Senin, 04 Januari 2016

Evaluasi



BAB I
PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang
Menilai pencapaian hasil belajar siswa merupakan tugas pokok seorang guru sebagai konsekuensi logis dari pelaksanaan perencanaan pembelajaran yang telah disusun setiap awal semester. Penenilaian ini dimaaksudkan untuk mengambil keputusan tentang keberhasilan siswa dalam mencapai kompetensi yang telah ditetapkan. Kompetensi yang harus dikuasai siswa untuk semua mata pelajaran tidak sama, tergantung pada karakteristik mata pelajaran tersebut. tetapi secara garis besar dapat dikatakan bahwa pencapaian kompetensi suatu mata pelajaran mencangkup kompetensi dalam ranah kognitif, afektif dan psikomotor.
Untuk mengetahui apakah seorang siswa sudah berhasil mencapai kompetensi atau belum, diperlukan informasi hasil belajar. Pada dasarnya, alat penilaian dibedakan menjadi dua yaitu tes dan non-tes. Tes (paper and pencil tes) biasanya digunakan untuk mengukur hasil belajar dalam ranah kognitif dan keterampilan sederhana, sedangkan non-tes biasanya digunakan untuk mengukur proses dan hasil belajar dalam aspek afektif dan psikomotor. Alat ukur tersebut digunakan sebagai alat untuk memperoleh informasi hasil belajar siswa.
Penggunaan asesmen alternatif dalam penilaian hasil belajar siswa merupakan jawaban atas adanya kelemahan pada asesmen tradisional yang hanya mengguanakan tes tertulis (paper and pencil test). Tes tertulis tidak mampu mengukur hasik belajar siswa yang kompleks, bahwa pada umumnya tes tertulis hanya mampu mengukur hasil belajar siswa dalam ranah kognitif dan keterampilan sederhana. Dengan menggunakan asesmen alternatif, kita akan akan mampu mengukur hasil belajar siswa, tidak hanya ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotor. Asesmen alternatif juga mampu mengukur proses belajar. Pembahasan tentang pembelajaran asesmen alternatif dibagi dalam empat kegiatan belajar. Kegiatan belajar 1 akan membahas tentang latar belakang dan konsep dasar asesmen alternatif, kegiatan belajar 2 akan membahas bentuk asesmen kinerja, kegiatan belajar 3 akan membahasa tentang asesmen portofolio dan kegiatan belajar 4 akan membahas tentang pengembanagan alat ukur afektif.
Jika kita mempelajari dengan cermat, maka kita akan melaksanakan penilaian hasil belajar siswa dengan mengguanakan asesmen alternatif serta dapat mengukur afektif siswa. secara rinci kita kan dapat; 1) menjelaskan konsep dasar asesmen, 2) menjelaskan pentingnya asesmen alternatif dalam penilaian hasil belajar siswa, 3) menjelaskan keunggualan dan kelemahan asesmen alternatif sebagai cara penilaian hasil belajar siswa, 4) menejaskan berbagai bentuk asesmen alterntif untuk menilai hasil belajar siswa, 5) mengembangkan berbagai tugas dalam asesmen alternatif, 6) membuat rubrik atau kriteria penilaian dalam asesmen alternetif, 7) memberi contoh pengguanaan asesmen alterntif dalam penilaian hasil belajar siswa, 8) mengembangkan alat ukur afektif.

B.       Rumusan Masalah
1.    Bagaimana landasan psikologis dalam konsep dasar asesmen alternatif !
2.    Bagaimana langkah-langkah penilaian (rubrik) pada asesmen kinerja !
3.    Bagaimana tahap penilaian dalam asesmen portofolio !
4.    Bagaimana cara penilaian dalam ranah afektif !

C.      Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini yaitu:
1.    Mengetahui konsep dasar asesmen alternatif.
2.    Mengetahui bentuk dari asesmen kinerja.
3.    Mengetahui tujuan, perencanaan, pelaksanaan, pengumpulan dan tahap penilaian dari asesmen portofolio.
4.    Mengetahui penilaian ranah afektif.










BAB II
PEMBAHASAN
A.      KONSEP DASAR ASESMEN ALTERNATIVE
a.    Konsep Dasar Asesmen Alternative
Dalam Pendidikan dikenal dua pengertian tentang penilaian yaitu penilaian dalam arti asesmen dan penilaian dalam arti evaluasi. Penilaian dalam arti asesmen merupkan kegiatan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian dan kemajuan belajar siswa sedangkan penilaian dalam arti evaluasi merupakan kegiatan yang dirancang untuk mengukur keefektifan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan asesmen,yaitu tradisional assessmen,performance assessment,authentic assesmen,portofolio assesmen, achievement assessment, dan alternatife assessment.
1.    Tradisional Assessment
Tradisional asesmen mengacu pada tes tertulis.maksudnya tradisional assessment hanya mengukur hasil belajar siswa dengan menggunakan satu jenis alat ukur yaitu tes tertulis.padahal kita ketahui bersama tes tertulis mempunyai kelemahan diantaranya hanya mampu mengukur aspek kognitif dan ketrampilan sederhana, sebagian kecil dari hasil belajar siswa, dan tes sering kali menimbulkan kecemasan.
2.    Performance Assessment (Asesmen Kinerja)
Asesmen kinerja merupakan asesmen yang menghendaki siswa untuk mendemonstrasikan kemampuannya baik pengetahuan atau ketrampilan dalam bentuk kinerja nyata yang ditunjukan dalam bentuk penyelesaian suatu tugas, bukan hanya menjawab atau memilih jawaban yang sudah tersedia. Asesmen kinerja menilai hasil belajar siswa dan proses belajarnya.
3.    Authentic Assessment
Authentic assessment merupakan assessment yang menuntut siswa mampu menerapkan pengetahuan dan ketrampilannya dalam kehidupan nyata diluar sekolah. Tujuan dan otentik assessment adalah untuk mengumpulkan bukti-bukti apakah siswa sudah dapat menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya secara efektif dalam kehidupan nyata dan dapat memberikan kritik terhadap upaya yang telah ia lakukan.
4.    Portofolio Assessment (Assessment Portofolio) 
Asesmen portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang menunjukan upaya,proses,hasil dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa dari waktu ke waktu. Mungkin banyak definisi portofolio yang telah anda kenal dan agak berbeda dengan pengertian diatas tetapi pada dasarnya portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang menunjukan pencapaian dan perkembangan hasil hasil belajar siswa.
5.    Achievement Assessment 
Achivement assessment merupakan pengertian umumterhadapa semua usaha untuk mengukur,mengetahui dan mendeskripsikan hasil belajar siswa, baik yang dilakukan dengan tes tertulis,assasemen kinerja,portofolio, dan semua usaha untuk memperoleh informasi hasil dan kemajuan belajar siswa.
6.    Alternative Assessment
Alternative assessment merupakan asasement yang tidak hanya tergantung pada tes tertulis. Pada dasarnya asasemen alternative merupakan alternative dari asasemen tradisional (paper and pencil test). Jadi performance assesmen,portofolio assessment,authentic assessment, dan achievement assessment merupakan kelompok asesmen alternative.
b.    Landasan Psikologis
Asesmen alternative tidak hanya menilai hasil belajar, tetapi dapat member informasi secara lengkap tentang proses pembelajaran.Asesment alternative tidak hanya menilai produk belajar saja tetapi juga menilai proses belajar untuk menghasilkan kemampuan produk tersebut.
Asesmen alternative dilaksanakan bersdasarkan teori belajar khususnya dari aliran psikologi kognitif. Beberapa teori belajar yang digunakan sebagai landasan dalam pelaksanakan asesmen alternative adalah:
1.    Teori fleksibilitas kognitif dan R.spiro (1990)
2.    Teori belajar Bruner (1966)
3.    Generative learning model dari Osborne dan wittrock (1983)
4.    Experiential learning theory dari c rogers (1969)
5.    Multiple intelligent theory dari Howard gardner (1983)
c.    Keunggulan Dan Kelemahan Asesmen Alternatif
Seperti halnya alat ukur yang lain, asesmen alternative seperti performance asesmen,authentic assessment, dan portofolio assessment mempunyai keunggulan dan kelemahan.
1.    Keunggulan asesmen alternative anatara lain:
1)   Dapat menilai hasil belajar yang kompleks dan ketrampilan-ketrampilan yang tidak dapat dinilai dengan asesmen tradisional. Contohnya : jika anda ingin menguku rkinerja kerja siswa dalam membuat karangan maka banyak aspek yang dapat diukur dari tugas dari tugas karangan tersebut. Misalnya kemampuan dalam siswa dalam membuat paragraph yang baik, pemilihan kosa kata yang tepat, kemampuan siswa dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan, kemampuan merangkai kata dan kalimat,dan kemampuan berimajinasi.
2)   Menyajikan hasil penilaian yang lebih hakiki, langsung, dan lengkap dengan melakukan asesmen anda akan dapat menilai hasil belajar anak secara lengkap, tidak hanya hasil belajar dalam ranah kognitif tetapi juga ranah afektif dan psikomotor. 
3)   Meningkatkan motivasi siswa.
4)   Mendorong pembelajaran dalam situasi yang nyata.Asesmen Alternatif menekankan kepada apa yang dapat ditunjukan atau dikerjakan oleh siswa bukan apa yang diketahui siswa.
5)   Memberi kesempatan kepada siswa untuk selfvaluation. 
6)   Membantu guru untuk menilai efektifitas pembelajaran yang telah dilakukan.
7)   Meningkatkan daya transferabilitas hasil belajar.
2.    Kelemahan asesmen alternative:
1)   Membutuhkan banyak waktu
2)   Adanya unsure subjektifitas dalam penskoran
3)   Ketetapan penskoran rendah
4)   Tidak tepat untuk kelas besar.

B.       BENTUK ASESMEN KINERJA
a.    Tugas (Task)
Sesuai dengan namanya yaitu asesmen kinerja, asesmen jenis ini meminta anak untuk melakukan sesuatu atau menunjukkan kinerjanya sesuai dengan tugas yang diberikan guru. Informasi tentang keberhasilan siswa dalam unjuk kerja dapat diperoleh dari berbagai jenis tagihan, yaitu:
a)    Computer Adaptive Testing
Computer adaptive testing merupakan tes berbantuan komputer yang dapat digunakan untuk menilai hasil belajar siswa sesuai dengan kemampuannya. Pada prinsipnya computer adaptive testing akan menilai hasil belajar siswa yang dimulai dari tugas yang mudah dan kemudian semakin ditingkatkan kesukarannya sampai pada titik dimana siswa tersebut tidak dapat memberikan respon dengan tepat. Dengan cara demikian dapat diketahui tinggkat kemampuan siswa.
b)   Tes Pilihan Ganda yang Diperluas
Tes pilihan ganda yang diperluas yaitu tes pilihan ganda dimana dalam pengerjaannya siswa tidak hanya diminta untuk memilih salah satu jawaban yang paling tepat, tetapi juga diminta alasan kenapa siswa memilih jawaban tersebut.
c)    Tes Uraian Terbuka
Tes uraian terbuka yaitu tes yang dapat digunakan untuk pemberian tugas dalam asesmen kinerja karena dengan tes ini kita dapat menilai kinerja atau kemampuan siswa dalam penalaran, logika, serta kemampuan dalam menuangkan ide dalam bentuk tulisan.
d)   Tugas Individu
Tugas individu yaitu tugas yang dikerjakan secara mandiri.
e)    Tugas Kelompok
Tugas kelompok yaitu tugas yang dikerjakan secara kelompok, bekerja sama, dan bertanggung jawab bersama.
f)    Proyek
Proyek yaitu tugas-tugas yang kompleks, yang diberikan kepada siswa baik individu maupun kelompok yang diselesaikan dalam janga waktu tertentu.
g)   Interview
Tugas interview yaitu tugas wawancara dengan orang lain kemudian membuat laporan hasil wawancara. Tugas guru yaitu untuk mrnilai kualitas laporan tersebut.
h)   Pengamatan
Tugas untuk melakukan pengamatan terhadap sesuatu yang ditugaskan oleh guru.
Dalam hal ini tugas-tugas yang diberikan guru harus jelas sehingga siswa mengetahui dengan tepat apa yag harus dikerjakan. Langkah-langkah yang harus diperhatikan guru dalam penyusunan tugas yaitu:
1)   Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang akan dimiliki siswa setelah mereka mengerjakan tugas tersebut. Pertanyaan pokok yang dapat mebantu guru dalam merumuskan tugas adalah: keterampilan kognitif, afektif dan metakognitif yang bagaimana harus dimiliki oleh siswa? Tipe masalah apa yang harus dipecahkan oleh siswa? Dan konsep apa yang harus dapat diterapkan oleh siswa?
2)   Merancang tugas yang memungkinkan siswa dapat menunjukkan kemampuannya dalam berpikir dan keterampilan dan sesuai dengan tingkat pemahaman anak.
3)   Menetapkan kinerja keberhasilan sebagai patokan untuk menilai kinerja siswa.
Beberapa catatan penting yang harus diperhatikan guru dalam merancang tugas dalam asesmen kinerja yaitu:
1)   Tugas yang disusun harus sesuai dengan pembelajaran yang dirancang
2)   Tugas yang baik yaitu tugas yang berhubungan dengan kehidupan nyata yang dihadapi siswa dalam kehidupan sehari-hari.
3)   Tugas harus diberikn kepada semua siswa dengan adil.
4)   Jangan memberikan tugas yang terlalu mudah karena hal ini tidak akan memotivasi siswa dan tidak memberikan tantangan untuk melakukannya.
b.    Kriteria Penilaian (Rubrik)
Rubrik adalah pedoman pemberian skor yang digunakan untuk menilai mutu kinerja atau hasil kinerja siswa. Rubrik terdiri dari kriteria yang diwujudkan dengan dimensi-dimensi kinerja, aspek-aspek atau konsep yang akan dinilai disertai dengan gradasi mutu untuk setiap kriteria tersebut.mulai dari tingkat yang paling sempurna hingga ke tingkat yang paling buruk. Dimensi kinerja inilah yang harus di tentukan mutunya atau diberi peringkat.
Menurut Donna Szpyrka dan Ellyn B Smith seperti dikutip oleh Zainul A (2001) ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan rubrik yaitu:
a)    Mentukan konsep,keterampilan dan kinerja yang akan dinilai.
b)   Merumuskan atau mendefenisikan serta menentukan urutan konsep yang akan dinilai kedalam rumusan yang akan menggambarkan kinerja siswa.
c)    Menentukan kinerja yang akan dinilai
d)   Menentukan skala yang akan digunakan
e)    Mendeskripsikan kinerja mulai dari yang diharapkan hingga kepada yang tidak diharapkan.
f)    Melakukan uji coba
g)   Melakukan refisi dari hasil uji coba.
Berikut ini menurut Chicago Public School (CPS) beberapa langkah dalam mengembangkan rubric yaitu:
a)    Guru bersama teman sejawat menentukan dimensi kinerja yang akan digunakan.
b)   Cocokkan dimensi kinerja tersebut dengan kinerja siswa secara riil di lapangan untuk melihat kesesuaiannya.
c)    Revisilah dimensi kinerja tersebut hingga menjadi lebih tepat
d)   Setelah itu defenisikanlah setiap dimensi kinerja tersebut.
e)    Menentukan skala dari dimensi kinerja yang akan dinilai
f)    Sebelum rubrik digunakan lakukan penilaian terhadap rubrik tersebut
g)   Lakukan uji coba apakah rubrik tersebut dapat digunakan
h)   Jika rubrik tersebut dianggap baik, lakukan sosialisasi dengan melibatkan pihak yang terkait.
Berdasarkan kegunaannya rubrik dapat dibedakan menjadi 2 yaitu:
a)    Holistic Rubric
Holistic rubric adalah rubrik yang deskripsi dimensi kinerjanya dibuat secara umum, karena prinsip kinerjanya bersifat umum maka biasanya holistic rubric dapat digunakan untuk menilai berbagai jenis kinerja. Dalam holistic rubric aspek-aspek yang dapat diperhatikan dalam menilai kinerja siswa sebagai berikut:
1)   Kualitas pengerjaan tugas
2)   Kreativitas dalam pengerjaan tugas
3)   Produk tugas.
Atau dapat juga dengan cara lain yaitu:
1)   Kemampuan dalam menggunakan prosedur kerja.
2)   Kemampuan dalam menunjukkn fungsi dalam setiap langkah sesuai dengan prosedur.
3)   Kemampuan memodifikasi prosedur yang ada tanpa menguarangi/mengurangi fungsi.
b)   Analytic Rubric
Analytic rubric yaitu rubric atau dimensi kinerjanya dibuat lebih rinci, demikian juga dengan deskripsi aspek kinerjanya. Analytic rubrik tepat digunakan untuk menilai kinerja tertentu. Dimensi kinerja yang akan dinilai disesuaikan dengan kinerja yang akan diukur.

C.      ASESMEN PORTOFOLIO
a.    Pengertian dan Tujuan Portofolio
Portofolio adalah kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang menunjukan upaya,proses, hasil dankemajuan belajaryang   dilakukan siswa dari waktu kewaktu. Pada dasarnya portofolio merupakan kumpulan hasil karya siswa yang dapat menunjukkan pencapaian dan perkembangan hasil belajar siswa.
1.    Karakteristik Portofolio
1)   Asesmen portofolio adalah asesmen yang menuntut adanya kerjasama antara murid dengan guru.
4)   Asesmen portofolio tidak hanya sekedarkumpulan hasil karya siswa tetapi yang terpenting adalah adanya proses seleksi yang dilakukan berdasar kriteria tertentu untuk dimasukkan kedalam kumpulan hasil karya siswa
5)   Hasil karya siswa dikumpulkan dari waktu kewaktu. Kumpulan karya tersebut digunakan oleh siswa untuk melakukan refleksi sehingga siswa mampu mengenal kelemahan dan kelebihan karya yang dihasilkan kelemahan tersebut akan digunakan sebagau bahan pembelajaran berikutnya.
6)   Kriteria penilaian yang digunakan harus jelas baik bagi guru adapun bagi siswa dan diterapkan secara konsisten.
Menurut Jon Mueller tujuan penggunaan portofolio adalah untuk mencapai salah satu dari tiga tujuan berikut :
1.    Portofolio yang bertujuan untuk menunjukkan perkembangan hasil belajar siswa :
a)    Menunjukkan perkembangan atau perubahan kinerja siswa.
b)   Membantu mengembangkan proses keterampilan seperti self evoluation dan perumusan tujuan.
c)    Mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa.
d)   Membantu perkembangan kinerja siswa dalam proses atau produk.
2.    Portofolio yang bertujuan untuk menunjukkan siswa :
a)    Menunjukkan kinerja siswa pada akhir semester atau akhir tahun.
b)   Menyiapkan hasil kerja terbaik untuk ditunjukkan kepada orang lain.
c)    Menunjukkan pekerjaan yang baik.
d)   Mengkomunikasian bakat, keterampilan dan kemampuan siswa kepada guru yang akan mengajar tahun berikutnya.
3.    Portofolio yang bertujuan untk menilai keseluruhan hasil belajar siswa :
a)    Menyimpan karya siswa untukmemperoleh nilai akhir.
b)   Menympan perkembangan karya siswa untuk mencapaikriteria yang telah ditetapkan.
c)    Menempatkan siswa pada tempat yang tepat.
Ada beberapa kompenen penting yang harus diperhatikan dalan menggunakan portofolio sebagai asesmen :
1)   Portofolio hendaknya memiliki kriterian penilaian yang jelas, spesifik, dan berorientasi pada research based ceriteria.
2)   Untuk menilai kemampuan dan keterampilan siswa dapat digunakan berbagai sumber informasi yang mengenal dengan baik kemampuan dan keterampilan siswa.
3)   Untuk mendisain portofolio perlu diperhatikan berbagai cara yang digunakan untuk mengumpulkan bukti-bukti yang berkontribusi terhadap portofolio.
4)   Portofolio dapat terdiri dari berbagiagaibentuk informasi seperti karangan hasil lukisan, skor tes, foto dsb
5)   Kualitas portofolio harus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
6)   Setiap mata pelajaran mungkin mempunyai bentuk portofolio yang berbedadengan mata pelajaran yang lain.
7)   Portofolio harus dapat diakses langsung oleh orang-orang yang berkepentingan terhadap portofolio tersebut, seperti guru, sekolah, orang tua dan siswa sendiri.
b.    Perencanaan Portofolio
Shaklee et.al (1977) memberikan 8 pedoman yang harus diperhatikan pada saat merencanakan portofolio:
a)    Menentukan kriteria dan atau standar yang akan digunakan  sebagai dasar asesmen portofolio. Ini merupakan langkah awal yang harus dilakukan.
b)   Menerjemahkan kriteria atau standartersebutke dalam rumusan-rumusan hasil belajar yang dapat diamati. Kriteria atau standar tersebut harus tepatuntuk umur, kelas, dan materi siswa yang akan dinilai.
c)    Menggunakan kriteria, memeriksa ruang lingkup dan urutan materi dalam kurikulum untuk menentukan perkiraan waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan bukti-bukti portofolio dan melengkapi penilaian.
d)   Menentukanorang-orang yang berkepentingan secara langsung (stakeholders) dengan potofolio siswa.
e)    Menentukam jenis-jenis bukti yang harus dikumpulkan.
f)    Menentukan cara yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan berdasar bukti yang dikumpulkan.
g)   Menentukan sistem yang akan digunakan untuk membahasa hasil portofolio, pelaporan informasi dan keputusan asesmen portofolio.
h)   Mengatur bukti-bukti portofolio berdasar umur, kelas, atau isi agar kita dapat membandingkan.
c.    Pelaksanaan Portofolio
Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat dan disepakati dengan siswa maka tugas guru kemudian adalah melaksanakan asesmen potofolio sesuai denganapa yang telah direncanakan. Dalam pelaksanaan tersebut, tugas guru adalah.
1)   Mendorong dan Memotivasi Siswa
Tugas portofolio bukan merupakan tugas yang diberikan sesuai dengan kondisi riil kehidupan siswa sehingga guru perlu meyakinkan siswa bahwa tugas portofolio bukan merupakan tugas yang sama sekali baru.
2)   Memonitor Pelaksanaan Tugas
Selama pelaksanaan tugas, guruharus memonitor perkembangan penyelesaian tugas. Guru perlu melakukan pertemuan rutin dengan siswa guna mendiskusikan permasalahan-permasalahan yang dihadapi siswa.
3)   Memberikan Umpan Balik
Dalam setiap pertemuan guru dapat memberikan umpan balik kepada siswa. Umpan balik dapat berupa komentar terhadap karya siswa yang bersifat kritis dengan tujuan untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan siswa.
4)   Memamerkan Hasil Portofolio Siswa
Pamerkanlah hasil karya siswa dengan mengundang stakeholders yang berhubungan langsung dengan portofolio siswa seperti guru, muriditu sendiri, teman sekelas, orang lain diluar kelas yang mengetahui persis kemampuan siswa, serta orang tua siswa.
d.   Pengumpulan Bukti Portofolio
Kumpulan karya siswa dapat dikatakan sebagai portofolio jika kumpulan karya tersebut merupakan representasi dari kumpulan karya terpilih yang menunjukkan pencapaian dan perkembangan belajar siswa dalam rangka mencapai tujjuan pembelajaran. Setiap  bagian atau penggalan dari karya dalam portofolio dimaksudkan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang khusus. Karya siswa harus dapat menunjukkan perkembangan atau bukti bahwa siswa telah mencapai yujuan tertentu.
e.    Tahap Penilaian
a)    Penilaian dimulai dengan menetapkan kriteria penilaian yangdisepakati bersama antara gurudengan siswa pada awal pembelajaran.
b)   Kriteria penilaian yang telah disepakati diterapkan secara konsisten.
c)    Hasil penelitian selanjutnyadigunakan sebagai penentu tujuan pembelajarab berikutnya.
d)   Penilaian dalam asesmen portofolio pada dasarnyadilakukan secara terus menerusatau berkesinambungan.

D.      PENILAIAN RANAH AFEKTIF
a.    Konsep Dasar
Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar siswa yang sangat penting. Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Siswa yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mempelajari mata pelajaran tersebut sehingga mereka akan dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal.
Menurut Krathwohl (dalam Gronlund and Linn, 1990), ranah afektif terdiri atas lima level yaitu:
1.    Receiving merupakan keinginan siswa untuk memperhatikan suatu gejala atau stimulus misalnya aktivitas dalam kelas, buku, atau music. Tugas guru adalah mengarahkan perhatian siswa pada gejala yang menjadi objek pembelajaran afektif.
2.    Responding merupakan partisipasi aktif siswa untuk merespon gejala yang dipelajari. Hasil pembelajaran pada level ini menekankan pada perolehan respons, keinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respon.
3.    Valuing merupakan kemampuan siswa untuk memberikan nilai, keyakinan, atau sikap dan menunjukan suatu derajat instalisasi dan komitmen. Hasil belajar pada level ini berhubungan dengan perilaku siswa yang konsisten dan stabil agar nilai dapat dikenal secara jelas.
4.    Organization merupakan kemampuan anak untuk mengorganisasi nilai yang satu dengan yang lain dan konflik antar nilai mampu diselesaikan dan siswa mulai membangun system nilai internal yang konsisten. Hasil belajar pada level ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi system nilai.
5.    Characterization merupakan level tertinggi dalam ranah afektif. Pada level ini siswa sudah memiliki system nilai yang mampu mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga menjadi pola hidupnya. Hasil belajar pada level ini berkaitan dengan personal, emosi, dan social.
Karakteristik yang terpenting dalam ranah afektif adalah sikap, minat,  konsep diri, dan nilai.
1.    Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen seperti dikutip oleh Mardapi (2004), sikap didefinisikan sebagai predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negative terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Ranah sikap yang perlu dikembangkan di sekolah antara lain sikap siswa terhadap guru, mata pelajaran, dan sekolah. Proses pembelajaran dikatakan berhasil apabila pihak sekolah mampu mengubah sikap siswa dari sikap negative menjadi sikap positif.
2.    Minat
Menurut Getzel (dalam mardapi, 2004) minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Hal penting pada minat adalah intensitas untuk memperoleh sesuatu.
3.    Konsep diri
Konsep diri adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan diri sendiri (Smith dalam Mardapi, 2004). Konsep diri penting untuk menentukan jenjang karir siswa. Dengan mengetahui kekuatan ddan kelemahan diri sendiri maka siswa akan dapat memilih alternative karir yang tepat bagi dirinya. Sekolah sangat membutuhkan informasi konsep diri setiap siswa. Dengan mengetahui konsep siri setiap siswa, sekolah diharapkan mampu menyediakan lingkungan belajar yang kondusif serta memotivasi siswa dengan tepat.
4.    Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan yang dalam tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan dianggap tidak baik (Rokeach dalam Mardapi, 2004). Sekolah perlu membantu siswa untuk menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna bagi siswa agar siswa mampu mencapai kebahagian diri dan mampu memberikan hal-hal yang positif bagi masyarakat.
b.    Beberapa Cara Penilaian Ranah Afektif
Menurut Ericson (dalam Nasoetion dan Suryanto, 2002) penilaian dapat dilakukan dengan cara:
1.    Pengamatan langsung, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat sikap dan tingkah laku siswa terhadap sesuatu, benda, orang, gambar, atau kejadian. Dari tingkahlaku yang muncul kemudian dicari atribut yang mendasari tingkah laku tersebut.
2.    Wawancara, dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau tertutup. Pertanyaan tersebut digunakan untuk pancingan.
3.    Angket atau kuisioner, merupakan suatu perangkat pertanyaan atau isian yang sudah disediakan pilihan jawaban baik berupa pilihan pertanyaan ataupun pilihan bentuk angka.
4.    Teknik proyektil, merupakan tugas atau pekerjaan atau objek yang belum pernah dikenal siswa. Para siswa diminta untuk mendiskusikan hal tersebut menurut penafsirannya.
5.    Pengukuran terselubung, merupakan pengamatan tentang sikap dan tingkahlaku seseorang dimana yang diamati tidak tahu bahwa ia sedang diamati.
c.    Langkah-langkah Pengembangan Instrumen Afektif
a)    Merumuskan Tujuan Pengukuran Afektif
Pengembangan alat ukur sikap bertujuan untuk mengetahuisikap siswa terhadap suatu objek, misalnya sikap siswa terhadap sesuatu dapat positif atau negative. Hasil pengukuran sikap sangat bermanfaat untuk menentukan strategi pembelajaran yang tepat untuk siswa.
Alat ukur minat bertujuan untuk memperoleh informasi tentang minat siswa terhadap sesuatu. Hasil pengukuran minat akan bermanfaat bagi sekolah untuk mengidentifikasi dan menyediakan sarana dan prasarana sekolah sesuai dengan minat siswa. Sedangkan bagi siswa akan bermanfaat untuk mempelajari sesuatu objek sesuai dengan minatnya.
Pengembangan alat ukur konsep diri bertujuan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan diri siswa. Siswa menilai kekuatan dan kelemahan diri sendiri. Informasi ini sangat penting untuk menentukan program yang sebaiknya dipelajari siswa. Hasil pengukuran konsep diri sangat berguna untuk menentukan jenjang karir siswa.
Pengembangan alat ukur nilai bertujuan untuk mengungkap nilai dan keyakinan siswa. Hasil pengukuran nilai berupa nilai dan keyakinan siswa yang positif atau negative. Sekolah berkewajiban mengembangkan nilai dan keyakinan siswa yang positif dan menghilangkan nilai dan keyakinan yang negative.
b)   Mencari definisi konseptual dari afektif yang akan diukur
Setelah tujuan pengukuran ditetapkan maka langkah berikutnya adalah merumuskan definisi konseptual dari afektif yang diukur. Pencarian definisi konseptual dapat dilakukan dengan mencari pada buku-buku teks yang relevan.
c)    Menentukan definisi operasional dari setiap afektif yang akan diukur
Penentuan definisi operasional dimaksudkan untuk menentukan cara pengukuran definisi konseptual.
d)   Menjabarkan definisi operasional menjadi sejumlah indicator
Indicator merupakan petunjuk terukurnya definisi operasional. Dengan demikian indicator harus operasional dan dapat diukur. Ketepatan pengukuran ranah afektif sangat ditentukan oleh kemampuan penyusun instrument (guru atau peneliti) dalam membuat atau merumuskan indicator.
e)    Menggunakan indicator sebagai acuan menulis pernyataan-pernyataan dalam instrument
Penulisan instrument atau alat ukur dapat dilakukan dengan menggunakan skala pengukuran. Skala pengukuran yang paling banyak digunakan adalah skala Liekert. Skala Liekert merupakan salah satu jenis skala pengukuran ranah afektif yang terdiri dari sejumlah pernyataan yang diikuti dengan penilaian responden terhadap setiap pernyataan dengan menggunakan lima skala mulai dari yang paling sesuai sampai dengan yang paling tidak sesuai.
Edward seperti dikutip oleh Nasoetion dan Suryanto (2002) memberikan kaidah-kaidah dalam merumuskan pernyataan-pernyataan dalam instrument efektif sebagai berikut:
§  Hindari pernyataan yang mengarah pada peristiwa yang lalu, missal: pada waktu saya SD saya selalu dapat menjawab pertanyaan yang diajukan guru. Pernyataan mengenai peristiwa masa lampau menanyakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau, padahal maksud pengukuran efektif adalah untuk kondisi saat pengukuran.
§  Hindari pernyataan yang factual, contoh: saya hanya menjawab pertanyaan yang mudah saja sedangkan pertanyaan yang sulit saya acukhan.
§  Hindari pernyataan yang dapat ditafsirkan ganda. Contoh: tidak ada gunanya membaca riwayat hidup atau biografi seseorang. Pernyataan ini dapat ditanggapi berbeda oleh responden. Memberi tanggapan terhadap kegiatan membaca riwayat hidup penjahat tentu berbeda dengan tanggapan yang diberikan jika membaca riwayat hidup seseorang ilmuwan terkenal.
§  Hindari pernyataan yang tidak berkaitan dengan afektif yang akan diukur. Contoh: yang termasuk dalam ilmu pengetahuan adalah matematika, IPA, dan IPS. Pernyataan tersebut bukan merupakan pernyataan afektif.
§  Hindari pernyataan yang menyangkut keperluan semua orang atau pernyataan yang tidak terkait dengan siapapun. Contoh: gerhana bulan sangat menyenangkan. Pernyataan ini tidak berlaku untuk semua orang.
§  Upaya kaliamt pernyataan tersebut pendek, sederhana, jelas, dan langsung pada permasalahannya.
§  Setiap pernyataan hanya mengandung satu pokok pikiran saja.
§  Hindari penggunaan kata asing atau local.
§  Hindari pernyataan negative seperti tidak, kecuali, tanpa dan sejenisnya.
§  Meneliti kembali setiap butir pernyataan
Penelitian kembali instrument yang selesai ditulis sebaiknya dilakukan oleh orang yang telah memiliki banyak pengalaman dalam menembangkan alat ukur afektif minimal dua orang. Kepada dua orang tersebut diberikan spesifikasi dari setiap butir (tujuan pengukuran, definisi konseptual, definisi operasional, indicator, dan pernyataan yang dibuat)dan rambu-rambu penulisan pernyataan yang baik seperti yang disarankan oleh Edwards. Kepada kedua penelaah tersebut diminta untuk menilai kembali ketepatan instrument afektif tersebut dengan menggunakan pengalaman keahlian masing-masing (expert judgment). Berdasarkan masukan dari kedua ahli tersebut kita sempurnakan instrument tersebut. Jika langkah ini selesai dilakukan maka kita siap untuk melakukan uji coba lapangan.
§  Melakukan uji coba
Perangkat instrument yang telah ditelaah dan diperbaiki, disusun dan diperbanyak untuk kemudian diuji cobakan di lapangan. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui apakah perangkat alat ukur tersebut sudah dapat memberikan hasil pengukuran seperti yang kita inginkan.
§  Menyempurnakan instrument
Data yang diperoleh dari hasil uji coba selanjutnya kita olah untuk memperoleh gambaran tentang validitas dan reliabilitas instrument tersebut. Pada saat ini sudah banyak program analisis data yang beredar di pasaran yang dapat kita manfaatkan untuk mengolah data. Berdasarkan data hasil uji coba akan dapat memperbaiki butir-butir pernyataan yang dianggap lemah. Dengan demikian pada akhir kegiatan ini kita dapat memperoleh perangkat instrument yang memenuhi syarat sebagai alat ukur yang baik.
§  Mengadministrasikan instrument, adalah melaksanakan pengambilan data di lapangan. Untuk mengadministrasikan instrument di lapangan perlu diperhatikan beberapa hal, yaitu:
     Kesiapan perangkat instrument, paling tidak terdiri dari petunjuk cara menjawab dan contoh pengisian instrument. Dalam petunjuk harus memuat dengan jelas apa yang harus dikerjakan responden dan bagaimana cara mengerjakannya. Sebaiknya petunjuk pengerjaan atau pengisian instrument dijelaskan oleh petugas. Setelah perangkat tersebut siap maka instrument tersebut perlu digandakan sejumlah sampel penelitian yang akan digunakan.
     Tenaga lapangan, yang dibutuhkan disesuaikan dengan kriteria yang telah diterapkan oleh peneliti. Sebelum terjun ke lapangan, petugas perlu dilatih bagaimana melaksanakan pengumpulan data di lapangan. Pelatihan ini dimaksudkan agar semua petugas lapangan mempunyai persepsi yang sama dalam mengambil data.
     Kesiapan responden, sebelum pengumpulan data dilakukan kita perlu menghubungi instansi atau unit yang terkait di lapangan agar pada saat pengambilan data dilakukan semua responden sudah siap. 

















BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Asesmen alternatif dilaksanakan berdasarkan teori belajar khususnya dari aliran psikologi kognitif. Berdasarkan teori belajar yang digunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan asesmen alternatif adalah: pertama, teori fleksibilitas kognitif dari R. Spiro (1990) “belajar akan menghasilkan kemampuan secara spontan dalam melakukan restrukturisasi pengetahuan yang telah dimilki untuk merespons kenyataan atau situasi yang dihadapi”. Teori belajar Bruner (1966) “belajar merupakan suatu proses aktif yang dilakukan siswa dengan cara mengkonstruksi sendiri gagasan baru atau konsep baru atas dasar konsep, pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki.
Menurut Donna Szpyrka dan Ellyn B Smith seperti dikutip oleh Zainul, A (2001) ada beberapa langkah yang perlu diperhatikan dalam mengembangkan rubrik: 1) menentukan konsep, keterampilan dan kinerja yang akan dinilai; 2) menentukan tugas yang akan dinilai; 3) menentukan skala yang akan digunakan; 4) melakukan uji coba; 5) melakukan revisi berdasar hasil uji coba.
Tahap penilaian dalam asesmen portofolio yaitu: a) penilaian dimulai dengan menetapkan kriteria penilaian yang disepakati bersama antara guru dengan siswa pada awal pembelajaran, b) kriteria penilaian yang telah disepakati diterapkan secara konsisten, c) hasil penilaian selanjutnya digunakan sebagai penentuan tujuan pembelajaran berikutnya, d) penilaian dalam asesmen portofolio pada dasarnya dilakukan secara terus menerus atau berksinambungan.
Menurut Ericson, penilaian afektif dilakukan dengan cara: pengamatan langsung, wawancara, angket atau kuesioner, tehnik proyektil dan pengukuran terselubung.









Daftar pustaka:
Adi Suryanto, dkk. 2008. “Evaluasi Pembelajaran di SD”. Jakarta: Universitas Terbuka

Tidak ada komentar:

Posting Komentar