tersebut;
c.    Ingin memberi gambara atau penjelasan yang lebih konkret;
d.   Merasa bahwa media dapat berbuat lebih dari apa yang dapat dilakukannya.

2.    Kriteria Pemilihan
Kriteria pemilihan media harus sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang bersangkutan. Profesor Ely dalam kuliahnya di fakultas Pascasarjana IKIP Malang tahun 1982 mengatakan bahwa pemilihan media seyogyanya tidak terlepas dari konteksnya bahwa media merupakan komponen dari sistem instruksional secara keseluruhan.
Ketika suatu media akan dipilih, ketika suatu media akan dipergunakan, ketika itulah beberapa prinsip perlu guru perhatikan dan pertimbangkan. Drs. Sudirman N. (1991) mengemukakan beberapa prinsip pemilihan media pengajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori, sebagai berikut.
1.      Tujuan Pemilihan
Memilih media yang digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas. Tujuan pemilihan media berkaitan dengan kemampuan berbagai media.


2.      Karakteristik Media Pengajaran
Setiap media mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat sari segi keampuhannya, cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya. Guru haruslah memahami karakteristik setiap media pengajaran, apabila kurang memahami karakteristik media tersebut, guru akan dihadapkan kepada kesulitan dan cenderung bersikap spekulatif.
3.      Alternatif Pilihan
Guru bisa menentukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat beberapa media yang dapat diperbandingkan.

Dalam menggunakan media hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan media tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip itu menurut Dr. Nana Sudjana (1991; 104):
3.      Menentukan jenis media dengan tepat .
4.      Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat.
5.      Menyajikan media dengan tepat.
6.      Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.
1.    Faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih media pengajaran
a. Objektivitas
Guru tidak boleh memilih suatu media pengajaran atas dasar kesenangan pribadi (subjektivitas). Apabila secara objektif, berdasarkan hasil penelitian percobaan, suatu media pengajaran menunjukkan keefektifan dan efesiensi yang tinggi, maka guru jangan bosan menggunakannya.
b.Program Pengajaran
Program pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik isinya, strukturnya, maupun kedalamannya.
c. Sasaran Program
Media yang akan digunakan harus dilihat kesesuainnya dengan tingkat perkembangan anak didik, baik dari segi bahasa, simbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan penyajiannya, ataupun waktu penggunaannya.
d.         Situasi dan Kondisi
Situasi dan kondisi yang dimaksud:
(1)   Situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan rungan yang kan dipergunakan, seperti ukurannya, perlengkapannya, ventilasinya, dan
(2)   Situasi serta kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran mengenai jumlahnya, motivasu dan kegairahannya.
e. Kualitas Teknik
Media pengajaran harus diperhatikan dari segi tekniknya. Apakah media tersebut sudah memenuhi syarat atau masih ada kekurangan sehingga kurang sempurna dan dapat mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f. Keefektifan dan Efesiensi Penggunaan
Keefektifan dalam penggunaan media meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut informasi pengajaran dapat diserap oleh anak didik dengan optimal, sehingga menimbulkan perubahan tingkah lakunya. Sedangkan efesiensi meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tersebut sedikit mungkin.

2.    Kriteria Pemilihan Media Pengajaran
a.    Apakah topik yang akan dibahas dalam media tersebut dapat menarik minat anak didik untuk belajar?
b.    Apakah materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak didik?
c.    Apabila media itu sebagai sumber pengajaran yang pokok, apakah isinya relevan dengan kurikulum yang berlaku?
d.   Apakah materi yang disajikan autentik dan actual, ataukah informasi yang sudah lama diketahui massa atau peristiwa yang telah lama terjadi?
e.    Apakah fakta dan konsepnya terjamin kecermatannya atau ada suatu hal yang masih diragukan?
f.     Apakah format penyajiannya berdasarkan tata urutan belajar yang logis?
g.    Apakah formay penyajiannya objektif dan tidak mengandung unsure propaganda atau hasutan terhadap anak didik?
h.    Apakah narasi, gambar, efek, warna, dan sebagainya, memenuhi syarat standar kualitas teknis?
i.      Apakah bobot penggunaan bahasa, simbol-simbol, dan ilustrasinya sesuai dengan tingkat kematangan berpikir anak didik?
j.      Apakah sudah diuji kesahihannya (validitas)?
Untuk jenis media rancangan (yang dibuat sendiri) pertanyaan yang dijadikan sebagai acuan di antaranya sebagai berikut:
a.    Apakah materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi tambahan atau hiburan.
b.    Apakah media yang dirancang itu untuk keperluan pembelajaran atau alat bantu pengajaran (peraga)?
c.    Apakah dalam pengejarannya akan menggunakan strategi kognitif, efektif, atau psikomotorik?
d.   Apakah materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih sangat asing bagi anak didik?
e.    Apakah perlu rangsangan suaru seperti untuk pengajaran bahasa?
f.     Apakah perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran seni atau olah raga?
g.    Apakah perlu rangsangan warna?


Nana Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori, sebagai berikut:
1.      Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif.
2.      Pengguaan media pengajaran, merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsure yang harus dikembangkan guru.
3.      Media pengajaran dalam pengajaran, penggunannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan) media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
4.      Penggunaan media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5.      Penggunaan media dalam pengajran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
6.      Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan perkataan lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.

Nilai-nilai praktis media pengajaran menurut SudirmanN. Dkk. (1991) adalah:
k)   Meletakkan dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi kepahaman yang bersifat verbalisme.
l)     Menampilkan objek-objek yang terlalu besar yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke dalam kelas.
m) Memperlambat gerakan yang terlalu cepat dan mempercepat gerakan yang lambat.
n)   Karena informasi yang diperoleh siswa berasal dari satu sumber serta dalam situasi dan kondisi yang sama, maka dimungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi pada siswa.
o)   Membangkitkan motivasi belajar siswa.
p)   Dapat mnengontrol dan mengatur waktu belajar siswa.
q)   Memungkinkan siswa berinteraksi secara langsung dengan lngkungannya (sumber belajar).
r)     Bahan pelajaran dapat diulang sesuai dengan kebutuhan dan atau disimpan untuk digunakan pada saat yang lain.
s)    Memungkinkan untuk menampilkan objek yang langka seperti peristiwa gerhana matahari total atau binatang yang hidup dikutub.
t)     Menampilkan objek yang sulit diamati oleh mata telanjang, misalnya mempelajari tentang bakteri dengan menggunakan mikroskop.

G.    Perkembangan Media Pendidikan
Pada mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids). Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar serta mempertinggi daya serap dan  retensi belajar siswa. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio visual aids (AVA).
Pada akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai penyalur pesan atau informasi belajar. Baru pada tahun 1960-1965 orang mulai memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar mengajar. Pada saat itu teori tingkah laku (behaviorism theory) ajaran B.F. Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori ini mendorong orang untuk memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar. Menurut teori ini, mendidik adalah mengubah tingkah laku siswa.  Perubahan tingkah laku ini harus tertanam pada diri siswa sehingga menjadi adat kebiasaan. Supaya tingkah laku tersebut menjadi adat kebiasaan,  setiap ada perubahan tingkah laku positif ke arah tujuan yang dikehendaki, harus diberi penguatan (reinforcement), berupa pemberitahuan bahwa tingkah laku tersebut telah betul. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Media instruksional yang terkenal yang dihasilkan teori ini ialah teaching machine dan programmed instruction.
Pada tahun 1965-1970, pendekatan sistem approach mulai menampakkan pengaruhnya dalam kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan sistem ini mendorong digunakannya media sebagai bagian integral dalam program pembelajaran.

H.    Lingkungan Sebagai Media Pengajaran
Pengguanaan media grafis, tiga dimensi, dan proyeksi, pada dasarnya memvisualkan fakta, gagasan, kejadian, peristiwa dalam bentuk tiruan dari keadaan sebenarnya untuk dibahas dalam kelas dalam membantu proses pengajaran. Di lain pihak guru dan siswa bisa mempelajari keadaan sebenarnya di luar kelas dengan menghadapkan para siswa kepada lingkungan yang actual untuk dipelajari, diamati dalam hubungannya dengan proses belajar dan mengajar. Cara ini lebih bermakna disebabkan para siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya secara alami, sehingga lebih nyata, lebih factual dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. Membawa kelas atau para siswa keluar kelas dalam rangka kegiatan belajar tidak terbatas oleh waktu.  Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan dalam proses belajar antara lain:
a)      Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
b)     Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alami.
c)      Bahan-bahan yang dapat dipelajari lebih kaya serta lebih factual sehingga kebenarannya lebih akurat.
d)     Kegiatan belajar siswa lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan, menguji fakta, dan lain-lain.
e)      Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan social, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain.
f)      Siswa dapat  memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.

Oleh karena itu lingkungan di sekitarnya harus dioptimalkan sebagai media dalam pengajaran dan lebih dari itu dapat dijadikan sumber belajar para siswa. Berbagai bidang studi yang dipelajari siswa di sekolah hamper bisa dipelajari dari lingkungan seperti ilmu-ilmu social, ilmu pengetahuan alam, bahasa, kesenian, keterampilan, olahraga kesehatan, dan lain-lain.
Beberapa kelemahan dan kekurangan yang sering tejadi dalam pelaksanaannya berkisar pada teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar. Misalnya:
a)      Kegiatan belajar kurang disiapkan sebelumnya yang menyababkan pada waktu siswa dibawa ke tujuan tidak melakukan kegiatan belajar yang diharapkan sehingga ada kesan main-main. Kelemahan ini bisa diatasi dengan persiapan yang matang sebelum kegiatan itu dilaksanakan. Misalnya menentukan tujuan  belajar yang diharapkan dimiliki siswa, menentukan cara bagaimana siswa mempelajarinya, menentukan apa yang harus dipelajari, cara memperoleh informasi, mencatat hasil yang diperoleh, dan lain-lain.
b)     Ada kesan dari guru dan siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu jyang cukup lama, sehingga menghabiskan waktu untuk belajar di kelas. Kesan ini keliru sebab kunjungan ke kebun sekolah  untuk memperlajari keadaan tanah, jenis tumbuhan, dan lain-lain cukup dilakukan beberapa menit, selanjutnya kembali ke kelas untuk membahas lebih lanjut apa yang telah dipelajari.
c)      Sempitnya pandangan guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas. Ia lupa bahwa tugas belajar siswa dapat dilakukan di luar jam kelas atau pelajaran, baik secara individual ataupun kelompok dan satu di antaranya dapat dilakukan dengan mempelajari keadaan lingkungannya.

1.    Teknik Menggunakan Lingkungan
Ada beberapa cara bagaimana mempelajari lingkungan sebagai media dan sumber belajar:
a)    Dengan survey, yakni siswa mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari proses social, budaya, ekonomi, kependudukan, dan lain-lain.
b)   Dengan kamping atau berkemah. Kemah memerlukan waktu yang cukup sebab siswa harus dapat menghayati bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, dan lain-lain.
c)    Dengan field trip atau karyawisata. Dalam pengertian pendidikan karayawisata adalah kunjungan siswa ke luar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari kegiatan kurikuler di sekolah. Objek karyawisata harus relevan dengan bahan pengajaran  misalnya museum untuk pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, dan lain-lain.
d)   Dengan praktek lapangan. Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh keterampilan dan kecakapan khusus.
e)    Melalui proyek pelayanan dan pengabdian pada masyarakat. Cara ini dilakukan apabila sekolah (guru dan siswa secara bersama-sama melakukan kegiatan memberikan bantuan kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan, partisipasi dalam kegiatan masyarakat, dan kegiatan lain yang diperlukan).
f)    Dengan mengundang nara sumber.

I.       Evaluasi Media Pembelajaran
Evaluasi merupakan bagian integral dari suatu proses instruksional. Idealnya keefektifan pelaksanaan proses instruksional diukur dari dua aspek, yaitu;
1)   Bukti-bukti empiris menganai hasil belajar siswa yang dihasilkan oleh system instruksional
2)   Bukti-bukti yang menunjukan berapa banyak kontribusi (sumbangan) media atau  media program terhadap keberhasilan dan keefektifan proses instruksional.
Apabila media dirancang sebagai bagian integral dari proses pembelajaran, ketika mengadakan evaluasi terhadap pembelajaran itu sudah termasuk pula evaluasi terhadap media yang digunakan.

Walker dan Hess (1984:206) memberikan kriteria dalam mereview perangkat lunak media pembelajaran yang berdasarkan kepada kualitas.
1.    Kualitas isi dan tujuan
a.    Ketepatan;
b.    Kepentingan;
c.    Kelengkapan;
d.   Keseimbangan;
e.    Minat/perhatian;
f.     Keadilan;
g.    Kesesuaian dengan situasi siswa.
2.    Kualitas instruksional
a.    Memberikan kesempatan belajar;
b.    Memberikan bantuan untuk belajar;
c.    Kualitas memotivasi;
d.   Fleksibilitas instruksionalnya;
e.    Hubungan dengan program pembelajaran lainnya;
f.     Kualitas social interaksi instruksionalnya;
g.    Kualitas tes dan penilaiannya;
h.    Dampat member dampak bagi siswa;
i.      Dapat membawa dampak bagi guru dan pembelajarannya.
3.    Kualitas teknis
a.    Keterbacaan;
b.    Mudah digunakan;
c.    Kualitas tampilan/tayangan;
d.   Kualitas penanganan jawaban;
e.    Kualitas pengelolaan programnya;
f.     Kualitas pendokumentasiannya.



BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Kata “media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan guna mencapai tujuan pengajaran.
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Sebagai alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan bantuan media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa bantuan media.
Media pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya wawasan anak didik. Aneka macam bentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. dalam menerangkan suatu benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung ke hadapan anak didik di kelas. Dengan menghadirkan bedanya seiring dengan penjelasan mengenai benda itu, maka benda itu dijadikan sebagai sumber belajar.
Berdasarkan perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokan ke dalam empat kelompok, yaitu:
5)     Media hasil teknologi cetak
6)     Media hasil teknologi audio visual
7)     Media hasil teknologi yang berdasarkan komputer
8)     Media hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.
Dilihat dari jenisnya, media dibagi ke dalam: Media Auditif, Media Visual, Media Audiovisual. Dilihat dari daya liputnya, media dibagi dalam: Media dengan Daya Liput Luas dan Serentak, Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat, Media untuk Pengajaran Individual. Dilihat dari bahan pembuatannya, media dibagi dalam: Media sederhana, Media kompleks
Dalam menggunakan media hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan media tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip itu menurut Dr. Nana Sudjana (1991; 104):
1.      Menentukan jenis media dengan tepat .
2.      Menetapkan atau memperhitungkan subjek dengan tepat.
3.      Menyajikan media dengan tepat.
4.      Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.
Dengan sifat yang unik pada siswa ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda.

B.     Saran
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh karena itu disarankan kepada pembaca untuk menambah referensi bacaan. Sebagai guru yang profesional haruslah pandai dalam menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan, yang pastinya dibutuhkan media sebagai pendukung dalam proses pembelajaran. Dan sebagai seorang guru haruslah menjadi guru yang mampu berpikir kreatif, dalam membuat media sangat dibutuhkan kemampuan berpikir kreatif, agar dapat berinovasi dalam membuat media. Jadilah guru yang hebat, yang mampu berinovasi.


Daftar Pustaka
Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Rajawali Pers.
Djamarah, Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta: RINEKA CIPTA.
Sagala, Syaiful. 2012. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: ALFABETA.
Sadiman, Arief S., Rahardjo, Anung Haryono, dan Rahardjito. Media Pendidikan. 2008. Jakarta: Rajawali Pers.
Sudjana, Nana, dan Ahmad Rivai. 2010. Media Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.


















Lampiran
·         Biodata Anggota Kelompok
Description: IMG_20150923_014823.jpg
Nama              : Rizki Nurdiana
NIM                : 2227132211
TTL                : Pandeglang, 01 Agustus 1995
Alamat            : Kp.Banjar, Pandeglang
Motto Hidup  : Belajar Untuk Sukses
Description: IMG-20150916-WA0001.jpg
Nama              : Selly Mila Andriani
NIM                : 2227132567
TTL                : Serang, 16 Oktober 1995
Alamat            : BBS 2 Cilegon
Motto Hidup  : Enjoy your life, tetapi tetap dijalan-Nya

Description: D:\Memeii\advan\again\C360_2015-06-17-08-41-42-572.jpg
Nsms               : Yuniar Lestari
NIM                : 2227132574
TTL                : Pandeglang, 08 Januari 1994
Alamat            : Bojong, Pandeglang
Motto Hidup  : No Sweet Without Sweat


·         Yel-yel

(Nada OST Doraemon)
Hallo Hallo Semua Kami Dari Inkuiri
Perkenalkan Kami Selly, Rizki dan Yuniar
Hallo Hallo Semuanya Kami Inkuiri
Hai Salam Kenal!
La La La Apa Kabar Semua?
Salam Bahagia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar