BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Menilai
pencapaian hasil belajar siswa merupakan tugas pokok seorang guru sebagai
konsekuensi logis dari pelaksanaan perencanaan pembelajaran yang telah disusun
setiap awal semester. Penenilaian ini dimaaksudkan untuk mengambil keputusan
tentang keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan.
Kompetensi yang harus dikuasai siswa untuk semua mata pelajaran tidak sama,
tergantung pada karakteristik mata pelajaran tersebut. tetapi secara garis
besar dapat dikatakan bahwa pencapaian kompetensi suatu mata pelajaran
mencangkup kompetensi dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Untuk mengetahui
apakah seorang siswa sudah berhasil mencapai kompetensi atau belum, diperlukan
informasi hasil belajar. Pada dasarnya, alat penilaian dibedakan menjadi dua
yaitu tes dan non-tes. Tes (paper and
pencil tes) biasanya digunakan untuk mengukur hasil belajar dalam ranah
kognitif dan keterampilan sederhana, sedangkan non-tes biasanya digunakan untuk
mengukur proses dan hasil belajar dalam aspek afektif dan psikomotor. Alat ukur
tersebut digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi hasil belajar siswa.
Penggunaan
asesmen alternatif dalam penilaian hasil belajar siswa merupakan jawaban atas
adanya kelemahan pada asesmen tradisional yang hanya mengguanakan tes tertulis
(paper and pencil test). Tes tertulis
tidak mampu mengukur hasik belajar siswa yang kompleks, bahwa pada umumnya tes
tertulis hanya mampu mengukur hasil belajar siswa dalam ranah kognitif dan
keterampilan sederhana. Dengan menggunakan asesmen alternatif, kita akan akan
mampu mengukur hasil belajar siswa, tidak hanya ranah kognitif tetapi juga
ranah afektif dan psikomotor. Asesmen alternatif juga mampu mengukur proses
belajar. Pembahasan tentang pembelajaran asesmen alternatif dibagi dalam empat
kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1 akan membahas tentang latar belakang dan
konsep dasar asesmen alternatif, kegiatan belajar 2 akan membahas bentuk
asesmen kinerja, kegiatan belajar 3 akan membahasa tentang asesmen portofolio
dan kegiatan belajar 4 akan membahas tentang pengembanagan alat ukur afektif.
Jika kita
mempelajari dengan cermat, maka kita akan melaksanakan penilaian hasil belajar
siswa dengan mengguanakan asesmen alternatif serta dapat mengukur afektif
siswa. secara rinci kita kan dapat; 1) menjelaskan konsep dasar asesmen, 2)
menjelaskan pentingnya asesmen alternatif dalam penilaian hasil belajar siswa,
3) menjelaskan keunggualan dan kelemahan asesmen alternatif sebagai cara
penilaian hasil belajar siswa, 4) menejaskan berbagai bentuk asesmen alterntif
untuk menilai hasil belajar siswa, 5) mengembangkan berbagai tugas dalam
asesmen alternatif, 6) membuat rubrik atau kriteria penilaian dalam asesmen
alternetif, 7) memberi contoh pengguanaan asesmen alterntif dalam penilaian
hasil belajar siswa, 8) mengembangkan alat ukur afektif.
B.
Rumusan
Masalah
1. Bagaimana
landasan psikologis dalam konsep dasar asesmen alternatif !
2. Bagaimana
langkah-langkah penilaian (rubrik)
pada asesmen kinerja !
3. Bagaimana
tahap penilaian dalam asesmen portofolio !
4. Bagaimana
cara penilaian dalam ranah afektif !
C.
Tujuan
Adapun tujuan
dari makalah ini yaitu:
1. Mengetahui
konsep dasar asesmen alternatif.
2. Mengetahui
bentuk dari asesmen kinerja.
3. Mengetahui
tujuan, perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan dan tahap penilaian dari asesmen
portofolio.
4. Mengetahui
penilaian ranah afektif.
BAB II
PEMBAHASAN
A. KONSEP DASAR ASESMEN ALTERNATIVE
a. Konsep
Dasar Asesmen Alternative
Dalam
Pendidikan dikenal dua pengertian tentang penilaian yaitu penilaian dalam arti
asesmen dan penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen
merupkan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan
belajar siswa sedangkan penilaian dalam arti evaluasi merupakan kegiatan yang
dirancang untuk mengukur keefektifan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Ada
beberapa istilah yang berkaitan dengan asesmen,yaitu tradisional
assessmen,performance assessment,authentic assesmen,portofolio assesmen,
achievement assessment, dan alternatife assessment.
1. Tradisional
Assessment
Tradisional asesmen
mengacu pada tes tertulis.maksudnya tradisional assessment hanya mengukur hasil
belajar siswa dengan menggunakan satu jenis alat ukur yaitu tes
tertulis.padahal kita ketahui bersama tes tertulis mempunyai kelemahan
diantaranya hanya mampu mengukur aspek kognitif dan ketrampilan sederhana,
sebagian kecil dari hasil belajar siswa, dan tes sering kali menimbulkan
kecemasan.
2. Performance
Assessment (Asesmen Kinerja)
Asesmen kinerja
merupakan asesmen yang menghendaki siswa untuk mendemonstrasikan kemampuannya
baik pengetahuan atau ketrampilan dalam bentuk kinerja nyata yang ditunjukan
dalam bentuk penyelesaian suatu tugas, bukan hanya menjawab atau memilih
jawaban yang sudah tersedia. Asesmen kinerja menilai hasil belajar siswa dan
proses belajarnya.
3. Authentic
Assessment
Authentic assessment
merupakan assessment yang menuntut siswa mampu menerapkan pengetahuan dan
ketrampilannya dalam kehidupan nyata diluar sekolah. Tujuan dan otentik
assessment adalah untuk mengumpulkan bukti-bukti apakah siswa sudah dapat
menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya secara efektif dalam kehidupan nyata
dan dapat memberikan kritik terhadap upaya yang telah ia lakukan.
4.
Portofolio Assessment (Assessment
Portofolio)
Asesmen portofolio
merupakan kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang
menunjukan upaya,proses,hasil dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa dari
waktu ke waktu. Mungkin banyak definisi portofolio yang telah anda kenal dan
agak berbeda dengan pengertian diatas tetapi pada dasarnya portofolio merupakan
kumpulan hasil karya siswa yang menunjukan pencapaian dan perkembangan hasil
hasil belajar siswa.
5. Achievement
Assessment
Achivement assessment
merupakan pengertian umumterhadapa semua usaha untuk mengukur,mengetahui dan
mendeskripsikan hasil belajar siswa, baik yang dilakukan dengan tes
tertulis,assasemen kinerja,portofolio, dan semua usaha untuk memperoleh
informasi hasil dan kemajuan belajar siswa.
6. Alternative
Assessment
Alternative assessment
merupakan asasement yang tidak hanya tergantung pada tes tertulis. Pada
dasarnya asasemen alternative merupakan alternative dari asasemen tradisional
(paper and pencil test). Jadi performance assesmen,portofolio
assessment,authentic assessment, dan achievement assessment merupakan kelompok
asesmen alternative.
b. Landasan
Psikologis
Asesmen
alternative tidak hanya menilai hasil belajar, tetapi dapat member informasi
secara lengkap tentang proses pembelajaran.Asesment alternative tidak hanya
menilai produk belajar saja tetapi juga menilai proses belajar untuk
menghasilkan kemampuan produk tersebut.
Asesmen
alternative dilaksanakan bersdasarkan teori belajar khususnya dari aliran
psikologi kognitif. Beberapa teori belajar yang digunakan sebagai landasan
dalam pelaksanakan asesmen alternative adalah:
1. Teori
fleksibilitas kognitif dan R.spiro (1990)
2. Teori
belajar Bruner (1966)
3. Generative
learning model dari Osborne dan wittrock (1983)
4. Experiential
learning theory dari c rogers (1969)
5. Multiple
intelligent theory dari Howard gardner (1983)
c.
Keunggulan Dan Kelemahan Asesmen
Alternatif
Seperti
halnya alat ukur yang lain, asesmen alternative seperti performance
asesmen,authentic assessment, dan portofolio assessment mempunyai keunggulan
dan kelemahan.
1.
Keunggulan asesmen alternative anatara
lain:
1) Dapat
menilai hasil belajar yang kompleks dan ketrampilan-ketrampilan yang tidak
dapat dinilai dengan asesmen tradisional. Contohnya : jika anda ingin menguku
rkinerja kerja siswa dalam membuat karangan maka banyak aspek yang dapat diukur
dari tugas dari tugas karangan tersebut. Misalnya kemampuan dalam siswa dalam
membuat paragraph yang baik, pemilihan kosa kata yang tepat, kemampuan siswa
dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan, kemampuan merangkai kata dan
kalimat,dan kemampuan berimajinasi.
2) Menyajikan
hasil penilaian yang lebih hakiki, langsung, dan lengkap dengan melakukan
asesmen anda akan dapat menilai hasil belajar anak secara lengkap, tidak hanya
hasil belajar dalam ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan
psikomotor.
3) Meningkatkan
motivasi siswa.
4) Mendorong
pembelajaran dalam situasi yang nyata.Asesmen Alternatif menekankan kepada apa
yang dapat ditunjukan atau dikerjakan oleh siswa bukan apa yang diketahui
siswa.
5) Memberi
kesempatan kepada siswa untuk selfvaluation.
6) Membantu
guru untuk menilai efektifitas pembelajaran yang telah dilakukan.
7) Meningkatkan
daya transferabilitas hasil belajar.
2. Kelemahan
asesmen alternative:
1) Membutuhkan
banyak waktu
2) Adanya
unsure subjektifitas dalam penskoran
3) Ketetapan
penskoran rendah
4) Tidak
tepat untuk kelas besar.
B. BENTUK ASESMEN KINERJA
a. Tugas
(Task)
Sesuai
dengan namanya yaitu asesmen kinerja, asesmen jenis ini meminta anak untuk
melakukan sesuatu atau menunjukkan kinerjanya sesuai dengan tugas yang
diberikan guru. Informasi tentang keberhasilan siswa dalam unjuk kerja dapat diperoleh
dari berbagai jenis tagihan, yaitu:
a) Computer
Adaptive Testing
Computer adaptive
testing merupakan tes berbantuan komputer yang dapat digunakan untuk menilai
hasil belajar siswa sesuai dengan kemampuannya. Pada prinsipnya computer
adaptive testing akan menilai hasil belajar siswa yang dimulai dari tugas yang
mudah dan kemudian semakin ditingkatkan kesukarannya sampai pada titik dimana
siswa tersebut tidak dapat memberikan respon dengan tepat. Dengan cara demikian
dapat diketahui tinggkat kemampuan siswa.
b) Tes
Pilihan Ganda yang Diperluas
Tes pilihan ganda yang
diperluas yaitu tes pilihan ganda dimana dalam pengerjaannya siswa tidak hanya
diminta untuk memilih salah satu jawaban yang paling tepat, tetapi juga diminta
alasan kenapa siswa memilih jawaban tersebut.
c) Tes
Uraian Terbuka
Tes uraian terbuka
yaitu tes yang dapat digunakan untuk pemberian tugas dalam asesmen kinerja
karena dengan tes ini kita dapat menilai kinerja atau kemampuan siswa dalam
penalaran, logika, serta kemampuan dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan.
d) Tugas
Individu
Tugas individu yaitu
tugas yang dikerjakan secara mandiri.
e) Tugas
Kelompok
Tugas kelompok yaitu
tugas yang dikerjakan secara kelompok, bekerja sama, dan bertanggung jawab
bersama.
f) Proyek
Proyek yaitu
tugas-tugas yang kompleks, yang diberikan kepada siswa baik individu maupun
kelompok yang diselesaikan dalam janga waktu tertentu.
g) Interview
Tugas interview yaitu
tugas wawancara dengan orang lain kemudian membuat laporan hasil wawancara.
Tugas guru yaitu untuk mrnilai kualitas laporan tersebut.
h) Pengamatan
Tugas untuk melakukan
pengamatan terhadap sesuatu yang ditugaskan oleh guru.
Dalam
hal ini tugas-tugas yang diberikan guru harus jelas sehingga siswa mengetahui
dengan tepat apa yag harus dikerjakan. Langkah-langkah yang harus diperhatikan
guru dalam penyusunan tugas yaitu:
1) Mengidentifikasi
pengetahuan dan keterampilan yang akan dimiliki siswa setelah mereka
mengerjakan tugas tersebut. Pertanyaan pokok yang dapat mebantu guru dalam
merumuskan tugas adalah: keterampilan kognitif, afektif dan metakognitif yang
bagaimana harus dimiliki oleh siswa? Tipe masalah apa yang harus dipecahkan
oleh siswa? Dan konsep apa yang harus dapat diterapkan oleh siswa?
2) Merancang
tugas yang memungkinkan siswa dapat menunjukkan kemampuannya dalam berpikir dan
keterampilan dan sesuai dengan tingkat pemahaman anak.
3) Menetapkan
kinerja keberhasilan sebagai patokan untuk menilai kinerja siswa.
Beberapa
catatan penting yang harus diperhatikan guru dalam merancang tugas dalam
asesmen kinerja yaitu:
1) Tugas
yang disusun harus sesuai dengan pembelajaran yang dirancang
2) Tugas
yang baik yaitu tugas yang berhubungan dengan kehidupan nyata yang dihadapi
siswa dalam kehidupan sehari-hari.
3) Tugas
harus diberikn kepada semua siswa dengan adil.
4) Jangan
memberikan tugas yang terlalu mudah karena hal ini tidak akan memotivasi siswa
dan tidak memberikan tantangan untuk melakukannya.
b. Kriteria
Penilaian (Rubrik)
Rubrik
adalah pedoman pemberian skor yang digunakan untuk menilai mutu kinerja atau
hasil kinerja siswa. Rubrik terdiri dari kriteria yang diwujudkan dengan
dimensi-dimensi kinerja, aspek-aspek atau konsep yang akan dinilai disertai
dengan gradasi mutu untuk setiap kriteria tersebut.mulai dari tingkat yang
paling sempurna hingga ke tingkat yang paling buruk. Dimensi kinerja inilah
yang harus di tentukan mutunya atau diberi peringkat.
Menurut
Donna Szpyrka dan Ellyn B Smith seperti dikutip oleh Zainul A (2001) ada
beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan rubrik yaitu:
a) Mentukan
konsep,keterampilan dan kinerja yang akan dinilai.
b) Merumuskan
atau mendefenisikan serta menentukan urutan konsep yang akan dinilai kedalam
rumusan yang akan menggambarkan kinerja siswa.
c) Menentukan
kinerja yang akan dinilai
d) Menentukan
skala yang akan digunakan
e) Mendeskripsikan
kinerja mulai dari yang diharapkan hingga kepada yang tidak diharapkan.
f) Melakukan
uji coba
g) Melakukan
refisi dari hasil uji coba.
Berikut
ini menurut Chicago Public School (CPS) beberapa langkah dalam mengembangkan
rubric yaitu:
a) Guru
bersama teman sejawat menentukan dimensi kinerja yang akan digunakan.
b) Cocokkan
dimensi kinerja tersebut dengan kinerja siswa secara riil di lapangan untuk
melihat kesesuaiannya.
c) Revisilah
dimensi kinerja tersebut hingga menjadi lebih tepat
d) Setelah
itu defenisikanlah setiap dimensi kinerja tersebut.
e) Menentukan
skala dari dimensi kinerja yang akan dinilai
f) Sebelum
rubrik digunakan lakukan penilaian terhadap rubrik tersebut
g) Lakukan
uji coba apakah rubrik tersebut dapat digunakan
h) Jika
rubrik tersebut dianggap baik, lakukan sosialisasi dengan melibatkan pihak yang
terkait.
Berdasarkan
kegunaannya rubrik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
a) Holistic
Rubric
Holistic
rubric adalah rubrik yang deskripsi dimensi kinerjanya dibuat secara umum,
karena prinsip kinerjanya bersifat umum maka biasanya holistic rubric dapat
digunakan untuk menilai berbagai jenis kinerja. Dalam holistic rubric
aspek-aspek yang dapat diperhatikan dalam menilai kinerja siswa sebagai
berikut:
1) Kualitas
pengerjaan tugas
2) Kreativitas
dalam pengerjaan tugas
3) Produk
tugas.
Atau
dapat juga dengan cara lain yaitu:
1) Kemampuan
dalam menggunakan prosedur kerja.
2) Kemampuan
dalam menunjukkn fungsi dalam setiap langkah sesuai dengan prosedur.
3) Kemampuan
memodifikasi prosedur yang ada tanpa menguarangi/mengurangi fungsi.
b) Analytic
Rubric
Analytic
rubric yaitu rubric atau dimensi kinerjanya dibuat lebih rinci, demikian juga
dengan deskripsi aspek kinerjanya. Analytic rubrik tepat digunakan untuk
menilai kinerja tertentu. Dimensi kinerja yang akan dinilai disesuaikan dengan
kinerja yang akan diukur.
C.
ASESMEN
PORTOFOLIO
a. Pengertian
dan Tujuan Portofolio
Portofolio
adalah kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang
menunjukan upaya,proses, hasil dankemajuan belajaryang dilakukan siswa dari waktu kewaktu. Pada
dasarnya portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang dapat menunjukkan
pencapaian dan perkembangan hasil belajar siswa.
1. Karakteristik
Portofolio
1) Asesmen
portofolio adalah asesmen yang menuntut adanya kerjasama antara murid dengan
guru.
4) Asesmen
portofolio tidak hanya sekedarkumpulan hasil karya siswa tetapi yang terpenting
adalah adanya proses seleksi yang dilakukan berdasar kriteria tertentu untuk
dimasukkan kedalam kumpulan hasil karya siswa
5) Hasil
karya siswa dikumpulkan dari waktu kewaktu. Kumpulan karya tersebut digunakan
oleh siswa untuk melakukan refleksi sehingga siswa mampu mengenal kelemahan dan
kelebihan karya yang dihasilkan kelemahan tersebut akan digunakan sebagau bahan
pembelajaran berikutnya.
6) Kriteria
penilaian yang digunakan harus jelas baik bagi guru adapun bagi siswa dan
diterapkan secara konsisten.
Menurut
Jon Mueller tujuan penggunaan portofolio adalah untuk mencapai salah satu dari
tiga tujuan berikut :
1. Portofolio
yang bertujuan untuk menunjukkan perkembangan hasil belajar siswa :
a) Menunjukkan
perkembangan atau perubahan kinerja siswa.
b) Membantu
mengembangkan proses keterampilan seperti self evoluation dan perumusan tujuan.
c) Mengidentifikasi
kekuatan dan kelemahan siswa.
d) Membantu
perkembangan kinerja siswa dalam proses atau produk.
2. Portofolio
yang bertujuan untuk menunjukkan siswa :
a) Menunjukkan
kinerja siswa pada akhir semester atau akhir tahun.
b) Menyiapkan
hasil kerja terbaik untuk ditunjukkan kepada orang lain.
c) Menunjukkan
pekerjaan yang baik.
d) Mengkomunikasian
bakat, keterampilan dan kemampuan siswa kepada guru yang akan mengajar tahun
berikutnya.
3. Portofolio
yang bertujuan untk menilai keseluruhan hasil belajar siswa :
a) Menyimpan
karya siswa untukmemperoleh nilai akhir.
b) Menympan
perkembangan karya siswa untuk mencapaikriteria yang telah ditetapkan.
c) Menempatkan
siswa pada tempat yang tepat.
Ada
beberapa kompenen penting yang harus diperhatikan dalan menggunakan portofolio
sebagai asesmen :
1) Portofolio
hendaknya memiliki kriterian penilaian yang jelas, spesifik, dan berorientasi
pada research based ceriteria.
2) Untuk
menilai kemampuan dan keterampilan siswa dapat digunakan berbagai sumber
informasi yang mengenal dengan baik kemampuan dan keterampilan siswa.
3) Untuk
mendisain portofolio perlu diperhatikan berbagai cara yang digunakan untuk
mengumpulkan bukti-bukti yang berkontribusi terhadap portofolio.
4) Portofolio
dapat terdiri dari berbagiagaibentuk informasi seperti karangan hasil lukisan,
skor tes, foto dsb
5) Kualitas
portofolio harus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
6) Setiap
mata pelajaran mungkin mempunyai bentuk portofolio yang berbedadengan mata
pelajaran yang lain.
7) Portofolio
harus dapat diakses langsung oleh orang-orang yang berkepentingan terhadap
portofolio tersebut, seperti guru, sekolah, orang tua dan siswa sendiri.
b. Perencanaan
Portofolio
Shaklee
et.al (1977) memberikan 8 pedoman yang harus diperhatikan pada saat
merencanakan portofolio:
a) Menentukan
kriteria dan atau standar yang akan digunakan
sebagai dasar asesmen portofolio. Ini merupakan langkah awal yang harus
dilakukan.
b) Menerjemahkan
kriteria atau standartersebutke dalam rumusan-rumusan hasil belajar yang dapat
diamati. Kriteria atau standar tersebut harus tepatuntuk umur, kelas, dan
materi siswa yang akan dinilai.
c) Menggunakan
kriteria, memeriksa ruang lingkup dan urutan materi dalam kurikulum untuk
menentukan perkiraan waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti
portofolio dan melengkapi penilaian.
d) Menentukanorang-orang
yang berkepentingan secara langsung (stakeholders) dengan potofolio siswa.
e) Menentukam
jenis-jenis bukti yang harus dikumpulkan.
f) Menentukan
cara yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan berdasar bukti yang
dikumpulkan.
g) Menentukan
sistem yang akan digunakan untuk membahasa hasil portofolio, pelaporan
informasi dan keputusan asesmen portofolio.
h) Mengatur
bukti-bukti portofolio berdasar umur, kelas, atau isi agar kita dapat
membandingkan.
c. Pelaksanaan
Portofolio
Berdasarkan
perencanaan yang telah dibuat dan disepakati dengan siswa maka tugas guru
kemudian adalah melaksanakan asesmen potofolio sesuai denganapa yang telah
direncanakan. Dalam pelaksanaan tersebut, tugas guru adalah.
1) Mendorong
dan Memotivasi Siswa
Tugas portofolio bukan
merupakan tugas yang diberikan sesuai dengan kondisi riil kehidupan siswa
sehingga guru perlu meyakinkan siswa bahwa tugas portofolio bukan merupakan
tugas yang sama sekali baru.
2) Memonitor
Pelaksanaan Tugas
Selama pelaksanaan
tugas, guruharus memonitor perkembangan penyelesaian tugas. Guru perlu
melakukan pertemuan rutin dengan siswa guna mendiskusikan
permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa.
3) Memberikan
Umpan Balik
Dalam setiap pertemuan
guru dapat memberikan umpan balik kepada siswa. Umpan balik dapat berupa
komentar terhadap karya siswa yang bersifat kritis dengan tujuan untuk
memperbaiki atau meningkatkan kemampuan siswa.
4) Memamerkan
Hasil Portofolio Siswa
Pamerkanlah hasil karya
siswa dengan mengundang stakeholders yang berhubungan langsung dengan
portofolio siswa seperti guru, muriditu sendiri, teman sekelas, orang lain
diluar kelas yang mengetahui persis kemampuan siswa, serta orang tua siswa.
d. Pengumpulan
Bukti Portofolio
Kumpulan
karya siswa dapat dikatakan sebagai portofolio jika kumpulan karya tersebut
merupakan representasi dari kumpulan karya terpilih yang menunjukkan pencapaian
dan perkembangan belajar siswa dalam rangka mencapai tujjuan pembelajaran.
Setiap bagian atau penggalan dari karya
dalam portofolio dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang khusus.
Karya siswa harus dapat menunjukkan perkembangan atau bukti bahwa siswa telah
mencapai yujuan tertentu.
e. Tahap
Penilaian
a) Penilaian
dimulai dengan menetapkan kriteria penilaian yangdisepakati bersama antara
gurudengan siswa pada awal pembelajaran.
b) Kriteria
penilaian yang telah disepakati diterapkan secara konsisten.
c) Hasil
penelitian selanjutnyadigunakan sebagai penentu tujuan pembelajarab berikutnya.
d) Penilaian
dalam asesmen portofolio pada dasarnyadilakukan secara terus menerusatau
berkesinambungan.
D.
PENILAIAN
RANAH AFEKTIF
a. Konsep
Dasar
Kemampuan afektif merupakan bagian
dari hasil belajar siswa yang sangat penting. Keberhasilan pembelajaran pada
ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa.
Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan
merasa senang mempelajari mempelajari mata pelajaran tersebut sehingga mereka
akan dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Menurut Krathwohl (dalam Gronlund
and Linn, 1990), ranah afektif terdiri atas lima level yaitu:
1. Receiving
merupakan keinginan siswa untuk memperhatikan suatu gejala atau stimulus
misalnya aktivitas dalam kelas, buku, atau music. Tugas guru adalah mengarahkan
perhatian siswa pada gejala yang menjadi objek pembelajaran afektif.
2. Responding
merupakan partisipasi aktif siswa untuk merespon gejala yang dipelajari. Hasil
pembelajaran pada level ini menekankan pada perolehan respons, keinginan
memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respon.
3. Valuing
merupakan kemampuan siswa untuk memberikan nilai, keyakinan, atau sikap dan
menunjukan suatu derajat instalisasi dan komitmen. Hasil belajar pada level ini
berhubungan dengan perilaku siswa yang konsisten dan stabil agar nilai dapat
dikenal secara jelas.
4. Organization
merupakan kemampuan anak untuk mengorganisasi nilai yang satu dengan yang lain
dan konflik antar nilai mampu diselesaikan dan siswa mulai membangun system
nilai internal yang konsisten. Hasil belajar pada level ini berupa
konseptualisasi nilai atau organisasi system nilai.
5. Characterization
merupakan level tertinggi dalam ranah afektif. Pada level ini siswa sudah
memiliki system nilai yang mampu mengendalikan perilaku sampai pada waktu
tertentu hingga menjadi pola hidupnya. Hasil belajar pada level ini berkaitan
dengan personal, emosi, dan social.
Karakteristik yang terpenting dalam
ranah afektif adalah sikap, minat,
konsep diri, dan nilai.
1. Sikap
Menurut Fishbein dan
Ajzen seperti dikutip oleh Mardapi (2004), sikap didefinisikan sebagai
predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negative
terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Ranah sikap yang perlu
dikembangkan di sekolah antara lain sikap siswa terhadap guru, mata pelajaran,
dan sekolah. Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila pihak sekolah mampu
mengubah sikap siswa dari sikap negative menjadi sikap positif.
2. Minat
Menurut Getzel (dalam
mardapi, 2004) minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui
pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas,
pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Hal penting
pada minat adalah intensitas untuk memperoleh sesuatu.
3. Konsep
diri
Konsep diri adalah
penilaian yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan diri sendiri
(Smith dalam Mardapi, 2004). Konsep diri penting untuk menentukan jenjang karir
siswa. Dengan mengetahui kekuatan ddan kelemahan diri sendiri maka siswa akan
dapat memilih alternative karir yang tepat bagi dirinya. Sekolah sangat
membutuhkan informasi konsep diri setiap siswa. Dengan mengetahui konsep siri
setiap siswa, sekolah diharapkan mampu menyediakan lingkungan belajar yang
kondusif serta memotivasi siswa dengan tepat.
4. Nilai
Nilai merupakan suatu
keyakinan yang dalam tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap
baik dan dianggap tidak baik (Rokeach dalam Mardapi, 2004). Sekolah perlu
membantu siswa untuk menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna bagi siswa
agar siswa mampu mencapai kebahagian diri dan mampu memberikan hal-hal yang
positif bagi masyarakat.
b. Beberapa
Cara Penilaian Ranah Afektif
Menurut
Ericson (dalam Nasoetion dan Suryanto, 2002) penilaian dapat dilakukan dengan
cara:
1. Pengamatan
langsung, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat sikap dan tingkah laku siswa
terhadap sesuatu, benda, orang, gambar, atau kejadian. Dari tingkahlaku yang
muncul kemudian dicari atribut yang mendasari tingkah laku tersebut.
2. Wawancara,
dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau tertutup. Pertanyaan
tersebut digunakan untuk pancingan.
3. Angket
atau kuisioner, merupakan suatu perangkat pertanyaan atau isian yang sudah
disediakan pilihan jawaban baik berupa pilihan pertanyaan ataupun pilihan
bentuk angka.
4. Teknik
proyektil, merupakan tugas atau pekerjaan atau objek yang belum pernah dikenal
siswa. Para siswa diminta untuk mendiskusikan hal tersebut menurut
penafsirannya.
5. Pengukuran
terselubung, merupakan pengamatan tentang sikap dan tingkahlaku seseorang
dimana yang diamati tidak tahu bahwa ia sedang diamati.
c. Langkah-langkah
Pengembangan Instrumen Afektif
a) Merumuskan
Tujuan Pengukuran Afektif
Pengembangan
alat ukur sikap bertujuan untuk mengetahuisikap siswa terhadap suatu objek,
misalnya sikap siswa terhadap sesuatu dapat positif atau negative. Hasil
pengukuran sikap sangat bermanfaat untuk menentukan strategi pembelajaran yang
tepat untuk siswa.
Alat
ukur minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap
sesuatu. Hasil pengukuran minat akan bermanfaat bagi sekolah untuk
mengidentifikasi dan menyediakan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan
minat siswa. Sedangkan bagi siswa akan bermanfaat untuk mempelajari sesuatu
objek sesuai dengan minatnya.
Pengembangan
alat ukur konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri
siswa. Siswa menilai kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Informasi ini sangat
penting untuk menentukan program yang sebaiknya dipelajari siswa. Hasil
pengukuran konsep diri sangat berguna untuk menentukan jenjang karir siswa.
Pengembangan
alat ukur nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan siswa. Hasil
pengukuran nilai berupa nilai dan keyakinan siswa yang positif atau negative.
Sekolah berkewajiban mengembangkan nilai dan keyakinan siswa yang positif dan
menghilangkan nilai dan keyakinan yang negative.
b) Mencari
definisi konseptual dari afektif yang akan diukur
Setelah
tujuan pengukuran ditetapkan maka langkah berikutnya adalah merumuskan definisi
konseptual dari afektif yang diukur. Pencarian definisi konseptual dapat
dilakukan dengan mencari pada buku-buku teks yang relevan.
c) Menentukan
definisi operasional dari setiap afektif yang akan diukur
Penentuan
definisi operasional dimaksudkan untuk menentukan cara pengukuran definisi
konseptual.
d) Menjabarkan
definisi operasional menjadi sejumlah indicator
Indicator
merupakan petunjuk terukurnya definisi operasional. Dengan demikian indicator
harus operasional dan dapat diukur. Ketepatan pengukuran ranah afektif sangat
ditentukan oleh kemampuan penyusun instrument (guru atau peneliti) dalam
membuat atau merumuskan indicator.
e) Menggunakan
indicator sebagai acuan menulis pernyataan-pernyataan dalam instrument
Penulisan
instrument atau alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran.
Skala pengukuran yang paling banyak digunakan adalah skala Liekert. Skala
Liekert merupakan salah satu jenis skala pengukuran ranah afektif yang terdiri
dari sejumlah pernyataan yang diikuti dengan penilaian responden terhadap
setiap pernyataan dengan menggunakan lima skala mulai dari yang paling sesuai
sampai dengan yang paling tidak sesuai.
Edward
seperti dikutip oleh Nasoetion dan Suryanto (2002) memberikan kaidah-kaidah
dalam merumuskan pernyataan-pernyataan dalam instrument efektif sebagai
berikut:
§ Hindari
pernyataan yang mengarah pada peristiwa yang lalu, missal: pada waktu saya SD
saya selalu dapat menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Pernyataan mengenai
peristiwa masa lampau menanyakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau,
padahal maksud pengukuran efektif adalah untuk kondisi saat pengukuran.
§ Hindari
pernyataan yang factual, contoh: saya hanya menjawab pertanyaan yang mudah saja
sedangkan pertanyaan yang sulit saya acukhan.
§ Hindari
pernyataan yang dapat ditafsirkan ganda. Contoh: tidak ada gunanya membaca
riwayat hidup atau biografi seseorang. Pernyataan ini dapat ditanggapi berbeda
oleh responden. Memberi tanggapan terhadap kegiatan membaca riwayat hidup
penjahat tentu berbeda dengan tanggapan yang diberikan jika membaca riwayat
hidup seseorang ilmuwan terkenal.
§ Hindari
pernyataan yang tidak berkaitan dengan afektif yang akan diukur. Contoh: yang
termasuk dalam ilmu pengetahuan adalah matematika, IPA, dan IPS. Pernyataan
tersebut bukan merupakan pernyataan afektif.
§ Hindari
pernyataan yang menyangkut keperluan semua orang atau pernyataan yang tidak
terkait dengan siapapun. Contoh: gerhana bulan sangat menyenangkan. Pernyataan
ini tidak berlaku untuk semua orang.
§ Upaya
kaliamt pernyataan tersebut pendek, sederhana, jelas, dan langsung pada
permasalahannya.
§ Setiap
pernyataan hanya mengandung satu pokok pikiran saja.
§ Hindari
penggunaan kata asing atau local.
§ Hindari
pernyataan negative seperti tidak, kecuali, tanpa dan sejenisnya.
§ Meneliti
kembali setiap butir pernyataan
Penelitian kembali instrument yang selesai ditulis
sebaiknya dilakukan oleh orang yang telah memiliki banyak pengalaman dalam
menembangkan alat ukur afektif minimal dua orang. Kepada dua orang tersebut
diberikan spesifikasi dari setiap butir (tujuan pengukuran, definisi
konseptual, definisi operasional, indicator, dan pernyataan yang dibuat)dan
rambu-rambu penulisan pernyataan yang baik seperti yang disarankan oleh Edwards.
Kepada kedua penelaah tersebut diminta untuk menilai kembali ketepatan
instrument afektif tersebut dengan menggunakan pengalaman keahlian
masing-masing (expert judgment). Berdasarkan
masukan dari kedua ahli tersebut kita sempurnakan instrument tersebut. Jika
langkah ini selesai dilakukan maka kita siap untuk melakukan uji coba lapangan.
§ Melakukan
uji coba
Perangkat instrument
yang telah ditelaah dan diperbaiki, disusun dan diperbanyak untuk kemudian
diuji cobakan di lapangan. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui apakah
perangkat alat ukur tersebut sudah dapat memberikan hasil pengukuran seperti
yang kita inginkan.
§ Menyempurnakan
instrument
Data yang diperoleh
dari hasil uji coba selanjutnya kita olah untuk memperoleh gambaran tentang
validitas dan reliabilitas instrument tersebut. Pada saat ini sudah banyak
program analisis data yang beredar di pasaran yang dapat kita manfaatkan untuk
mengolah data. Berdasarkan data hasil uji coba akan dapat memperbaiki
butir-butir pernyataan yang dianggap lemah. Dengan demikian pada akhir kegiatan
ini kita dapat memperoleh perangkat instrument yang memenuhi syarat sebagai
alat ukur yang baik.
§ Mengadministrasikan
instrument, adalah melaksanakan pengambilan data di lapangan. Untuk
mengadministrasikan instrument di lapangan perlu diperhatikan beberapa hal,
yaitu:
□
Kesiapan perangkat instrument, paling
tidak terdiri dari petunjuk cara menjawab dan contoh pengisian instrument.
Dalam petunjuk harus memuat dengan jelas apa yang harus dikerjakan responden
dan bagaimana cara mengerjakannya. Sebaiknya petunjuk pengerjaan atau pengisian
instrument dijelaskan oleh petugas. Setelah perangkat tersebut siap maka
instrument tersebut perlu digandakan sejumlah sampel penelitian yang akan
digunakan.
□
Tenaga lapangan, yang dibutuhkan disesuaikan
dengan kriteria yang telah diterapkan oleh peneliti. Sebelum terjun ke
lapangan, petugas perlu dilatih bagaimana melaksanakan pengumpulan data di
lapangan. Pelatihan ini dimaksudkan agar semua petugas lapangan mempunyai
persepsi yang sama dalam mengambil data.
□
Kesiapan responden, sebelum pengumpulan
data dilakukan kita perlu menghubungi instansi atau unit yang terkait di
lapangan agar pada saat pengambilan data dilakukan semua responden sudah
siap.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Asesmen
alternatif dilaksanakan berdasarkan teori belajar khususnya dari aliran
psikologi kognitif. Berdasarkan teori belajar yang digunakan sebagai landasan
dalam pelaksanaan asesmen alternatif adalah: pertama, teori fleksibilitas
kognitif dari R. Spiro (1990) “belajar akan menghasilkan kemampuan secara
spontan dalam melakukan restrukturisasi pengetahuan yang telah dimilki untuk
merespons kenyataan atau situasi yang dihadapi”. Teori belajar Bruner (1966)
“belajar merupakan suatu proses aktif yang dilakukan siswa dengan cara
mengkonstruksi sendiri gagasan baru atau konsep baru atas dasar konsep,
pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki.
Menurut Donna
Szpyrka dan Ellyn B Smith seperti dikutip oleh Zainul, A (2001) ada beberapa
langkah yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan rubrik: 1) menentukan
konsep, keterampilan dan kinerja yang akan dinilai; 2) menentukan tugas yang
akan dinilai; 3) menentukan skala yang akan digunakan; 4) melakukan uji coba;
5) melakukan revisi berdasar hasil uji coba.
Tahap penilaian
dalam asesmen portofolio yaitu: a) penilaian dimulai dengan menetapkan kriteria
penilaian yang disepakati bersama antara guru dengan siswa pada awal
pembelajaran, b) kriteria penilaian yang telah disepakati diterapkan secara
konsisten, c) hasil penilaian selanjutnya digunakan sebagai penentuan tujuan
pembelajaran berikutnya, d) penilaian dalam asesmen portofolio pada dasarnya
dilakukan secara terus menerus atau berksinambungan.
Menurut Ericson,
penilaian afektif dilakukan dengan cara: pengamatan langsung, wawancara, angket
atau kuesioner, tehnik proyektil dan pengukuran terselubung.
Daftar
pustaka:
Adi Suryanto, dkk. 2008. “Evaluasi Pembelajaran di SD”. Jakarta:
Universitas Terbuka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar