Jumat, 27 Maret 2015

Batu Qur'an



Pemandian Cikoromoi Dan Batu Qur'an
Banten memang dikenal kaya potensi wisata spiritual. Kalau daerah Banten Lama di Kabupaten Serang, misalnya, dikunjungi ribuan wisatawan setiap liburan karena memiliki kawasan wisata peninggalan Sultan Banten - yang antara lain berisi Benteng Surosowan, Mesjid Agung, Klenteng Kuno dan sejumlah makam keluarga Sultan Hasanudin, maka Kabupaten Pandeglang, 20 km dari Kota Kabupaten Serang, juga dikenal karena memiliki kawasan wisata Gunung Karang. Dalam buku potensi usaha pariwisata Kabupaten Pandeglang yang diterbitkan beberapa tahun silam, disebutkan kawasan wisata Gunung Karang memiliki 3 obyek kunjungan. Obyek kunjungan pertama disebut Sumur Tujuh. Obyek kunjungan kedua, pemandian alam Cikoromoi yang dilengkapi tempat penziarahan Cibulakan. Obyek penziarahan itu menjadi menarik diamati pengunjung, karena dikolam pemandiannya terdapat Batu Qur'an, batu berukuran besar terletak di dasar kolam dan bertuliskan huruf-huruf arab. Diperkirakan batu bertuliskan huruf arab itu sudah berusia lebih 5 abad. Dan obyek kunjungan yang ketiga disebut pemandian air panas Cisolong.
Dibandingkan dengan obyek kunjungan kolam renang Cikoromoi, atau pemandian air panas Cisolong, obyek kunjungan Batu Quran dan Sumur Tujuh lebih sering dikunjungi umat Islam pada hari-hari besar Islam, seperti Maulid Nabi Muhammad, 1 Muharam, menjelang Ramadan, Idul Fitri atau Idul Adha. Ribuan umat Islam selalu mengunjungi kedua obyek wisata spritual itu di setiap liburan, karena sejarah keberadaan obyek wisata Sumur Tujuh dan Batu Qur'an, konon kabarnya, erat kaitannya dengan kegiatan keluarga Sultan Banten dalam penyebaran Islam di abad ke 15. Karena itu, sejumlah perusahaan biro perjalanan wisata di Jawa, khususnya lembaga pengajian atau majelis taklim di Jabotabek, Banten, Bandung dan Cirebon sering menjadikan obyek wisata Batu Qur'an dan Sumur Tujuh sebagai bagian dari paket wisata spiritual Banten.
Cerita panjang mengenai misteri Sumur Tujuh itu akan dikupas dalam tulisan terpisah. Lalu, apa daya tarik obyek wisata pemandian Batu Qur'an? Untuk mengetahuinya, mungkin Anda bisa mempelajari pengakuan Haji Wahab Gaffar (57) dari Mataram, Nusa Tenggara Barat. Haji Wahab Gaffar, pensiunan pegawai Pemda Tk I Nusa Tenggara Barat itu mengaku sudah sejak kuliah di Universitas Gajah Mada tahun 1960 mendengar beragam daya tarik pemandian Cibulakan. Karena itu, kakek 6 cucu dari 4 anak ini bernazar begitu pensiun akan meluangkan waktu melaksanakan wisata spiritual dengan mengunjungi makam Sunan Ampel di Surabaya hingga menengok semua peninggalan zaman kejayaan Sultan Banten, termasuk pemandian Batu Qur'an itu. "Ketika melihat sendiri, saya baru percaya, batu qur'an itu ada. Jadi, bukan dongeng yang dibuat-buat. Batu Qur'an itu merupakan salah satu sisa peninggalan masa jaya Sultan Banten," ujar Haji Wahab Gaffar. "Sayangnya, Pemda terkesan membiarkan obyek wisata itu tumbuh tanpa perawatan seperlunyam sehingga tidak terkesan obyek wisata itu sangat berarti bagi umat Islam, khususnya bagi aset sejarah di Banten," tambahnya.
Lokasi pemandian Batu Qur'an terletak di kaki Gunung Karang, tepatnya di Desa Kadubumbang Kecamatan Cimanuk, Kabupaten Pandeglang. Lokasi pemandian memang sangat sederhana. Hanya ada sebuah kolam di situ. Tetapi, jika liburan panjang tiba, antrian orang berdatangan ke pemandian tersebut. Pengunjung selalu dibuat takjub, karena menurut cerita kuncen, petugas penjaga pemandian Cibulakan, air kolam pemandian - yang tingginya hanya sekitar 1,5 meter dari dasar kolam - tak bisa kering sekalipun musim kemarau berlangsung panjang. Prof Dr Muarif Ambari dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional juga pernah mempelajari bagaimana mengeringkan kolam Cibulakan, kemudian Batu Qur'an yang ada diteliti asal muasalnya. Ternyata sulit. Pasalnya, air Cibulakan tak mudah kering kendati disedot pipa air bertekanan ratusan kubik perjam. Akibat itu para ahli sejarah kepurbakalaan yakin bahwa batu bertulisan huruf-huruf al-quran yang ada di batu-batu di dasar kolam Cibulakan, sengaja dibuat oleh pengikut Sultan Banten dalam rangka syiar Islam. Batu-batu itu telah dijadikan media pengikut Sultan untuk warga Banten tentantg bagaimana menghormati air untuk diminum, bagaimana menghormatyi air untuk dijadikan wudhu, dan bagaimana menjadikan air sebagai modal kehidupan.
Batu-batu berhuruf arab itu, lebarnya hanya sekitar 2 meter. Di pinggiran batu tersebut, terdapat sejumlah mata air yang deras dan bening airnya. Di lokasi itulah pula, pengunjung sering berlama-lama berendam. "Ada yang sangat yakin, jika berendam di sekitar batu quran tersebut, penyakit kulit yang ada ditubuh akan mudah disembuhkan. Ada juga yang yakin, sering berendam di kolam Cibulakan kulit akan menjadi lebih bersih karena air kolam Cibulakan mengandung unsur obat kimia yang bisa menghaluskan kulit. Ada juga yang yakin, air kolam Cibulakan bisa dijadikan media penyembuhan beragam bentuk penyakit dalam," ujar Haji Achmad dari Warung Gunung Kabupaten Lebak yang mengaku sering mengajak santri-santri pesantrennya mengaji bersama di mushollah yang ada di pinggiran kolam Cibulakan.
Haji Achmad menuturkan, sering mengajak santrinya mengaji bersama di Mushollah Cibulakan, lebih karena ingin menjelaskan banyak hal bahwa Batu Quran yang ada di kolam Cibulakan merupakan peninggalan Ki Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15. Ki Mansyur - yang juga disebut Maulana Mansyur oleh warga masyarakat Banten - memang salah seorang ulama pemberani, cerdas, piawai dalam memainkan alat-alat kesenian bernafaskan Islam. Di masa kejayaan Sultan Hasanudin, Ki Mansyur yang juga cakap dalam ilmu pertanian serta komunikasi diserahi tugas untuk menjaga kawasan Islam Banten Selatan dan berdomisili di Cikaduen. Selama masa penugasannya, Ki Mansyur mewariskan banyak ilmunya kepada warga Banten Selatan. Salah satu ilmu kesenian bernafaskan Islam yang ditinggalkannya dan hingga kini masih lestari adalah seni Rampak Bedug, kesenian tradisional yang mulanya digunakan warga Pandeglang hanya di bulan Ramadhan untuk membangunkan warga makan sahur. Kesenian itu juga digunakan sebagai alat untuk mengumpulkan massa menjelang Ki Mansyur menyampaikan pesan-pesan atau tugas kepada warga. Ki Mansyur juga mewariskan ilmu debus, kesenian yang inti sarinya bersumber dari Al-quran, untuk penyebaran Islam. Kini Ki Mansyur - bersama istrinya - bersemayan di Cikaduen. Setiap libur, terutama sekali jika Maulid Nabi Muhammad tiba, puluhan bus ukuran besar dari berbagai kota parkir di lokasi wisata penziarahan makam Ki Mansyur di Cikaduen, Pandeglang.
Setelah mengunjungi makam Ki Mansyur, para wisatawan juga kerap menyempatkan diri berendam di kolam Cibulakan. Ketika pulang, pengunjung pun membawa oleh-oleh botol berisi air dari kolam Cibulakan. Dan kegiatan itu sepertinya sudah mejadi tradisi yang berlangsung lama. Hasilnya pun menakjubkan. Karena sangat yakin, air kolam pemandian batu quran bisa dijadikan obat, banyak pengunjung yang semula menderita penyakit kulit kini sembuh.
Itulah misteri obyek wisata spiritual kolam pemandian Batu Quran Cibulakan di Banten. (Aminullah HA Noor). Sementara itu menurut penuturan warga sekitar, sejarah air Batu Qur’an berkaitan erat dengan Syekh Mansur. “Sejarahnya, sepulang dari naik haji, Syekh Mansur melihat air yang tidak pernah berhenti mengucur. Derasnya air hingga menggenangi daerah sekitar, Syekh Mansur berpikir jika tidak ditutup, maka wilayah ini akan menjadi lautan. Akhirnya beliau tutup dengan al-Qur’an. Namun al-Qur’am tersebut menjadi batu sehingga dinamakan Batu Qur’an,” tutur salah satu warga sekitar kepada NU Online beberapa waktu lalu.



Sanghyang Sira Dan Batu Quran
Kalayan dimimitian ku Bismillahirrahmanirrahiem kaula bade saeutik  cumarita perkawis sanghyang sira katut batu quran nu aya di UK hampura bilih kin dina tulisan kaula aya nu teu sesuai sareng pendapat pembaca sadayana,bilih aya nu lepat nyuhunkeun dihapunten sebab kaula jalmi biasa nu teu luput tina salah sinareng khilaf. Sanghyang sira, batu quran dan 7 sumur yang ada di ujung kulon pada perkembangannya dikaitkan erat dengan babad prabu siliwangi,kian santang ,sayyidina Ali dan beberapa tokoh lainnya,termasuk syekh mansyur cikaduen banten yang diriwayatkan membuat reflika batu quran lengkap dengan ke 7 sumurnya dicikaduen.
Disini saya takkan menceritakan ataupun mengupas tentang sejarah para leluhur yang mengiringi keberadaan batu quran tersebut karena saya tidak punya pengetahuan yang mendalam dan detail tentang beliau-beliau dan lagi sudah banyak tulisan dan artikel yang membahas riwayat perjalanan hidup para leluhur tersebut.TApi saya akan mengupas batu Quran dalam makna yang berdasarkan olah fikir saya sendiri. Dalam sejarah dan banyak tulisan diceritakan bahwa batu Quran adalah sebuah karang yang didalamnya tersimpan Alquran yang kelak pada waktunya akan dibuka oleh orang yang berhak dan pantas memilikinya(dalam banyak cerita disebutkan Alquran Itu dibawa Oleh sayyidina Ali kw untuk diserahkan kepada raden Kian Santang tapi sayangnya pada saat itu beliau tidak bisa menemuinya karena rd Kian Santang sudah pergi,sehingga Alquran itu dititipkan untuk diserahkan kpd Raden Kian santang dan disimpan dalam kotak dari karang).
Batu quran dalam pemikiran penulis sebenarnya adalah pribadi manusia yang seutuhnyn dan Alquran sendiri adalah wahyu dan kitab terakhir dari Allah SWT sebagai sumber kebenaran hakiki,dan gudang dari segala ilmu yang dijamin oleh Allah SWT akan terjaga keaslian dan kebenarannya sampai hari kiamat. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah kenapa Alquran yang konon ada di batu quran mesti tersimpan dalam batu karang yang kuat,keras dan kokoh? kenapa tidak diluar dari batu karang tersebut sehingga setiap orang yang datang bisa melihat dan membacanya? Mungkin disinilah alasan adanya sanghyang sira, sira dalam tatanan bahasa sunda berarti kepala, yang mana kepala dapat dikatakan sebagai tempat semua memory,ingatan,ilmu pengetahuan, pemikiran ide dan akal manusia berkumpul.,,,tempat mengolah semua data yang didapat dari hasil melihat(mata), mendengar (telinga )komunikasi ( mulut ), dan semua yang dilakukan anggota tubuh untuk selanjutnya ditransfer ke  dalam otak yang menghasilkan suatu gerak atau tindakan. Lalu apa kaitannya dengan batu quran ? sang hyang sira atau lebih tepatnya kepala dalam konteks pembicaraan ini dituntut untuk memikirkan makna yang terkandung dalam keberadaan batu quran dan ke 7 sumurnya… ya sirah/kepala dituntut untuk menggali .mengkaji kemudian merefleksikannya dalam kehidupan nyata.
Alquran yang menjadi tuntunan dan pedoman hidup manusia muslim ,menjadi hati dari keislamannya .sedang dalam pemikiran penulis batu quran adalah refleksi dari hati kecil yg selalu mengakui kebenaran yang hakiki ,hati kecil ini diselimuti oleh hati besar yang seringkali diselimuti hawa nafsu dan keinginan keinginan duniawi, hati besar manusia yang tidak bisa menerima kebenaran disebutkan lebih keras dari karang manapun yang ada didunia.dan kadangkala hati besar ini mengalahkan dan mengurung hati kecilnya sehingga manusia lebih mengutamakan nafsu daripada nurani dan kebenaran yang sesungguhnya.Tapi ada juga sebagian manusia yang bisa melawan keinginan keinginan dan hasrat duniawi dari hati besar itu.
Ketika orang sudah bisa mendengar kata hati dan menemukan jati diri sesungguhnya maka pada saat itu ,, menurut penulis “Sanghyang sira dalam konteks ini kepala, otak serta pemikiran, dan Batu quran yang dalam konteks ini hati nurani,semuanya menjadi satu kesatuan utuh yang akan membentuk suatu pribadi manusia sesungguhnya yang mengerti akan asal usul dan tujuan hidup didunia fana ini”.
Lalu apa kaitan dan makna dari 7 sumur yang ada disekitar Batu Quran itu ? dalam pemikiran penulis 7 sumur itu adalah simbol dari 7 lubang yang dimiliki oleh manusia yaitu
1.      Mata 
Mata bisa dikatakan titik awal dari sebuah langkah dan tindakan ,ketika mata melihat sesuatu lalu mengirimkan keotak tentang apa yang dilihatnya,kemudian otak mengirim sinyal keseluruh anggota tubuh menjadii sebuah gerak yang sinergik. Namun kadangkala mata salah dalam melihat,untuk itu  alangkah baiknya jika manusiapun menggunakan mata hatinya sehingga tidak menilai segala sesuatu berdasarkan apa yang terlihat dari luar tetapi isi yg sebenarnya.
2.      Mulut
Mulut sebagai alat berkomunikasi dimana didalamnya terdapat lidah, mulut digambarkan dalam sebuah pepatah“Mulutmu adalah harimaumu maka jagalah olehmu” sedang liidah disebutkan‘lidah lebih tajam dari pedang,lebih buas dari harimau’. Kadangkala mulutpun tidak mengatakan apa yang sesungguhnya/berdusta dengan berbagai dalih dan alasan yang seringkali bersifat duniawi.Maka dari itu mulutpun harus dibersihkan dan dijaga dari hal hal yang tidak benar seperti dusta,ghibah,fitnah dan lain lain.
3.      Hidung
Hidung sebagai indera penciuman dan untuk bernafas,namun terkadang apa yang tercium wangi oleh hidung belum tentu baik begitupun sebaliknya.
4.       Telinga
Telinga sebagai indera pendengaran ,dalam hal ini selain mendengar sesuatu yang baik telinga juga kadang mendengarkan ucapan atau pembicaraan yang buruk,untuk itu alangkah baiknya segala sesuatu yang didengar tidak dipercaya begitu saja tapi difikirkan sebelum bertindak,sebab suara dan kabar kadang kala  bohong dan menyesatkan.
5.      Pusar
Pusar berada diperut manusia,dan perut ini yang terkadang menjadi alasan keserakahan,ketamakan dan kesesatan manusia.
6 dan 7 . Qubul dan dubur
Adalah 2 tempat keluarnya kotoran dari apa yang kita makan dan minum,qubul juga lambang dari nafsu syahwat manusia.
ketujuh anggota tubuh ini harus selalu di jaga dan pelihara kebersihannya baik lahir maupun batin,dalam konteks ini “mandi di ketujuh sumur yang ada di batu quran” .  ketika ke 7 lubang itu telah dibersihkan kemudian digabungkan dengan pemikiran dan ide brilian dari sira/kepala yang berdasarkan hati nurani yang berpedoman kepada Alquran dan berpondasikan keimanan kepada Allah SWT serta bersifat silih asih silih asuh silih jaga ,maka saat itulah tercipta maung (manusia unggul ) yang mewangi  membawa kejayaan,kemajuan,kemaslahatan bagi seluruh manusia, sehingga manusia itu menjadi generasi Siliwangi yang sesungguhnya.
Mistery Terpendam - Batu Quran Sanghyang Sirah - Pandeglang
Bagi para penziarah makam atau petilasan para nenek moyang (karuhun) orang Sunda pasti tidak merasa asing dengan nama wisata Batu Quran (Cibulakan) dengan Sumur Tujuhnya (Cikoromoi) yang merupakan salah satu tempat wisata ziarah Kabupaten Pandeglang, Banten (tepatnya 20 km dari kota Pandeglang). Batu Quran ini berkaitan erat dengan nama Syekh Maulana Mansyur, seorang ulama terkenal di jaman kesultanan Banten abad ke-15. Syekh Maulana Mansyurlah yang meninggalkan warisan berupa Batu Quran tersebut. Tapi tahukah kalau yang ada di Cibulakan itu adalah replika dari Batu Quran yang ada di Sanghyang Sirah, Taman Nasional Ujung Kulon. Mungkin banyak orang yang belum mengetahui tentang sejarah Batu Quran yang sebenarnya. Sejarah Batu Quran di Sanghyang Sirah berkaitan erat dengan sejarah Sayidina Ali, Prabu Kian Santang dan Prabu Munding Wangi. Apa alasan Syekh Maulana Mansyur membuat replika Batu Quran tersebut ? Mungkin orang sudah banyak mengetahui sejarah masuk Islamnya Prabu Kian Santang yang diislam oleh Sayidina Ali ketika Prabu Kian Santang melakukan perjalanan ke jazirah Arab. Setelah masuk Islam, Prabu Kian Santang kembali ke tanah Jawa di daerah Godog Suci, Garut dimana Prabu Kian Santang mengajarkan Islam kepada pengikutnya.
Sebagai orang Islam sudah tentu harus dikhitan. Karena keterbatasan pengetahuan Prabu Kian Santang maka terjadi banyak kesalahan dalam melakukan prosedur khitan. Bukan yang ujung kulit penis yang dipotong tapi dipotong sampai ke ujung-ujungnya. Bisa bayangkan pasti banyak yang meninggal dengan kesalahan tersebut. Akhirnya Prabu Kian Santang mengutus orang untuk menemui Sayidina Ali di jazirah Arab dengan tujuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang baik dan benar tentang Khitan secara Islami. Kemudian Sayidina Ali dan orang suruhan Prabu Kian Santang pergi ke Godog Suci untuk memberikan pelajaran cara khitan dan beberapa pengetahuan tentang Islam. Disamping itu Sayidinna Ali ingin menyerahkan Kitab Suci Al Qur’an. Sebagai orang Muslim maka sudah pasti harus berpatokan kepada Al Quran. Karena sejak bertemu pertama kali Sayidina Ali belum pernah menyerahkan kitab Al Quran kepada Prabu Kian Santang.Ternyata sesampainya di Godog Suci, Prabu Kian Santang telah meninggalkan tempat tersebut dan pergi menemui Prabu Munding Wangi yang telah tilem di Sanghyang Sirah, Ujung Kulon untuk memberitahukan kepada ayahandanya kalau beliau telah menetapkan hati sebagai seorang muslim. Mendengar berita tersebut Sayidina Ali mengejar ke Sanghyang Sirah sebagai bentuk amanah dan perhatian agar Prabu Kian Santang mempunyai pegangan yang kuat berupa Kitab Al Quran. Masak sebagai muslim tidak memiliki Kitab Al Quran. Konon di batu karang ini Sayidina Ali melakukan Sholat.
Apa yang terjadi kemudian ? Ketika sampai di Sanghyang Sirah, Sayidina Ali hanya bisa bertemu Prabu Munding Wangi. Prabu Munding Wangi mengatakan kepada Sayidina Ali kalau Prabu Kian Santang telah pergi lagi dan menghilang entah kemana setelah mendapat restu dari ayahandanya. Prabu Kian Santang adalahg satu-satunya anak Prabu Munding Wangi yang menjadi raja tapi tidak pernah memerintah kerajaan karena hidupnya didedikasikan untuk penyebaran aga Islam. Akhirnya Sayidina Ali menyerahkan dan menitipkan kitab Al Quran untuk disimpan dan berharap dapat diberikan kepada Prabu Kian Santang apabila berkunjung ke Sanghyang Sirah. Prabu Munding Wangi menerima kitab Al Quran dengan lapang dada dan disimpannya di dalam kotak batu bulat. Kemudian kotak batu berisi Al Quran tersebut ditaruh di tengah batu karang yang dikelilingi oleh air kolam yang sumber airnya berasal dari tujuh sumber mata air Selanjutnya Sayidina Ali mohon diri tapi sebelumnya sholat terlebih dahulu di atas batu karang yang sekarang sering disebut Masjid Syaidinna Ali. Dengan kuasa Allah SWT, Sayidina Ali langsung menghilang entah kemana. Mungkin kembali ke jazirah Arab.
Peristiwa Batu Quran ini beberapa abad kemudian diketahui oleh Syekh Maulana Mansyur berdarkan ilham yang didapatnya dari hasil tirakat. Segeralah Syekh Maulana Mansyur berangkat ke Sanghyang Sirah. Betapa kagumnya Syekh Maulana Mansyur melihat kebesaran Allah lewat mukjizat Batu Quran dimana dari air kolam yang bening terlihat dengan jelas tulisan batu karang yanng menyerupai tulisan Quran. Sayangnya saat ini air kolam sudah keruh dan sulit untuk melihat batu karang dengan tulisan Quran karena banyaknya endapan di dasar kolam dan banyaknya penziarah yang membuang pakaian bekas mandiannya ke Batu Quran. Karena jauhnya jarak Sanghyang Sirah dan membutuhkan waktu dan energi yang luar biasa maka untuk memudahkan anak cucu ataupun umat Islam yang ingin melihat Batu Quran maka dibuatlah replika Batu Quran dengan lengkap sumur tujuhnya di Cibulakan Kabupaten Pandeglang. Saat ini saja untuk menuju Sanghyang Sirah lewat Taman Jaya membutuh waktu 2 hari satu malam dengan berjalan kaki dan membutuhkan waktu 5 jam dengan menggunakan kapal laut dari Ketapang, Sumur menuju Pantai Bidur yang dilanjutkan berjalan kaki selama hampir 1 jam menuju Sanghyang Sirah. Bisa dibayangkan berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mencapai kesana pada jamannya Syekh Maulana Mansyur.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar