Jumat, 27 Maret 2015

Sejarah dan Pengertian Eksistensialisme



Sejarah dan Pengertian  Eksistensialisme

Istilah eksistensialisme dikemukakan oleh ahli filsafat Jerman Martin Heidegger (1889-1976). Eksistensialisme adalah merupakan filsafat dan akar metodologinya berasal dari metoda fenomologi yang dikembangkan oleh Hussel (1859-1938). Munculnya eksistensialisme berawal dari ahli filsafat Kieggard dan Nietzche. Kiergaard Filsafat Jerman (1813-1855) filsafatnya untuk menjawab pertanyaan “Bagaimanakah aku menjadi seorang individu)”. Hal ini terjadi karena pada saat itu terjadi krisis eksistensial (manusia melupakan individualitasnya). Kiergaard menemukan jawaban untuk pertanyaan tersebut manusia (aku) bisa menjadi individu yang autentik jika memiliki gairah, keterlibatan, dan komitmen pribadi dalam kehidupan. Nitzsche (1844-1900) filsuf jerman tujuan filsafatnya adalah untuk menjawab pertanyaan “bagaimana caranya menjadi manusia unggul”. Jawabannya manusia bisa menjadi unggul jika mempunyai keberanian untuk merealisasikan diri secara jujur dan berani.
Eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensi dan pengalaman manusia dengan metedologi fenomenologi, atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme bahwa manusia adalah benda dunia,  manusia itu adalah materi , manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi Subjek. Pandangan manusia menurut idealisme adalah manusia hanya sebagai subjek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berkayakinan bahwa paparan manusia harus berpangkalkan eksistensi, sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan lukisan-lukisan yang kongkrit.
Eksistensi oleh kaum eksistensialis disebut Eks bearti keluar, sintesi berarti berdiri. Jadi ektensi berarti berdiri sebagai diri sendiri.
Menurut beberapa ahli:
       Eksistensialisme merupakan aliran yang mengakui bahwa tidak ada alam semesta selain alam manusia (Drs. Amsal Amri, M.Pd : 51 )
       Eksistensialisme merupakan filsafat yang memandang segala gejala berpangkal pada eksistensi. Eksistensi adalah cara manusia berada di dunia (Drs. Uyoh sadulloh, M.Pd :135)
            Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa eksistensialisme adalah aliran yang memandang bahwa tidak ada alam semesta selain alam manusia.
1.      Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri dan memberi bekal pengalaman yang luas dan komprehensif dalam  semua bentuk kehidupan.
Setiap individu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang pasti dan ditentukan berlaku secara umum.

2.      Peran guru
Melindungi dan memelihara kebebasan akademik, dimana mungkin guru pada hari ini, besok lusa menjadi murid(power 1982)
Para guru harus memberikan kebebasan kepada siswa memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka sukai : logika menunjukkan bahwa kebebasan memiliki aturan, dan rasa hormat akan kebebasan orang lain itu penting.
Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menanyakan tentang ide-ide yang dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian guru membimbing siswa untuk mengarahkan siswa dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relatif dengan melalui pertanyaan-pertanyaan.

3.      Peserta Didik
Aliran eksistensialisme memandang siswa sebagai makhluk rasional dengan pilihan bebas dan tanggung jawab atas pilihannya dan siswa dipandang sebagai makhluk yang utuh yaitu yang akal pikiran, rohani, dan jasmani yang semua itu merupakan kebulatan dan semua itu perlu dikembangkan melalui pendidikan. Dengan melaksanakan kebebasan pribadi, para siswa akan belajar dasar-dasar tanggung jawab pribadi dan sosial.

4.       Kurikulum
Aliran eksistensialisme menilai kurikulum berdasarkan pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul dalam suatu tingkatan kepekaan personal yang disebut Greene “kebangkitan yang luas”. Kurikulum ideal adalah kurikulum yang memberi para siswa kebebasan individual yang luas dan mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan mereka sendiri.
Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada satu mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnya. Mata pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan kesadaran akan dunianya.
Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar terhadap humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar individu dapat mengadakan introspeksi dan mengenalkan gambaran dirinya. Pelajaran harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang diharapkan.
Kurikulum yang diutamakan adalah kurikulum liberal. Kurikulum liberal merupakan landasan bagi kebebasan manusia. Kebebasan memiliki aturan-aturan. Oleh karena itu, disekolah diajarkan pendidikan sosial, untuk mengajar “respek” (rasa hormat) terhadap kebebasan untuk semua.

5.      Metode
Tidak ada pemikiran yang mendalam tentang metode, tetapi metode apapun yang dipakai harus merujuk pada cara untuk mencapai kebahagiaan dan karakter yang baik.
Diskusi merupakan metode utama dalam pandangan eksistensialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi guru tentang mata pelajaran. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa dalam pemenuhan dirinya.

6.      Evaluasi
Eksistensialisme berpandangan bahwa eksistensi di atas dunia selalu terkait pada keputusan-keputusan individu, artinya, andaikan individu tidak mengambil suatu keputusan maka pastilah tidak ada yang terjadi. Individu sangat menentukan terhadap sesuatu yang baik, terutama sekali bagi kepentingan dirinya. Jadi menurut aliran ini manusia itu sendirilah yang dapat menentukan seseuatu itu baik atau buruk. Ungkapan dari aliran ini adalah “ Truth is subjectivity” atau kebenaran terletak pada pribadinya maka disebutlah baik, dan sebaliknya apabila keputusan itu tidak baik bagi pribadinya maka itulah yang buruk. Apa Kepercayaan Kita Tentang Evaluasi.
            Filsafat, menurut para ahli sebagai cinta yang mendalam terhadap pengetahuan. Kebanyakan filosof memberikan pandangan yang berbeda tentang hal tersebut. Keyakinan memberikan pertimbangan untuk menilai kebenaran. Sistem filsafat dapat memberikan jawaban terhadap realitas pengetahuan dan nilai yaitu melalui suatu pandangan yang salah satu diantaranya adalah eksistensialisme yang  memberikan penekanan pada aspek individualitas dan kebebasan manusia yang mengukur  dan menentukan sendiri dirinya, tujuan hidupnya, aktifitasnya dan bebas dari ikatan.
            Kepercayaan tentang suatu evaluasi sangat penting, hal tersebut bertujuan untuk menilai atau mengukur yang pada akhirnya didapat suatu hasil kesimpulan. Peran guru dalam proses pendidikan sangat penting, hal tersebut disebabkan karena guru merupakan sentral ilmu. Namun keberadaan guru saat ini dalam kaitannya dengan peningkatan kemampuan siswa banyak memperoleh kritikan. Salah satu kritik yang dilontarkan yaitu alasan mengapa guru sulit melakukan perubahan. Pertama, guru sering tidak mengerti apa isi kurikulum baru ataupun perubahan yang diinginkan. Kedua, banyak guru meragukan perubahan atau pembaharuan yang ada. Ketiga, pendidikan guru yang statis dan yang terakhir ialah tugas guru dipahami sebagai konservatif.
            Agar adanya keselarasan dari apa yang telah dikemukakan diatas, perlu adanya kegiatan pengkoreksian atau pengevaluasian tentang apa, bagaimana yang benar mengenai posisi guru di dalam proses pendidikan. Pada pandangan eksistensialisme dimana adanya individualistik dan kebebasan lebih ditekankan. Namun dalam suatu proses pendidikan hal tersebut perlu dipertanyakan kembali mengingat guru tidak bisa berlaku sesuka dirinya sendiri, karena walau bagaimanapun ada aturan-aturan pendidikan yang mengikat atau mengatur posisi guru.

v  Filsafat pendidikan eksistensialisme.
Eksistensialisme mengakui adanya realitas yang bersifat fisik atau material, hakikat manusia dalam eksistensialisme yaitu manusia berttanggung jawab atas keberadaan dirinya, manusia bertanggung jawab atas eksistensinya. Manusia mengetahui hanya melalui pengalaman yang dihayati oleh individu sebagai subjek atau pribadi. Kebenaran selalu relative untuk setiap pertimbangan undividual, dan kebenaran absolute tidaklah ada. Para filsuf eksistensialisme berpendapat bahwa setiap nilai ditentukan oleh kebebasan memilih setiap pribadi perseorangan.
Eksistensialisme bertujuan agar siswa memperoleh pengalaman hidup yang luas sehingga dengan kebebasannya ia mampu mewujudkan dirinya sebagai manusia. Apapun yang dipelajari peserta didik merupakan suatu alat bagi peserta didik tersebut dalam mengembangkan pengetahuan diri dan tanggung jawab diri. Eksistensialisme mengguakan teknik-teknih pembelajaran nondirective sebagai metode pendidikannya degan guru sebagai pembimbing dan siswa bebas memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Kritikan: saya kurang setuju mengenai epistemologi menurut Eksistensialisme bahwa kebenaran selalu relatif untuk setiap pertimbangan individu dan kebenaran Absolut tidaklah ada, karena menurut saya bahwa benar-salah itu ditentukan dari Abolut, dalam hal ini adalah Allah SWT, jika pada jaman sekarang kita menggunakan teori epistemologi dalam eksistensialisme maka mungkin hukum tidak akan berlaku, manusia akan hidup sesuai kehendaknya dan tanpa aturan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar