Eksistensialisme Dalam Pembelajaran
1. Pengetahuan.
Teori pengetahuan eksistensialisme banyak dipengaruhi
oleh filsafat fenomenologi, suatu pandangan yang menggambarkan penampakan
benda-benda dan peristiwa-peristiwa sebagaimana benda-benda tersebut menampakan
dirinya terhadap kesadaran manusia. Pengetahuna manusia tergantung kepada
pemahamannya tentang realitas, tergantung pada interpretasi manusia terhadap
realitas, pengetahuan yang diberikan di sekolah bukan sebagai alat untuk
memperoleh pekerjaan atau karir anak, melainkan untuk dapat dijadikan alat
perkembangan dan alat pemenuhan diri. Pelajaran di sekolah akan dijadikan alat
untuk merealisasikan diri, bukan merupakan suatu disiplin yang kaku dimana anak
harus patuh dan tunduk terhadap isi pelajaran tersebut. Biarkanlah pribadi anak
berkembang untuk menemukan kebenaran-kebenaran dalam kebenaran.
2.
Nilai.
Pemahaman eksistensialisme terhadap nilai, menekankan
kebebasan dalam tindakan. Kebebasan bukan tujuan atau suatu cita-cita dalam
dirinya sendiri, melainkan merupakan suatu potensi untuk suatu tindakan.
Manusia memiliki kebebasan untuk memilih, namun menentukan pilihan-pilihan di
antara pilihan-pilihan yang terbaik adalah yang paling sukar. Berbuat akan
menghasilkan akibat, dimana seseorang harus menerima akibat-akibat tersebut
sebagai pilihannya. Kebebasan tidak pernah selesai, karena setiap akibat akan
melahirkan kebutuhan untuk pilihan berikutnya. Tindakan moral mungkin dilakukan
untuk moral itu sendiri, dan mungkin juga untuk suatu tujuan. Seseorang harus
berkemampuan untuk menciptakan tujuannya sendiri. Apabila seseorang mengambil
tujuan kelompok atau masyarakat, maka ia harus menjadikan tujuan-tujuan
tersebut sebagai miliknya, sebagai tujuan sendiri, yang harus ia capai dalam
setiap situasi. Jadi, tujuan diperoleh dalam situasi.
3.
Pendidikan.
Eksistensialisme sebagai filsafat sangat menekankan
individualitas dan pemenuhan diri secara pribadi. Setiap individu dipandang
sebagai makhluk unik, dan secara unik pula ia bertanggung jawab terhadap
nasibnya. Dalam hubungannya dengan pendidikan, Sikun Pribadi (1971)
mengemukakan bahwa eksistensialisme berhubungan erat sekali dengan pendidikan,
karena keduanya bersinggungan satu dengan yang lainnya pada masalah-masalah
yang sama, yaitu manusia, hidup, hubungan anatar manusia, hakikat kepribadian,
dan kebebasan. Pusat pembicaraan eksistensialisme adalah “keberadaan” manusia,
sedangkan pendidikan hanya dilakukan oleh manusia.
a. Tujuan pendidikan.
Tujuan pendidikan adalah untuk mendorong setiap
individu agar mampu mengembangkan semua potensinya untuk pemenuhan diri. Setiap
indivudu memiliki kebutuhan dan perhatian yang spesifik berkaitan dengan
pemenuhan dirinya, sehingga dalam menentukan kurikulum tidak ada kurikulum yang
pasti dan ditentukan berlaku secara umum.
b. Kurikulum.
Kaum eksistensialisme menilai kurikulum berdasarkan
pada apakah hal itu berkontribusi pada pencarian individu akan makna dan muncul
dalam suatu tingkatan kepekaaan personal yang disebut Greene “kebangkitan yang
luas”. Kurikulum ideal adalah kurikulum
yang memberikan para siswa kebebasan individual yang luas dan
mensyaratkan mereka untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, melaksanakan
pencarian-pencarian mereka sendiri, dan menarik kesimpulan-kesimpulan mereka
sendiri.
Menurut pandangan eksistensialisme, tidak ada satu
mata pelajaran tertentu yang lebih penting daripada yang lainnya. Mata
pelajaran merupakan materi dimana individu akan dapat menemukan dirinya dan
kesadaran akan dunianya. Mata pelajaran yang dapat memenuhi tuntutan di ats
adalah mata pelajaran IPA, sejarah, sastra, filsafat, dan seni. Bagi beberapa
anak, pelajaran yang dapat membantu untuk menemukan dirinya adalah IPA, namun
bagi yang lainnya mungkin saja bisa sejarah, filsafat, sastra, dan sebagainya.
Dengan mata-mata pelajaran tersebut, siswa akan
berkenalan dengan pandangan dan wawasan para penulis dan pemikir termasyur,
memahami hakikat manusia di dunia, memahami kebenaran dan kesalahan,
kekuasaaan, konflik, penderitaan, dan mati. Kesemuanya itu merupakan tema-tema
yang akan melibatkan siswa baik intelektual maupun emosional. Sebagai contoh
kaum eksistensialisme melihat sejarah sebagai suatu perjuangan manusia mencapai
kebebasan. Siswa harus melibatkan dirinya dalam periode apapun yang sedang ia pelajari
dan menyatukan dirinya dalam masalah-masalah kepribadian yang sedang
dipelajarinya. Sejarah yang ia pelajari harus dapat membangkitkan pikiran dan
perasaannya serta menjadi bagian dari dirinya.
Kurikulum eksistensialisme memberikan perhatian yang besar
terhadap humaniora dan seni. Karena kedua materi tersebut diperlukan agar
individu dapat mengadakan instrospeksi dan mengenalkan gambaran dirinya.
Pelajar harus didorong untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang dapat
mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan, serta memperoleh pengetahuan yang
diharapkan. Eksistensialisme menolak apa yang disebut penonton teori. Oleh
karena itu, sekolah harus mencoba membawa siswa ke dalam hidup yang sebenarnya.
c.
Proses belajar mengajar.
Menurut Kneller (1971), konsep belajar mengajar
eksistensialisme dapat diaplikasikan dari pandangan Martin Buber tentang
“dialog”. Dialog merupakan percakapan antara pribadi dengan pribadi, dimana
setiap pribadi merupakan subjek bagi yang lainnya. Menurut Buber kebanyakan
proses pendidikan merupakan paksaan. Anak dipaksa menyerah kepada kehendak
guru, atau pada pengetahuan yang tidak fpeksibel, dimna guru menjadi
penguasanya.
Selanjutnya buber mengemukakan bahwa, guru hendaknya
tidak boleh disamakan dengan seorang instruktur. Jika guru disamakan dengan
instruktur maka ia hanya akan merupakan perantara yang sederhana antara materi
pelajaran dan siswa. Seandainya ia hanya dianggap sebagai alat untuk
mentransfer pengetahuan, dan siswa akan menjadi hasil dari transfer tersebut.
Pengetahuan akan menguasai manusia, sehingga manusia akan menjadi alat dan
produk dri pengetahuan tersebut.
Dalam proses belajar mengajar, pengetahuan tidak
dilimpahkan melainkan ditawarkan. Untuk menjadikan hubungan antara guru dengan
siswa sebagai suatu dialog, maka pengetahuan yang akan diberikan kepada siswa
harus menjadi bagian dari pengalaman pribadi guru itu sendiri, sehingga guru
akan berjumpa dengan siswa sebagai pertemuan antara pribadi dengan pribadi.
Pengetahuan yang ditawarkan guru tidak merupakan suatu yang diberikan kepada
siswa yang tidak dikuasainya, melainkan merupakan suatu aspek yang telah
menjadi miliknya sendiri.
d.
Peranan guru.
Menurut pemikiran eksistensialisme, kehidupan tidak
bermakna apa-apa, dan alam semesta berlainan dengan situasi yang manusia
temukan sendiri di dalamnya. Kendatipun demikian dengan kebebasan yang kita
miliki, masing-masing dari kita harus commit sendiri pada penentuan makna bagi
kehidupan kita. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Maxine Greene (Parkay, 1998),
seorang filosof pendidikan terkenal yang karyanya didasarkan pada
eksistensialisme “kita harus mengetahui kehidupan kita, menjelaskan
situasi-situasi kita jika kita memahami dunia dari sudut pendirian bersama”.
Urusan manusia yang paling berharga yang mungkin paling bermanfaat dalam
mengangkat pencarian pribadi akan makna merupakan proses edukatif. Sekalipun
begitu, para dalam hal ini, guru harus memberikan kebebasan kepada siswa
memilih dan memberi mereka pengalaman-pengalaman yang akan membantu mereka menemukan
makna dari kehidupan mereka. Pendekatan ini berlawanan dengan keyakinan banyak
orang, tidak berarti bahwa para siswa boleh melakukan apa saja yang mereka
suka.
Guru hendaknya memberi semangat kepada siswa untuk
memikirkan dirinya dalam suatu dialog. Guru menyatakan tentang ide-ide yang
dimiliki siswa, dan mengajukan ide-ide lain, kemudian membimbing siswa untuk
memilih alternative-alternatif, sehingga siswa akan melihat bahwa kebenaran
tidak terjadi pada manusia melainkan dipilih oleh manusia. Lebih dari itu,
siswa harus menjadi factor dalam suatu drama belajar, bukan penonton. Siswa
harus belajar keras seperti gurunya.
Guru harus mampu membimbing dan mengarahkan siswa
dengan seksama sehingga siswa mampu berpikir relative dengan melalui
pertanyaan-pertanyaan. Dalam arti, guru tidak mengarahkan dan tidak member
instruksi. Guru hadir dalam kelas dengan wawasan yang luas agar betul-betul
menghasilkan diskusi tentang mata pelajaran. Diskusi merupakan metode utama
dalam pandangan eksistemsialisme. Siswa memiliki hak untuk menolak interpretasi
guru tentang pelajaran. Sekolah merupakan suatu forum dimana para siswa mampu
berdialog dengan teman-temannya, dan guru membantu menjelaskan kemajuan siswa
dalam pemenuhan dirinya.
Umpan balik adalah komponen
penting dalam interaksi. Umpan balik menyediakan pengetahuan tentang hasil dari
siswa tentang indikasi apakah sudah belajar dengan benar, atau berupa suatu
tanggapan dari orang lain yang mengindikasikan bagaimana ia belajar, apakah
sudah membaca atau belum.
Peran guru dalam hal ini dapat
digambarkan ketika guru menyajikan sejumlah teori sosial terhadap
siswa-siswanya. Dalam hal ini isi pelajaran adalah sosiologi. Para siswa akan
merasa kebingungan jika sajian-sajian teori itu tidak tepat sasaran dan tidak sesuai
dengan situasi sosial lingkungan sekitarnya. Mereka harus berpikir dua kali
untuk mengasosiasikan teori dengan kenyataan hidupnya dan selanjutnya mencerna
teori sajian guru. Keterlambatan dalam menginternalisasi materi pelajaran pun
terjadi. Konsep siswa baru pada tahap asosiasi, tetapi waktu pelajarannya
terlanjur selesai. Siswa enggan melanjutkan hal itu lagi karena telah terjaring limit waktu dan harus beralih ke
mata pelajaran yang lain.
Sekurang-kurangnya ada tiga
masalah pokok yang melatarbelakangi keengganan siswa untuk mempelajari
sosiologi, dan tidak terlepas dari isi pelajaran itu sendiri. Pertama, masalah teknik pembelajaran
yang tidak membutuhkan motivasi siswa. Seharusnya proses pembelajaran itu dapat
memacu keingintahuan siswa untuk membedah masalah-masalah seputar lingkungan
sosialnya sekaligus dapat membentuk opini pribadi terhadap masalah-masalah
tersebut. Disini, mereka bukan lagi dianggap kertas kosong atau pribadi yang
menerima secara pasif, pribadi yang tidak mengetahui apa-apa, melainkan pribadi
yang telah berinteraksi dengan lingkungan dan berhak untuk mengkonstruksi
pengetahuannya sendiri. Kedua,
eksistensi guru bukan sebagai fasilitator yang membelajarkan siswa, melainkan
pribadi yang mengajar atau menggurui siswa. Kalau hal ini menjadi prioritas
dengan pembelajaran, maka kesan negatif yang bisa mematikan kreatifitas siswa
pun timbul. Peran aktif siswa dalam mengeksplorasi dan mengkonstruksi
pengetahuannya sangat diutamakan. Guru hanya memfasilitasi siswa guna mengikuti
pola-pola kognitif dan memperlihatkan konsep pengetahuannya itu dapat berlaku
benar untuk setiap keadaan. Ketiga,
penyampaian pesan pembelajaran dengan media yang kurang interaktif dan
atraktif. Yang diharapkan dari siwa adalah menyenangi pelajaran, merasa
membutuhkan ilmu itu serta dapat melaksanakan pesan pembelajaran. Siswa dapat
menterjemahkan isi pesan itu kedalam ranah-ranah kognitif karena dari situlah
sumber kompetensi baginya dan haluan evaluasi bagi guru siswa dapat memilih
keahlian afektif dan psikomotorik yang bisa diukur.
Kesimpulan
Eksistensialime menekankan pada keberadaan individu
manusia yang ditunjukkan melalui kebebsan Individu dalam membuat sebuah pilihan
atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan tanggung jawabnya dimasa depan.
Kebebasan ini ada batasnya, adapun batasnya adalah kebebasan Individu lain,
sehingga dalam kebebsan ini tidak terjadi benturan kebebasan dengan kebebsan
individu satu dengan individu lain.
Dalam dunia pendidikan Eksistensialisme memberikan
kebebasan bagi individu untuk menentukan tujuan pendidikan yang ia tempuh.
Berkaitan dengan kurikulum individu manusia memiliki kebebsan bahawa kurikulum
harus sesuai dengan kebutuhan Individu dan bukan Individu yang menyesuaikan
dengan kurikulum. Dalam kegiatan pembelajaran guru berperan sebagai media dan
fasilitator dalam membantu dan membimbing siswa dalam memenejemen kebebasannya
agar tidak berbenturan dengan kebebasan orang lain. Sedangkan siswa dalam kegiatan belajar
mengajar memiliki kebebasan untuk memaknai atau merekonstruksi suatu kebenaran
dalam ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses belajar shingga hasil dari
proses belajar tidak bersifat kaku.
DAFTAR
PUSTAKA
Iman Barnadib. Edt.Hermawan Hastho
Nugroho. Filsafat Pendidikan.
Yogyakarta: Adicita Karya Nusa. 2002
Eksistensialisme, dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Eksistensialisme
Tidak ada komentar:
Posting Komentar