BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Media pembelajaran merupakan
komponen penting yang membantu tercapainya hasil dari proses pembelajaran yang
di dalamnya meliputi pesan, orang, dan
peralatan. Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan
teknologi. Dalam metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yaitu
metode mengajar dan media pengajaran sebagai alat bantu mengajar.
Media
pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada
gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya.Pada
mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids).
Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek
dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar
serta mempertinggi daya serap dan
retensi belajar siswa. Dalam setiap proses pembelajaran pada akhirnya
tentu mempunyai harapan-harapan dan tujuan yang harus dicapai pada akhir pembelajarannya.
Namun
jika melihat secara fakta yang terjadi di lapangan, tidak sedikit peserta didik
yang tidak bisa mencapai atau memenuhi standar kompetensi dari pembelajaran
terebut. Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi peserta didik dalam mencapai
hasil akhir dari pembelajarannya. Faktor yang mempengaruhi tersebut bisa dari
faktor instrinsik ataupun faktor ekstrinsik.
Untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar, maka seorang pendidik
harus memiliki inovasi atau perubahan dalam sistem kegiatan belajar mengajar di kelas. Salah satu
faktor pendukung siswa giat belajar adalah dengan diciptakannya media
pembelajaran yang menarik dan kreatif. Namun media yang baik tentu bukan hanya
dilihat dari segi menariknya saja, tapi juga terdapat faktor-faktor lain
sebagai faktor pendukung. Dalam kajian materi ini akan dibahas lebih rinci
tentang hal-hal yang terkait atau berhubungan media.
B.
Rumusan
Masalah
1. Apa
pengertian media?
2. Apa
saja fungsi dan manfaat media dalam proses belajar mengajar?
3. Apa
saja macam-macam media?
4. Apa
saja yang dapat menjadi dasar pertimbangan pemilihan dan penggunaan media?
5. Dimana
peran media dalam pembelajaran?
6. Bagaimana
perkembangan media pendidikan?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian media.
2. Untuk
mengetahui fungsi dan manfaat media dalam proses belajar mengajar.
3. Untuk
mengetahui macam-macam media.
4. Untuk
mengetahui apa saja yang menjadi dasar pertimbangan pemilihan dan penggunaan
media.
5. Untuk
mengetahui peran media dalam pembelajaran.
6. Untuk
mengetahui perkembangan media pendidikan.
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Pengertian
Media dan Pembelajaran
Pengertian media menurut Gagne
(1970) adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat
merangsangnya untuk belajar. Definisi lain dari Briggs (1970) berpendapat bahwa
media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang
siswa untuk belajar. Dan Djamarah dan Aswan (2002: 136) mendefinisikan media
sebagai alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai wahana penyalur
informasi belajar atau penyalur pesan guna mencapai tujuan pembelajaran.
Pembelajaran menururt Dimyati dan
Mudjiono (1999:297) adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain
instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada
penyediaan sumber belajar. Menurut UUSPN (Undang-undang Sistem Pendidikan
Nasional) No. 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
B.
Fungsi
Media dalam pembelajaran
Nana
Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori,
sebagai berikut:
1. Penggunaan
media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi
mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar
mengajar yang efektif.
2. Pengguaan
media pengajaran, merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi
mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsure yang
harus dikembangkan guru.
3. Media
pengajaran dalam pengajaran, penggunannya integral dengan tujuan dari isi
pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan)
media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
4. Penggunaan
media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan
hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5. Penggunaan
media dalam pengajran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar
mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk
mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan perkataan lain, menggunakan media,
hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan lama diingat siswa, sehingga
mempunyai nilai tinggi.
BAB
III
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Media
Kata
“media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata
“medium”, yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan
demikian, media merupakan wahana penyalur
informasi belajar atau penyalur pesan.
Bila
media adalah sumber belajar, maka secara luas media dapat diartikan dengan
manusia, benda, ataupun peristiwa yang memungkinkan anak didik memperoleh
pengetahuan dan keterampilan. Dalam proses belajar mengajar kehadiran media
mempunyai arti yang cukup penting. Karena dalam kegiatan tersebut
ketidakjelasan bahan yang disampaikan dapat dibantu dengan menghadirkan media
sebagai perantara. Kerumitan bahan yang akan disampaikan kepada anak didik
dapat disederhanakan dengan bantuan media. Media dapat mewakili apa yang kurang
mampu guru ucapkan melalui kata-kata atau kalimat tertentu. Bahkan keabstrakan
bahan dapat dikonkretkan dengan kehadiran media. Dengan demikian, anak didik
lebih mudah mencerna bahan daripada tanpa bantuan media.
Namun
perlu diingat, bahwa peranan media tidak akan terlihat bila penggunaannya tidak
sejalan dengan isi dari tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu,
tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan
media. Manakala diabaikan, maka media bukan lagi sebagai alat bantu pengajaran,
tetapi sebagai penghambat dalam pencapaian secara efektif dan efisien.
Akhirnya,
dapat dipahami bahwa media adalah alat bantu apa saja yang dapat dijadikan sebagai penyalur pesan guna mencapai
tujuan pengajaran.
B. Fungsi dan Manfaat
Media Pengajaran
Salah
satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang
turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan
diciptakan oleh guru. Hamalik (1986) mengemukakan bahwa penggunaan media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan
minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan
bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa.
Levie
& Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran,Khususnya media
visual, yaitu:
a.
Fungsi atensi
Fungsi
atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian
siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan makna visual
yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.
b.
Fungsi afektif
Fungsi afektif media visual dapat terlihat
dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar atau membaca teks yang bergambar.
Gambar atau lambing visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya
informasi yang menyangkut masalah social atau ras.
c.
Fungsi kognitif
Fungsi
kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan
bahwa lambing visual atau gambar memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami
dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.
d.
Fungsi kompensatoris
Fungsi
kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media
visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswwa yang lemah
dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya
kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan
siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan
dengan teks atau disajikan secara verbal.
Nana Sudjana (1991)
merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori, sebagai berikut:
1. Penggunaan
media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi
mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar
mengajar yang efektif.
2. Pengguaan
media pengajaran, merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi
mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsur yang
harus dikembangkan guru.
3. Media
pengajaran dalam pengajaran, penggunannya integral dengan tujuan dari isi pelajaran.
Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan) media harus
melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
4. Penggunaan
media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan
hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5.
Penggunaan media dalam
pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan
membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
6.
Penggunaan media dalam
pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar. Dengan
perkataan lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan tahan
lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.
Nilai-nilai praktis
media pengajaran menurut SudirmanN. Dkk. (1991) adalah:
a) Meletakkan
dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi
kepahaman yang bersifat verbalisme.
b) Menampilkan
objek-objek yang terlalu besar yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke dalam
kelas.
c) Memperlambat
gerakan yang terlalu cepat dan mempercepat gerakan yang lambat.
d) Karena
informasi yang diperoleh siswa berasal dari satu sumber serta dalam situasi dan
kondisi yang sama, maka dimungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi pada
siswa.
e) Membangkitkan
motivasi belajar siswa.
f) Dapat
mnengontrol dan mengatur waktu belajar siswa.
g) Memungkinkan
siswa berinteraksi secara langsung dengan lngkungannya (sumber belajar).
h) Bahan
pelajaran dapat diulang sesuai dengan kebutuhan dan atau disimpan untuk
digunakan pada saat yang lain.
i) Memungkinkan
untuk menampilkan objek yang langka seperti peristiwa gerhana matahari total
atau binatang yang hidup dikutub.
j) Menampilkan
objek yang sulit diamati oleh mata telanjang, misalnya mempelajari tentang
bakteri dengan menggunakan mikroskop.
C.
Media
Sebagai Alat Bantu
Media
sebagai alat bantu dalam proses belajar mengajar adalah suatu kenyataan yang
tidak dapat dipungkiri. Karena memang gurulah ang menghendakinya untuk membantu
tugas guru dalam menyampaikan pesan-pesan dari bahan pelajaran yang diberikan
oleh guru kepada anak didik. Guru sadar bahwa tanpa bantuan media, maka bahan
pelajaran sukar untuk dicerna dan dipahami oleh setiap anak didik, terutama
bahan pelajaran yang rumit atau kompleks.
Anak
didik cepat merasa bosan dan kelelahan tentu tidak dapat mereka hindari,
disebabkan penjelasan guru yang sukar dicerna dan dipahami. Guru yang bijaksana
tentu sadar bahwa kebosanan dan kelelahan anak didik adalah berpangkal dari
penjelasan yang diberikan guru bersimpang siur, tidak ada fokus masalahnya. Hal
ini tentu saja harus dicarikan jalan keluarnya. Jika guru tidak memiliki
kemampuan untuk menjelaskan suatu bahan dengan baik, apa salahnya jika
menghadirkan media sebagai alat bantu pengajaran guna mencapai tujuan yang
telah ditetapkan sebelum pelaksanaan pengajaran.
Sebagai
alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan
pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar
dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang
waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan bantuan
media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa
bantuan media.
Walaupun
begitu, penggunaan media sebagai alat bantu tidak bisa sembarangan menurut
sekehendak hati guru. Tetapi harus memperhatikan dan mempertimbangkan tujuan.
Media yang dapat menunang tercapainya tujuan tujuan pengajaran tentu lebih
diperhatikan. Sedangkan media yang tidak dapat menunjang tentu saja harus
disingkirkan jauh-jauh untuk sementara. Kompetensi guru sendiri patut dijadikan
perhitungan. Adakah mampu atau tidak untuk mempergunakan media tersebut. jika
tidak, maka jangan mempergunakannya, sebab hal itu akan sia-sia. Malahan bisa
mengacaukan jalannya proses belajar mengajar. Gerlach & Ely (1971)
mengemukakan tiga ciri media yang merupakan petunjuk mengapa media digunakan
dan apa saja yang dapat dilakukan oleh media yang mungkin guru tidak mampu
(atau kurang efisien) melakukannya.
a.
Ciri
Fiksatif (Fixative Property)
Ciri ini menggambarkan kemampuan media
merekam, menyimpan, melestarikan, dan merekonstruksi suatu peristiwa atau
objek. Suatu peristiwa atau objek dapat diurut dan disusun kembali dengan media
seperti fotografi, video tape, audio tape, disket computer, dan film.
b.
Ciri
Manipulatif (Manipulative Property)
Transformasi suatu kejadian atau objek
dimungkinkan karena media memiliki cirri manipulatif. Kejadian yang memakan
waktu berhari-hari dapat disajikan kepada siswa dalam waktu dua atau tiga menit
dengan teknik pengambilan gambar time-lapse recording.
c.
Ciri
Distributif (Distributive Property)
Ciri distributive dari media
memungkinkan suatu objek atau kejadian ditransportasikan melalui rauang, dan
secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada sejumlah besar siswa dengan
stimulus pengalaman yang relative sama mengenai kejadian itu.
D.
Media
Sebagai Sumber Belajar
Belajar
mengajar adalah suatu proses yang mengolah sejumalh nilai untuk dikonsumsi oleh
setiap anak didik. nilai-nilai itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi
terambil dari berbagai sumber. Sumber belajar yang sesungguhnya banyak sekali
terdapat dimana-mana; di sekolah, di halaman, di pusat kota, di pedesaan, dan
sebagainya. Udin Saripuddin dan Winataputra (199;65) mengelompokkan
sumber-sumber belajar menjadi lima kategori, yaitu manusia, buku / perpustakaan,
media massa, alam lingkungan, dan media pendidikan. Karena itu, sumber belajar
adalah segala sesuatu yang dapat dipergunakan sebagai tempat di mana bahan
pengajaran terdapat atau asal untuk belajar seseorang.
Media
pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya
wawasan anak didik. Aneka macambentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan
oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. dalam menerangkan
suatu benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung ke hadapan anak didik
di kelas. Dengan menghadirkan bedanya seiring dengan penjelasan mengenai benda
itu, maka benda itu dijadikan sebagai sumber belajar.
Dalam
metodologi pengajaran ada dua aspek yang paling menonjol yaitu metode mengajar
dan media pengajaran segabai alat bantu mengajar. Kedudukan media pengajaran
sebagai alat bantu mengajar ada dalam komponen metodologi, sebagai salah satu
lingkungan belajar yang diatur oleh guru.
1. Nilai
dan Manfaat Media Pengajaran
Media
pengajaran dapat mempertinggi proses belajar siswa dalam pengajaran yang pada
gilirannya diharapkan dapat mempertinggi hasil belajar yang dicapainya. Ada
beberapa alasan mengapa media pengajaran dapat mempertinggi proses belajar
siswa.
Alas an pertama berkenaan dengan manfaat
media pengajaran dalam proses belajar siswa antara lain:
a.
Pengajaran akan lebih
menarik perhatian siswa sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar;
b.
Bahan pengajaran akan
lebih jelas maknanya ssehingga dapat lebih dipahami oleh para siswa, dan
memungkinkan siswa menguasai tujuna pengajaran lebih baik;
c.
Metode mengajar akan
lebih bervariasi, tidak semata-mata komunikasi verbal melalui penuturan
kata-kata oleh guru, sehingga siswa tidak bosan dan guru tidak kehabisan
tenaga, apalagi bila guru menagajar untuk setiap jam pelajaran;
d.
Siswa lebih banyak
melakukan kegiatan belajar mengajar, sebab tidak hanya mendengarkan uaraian
guru, tapi juga aktivitas lain seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan,
dan lain-lain.
2. Jenis
dan Kriteria Memilih Media Pengajaran
Terdapat
media grafis seperti gambar, foto, grafik, bagan atau diagram, poster, kartun,
komik dan lain-lain. Media grafis sering juga disebut media dua dimensi, yakni
media yang mempunyai ukuran panjang dan lebar. Kedua, media tiga dimensi yaitu dalam bentuk model seperti model padat (solid
model), model penampang, model susun, model kerja, mock up, diorama dan
lain-lain. Ketiga, media proyeksi seperti slide, film strips, film, penggunaan
OHP dan lain-lain. Keempat penggunaan lingkungan sebagai media pengajaran.
Penggunaan media di atas tidak
dilihat atau dinilai dari segi kecanggihan medianya, tetapi yang lebih penting
adalah fungsi dan peranannya dalam membantu mempertinggi proses pembelajaran.
Oleh
sebab itu, penggunaan media pengajaran sangat bergantung kepada tujuan
pengajaran, bahan pengajaran, kemudahan memperoleh media yang diperlukan serta
kemampuan guru dalam mempergunakannya dalam proses pengajaran.
Dalam memilih media untuk kepentingan
pengajarn sebaiknya memperhatikan kriteria-kriteria sebagai berikut:
a)
Ketepatannya dengan
tujuan pengajaran; artinya media pengajaran dipilih atas dasar tujuan-tujuan
instruksional yang telah ditetapkan. Tujuan-tujuan instruksional yang berisikan
unsur pemahaman, aplikasi, analisis, sentesis lebih memungkinkan digunakannya
media pengajaran.
b)
Dukungan terhadap isi
bahan pelajaran; artinya bahan pelajaran yang sifatnya fakta, prinsip, konsep
dan generalisasi sangat memerlukan bantuan media agar lebih mudah dipahami
siswa.
c)
Kemudahan memperoleh
media; artinya media yang diperlukan mudah diperoleh, setidak-tidaknya mudah
dibuat oleh guru pada waktu mengajar. Media grafis umumnya dapat dibuat guru
tanpa biaya yang mahal, disamping sederhana dan praktis penggunaannya.
d)
Keterampilan guru dalam
menggunakannya; apapun jenis media yang diperlukan syarat utama adalah guru
dapat menggunakannya dalam proses pengajaran.
e)
Tersedia waktu untuk
menggunakannya; sehingga media tersebut dapat bermanfaat bagi siswa selama
pengajaran berlangsung.
f)
Sesuai dengan taraf
berpikir siswa; memilih media harus sesuai dengan taraf berpikir siswa sehingga
makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa.
Kehadiran media
dalam proses pengajaran jangan dipaksakan sehingga mempersulit tugas guru, tapi
harus sebaliknya yakni mempermudah guru dalam menjelaskan bahan pengajaran.
Oleh sebab itu media bukan keharusan tetapi pelengkap jika dipandang perlu
untuk mempertinggi kualitas belajar dan mengajar.
Peranan media dalam proses
pengajaran dapat ditempatkan sebagai:
a)
Alat untuk memperjelas
bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan pelajaran. Dalam hal ini media
digunakan guru sebagai variasi penjelasan verbal mengenai bahan pengajaran.
b)
Alat untuk mengangkat
atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih lanjut dan dipecahkan oleh para
siswa dalam proses belajarnya. Paling tidak guru dapat menempatkan media
sebagai sumber pertanyaan atau stimulasi belajar siswa.
c)
Sumber belajar bagi
siswa, artinya media tersebut berisikan bahan-bahan yang harus dipelajari para
siswa baik individual maupun kelompok.
Melalui
penggunaan media pengajaran diharapkan dapat mempertinggi kualitas proses
belajar mengajar yang pada akhirnya dapat mempengaruhi kualitas hasil belajar
siswa.
E. Pengenalan Beberapa
Media
Media
pembelajaran merupakan komponen instruksional yang meliputi pesan, orang, dan
peralatan. Dalam perkembangannya media pembelajaran mengikuti perkembangan
teknologi. Teknologi yang paling tua yang dimanfaatkan dalam proses belajar
adalah percetakan yang bekerja atas dasar prinsip mekanis. Kemudian lahir teknologi
audio visual yang menggabungkan penemuan mekanis dan elektronis untuk tujuan
pembelajaran. Teknologi yang muncul terakhir adalah teknologi mikro prosesor
yang melahirkan pemakaian computer dan kegiatan interaktif (Seels & Richey,
1994). Berdasarkan perkembangan teknologi tersebut, media pembelajaran dapat
dikelompokan ke dalam empat kelompok, yaitu:
1) Media
hasil teknologi cetak
2) Media
hasil teknologi audio visual
3) Media
hasil teknologi yang berdasarkan computer
4) Media
hasil gabungan teknologi cetak dan computer.
Ciri-ciri utama
teknologi media audio visual adalah sebagai berikut:
a. Mereka
biasanya bersifat linear;
b. Mereka
biasanya menyajikan visual yang dinamis;
c. Mereka
digunakan dengan cara yang telah ditetapkan sebelumnya oleh
perancang/pembuatnya;
d. Mereka
merupakan representasi fisik dari gagasan real atau gagasan abstrak;
e. Mereka
dikembangkan menurut prinsip psikologis behaviorismen dan kognitif;
f. Umumnya
mereka berorientasi kepada guru dengan tingkat pelibatan interaktif murid yang
rendah,
Perbedaan
antara media yang dihasilkan oleh teknologi berbasis computer dengan yang
dihasilkan dari dua teknologi lainnya adalah karena informasi/materi disimpan
dalam bentuk digital, bukan dalam bentuk cetakan atau visual.
Beberapa
ciri media yang dihasilkan teknologi berbasis computer (baik perangkat keras
maupun perangkat lunak) adalah sebagai berikut:
a.
Mereka dapat digunakan
secara acak, non sekuen sial, atau
secara linear;
b.
Mereka dapat digunakan
berdasarkan keinginan siswa atau berdasarkan keinginan perancang/pengembang
bagaimana direncanakannya;
c.
Biasanya
gagasan-gagasan disajikan dalam gaya abstrak dengan kata, symbol, dan grafik;
d. Prinsip-prinsip
ilmu kognitif untuk mengembangkan media ini;
e.
Pembelajaran dapat
berorientasi siswa dan melibatkan interaktivitas siswa yang tinggi.
Pengelompokkan
berbagai jenis media apabila dilihat dari segi perkembangan teknologi oleh
Seels & Glasgow (1990:181-183) dibagi ke dalam dua kategori luas, yaitu
pilihan media tradisional dan pilihan media teknologi mutakhir.
1. Pilihan
Media Tradisional
a.
Visual diam yang
diproyeksikan
ü Proyeksi
opaque (tak tembus pandang)
ü Proyeksi
overhead
ü Slides
ü filmstrips
b.
Visual yang tak
diproyeksikan
ü Gambar,
poster
ü Foto
ü Charts,
grafik, diagram
ü Pameran,
papan info, papan bulu
c.
Audio
ü Rekaman
piringan
ü Pita
kaset, reel, cartridge
d.
Penyajian Multimedia
ü Slide
plus suara (tape)
ü Multi
image
e.
Visual dinamis yang
diproyeksikan
ü Film
ü Televisi
ü Video
f.
Cetak
ü Buku
teks
ü Modul,
teks terprogram
ü Workbook
ü Majalah
ilmiah, berkala
ü Lembaran
lepas (hand out)
g.
Permainan
ü Teka
teki
ü Simulasi
ü Permainan
papan
h.
Realita
ü Model
ü Specimen
(contoh)
ü Manipulative
(peta, boneka)
2. Pilihan
Media Teknologi Mutakhir
a.
Media berbasis
telekomunikasi
ü Telekonferen
ü Kuliah
jarak jauh
b.
Media berbasis
mikroprosesor
ü Computer
assisted instruction
ü Permainan
computer
ü System
tutor intelijen
ü Interaktif
ü Hypermedia
ü Compact
(video) disc
Kemp
& Dayton (1985) mengelompokan media ke dalam delapan jenis, yaitu:
1. Media
cetakan
2. Media
pajang
3. Overhead
transparacies
4. Rekaman
audiotape
5. Seri
slide dan filmstrips
6. Penyajian
multi image
7. Rekaman
video dan film hidup
8. Computer
Media cetakan
meliputi bahan-bahan yang disiapkan di atas kertas untuk pengajaran dan
informasi.
Keterbatasan
media cetakan:
a.
Sulit menampilkan gerak
dalam halaman media cetakan
b.
Biaya pencetakan akan
mahal apabila ingin menampilkan ilustrasi, gambar, atau foto yang
berwarna-warni
c.
Proses pencetakan media
seringkali memakan waktu beberapa hari sampai berbulan-bulan, tegantung kepada
peralatan percetakan dan kerumitan informasi pada halaman cetakan
d.
Perbagian unit-unit
pelajaran dalam media cetakan harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak
terlalu panjang dan dapat membosankan siswa
e.
Umumnya media cetakan
dapat membawa hasil yang baik jika tujuan pelajaran itu bersifat kognitif,
misalnya belajar tentang fakta dan keterampilan
f.
Jika tidak dirawat
dengan baik media cetakan cepat rusak atau hilang
Dilihat dari Jenisnya, Media Dibagi ke Dalam:
a. Media Auditif
Media auditif
adalah media yang hanya mengandalkan kemampuan suara saja, seperti radio, cassette recorder, piringan hitam. Media
ini tidak cocok untuk orang tuli atau mempunyai kelainan dalam pendengaran.
b. Media Visual
Media visual
adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Media visual ini ada
yang menampilkan gambar diam sepeti film strip
(film rangkai), slides (film bingkai)
foto, gambar atau lukisan, cetakan. Ada pula media visual yang menampilkan
gambar atau symbol yang bergerak seperti film bisu, film kartun.
c. Media Audiovisual
Media
audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan unsure gambar. Jenis
media ini mempunyai kemampuan yang lebih baik, karena meliputi kedua jenis
media yang pertama dan kedua. Media ini dibagi lagi ke dalam:
1) Audiovisual Diam, yaitu
media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slides), film rangkai suara, cetak
suara.
2) Audiovisual Gerak,
yaitu media yang dapat menampilkan unsure suara dan gambar yang bergerak
seperti film suara dan video-cassette.
Pembagian lain
dari media ini adalah :
a) Audiovisual Murni yaitu
baik unsure suara maupun unsure gambar berasal dari suatu sumber seperti film video-cassette, dan
b) Audiovisual Tidak
Murni, yaitu yang unsure suara dan unsure
gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang
unsure gambarnya bersumber dari slides proyektor dan unsure suara bersumber
dari tape recorder. Contoh lainnya adalah film strip suara dan cetak.
1. Dilihat
dari Daya Liputnya, Media Dibagi Dalam:
a.
Media
dengan Daya Liput Luas dan Serentak
Penggunaan media
ini tidak terbetas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak
didik yang banyak dalam waktu yang sama.
Contoh:
radio dan televise
b. Media dengan Daya Liput
yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat
Media ini dalam
penggunaannya membutuhkan ruang dan tempat yang khusus seperti film, sound
slide, film rangkai, yang harus menggunakan tempat yang tertutup dan gelap.
c.
Media
untuk Pengajaran Individual
Media ini
penggunannya hanya untuk seorang diri. Termasuk media ini adalah modul
berprogram dan pengajaran melalui komputer.
2.
Dilihat dari Bahan
Pembuatannya, Media Dibagi Dalam:
a.
Media
sederhana
Media ini bahan
dasarnya mudah diperoleh dan harganya murah, cara pembuatannya mudah, dan
penggunannya tidak sulit.
b.
Media
kompleks
Media ini adalah
media yang bahan dan alat pembuatannya sulit diperoleh serta mahal harganya,
sulit membuatnya, dan penggunannya memerlukan keterampilan yang memadai.
F.
Prinsip-prinsip
Pemilihan dan Penggunaan Media
1. Dasar
Pertimbangan Pemilihan Media
Beberapa
penyebab orang memilih media antara lain adalah:
a. Bermaksud
mendemonstrasikannya seperti halnya kuliah tentang media:
b. Merasa
sudah akrab dengan meddia tersebut;
c. Ingin
memberi gambara atau penjelasan yang lebih konkret;
d. Merasa
bahwa media dapat berbuat lebih dari apa yang dapat dilakukannya.
2. Kriteria
Pemilihan
Kriteria pemilihan media harus sesuai
dengan tujuan yang ingin dicapai, kondisi dan keterbatasan yang ada dengan
mengingat kemampuan dan sifat-sifat khasnya (karakteristik) media yang
bersangkutan. Profesor Ely dalam kuliahnya di fakultas Pascasarjana IKIP Malang
tahun 1982 mengatakan bahwa pemilihan media seyogyanya tidak terlepas dari
konteksnya bahwa media merupakan komponen dari sistem instruksional secara
keseluruhan.
Ketika suatu media akan dipilih, ketika
suatu media akan dipergunakan, ketika itulah beberapa prinsip perlu guru
perhatikan dan pertimbangkan. Drs. Sudirman N. (1991) mengemukakan beberapa
prinsip pemilihan media pengajaran yang dibaginya ke dalam tiga kategori,
sebagai berikut.
1. Tujuan
Pemilihan
Memilih
media yang digunakan harus berdasarkan maksud dan tujuan pemilihan yang jelas.
Tujuan pemilihan media berkaitan dengan kemampuan berbagai media.
2. Karakteristik
Media Pengajaran
Setiap
media mempunyai karakteristik tertentu, baik dilihat sari segi keampuhannya,
cara pembuatannya, maupun cara penggunaannya. Guru haruslah memahami
karakteristik setiap media pengajaran, apabila kurang memahami karakteristik
media tersebut, guru akan dihadapkan kepada kesulitan dan cenderung bersikap
spekulatif.
3. Alternatif
Pilihan
Guru
bisa menentukan pilihan media mana yang akan digunakan apabila terdapat
beberapa media yang dapat diperbandingkan.
Dalam menggunakan media hendaknya guru
memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan media tersebut dapat
mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip itu menurut Dr. Nana Sudjana (1991;
104):
3. Menentukan
jenis media dengan tepat .
4. Menetapkan
atau memperhitungkan subjek dengan tepat.
5. Menyajikan
media dengan tepat.
6. Menempatkan
atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.
1. Faktor-faktor
yang perlu diperhatikan dalam memilih media pengajaran
a. Objektivitas
Guru
tidak boleh memilih suatu media pengajaran atas dasar kesenangan pribadi
(subjektivitas). Apabila secara objektif, berdasarkan hasil penelitian
percobaan, suatu media pengajaran menunjukkan keefektifan dan efesiensi yang
tinggi, maka guru jangan bosan menggunakannya.
b.Program
Pengajaran
Program
pengajaran yang akan disampaikan kepada anak didik harus sesuai dengan
kurikulum yang berlaku, baik isinya, strukturnya, maupun kedalamannya.
c. Sasaran
Program
Media
yang akan digunakan harus dilihat kesesuainnya dengan tingkat perkembangan anak
didik, baik dari segi bahasa, simbol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan
penyajiannya, ataupun waktu penggunaannya.
d.
Situasi dan Kondisi
Situasi dan
kondisi yang dimaksud:
(1)
Situasi dan kondisi
sekolah atau tempat dan rungan yang kan dipergunakan, seperti ukurannya,
perlengkapannya, ventilasinya, dan
(2)
Situasi serta kondisi
anak didik yang akan mengikuti pelajaran mengenai jumlahnya, motivasu dan
kegairahannya.
e. Kualitas
Teknik
Media
pengajaran harus diperhatikan dari segi tekniknya. Apakah media tersebut sudah
memenuhi syarat atau masih ada kekurangan sehingga kurang sempurna dan dapat
mengganggu jalannya proses belajar mengajar.
f. Keefektifan
dan Efesiensi Penggunaan
Keefektifan
dalam penggunaan media meliputi apakah dengan menggunakan media tersebut
informasi pengajaran dapat diserap oleh anak didik dengan optimal, sehingga
menimbulkan perubahan tingkah lakunya. Sedangkan efesiensi meliputi apakah
dengan menggunakan media tersebut waktu, tenaga dan biaya yang dikeluarkan
untuk mencapai tujuan tersebut sedikit mungkin.
2. Kriteria
Pemilihan Media Pengajaran
a. Apakah
topik yang akan dibahas dalam media tersebut dapat menarik minat anak didik
untuk belajar?
b. Apakah
materi yang terkandung dalam media tersebut penting dan berguna bagi anak
didik?
c. Apabila
media itu sebagai sumber pengajaran yang pokok, apakah isinya relevan dengan
kurikulum yang berlaku?
d. Apakah
materi yang disajikan autentik dan actual, ataukah informasi yang sudah lama
diketahui massa atau peristiwa yang telah lama terjadi?
e. Apakah
fakta dan konsepnya terjamin kecermatannya atau ada suatu hal yang masih
diragukan?
f. Apakah
format penyajiannya berdasarkan tata urutan belajar yang logis?
g. Apakah
formay penyajiannya objektif dan tidak mengandung unsure propaganda atau
hasutan terhadap anak didik?
h. Apakah
narasi, gambar, efek, warna, dan sebagainya, memenuhi syarat standar kualitas
teknis?
i. Apakah
bobot penggunaan bahasa, simbol-simbol, dan ilustrasinya sesuai dengan tingkat
kematangan berpikir anak didik?
j. Apakah
sudah diuji kesahihannya (validitas)?
Untuk jenis
media rancangan (yang dibuat sendiri) pertanyaan yang dijadikan sebagai acuan
di antaranya sebagai berikut:
a. Apakah
materi yang akan disampaikan itu untuk tujuan pengajaran atau hanya informasi
tambahan atau hiburan.
b. Apakah
media yang dirancang itu untuk keperluan pembelajaran atau alat bantu
pengajaran (peraga)?
c. Apakah
dalam pengejarannya akan menggunakan strategi kognitif, efektif, atau
psikomotorik?
d. Apakah
materi pelajaran yang akan disampaikan itu masih sangat asing bagi anak didik?
e. Apakah
perlu rangsangan suaru seperti untuk pengajaran bahasa?
f. Apakah
perlu rangsangan gerak seperti untuk pengajaran seni atau olah raga?
g. Apakah
perlu rangsangan warna?
Nana
Sudjana (1991) merumuskan fungsi media pengajaran menjadi enam kategori,
sebagai berikut:
1. Penggunaan
media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi
mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar
mengajar yang efektif.
2. Pengguaan
media pengajaran, merupakan bagian yang integral dari keseluruhan situasi
mengajar. ini berarti bahwa media pengajaran merupakan salah satu unsure yang
harus dikembangkan guru.
3. Media
pengajaran dalam pengajaran, penggunannya integral dengan tujuan dari isi
pelajaran. Fungsi ini mengandung pengertian bahwa penggunaan (pemanfaatan)
media harus melihat kepada tujuan dan bahan pelajaran.
4. Penggunaan
media dalam pengajaran bukan semata-mata alat hiburan, dalam arti digunakan
hanya sekedar melengkapi proses belajar supaya lebih menarik perhatian siswa.
5. Penggunaan
media dalam pengajran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar
mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru.
6. Penggunaan
media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
Dengan perkataan lain, menggunakan media, hasil belajar yang dicapai siswa akan
tahan lama diingat siswa, sehingga mempunyai nilai tinggi.
Nilai-nilai praktis
media pengajaran menurut SudirmanN. Dkk. (1991) adalah:
k) Meletakkan
dasar-dasar yang konkret dari konsep yang abstrak sehingga dapat mengurangi
kepahaman yang bersifat verbalisme.
l) Menampilkan
objek-objek yang terlalu besar yang tidak memungkinkan untuk dibawa ke dalam
kelas.
m) Memperlambat
gerakan yang terlalu cepat dan mempercepat gerakan yang lambat.
n) Karena
informasi yang diperoleh siswa berasal dari satu sumber serta dalam situasi dan
kondisi yang sama, maka dimungkinkan keseragaman pengamatan dan persepsi pada
siswa.
o) Membangkitkan
motivasi belajar siswa.
p) Dapat
mnengontrol dan mengatur waktu belajar siswa.
q) Memungkinkan
siswa berinteraksi secara langsung dengan lngkungannya (sumber belajar).
r) Bahan
pelajaran dapat diulang sesuai dengan kebutuhan dan atau disimpan untuk
digunakan pada saat yang lain.
s) Memungkinkan
untuk menampilkan objek yang langka seperti peristiwa gerhana matahari total
atau binatang yang hidup dikutub.
t) Menampilkan
objek yang sulit diamati oleh mata telanjang, misalnya mempelajari tentang
bakteri dengan menggunakan mikroskop.
G.
Perkembangan
Media Pendidikan
Pada
mulanya media hanya dianggap sebagai alat bantu mengajar guru (teaching aids).
Alat bantu yang dipakai adalah alat bantu visual, misalnya gambar, model, objek
dan alat-alat lain yang dapat memberikan pengalaman konkret, motivasi belajar
serta mempertinggi daya serap dan
retensi belajar siswa. Dengan masuknya pengaruh teknologi audio pada
sekitar pertengahan abad ke-20, alat visual untuk mengkonkretkan ajaran ini
dilengkapi dengan alat audio sehingga kita kenal adanya alat audio visual atau audio
visual aids (AVA).
Pada
akhir tahun 1950 teori komunikasi mulai mempengaruhi penggunaan alat bantu
audio visual, sehingga selain sebagai alat bantu media juga berfungsi sebagai
penyalur pesan atau informasi belajar. Baru pada tahun 1960-1965 orang mulai
memperhatikan siswa sebagai komponen yang penting dalam proses belajar
mengajar. Pada saat itu teori tingkah laku (behaviorism theory) ajaran B.F.
Skinner mulai mempengaruhi penggunaan media dalam kegiatan pembelajaran. Teori
ini mendorong orang untuk memperhatikan siswa dalam proses belajar mengajar.
Menurut teori ini, mendidik adalah mengubah tingkah laku siswa. Perubahan tingkah laku ini harus tertanam
pada diri siswa sehingga menjadi adat kebiasaan. Supaya tingkah laku tersebut
menjadi adat kebiasaan, setiap ada
perubahan tingkah laku positif ke arah tujuan yang dikehendaki, harus diberi
penguatan (reinforcement), berupa pemberitahuan bahwa tingkah laku tersebut
telah betul. Teori ini telah mendorong diciptakannya media yang dapat mengubah
tingkah laku siswa sebagai hasil proses pembelajaran. Media instruksional yang
terkenal yang dihasilkan teori ini ialah teaching machine dan programmed
instruction.
Pada
tahun 1965-1970, pendekatan sistem approach mulai menampakkan pengaruhnya dalam
kegiatan pendidikan dan kegiatan pembelajaran. Pendekatan sistem ini mendorong
digunakannya media sebagai bagian integral dalam program pembelajaran.
H. Lingkungan Sebagai
Media Pengajaran
Pengguanaan
media grafis, tiga dimensi, dan proyeksi, pada dasarnya memvisualkan fakta,
gagasan, kejadian, peristiwa dalam bentuk tiruan dari keadaan sebenarnya untuk
dibahas dalam kelas dalam membantu proses pengajaran. Di lain pihak guru dan
siswa bisa mempelajari keadaan sebenarnya di luar kelas dengan menghadapkan
para siswa kepada lingkungan yang actual untuk dipelajari, diamati dalam
hubungannya dengan proses belajar dan mengajar. Cara ini lebih bermakna
disebabkan para siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya
secara alami, sehingga lebih nyata, lebih factual dan kebenarannya lebih dapat
dipertanggungjawabkan. Membawa kelas atau para siswa keluar kelas dalam rangka
kegiatan belajar tidak terbatas oleh waktu.
Banyak keuntungan yang diperoleh dari kegiatan mempelajari lingkungan
dalam proses belajar antara lain:
a)
Kegiatan belajar lebih
menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam-jam, sehingga
motivasi belajar siswa akan lebih tinggi.
b)
Hakikat belajar akan
lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang
sebenarnya atau bersifat alami.
c)
Bahan-bahan yang dapat
dipelajari lebih kaya serta lebih factual sehingga kebenarannya lebih akurat.
d)
Kegiatan belajar siswa
lebih komprehensif dan lebih aktif sebab dapat dilakukan dengan berbagai cara
seperti mengamati, bertanya atau wawancara, membuktikan atau mendemonstrasikan,
menguji fakta, dan lain-lain.
e)
Sumber belajar menjadi
lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti
lingkungan social, lingkungan alam, lingkungan buatan, dan lain-lain.
f)
Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan
yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing
dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
Oleh
karena itu lingkungan di sekitarnya harus dioptimalkan sebagai media dalam
pengajaran dan lebih dari itu dapat dijadikan sumber belajar para siswa.
Berbagai bidang studi yang dipelajari siswa di sekolah hamper bisa dipelajari
dari lingkungan seperti ilmu-ilmu social, ilmu pengetahuan alam, bahasa,
kesenian, keterampilan, olahraga kesehatan, dan lain-lain.
Beberapa
kelemahan dan kekurangan yang sering tejadi dalam pelaksanaannya berkisar pada
teknis pengaturan waktu dan kegiatan belajar. Misalnya:
a)
Kegiatan belajar kurang
disiapkan sebelumnya yang menyababkan pada waktu siswa dibawa ke tujuan tidak
melakukan kegiatan belajar yang diharapkan sehingga ada kesan main-main.
Kelemahan ini bisa diatasi dengan persiapan yang matang sebelum kegiatan itu
dilaksanakan. Misalnya menentukan tujuan
belajar yang diharapkan dimiliki siswa, menentukan cara bagaimana siswa
mempelajarinya, menentukan apa yang harus dipelajari, cara memperoleh
informasi, mencatat hasil yang diperoleh, dan lain-lain.
b)
Ada kesan dari guru dan
siswa bahwa kegiatan mempelajari lingkungan memerlukan waktu jyang cukup lama,
sehingga menghabiskan waktu untuk belajar di kelas. Kesan ini keliru sebab
kunjungan ke kebun sekolah untuk
memperlajari keadaan tanah, jenis tumbuhan, dan lain-lain cukup dilakukan
beberapa menit, selanjutnya kembali ke kelas untuk membahas lebih lanjut apa
yang telah dipelajari.
c)
Sempitnya pandangan
guru bahwa kegiatan belajar hanya terjadi di dalam kelas. Ia lupa bahwa tugas
belajar siswa dapat dilakukan di luar jam kelas atau pelajaran, baik secara
individual ataupun kelompok dan satu di antaranya dapat dilakukan dengan
mempelajari keadaan lingkungannya.
1.
Teknik
Menggunakan Lingkungan
Ada beberapa cara bagaimana mempelajari
lingkungan sebagai media dan sumber belajar:
a)
Dengan survey, yakni
siswa mengunjungi lingkungan seperti masyarakat setempat untuk mempelajari
proses social, budaya, ekonomi, kependudukan, dan lain-lain.
b)
Dengan kamping atau
berkemah. Kemah memerlukan waktu yang cukup sebab siswa harus dapat menghayati
bagaimana kehidupan alam seperti suhu, iklim, suasana, dan lain-lain.
c)
Dengan field trip atau
karyawisata. Dalam pengertian pendidikan karayawisata adalah kunjungan siswa ke
luar kelas untuk mempelajari objek tertentu sebagai bagian integral dari
kegiatan kurikuler di sekolah. Objek karyawisata harus relevan dengan bahan
pengajaran misalnya museum untuk
pelajaran sejarah, kebun binatang untuk pelajaran biologi, dan lain-lain.
d)
Dengan praktek
lapangan. Praktek lapangan dilakukan oleh para siswa untuk memperoleh
keterampilan dan kecakapan khusus.
e)
Melalui proyek
pelayanan dan pengabdian pada masyarakat. Cara ini dilakukan apabila sekolah
(guru dan siswa secara bersama-sama melakukan kegiatan memberikan bantuan
kepada masyarakat seperti pelayanan, penyuluhan, partisipasi dalam kegiatan
masyarakat, dan kegiatan lain yang diperlukan).
f)
Dengan mengundang nara
sumber.
I. Evaluasi Media
Pembelajaran
Evaluasi
merupakan bagian integral dari suatu proses instruksional. Idealnya keefektifan
pelaksanaan proses instruksional diukur dari dua aspek, yaitu;
1)
Bukti-bukti empiris
menganai hasil belajar siswa yang dihasilkan oleh system instruksional
2)
Bukti-bukti yang
menunjukan berapa banyak kontribusi (sumbangan) media atau media program terhadap keberhasilan dan
keefektifan proses instruksional.
Apabila
media dirancang sebagai bagian integral dari proses pembelajaran, ketika
mengadakan evaluasi terhadap pembelajaran itu sudah termasuk pula evaluasi
terhadap media yang digunakan.
Walker
dan Hess (1984:206) memberikan kriteria dalam mereview perangkat lunak media
pembelajaran yang berdasarkan kepada kualitas.
1. Kualitas isi dan tujuan
a.
Ketepatan;
b.
Kepentingan;
c.
Kelengkapan;
d.
Keseimbangan;
e.
Minat/perhatian;
f.
Keadilan;
g.
Kesesuaian dengan
situasi siswa.
2. Kualitas instruksional
a.
Memberikan kesempatan
belajar;
b.
Memberikan bantuan
untuk belajar;
c.
Kualitas memotivasi;
d.
Fleksibilitas
instruksionalnya;
e.
Hubungan dengan program
pembelajaran lainnya;
f.
Kualitas social
interaksi instruksionalnya;
g.
Kualitas tes dan
penilaiannya;
h.
Dampat member dampak
bagi siswa;
i.
Dapat membawa dampak
bagi guru dan pembelajarannya.
3. Kualitas teknis
a. Keterbacaan;
b. Mudah
digunakan;
c. Kualitas
tampilan/tayangan;
d. Kualitas
penanganan jawaban;
e. Kualitas
pengelolaan programnya;
f. Kualitas
pendokumentasiannya.
BAB IV
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kata
“media” berasal dari bahasa Latin dan merupakan bentuk jamak dari kata “medium”,
yang secara harfiah berarti “perantara atau pengantar”. Dengan demikian, media
merupakan wahana penyalur informasi belajar atau penyalur pesan guna mencapai
tujuan pengajaran.
Hamalik
(1986) mengemukakan bahwa penggunaan media pembelajaran dalam proses belajar
mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan
motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh
psikologis terhadap siswa.
Sebagai
alat bantu, media mempunyai fungsi melicinkan jalan menuju tercapainya tujuan
pengajaran. Hal ini dilandasi dengan keyakinan bahwa proses belajar mengajar
dengan bantuan media mempertinggi kegiatan belajar anak didik dalam tenggang
waktu yang cukup lama. Itu berarti kegiatan belajar anak didik dengan bantuan
media akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih baik daripada tanpa
bantuan media.
Media
pendidikan sebagai salah satu sumber belajar ikut membantu guru memperkaya
wawasan anak didik. Aneka macam bentuk dan jenis media pendidikan yang digunakan
oleh guru menjadi sumber ilmu pengetahuan bagi anak didik. dalam menerangkan
suatu benda, guru dapat membawa bendanya secara langsung ke hadapan anak didik
di kelas. Dengan menghadirkan bedanya seiring dengan penjelasan mengenai benda
itu, maka benda itu dijadikan sebagai sumber belajar.
Berdasarkan
perkembangan teknologi, media pembelajaran dapat dikelompokan ke dalam empat
kelompok, yaitu:
5) Media
hasil teknologi cetak
6) Media
hasil teknologi audio visual
7) Media
hasil teknologi yang berdasarkan komputer
8) Media
hasil gabungan teknologi cetak dan komputer.
Dilihat dari
jenisnya, media dibagi ke dalam: Media
Auditif, Media Visual, Media Audiovisual. Dilihat dari daya liputnya, media
dibagi dalam: Media dengan Daya Liput
Luas dan Serentak, Media dengan Daya Liput yang Terbatas oleh Ruang dan Tempat,
Media untuk Pengajaran Individual. Dilihat dari bahan pembuatannya, media
dibagi dalam: Media sederhana, Media
kompleks
Dalam
menggunakan media hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip tertentu agar penggunaan
media tersebut dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip itu menurut Dr.
Nana Sudjana (1991; 104):
1. Menentukan
jenis media dengan tepat .
2. Menetapkan
atau memperhitungkan subjek dengan tepat.
3. Menyajikan
media dengan tepat.
4. Menempatkan
atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.
Dengan sifat yang unik pada siswa
ditambah lagi dengan lingkungan dan pengalaman yang berbeda, sedangkan
kurikulum dan materi pendidikan ditentukan sama untuk setiap siswa, maka guru
banyak mengalami kesulitan bilamana semuanya itu harus diatasi sendiri. Hal ini
akan lebih sulit bila latar belakang lingkungan guru dengan siswa juga berbeda.
B. Saran
Makalah ini masih jauh
dari kata sempurna, oleh karena itu disarankan kepada pembaca untuk menambah
referensi bacaan. Sebagai guru yang profesional haruslah pandai dalam
menciptakan suasana belajar yang efektif dan menyenangkan, yang pastinya
dibutuhkan media sebagai pendukung dalam proses pembelajaran. Dan sebagai
seorang guru haruslah menjadi guru yang mampu berpikir kreatif, dalam membuat
media sangat dibutuhkan kemampuan berpikir kreatif, agar dapat berinovasi dalam
membuat media. Jadilah guru yang hebat, yang mampu berinovasi.
Daftar Pustaka
Arsyad,
Azhar. 2011. Media Pembelajaran.
Jakarta: Rajawali Pers.
Djamarah,
Syaiful Bahri. 2002. Strategi Belajar
Mengajar. Jakarta: RINEKA CIPTA.
Sagala,
Syaiful. 2012. Konsep dan Makna
Pembelajaran. Bandung: ALFABETA.
Sadiman,
Arief S., Rahardjo, Anung Haryono, dan Rahardjito. Media Pendidikan. 2008. Jakarta: Rajawali Pers.
Sudjana,
Nana, dan Ahmad Rivai. 2010. Media
Pengajaran. Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sanjaya,
Wina. 2010. Strategi Pembelajaran
Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Lampiran
·
Biodata
Anggota Kelompok

Nama :
Rizki Nurdiana
NIM :
2227132211
TTL : Pandeglang, 01 Agustus 1995
Alamat :
Kp.Banjar, Pandeglang
Motto Hidup : Belajar Untuk Sukses

Nama : Selly
Mila Andriani
NIM :
2227132567
TTL : Serang,
16 Oktober 1995
Alamat :
BBS 2 Cilegon
Motto Hidup : Enjoy
your life, tetapi tetap dijalan-Nya

Nsms :
Yuniar Lestari
NIM :
2227132574
TTL : Pandeglang,
08 Januari 1994
Alamat :
Bojong, Pandeglang
Motto Hidup : No
Sweet Without Sweat
·
Yel-yel
(Nada
OST Doraemon)
Hallo
Hallo Semua Kami Dari Inkuiri
Perkenalkan
Kami Selly, Rizki dan Yuniar
Hallo
Hallo Semuanya Kami Inkuiri
Hai
Salam Kenal!
La
La La Apa Kabar Semua?
Salam
Bahagia
Tidak ada komentar:
Posting Komentar