Jumat, 17 April 2015

Tujuan Kurikulum



Tujuan berhubungan dengan arah atau hasil yang diharapkan. Dalam skala makro, rumusan tujuan kurikulum erat kaitannya dengan filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat. Bahkan, rumusan tujuan yang menggambarkan suatu masyarakat yang di cita-citakan, misalkan, filsafat atau sistem nilai yang dianut masyarakat Indonesia adalah pancasila, maka tujuan yang diharapkan tercapai oleh suatu kurikulum adalah terbentuknya masyarakat yang pancasilais. Dalam skala mikro, tujuan kurikulum berhubungan dengan misi dan visi sekolah serta tujuan yang lebih sempit, seperti tujuan setiap mata pelajaran dan tujuan proses pembelajaran. Untuk memahami tujuan pendidikan John Dewey (1916) membandingkan antara hasil pendidikan dan tujuan pendidikan.
Tujuan  dalam  kurikulum  atau  pembelajaran  memegang  peranan  penting,  yaitu mengarahkan semua kegiatan pembelajaran dan mewarnai komponen-komponen kurikulum lainnya.  Tujuan  kurikulum  menurut  Sukmadinata  (1999:  103)  dirumuskan  berdasarkan: pertama,  perkembangan  tuntutan,  kebutuhan,  dan  kondisi  masyarakat;  dan  kedua,  tujuan didasari oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutamafalsafah negara.
Kompetensi  adalah  perpaduan  dari  pengetahuan,  keterampilan,  nilai,  dan  sikap yang direfleksikan  dalam  kebiasaan  berpikir  dan  bertindak  (Sanjaya,  2009:  131).  Setiap kompetensi mengandung beberapa aspek sebagai tujuan yang akan dicapai, yaitu:      
a.       Pengetahuan (knowledge), yaitu kemampuan bidang kognitif pada peserta didik.
b.      Pemahaman  (understanding),  yaitu  kedalaman  pengetahuan  yang  dimiliki  ole setiap individu.
c.       Kemahiran (skill), yaitu kemampuan individu untuk melaksanakan  secara praktik tentang tugas yang dibebankan kepadanya.
d.      Nilai (value), yaitu norma-norma yang bersifat didaktik bagi peserta didik.
e.       Sikap (attitude), yaitu pandangan individu terhadap sesuatu.
f.       Minat  (interest),  yaitu  kecenderungan  individu  untuk  melakukan  sesuatu.  Minat merupakan  aspek  yang  dapat  menentukan  motivasi  seseorang  melakukan  suatu aktivitas.
Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan dari pendidikan adalah penguasaan diri, sebab disinilah pendidikan memanusiakan manusia (humanisasi). Penguasaan diri merupakan langkah yang dituju untuk tercapainya pendidikan yang memanusiawikan manusia. Ketika peserta didik mampu menguasai dirinya, maka mereka akan mampu untuk menentukan sikapnya. Dengan demikian akan tumbuh sikap yang mandiri dan dewasa. Beliau juga menunjukkan bahwa tujuan diselenggarakannya pendidikan adalah membantu peserta didik menjadi manusia yang merdeka. Menjadi manusia yang merdeka berarti tidak hidup terperintah, berdiri tegak dengan kekuatan sendiri, dan cakap mengatur hidupnya dengan tertib. Dengan kata lain, pendidikan menjadikan seseorang mudah diatur, tetapi tidak dapat disetir.
Tujuan selalu berkaitan dengan hasil, tetapi tujuan lebih merupakan kegiatan yang mengandung proses.tujuan menampilkan aktivitas yang teratur dan pada akhirnya tujuan akan berdampak pada hasil.
Karakteristik tujuan pendidikan yang baik menurut Dewey (1916) :
1)        Tujuan pendidikan harus berupa kegiatan dan kebutuhan intrinsik
2)        Tujuan pendidikan harus bias di capai, untuk itu tujuan harus bersifat fleksibel dan        mengndung pengalaman belajar
3)        Tujuan pndidikan harus merepresentasikan kegiatan.
Tujuan kurikulum di bagi menjadi empat yaitu: Pertama, Tujuan Pendidikan Nasional (TPN), Kedua, Tujuan Institutional (TI), Ketiga, Tujuan Kurikuler (TK), Keempat, Tujuan Pembelajaran atau Instruksional (TP). Pengembangan tujuan kurikulum merupakan hal penting yang harus dilakukan dalam proses pengembangan kurikulum, sebab tujuan erat kaitannya dengan arah dan sasaran yang harus dicapai oleh setiap upaya pendidikan. Melalui tujuan yang jelas, maka dapat membantu para pengembang kurikulum dalam mendesain model kurikulum yang dapat digunakan, serta sebagai kontrol dalam menentukan batas-batas dan kualitas pembelajaran.
Bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus di rumuskan dapat di golongkan ke dalam 3 klasifikasi atau 3 domain (bidang) yaitu domain kognitif, efektif. Psikomotor.
1)      Tujuan Pendidikan Nasional
Tujuan Pedidikan Nasional adalah tujuan yang bersifat paling umum dan merupakan  sasaran  yang  harus  dijadikan  pedoman  oleh  setiap  usaha pendidikan. Tujuan pendidikan umum biasanya dirumuskan dalam bentuk perilaku  yang  ideal  sesuai  dengan  pandangan  hidup  dan  filsafat  suatu bangsa  yang  dirumuskan  oleh  pemerintah  dalam  bentuk  undan –undang. Secara jelas tujuan pendidikan nasional yang bersumber dari system nilai pancasila  dirumuskan  dalam  UU  No.  20  Tahun  2003  Pasal  3,  bahwa pendidikan  nasional  berfungsi  mengembangkan  kemampuan  dan  bentuk watak  serta  peradaban  bangsa  yang  bermartabat  dalam  rangka mencerdaskan  kehudupan  bangsa,  bertujuan  untuk  berkembangnya potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada  Tuhan  YME,  berakhlak  mulia,  sehat,  berilmu,  cakap,  kreatif, mandiri,  dan  menjadi  warga  Negara  yang  demokratis  serta  bertanggung jawab.


2)   Tujuan Institusional
Tujuan Inernasional adalah tujuan yang harus dicapai oleh setip lembaga pendidikan.  Tujuan  institusional  merupan  tujuan  antara  untuk  mencapai tujuan  umum  yang  dirumuskan  dalam  bentuk  kompetensi  lulusan  setiap jenjang  pendidikan,  misalnya  standar  kompetensi  pendidikan  dasar, menengah, kejuruan, dan jejnjang pendidikan tinggi.
3)   Tujuan  Kurikuler 
Tujuan Kurikuler adalah  tujuan  yang  harus  dicapai  oleh  setiap  bidang setudi  atau  mata  pelajaran.  Tujuan  kurikuler  juga  pada  dasarnya merupakan  tujuan  antara  untuk  mencapai  tujuan  lembaga  pendidikan. Dengan  demikian,  setiap  tujuan  kurikuler  harus  dpat  mendukung  dan diarahkan untuk mencapai tujuan institusional.
4)   Tujuan  Pembelajaran
Tujuan Pembelajaran  merupakn  bagian  dari  tujuan  kurikuler, dapat didefinisikan  sebagai  kemampuan  yang  harus  dimiliki  oleh  anak  didik setelah mereka mempelajari bahasan tertentu dalam bidang studi tertentu dalam  satu  kali  pertemuan.  Karena  hanya  guru  yang  memahami  kondisi lapangan, termasuk memahami karakteristik siswa yang akan melakukan pembelajaran  disuatu  sekolah,  maka  menjabarkan  tujuan  pembelajaran adalah tugas guru.
Sebagai implikasi bagi penyelenggara pendidikan, baik formal maupun nonformal, dalam melaksanakan, membina dan mengembangkan program pendidikan, maka nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan Tujuan Pendidikan Nasional tersebut harus menjadi acuan yang mendasardalam mewujudkan praktik pendidikan, sehingga menghasilkan peserta didik yang beriman dan bertakwa, berilmu dan beramal dalam situasi yang kondusif.
Menurut  Bloom,  dalam  bukunya  yang  berjudul   Taxonomy  of   Educational Objectives yang terbit pada tahun 1965, bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus  dirumuskan  dapat  digolongkan  kedalam  3  klasifikasi  atau  3  domain  ( bidang ), yaitu domain kognitif, afektif dan psikomotor.
a.  Domain Kognitif
Domain  Kognitif  adalah  tujuan  pendidikan  yang  berhubungan  dengan kemampuan  intelektual  atau  kemampuan  berfikir  seperti  kemampuan mengingat  dan  kemampuan  memecahkan  masalah.  Domain  kognitif menurut Bloom terdiri dari 6 tingkatan yaitu :
o  Pengetahuan (Knowledge); adalah  kemampuan  mengingat  dan kemampuan  mengingkapkan  kembali  informasi  yang  sudah dipelajarinya  (recall).  Kemapuan  pengetahuan  ini  merupakan kemampuan  taraf  yang  paling  rendah.  Kemampuan  dalam  bidang kemampuan ini dapat berupa : Pertama, pengetahuan tentang sesuatu yang  khusus  ;  pengetahuan  tentang  fakta.  Pengetahuan  mengingat fakta  smacam  ini  sangat  bermanfaat  untuk  mencapai  tujuan -tujuan yang  lebih  tinggi.  Kedua,  pengetahuan  tentang  cara/  prosedur  atau cara suatu proses tertentu.
o  Pemahaman (comprehension); adalah  kemampuan  untuk  memahami  suatu  objek  atau subjek  pembelajaran.  Kemampuan  untuk  memahami  akan  mungkin terjadi manakala didahului oleh sejumlak pengetahuan (knowledge). Oleh  sebab  itu,  pemahaman  lebih  tinggi  ditingkatkanya  dari pengetahuan.  Pemahaman  bukan  hanya  sekedar  mengingat  fakta, tetapi  berkenaan  dengan  kemampuan  menjelaskan,  menerangkan, menafsirkan,  atau  kemampuan  mengankap  makna  atau  arti  suatu konsep.  Kemampuan  pemahaman  ini  bisa  merupakan  kemampuan menerjemahkan,  menafsirkan  ataupun  kemampuan  ekstrapolasi. Kemampuan  menjelaskan  yakni  kesanggupan  untuk  menjelaskan makna  yang  terkandung  dalam  sesuatu,  pemahaman  menafsirkan sesuatu, dan pemahaman ekstrapolasi.

o  Penerapan (application); adalah  kemampuan  untuk  menggunakan  konsep,  prinsip, prosedur  ada  situasi  tertentu.  Kemampuan  menerapkan  merupakan tujuan  kognitif  yang  lebih  tinggi  tingkatannya  dibandingkan  dengan pengetahuan  dan  pemahaman.  Tujuan  ini  berhubungan  dengan kemampuan  mengamplikasikan  suatu  bahan  pelajaran  yang  sudah dipelajari seperti teori, rumus-rumus, dalil, hokum,konsep, ide dan lain sebagainya kedalam sesuatu yang lebih konkrit.
o  Analisis; adalah kemampuan menguraikan atau memecah suatu bahan pelajaran  kedalam  bagian-bagian  atau  unsur-unsur  serta  hubungn antar bagian bahan itu. Analisis merupakan tujuan pembelajaran yang komplek yang hanya mungkin dipahami dan dikuasai oleh siswa yang telah  dapat  menguasai  kemampuan  memahami  dan  menerapkan. Analisis  berhubungan  dengan  kemampuan  nalar.  Oleh  karena  itu biasanya  analisis  diperuntukan  bagi  pencapaian  tujuan  pembelajaran untuk siswa-siswa tingkat atas.
o  Sintesis; adalah  kemampuan  untuk  menghimpun  bagian-bagian kedalam  suatu  keseluruhan  yang  bermakna,  seperti  merumuskan tema, rencana atau meliaht hubungan abstrak dari berbag ai informasi yang  tersedia.  Sintesis  merupakan  kebalikan  dari  analisis.  Kalau analisis  mampu  menguraikan  menjadi  bagian-bagian,  maka  sintesis adalah  kemampuan  menyatukan  unsure  atau  bagian-bagian  menjadi sesuatu  yang  utuh.  Kemampuan  menganalisis  dan  sintesis, merupakan  kemampuan  dasar  untuk  dapat  mengembangkan  atau menciptakan inovasi dan kreasi baru.
o  Evaluasi; adalah tujuan yang paling tinggi dalam doain kognitif tujuan ini berkenaan dengan kemampuan  membuat penilaian terhadap sesuatu berdasarkan  maksud  atau  kriteria  tertentu.  Dalam  tujuan  ini, terkandung  pula  kemampuan  untuk  memberikan  suatu  keputusan dengan berbagi pertimbangan dan ukuran-ukuran tertentu. Untik dapat memiliki  kemampuan  memberikan  penilaian  dibutuhkan  kemampuankemampuan sebelumnya.
Tiga tingkatan tujuan kognitif yang pertama, yaitu pengetahuan, pemahaman, dan  aplikasi,  dikatakan  sebagai  tujuan  kognitif  tingkat  rendah  ;  sedangkan  tiga tingkatan selanjutnya yaitu analisis, sintesis, dan evaluasi dikatakan sebagai tujuan kognitif tingkat tinggi.
a.    Domain afektif
Domain afektif berkenaan dengan sikap, nilai-nilai, dan apresiasi. Domain ini  merupakan  bidang  tujuan  pendidikan  kelanjutan  dari  domain  kognitif. Artinya,  seseorang  hanya  akan  memiliki  sikap  tertentu  terhadap   suatu objek manakala telah memiliki kemampuan kognitif tingkat tinggi. Menurut Krathwohl   dan  kawan-kawan  (  1964  ),  dalam  bukunya  Taxonomi  of Educational  Objectives  :  Affective  Domain,  Domain  afektif  memiliki tingkatan yaitu :
§  Penerimaan; adalah  sikap  kesadaran  atau  kepekaan  seseorang terhadap  gejala,  kondisi,  keadaan  atau  suatu  masalah.  Seseorang memiliki perhatian yang positif terhadap gejala-gejala tertentu manakal mereka  memiliki  kesadaran  tentang gejala, kondisi atau  kondisi  yang ada.  Kemudian  mereka  juga  menunjukan  kerelaan  untuk  menerima, bersedia untuk memerhatikan gejala, atau kondisi yang diamatinya itu. Akhirnya,  mereka  memiliki  kemauan  untuk  mengarahkan  segala perhatiannya terhadap objek itu.
§  Merspon atau  menanggapi;  ditunjukan  oleh  kemauan  untuk berpartisipasi  aktif  dalam  kegiatan  tertentu  seperti  kemauan  untuk menyelesaikan  tugas  tepat  waktu,  kemauan  untuk  mengikuti  diskusi, kemauan  untuk  membantu  orang  lain  dan  sebagainya.  Respon biasanya  diawali  dengan  diam-diam,  kemudian dilakukan  dengan sungguh-sungguh  dan  kesadaran,  setelah  itu  baru  dilakukan  dengan penuh kegembiraan dan kepuasan.
§  Menghargai; Tujuan  ini  berkenaan  dengan  kemauan  untuj  memberi  penilaian  atau kepercayaan  kepada  gejala  atau  suatu  objek  tertentu.  Menghargai terdiri  dari  penerimaan  suatu  nilai  dengan  keyakinan  tertentu  seperti menerima  adanya  keasan  atau  persamaan  hak  antara  laki-laki  dan perempuan,  mengutamakan  suatu  nilai  seperti  memiliki  keyakinan akan kebenaran suatu ajaran tertentu, serta komitmen akan kebenaran yang diyakininya dengan aktivitas.
§  Mengorganisas; Tujuan  yang  berhubungan  dengan  organisasi  ini  berkenaan  dengan pengembangan  nilai  kedalam  system  organisai  tertentu,  termasuk hubungan antar nilai dan tingkat prioritas nilai-nilai itu. Tujuan ini terdiri dari  mengkonseptualisasikan  nilai,  yaitu  memahami  insur-unsur abstrak  dari  suatu  nilai  yang  dimiliki  dengan  nilai -nilai  yang  datang kemudian;  serta  mengorganisasi  suatu  system  nilai,  yaitu nengembangkan  suatu  system  nilai  yang  saling  berhubungan  yang konsisten dan bulat dan termasuk nilai-nilai yang lepas-lepas.
§  Karakterisasi Nilai; Tujuan  ini  adalah  mengadakan  sintesis  dan  internalisasi  system  nilai dengan  pengkajian  secara  mendalam  ,  sehingga  nilai -nilai  yang dibangunkannya  itu  dijadikan  pandangan  (  falsafah  )  hidup  serta dijadikan pedoman dalam bertindak dan berperilaku.
c.  Domain Psikomotor
Domain psikomotor adalah tujuan yang berhubungan dengan kemampuan keterampilan  atau  skill  seseorang.  Ada  tujuh  tingkatan  yang  termasuk kedalam domain ini :
1) Persepsi (Perception); merupanan kemampuan seseorang dalam memandang sesuatu yang  dipermasalahkan.  Persepsi  pada  dasarnya  hanya  mungkin  dimiliki oleh seseorang sesuai dengan sikapnya. Kesiapan berhubungan dengan kesediaan seseorng untuk melatih diri tentang keterampilan tertentu yang direfleksikan dengan perilaku-perilaku khusus.
2)  Kesiapan (Set)
3)  Meniru (Imitation); adalah  kemampuan  seseorang  dalam  mempralktekan  dalam gerakan-gerakan  sesuai  dengan  contoh  yang  diamatinya.  Kemampuan meniru tidak selamanya diikuti oleh pemahaman tentang pentingnya serta makna gerakan yang dilakukannya.
4)  Membiasakan (habitual); merupakan kemampuan yang didorong oleh kesadaran  dirinya  walaupun  gerakan  yang  dilakukannya  masih  seperti pola yang ada.
5)  Menyesuaikan (Adaptation); gerakan atau kemampuan itu sudah disesuaikan dengan keadaan situasi dan kondisi yang ada.
6)  Menciptakan (Organization); yakni kemapuan  seseorang  untuk  berkreasi  dan mencipta  sendiri  suatu  karya. Tahap  ini  merupakan  tahap  puncak  dari  keseluruhan  kemampuan,  yang tergambardari kemampuanya menghasilkan sesuatu yang baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar