Material atau bahan
adalah zat atau benda yang dari mana sesuatu dapat dibuat darinya, atau barang yang
dibutuhkan untuk membuat sesuatu. Bahan
kadangkala digunakan untuk menunjuk ke pakaian atau kain. Banyak pendapat mengenai pengertian bahan bacaan dan bahan pustaka.
Masing – masing pengertian mempunyai perspektif sendiri – sendiri. Kedua
istilah ini terdiri dari 2 suku kata, yaitu bahan dan bacaan, serta bahan dan
pustaka. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Bahan diartikan segala sesuatu yang
dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu. Sedangkan bacaan memiliki
arti buku dsb. yang dibaca. Sedangkan pustaka mempunyai arti
buku. Isi adalah sesuatu yang ada (termuat, terkandung, dan
sebagainya) di dalam suatu benda dan sebagainya. Apabila kita bertanya apa
sesungguhnya yang kita maksudkan dengan perkataan tertentu, maka yang kita
tanyakan ialah isi pengertian atau perkataan itu, seperti kata “pegawai negeri”,
jika kita selidiki arti atau isinya maka ada berbagai unsur yang terkandung
didalamnya.
Isi kurikulum berkenaan dengan pengetahuan
ilmiah dan pengalaman belajar yang harus diberikan kepada siswa untuk dapat
mencapai tujuan pendidikan. Dalam menentukan isi kurikulum baik yang berkenaan
dengan pengetahuan ilmiah maupun pengalaman belajar disesuaikan dengan tingkat
dan jenjang pendidikan, perkembangan yang terjadi dalam masyarakat menyangkut
tuntutan dan kebutuhan masyarakat, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Gall
(1981) mendefinisikan bahan kurikulum sebagai: Curriculum materials are
physical entities, representational in nature, used to facilitate the learning process.jadi, menurut Gall bahan kurikulum
adalah sesuatu yang mempunyai sifat fisik, sifat mewakili dan dipergunakan
untuk mempermudah proses belajar.
Entity fisek (physical entities) adalah bahan kurikulum itu merupakan
objek yang dapat diobservasi, bukan hanya berupa ide-ide atau konsep. Dengan
demikian, tujuan pengajaran tidak termasuk bahan kurikulum karena ia tak dapat
dilihat. Buku-buku teks dan lain-lain yang sejenis yang merupakan media cetak,
film, program rekama, dan lain-lain adalah contoh-contoh bahan kurikulum yang
dapat diobservasi. Bahan
yang bersifat representational dimaksudkan bahan kurikulum yang dapat
menyampaikan sesuatu yang lain lebih dari sekedar barangnya itu sendiri. Bahan
kurikulum yang representational ini perlu dibedakan dengan sarana kurikulum
seperti alat-alat tulis, model, organisme biologis, dan sebagainya walau yang
disebut terakhir itu juga memberikan fasilitas belajar. Karakteristik bahan kurikulum yang lain adalah
bahai itu secara sungguh-sungguh memberikan fasilitas belajar. Jadi, bahan
tersebut memang secara sengaja dirancang dan dibuat untuk maksud atau
mempermudah pengajaran.
1.
Bahan
Ajar Atau Learning Material
Bahan
Ajar atau learning material, merupakan materi ajar yang dikemas sebagai bahan
untuk disajikan dalam proses pembelajaran. Bahan pembelajaran dalam
penyajiannya berupa deskripsi yakni berisi tentang fakta-fakta dan
prinsip-prinsip, norma yakni berkaitan dengan aturan, nilai dan sikap, serta
seperangkat tindakan/keterampilan motorik. Dengan demikian, bahan pembelajaran
pada dasarnya berisi tentang pengetahuan, nilai, sikap, tindakan dan
keterampilan yang berisi pesan, informasi, dan ilustrasi berupa fakta, konsep,
prinsip, dan proses yang terkait dengan pokok bahasan tertentu yang diarahkan
untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Dilihat
dari aspek fungsi, bahan pembelajaran dapat dibedakan menjadi dua kelompok,
yaitu sebagai sumber belajar yang dimanfaatkan secara langsung dan sebagai
sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung. Sebagai sumber belajar
yang dimanfaatkan langsung, bahan pembelajaran merupakan bahan ajar utama yang
menjadi rujukan wajib dalam pembelajaran. Contohnya adalah buku teks, modul,
handout, dan bahan-bahan panduan utama lainnya. Bahan pembelajaran dikembangkan
mengacu pada kurikulum yang berlaku, khususnya yang terkait dengan tujuan dan
materi kurikulum seperti kompetensi, standar materi dan indikator pencapaian.
Sebagai
sumber belajar yang dimanfaatkan secara tidak langsung, bahan pembelajaran
merupakan bahan penunjang yang berfungsi sebagai pelengkap. Contohnya adalah
buku bacaan, majalah, program video, leaflet, poster, dan komik pengajaran.
Bahan pembelajaran ini pada umumnya disusun di luar lingkup materi kurikulum,
tetapi memiliki keterkaitan yang erat dengan tujuan utamanya yaitu memberikan
pendalaman dan pengayaan bagi siswa.
Bahan
ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis
besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari
siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Secara
terperinci, jenis-jenis materi pembelajaran terdiri dari pengetahuan (fakta,
konsep, prinsip, prosedur), keterampilan, dan sikap atau nilai.
Termasuk
jenis materi fakta adalah nama-nama obyek, peristiwa sejarah, lambang, nama
tempat, nama orang, dsb. (Ibu kota Negara RI adalah Jakart; Negara RI merdeka
pada tanggal 17 Agustus 1945). Termasuk materi konsep adalah pengertian,
definisi, ciri khusus, komponen atau bagian suatu obyek (Contoh kursi adalah
tempat duduk berkaki empat, ada sandaran dan lengan-lengannya).
2.
Fungsi
Bahan Ajar
Fungsi bahan ajar, yaitu:
·
Memfasilitasi
kegiatan pembelajaran mandiri peserta didik, baik tentang subtansi maupun
tentang penyajiannya yang memasukkan sejumlah prinsip yang dapat meningkatkan
kompetensi yang hendak dimiliki peserta didik.
·
Bagi
pengajar, bahan ajar berfungsi untuk pengembangan kompetensi peserta didik,
sebab melalui buku ajar, pengajar memiliki kebebasan dalam memiliki,
mengembangkan dan menyajikan materi sejalan dengan prinsip-prinsip
intsruksional untuk mencapai tujuan pembelajaran.
3.
Prinsip-prinsip
Pemilihan Bahan Ajar
§ Learner centered principle, yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik jika mereka diperlakukan sebagai individu dengan kebutuhan dan
ketertarikan mereka sendiri (needs and interest).
§ Active involvement principle, yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik jika kepada mereka diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dalam
komunikasi dengan menggunakan bahasa itu dalam aktivitas yang bervariasi.
§ Immerson principle, yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik jika aktivitas komunikatif yang diberikan kepada mereka dapat
dipahami (comprehensible) dan relevan dengan kebutuhan dan ketertarikan mereka.
§ Focusing principle yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik jika mereka fokus pada bentuk dan ketrampilan bahasa yang
bervariasi, dan strategi belajar yang bervariasai untuk mendukung proses
pemerolehan bahasa.
§ Sociocultural principle yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik jika mereka menyadari tentang peran, fungsi, dan sifat bahasa itu.
§ Awarnes principle, yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik apabila mereka menyadari peran dan sifat bahasa itu sendiri.
§ Assesment principle, yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik jika mereka diberikan umpan balik yang sesuai tentang perkembangan
yang mereka capai
§ Responsibility principle, yaitu siswa akan belajar bahasa
dengan baik jika mereka diberikan kesempatan untuk mengatur pembelajaran mereka
sendiri
4.
Prinsip-prinsip
Penyusunan Bahan Ajar
Mempertimbangkan
karakter siswa. Berhubungan dengan isu-isu seperti kesesuaian tingkat kesulitan
bahan ajar dengan tingkat keterampilan berbahasa siswa, bagaimana bahan ajar
dapat menantang siswa tanpa membuat mereka frustasi, dan bagaimana bahan ajar
dapat mengakomodasi kebutuhan dan ketertarikan siswa. Mempertimbangkan tujuan
pembelajaran. Pertimbangan ini menyangkut bagaimana bahan ajar mendukung
pencapaian kompetensi yang dituntut dalam kurikulum, meningkatkan pengetahuan
siswa, mendukung siswa bertanggung jawab atas belajarnya sendiri. Mempertimbangkan
kebutuhan dan ketertarikan guru (teacher’s needs and preferences
consideration). Berhubungan dengan isu bagaimana bahan ajar dapat
mengeksploitasi dan bukan membatasi keahlian guru. Mempertimbangkan kepraktisan
dan kelaziman (practicalities and general consideration). Berhubungan
dengan kriteria bahwa bahan ajar harus mempunyai tampilan yang imaginatif dan
menarik, ekonomis dari segi pemanfaatn waktu pemakaiannya, dan harus
memungkinkan siswa dapat aktif terlibat dalam pemakaiannya.
5.
Jenis-Jenis Bahan Ajar
Bahan
ajar jika dikelompokkan menurut jenisnya ada 4 jenis yakni bahan cetak
(material printed) seperti handout, modul, buku, lembar kerjasiswa, brosur,
foto/gambar dan model. Bahan ajar dengar seperti kaset,radio, piringan hitam
dan compact disk audio. Bahan ajar pandang denganseperti video compact disk dan
film. Bahan ajar interaktif seperti compactdisk interaktif.
6.
Peran
Bahan Pembelajaran dalam Proses Pembelajaran
1) Peran Bahan Pembelajaran Bagi Guru:
o Wawasan bagi guru untuk pemahaman substansi
secara komprehensif
o Sebagai bahan yang akan digunakan dalam
proses pembelajaran
o Mempermudah guru dalam mengorganisasikan
pembelajaran di kelas
o Mempermudah guru dalam penentuan metoda
pembelajaran yang tepat serta sesuai kebutuhan siswa
o Merupakan media pembelajaran
o Mempermudah guru dalam merencanakan penilaian
pembelajaran.
2) Peran Bahan
Pembelajaran Bagi Siswa:
o Sebagai pegangan siswa dalam penguasaan
materi pelajaran untuk mencapai kompetensi yang dicanangkan.
o Sebagai informasi atau pemberi wawasan secara
mandiri di luar yang disampaikan oleh guru di kelas.
o Sebagai media yang dapat memberikan kesan
nyata berkaitan dengan materi yang harus dikuasai.
o Sebagai motivator untuk mempelajari lebih
lanjut tentang materi tertentu.
o Mengukur keberhasilan penguasaan materi
pembelajaran secara mandiri.
3) Peran Bahan
Pembelajaran Bagi Pihak Terkait:
o Dapat mendorong pihak terkait untuk
memfasilitasi pengadaan bahan pembelajaran yang dibutuhkan guru dan murid di
sekolah.
o Dapat meberi masukan kepada guru atau
penyusun bahan pembelajaran agar bahan pembelajaran tersebut sesuai dengan
kebutuhan siswa dengan segenap lingkungannya.
o Dapat membantu dalam pemilihan dan penetapan
media serta alat pembelajaran lainnya yang mendukung keberhasilan penguasaan
bahan pembelajaran oleh siswa.
o Sebagai alat pemberian reward (penghargaan)
terhadap guru yang secara kreatif menyusun serta mengembangkan bahan
pembelajaran.
7.
Karakteristik Bahan Ajar
Suatu bahan
pembelajaran yang baik memiliki ciri-ciri tertentu. Ciri yang melekat pada
bahan ajar yang disajikan (disusun) merupakan ciri khas yang membedakan antara
bahan pembelajaran yang baik dengan bahan pembelajaran yang tidak baik. Bahan
pembelajaran yang baik memenuhi syarat substansial dan penyajian sebagai
berikut:
a.
Secara substansial bahan
pembelajaran harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1)
Sesuai dengan visi dan misi sekolah
Visi merupakan wawasan jauh ke depan yang
menunjukkan arah bagi pencapaian tujuan. Sedangkan misi merupakan gambaran
tentang apa yang seharusnya dilakukan oleh lembaga, dalam hal ini
sekolah/madrasah. Visi dan misi sekolah dalam pencapaiannya diwujudkan melalui
proses pembelajaran, sedangkan proses pembelajaran dibanguna diantaranya karena
adanya bahan pembelajaran. Oleh karena itu bahan pembelajaran yang disusun
harus sesuai dengan visi, misi, karena bahan pembelajaran itu sendiri merupakan
sarana materi yang akan disampaikan pada siswa dalam upaya mencapai visi dan
misi sekolah.
2)
Sesuai dengan kurikulum
Kurikulum yang dimaksud adalah seperangkat program
yang harus ditempuh siswa dalam penyelesaian pendidikannya. Paling tidak,
secara sempit kurikulum meliputi aspek tujuan/kompetensi, indikator hasil
materi, metoda dan penilaian yang digunakan dalam proses pembelajaran. Bahan
ajar, dalam hal ini merupakan pengembangan materi pembelajaran hendaknya
senantiasa sesuai dengan tujuan/kompetensi, materi dan indikator keberhasilan.
3)
Menganut azas ilmiah
Ilmiah yang dimaksud adalah bahan ajar tersebt
disusun dan disajikan secara sistematis (terurai dengan baik) metodologis
(sesuai dengan kaidah-kaidah penulisan).
4)
Sesuai dengan kebutuhan siswa
Bahan ajar merupakan hal yang harus dicerna dan
dikuasai siswa. Dengan demikian bahan ajar disusun semata-mata untuk
kepentingan siswa. Oleh karena itu, maka bahan ajar yang disusun hendaknya
sesuai dengan kebutuhan siswa, yaitu sesuai dengan tingkat berpikir, minat,
latar sosial budaya dimana siswa itu berada.
b.
Memenuhi kriteria penyajian, yang
meliputi:
1) Memiliki
tingkat keterbacaan yang tinggi
Bahan pembelajaran yang disusun
hendaknya memiliki derajat keterbacaan yang tinggi, dalam arti bahasa yang
disajikan menggunakan struktur kalimat dan kosa kata yang baik, bentuk kalimat
sesuai tata bahasa, dan isi pesan yang disampaikan melalui huruf, gambar, photo
dan ilustrasi lainnya memiliki kebermaknaan yang tinggi.
2) Penyajian
format dan fisik bahan pembelajaran yang menarik
Format
dan fisik bahan pembelajaran juga harus diperhatikan. Format dan fisik buku ini
berkaitan dengan tata letak (layout), penggunaan model dan ukuran huruf, warna,
gambar komposisi, kualitas dan ukuran kertas, penjilidan, dsb. Format dan fisik
bahan ajar sebenarnya merupakan tanggung jawab penerbit (bila bahan ajar
tersebut diterbitkan), tetapi sebaiknya penulis memiliki gagasan bagaimana
format dan fisik bahan ajar yang diinginkan.
8.
Hubungan
Pengembangan Kurikulum dan Penyelesaian Bahan
Pengembangan
bahan kurikulum merupakan salah satu bagian dari pengembangan kurikulum secara
keseluruhan. Adanya penggantian kurikulum yang berlaku biasanya juga
dimaksudkan untuk memajukan sekolah. Usaha memajukan sekolah itu sendiri antara
lain juga ditempuh melalui strategi memasukkan bahan-bahan pengajaran yang baru
kedalam program sekolah yang bersangkutan. Bahan pengajaran yang dimaksud harus
lebih dahulu diseleksi dan disesuaikan dengan tujuan pengajaran di sekolah itu
secara keseluruhan.
Kurikulum yang
dapat dilihat sebagai semua perencanaan pendidikan yang akan dilaksanakan untuk
mencapai sejumlah tujuan, menunjukkan bahwa hal itu berkaitan dengan maksud
utama pengembangan kurikulum, yaitu mengidentifikasi tujuan-tujuan yang lebih
luas dan yang lebih khusus pengajaran yang harus diusahakan pencapaiannya.
Perumusan tujuan
kurikulum pada umumnya didasarkan pada konsep-konsep sifat belajar, pelajar,
dan masyarakat. Mc. Neil (1977) mengemukakan adanya empat perbedaan konsep yang
mempengaruhi perkembangan kurikulum dewasa ini, yaitu pandangan humanis,
rekonstruksi sosial, teknologi instruksional, dan disiplin akademik.
Kurikulum yang
dikembangkan atas dasar pandangan hamanis misalnya, cenderung merumuskan tujuan
pendidikan dengan menekankan pada kebutuhan individual demi pertumbuhan dan
integritas personal. Tujuan pengembangan kurikulum yang lain adalah untuk
mengurutkan tujuan-tujuan pengajaran secara sistematis logis sehingga siswa
dapat mengembangkan keterampilan dan pengetahuannya secara saling berhubungan
sepanjang tahun. Aspek pengembangan kurikulum jenis ini biasanya menghasilkan
spoke (cangkupan, luas) dan urutan, struktur, pengembangan urutan, atau
organisasi urutan yang lain.
Tujuan dan
urutan kurikulum yang di khususkan, dimaksudkan untuk memudahkan
pelaksanaannya. Dalam titik ini, penyelesaian behan kurikulum yang layak harus
sudah dilibatkan (Gall). Dengan demikian ada keterpaduan antara
komponen-komponen yang dikembangkan dalam kurikulum tersebut.
Penyelesaian
kurikulum baik oleh tim pengembangan kurikulum maupun oleh guru secara
individual, harus secara cermat dilihat dari segi relevansinya dengan kurikulum
yang dikembangkan. Hal itu dapat ditempuh melalui proses pengambilan,
penganalisisan, dan penilaian bahan. Jika bahan diseleksi lepas dari
hubungannya yang lebih besar, ia akan menghasilkan sesuatu yang tidak ada
hubungannya dengan program pengajaran, dan hal itu berarti menghilangkan
kemungkinan siswa untuk menghubungkannya dengan hal-hal yang lain.
9.
Tahap-Tahap
Proses Adopsi Kurikulum
Proses adopsi
bahan kurikulum memuncak pada keputusan untuk memilih atau merekomendasikan
tentang penyeleksian terhadap seperangkat bahan yang khusus. Proses adopsi
bahan itu dapat bervariasi tergantung pada 1)
siapa yang membuat keputusan adopsi, 2)
siapa yang akan menerima keputusan itu, dan 3) sifat adopsi itu sendiri.(Gall).
Sifat keputusan
adopsi juga mempengaruhi proses penyeleksian yang dipergunakan, dan untuk itu
paling tidak terdapat tiga keputusan adopsi.
1.
Keputusan bisa berupa pemilihan suatu
produk dari sejumlah produk kurikulum. Keputusan jenis ini biasanya dibuat oleh
tim penyeleksi.
2.
Keputusan bisa berupa pemilihan suatu
produk kurikulum dengan mempertimbangkan kebaikan-kebaikan yang ada tanpa
membandingkannya dengan produk yang lain. Keputusan jenis ini boleh dilakukan
oleh seorang guru yang menjumpai suatu produk yang baru dan kemudian ingin
memanfaatkannya untuk pengajaran tambahan.
3.
Keputusan ini bisa berupa pembuatan
daftar bahan kurikulum yang disetujui. Semua bahan yang sesuai dengan kriteria
tertentu dapat dipilih untuk mengisi daftar itu. Hal itu berarti bahwa lebih
dari satu produk yang dapat dipilih oleh tim penyeleksi.
Proses
penyeleksian bahan kurikulum yang bersifat formal terdiri dari sejumlah tahap.
Gall mengemukakan ada sembilan tahap yang harus dilalui yaitu:
1. identifikasi
kebutuhan,
2. merumuskan
misi kurikulum (Spesialis media),
3. menentukan
anggaran pembiayaan,
4. membentuk
tim penyeleksi,
5. mendapatkan
susunan bahan,
6. menganalisis
bahan,
7. menilai
bahan,
8. membuat
keputusan adopsi,
9. menyebarkan,
mempergunakan, dan memonitor penggunaan.
Pembicaraan
berikut tidak akan mencangkup ke-9 tahap tersebut, melainkan ada beberapa tahap
yang sengaja ditinggalkan.
1.
Identifikasi Kebutuhan (Identify Your Needs)
Para ahli
mengidentifikasi kebutuhan (needs) sebagai ketidak sesuaian antara apa yang
menjadi kenyataan dan apa yang menjadi keinginan. Yang pertama bisa menunjuk
pada kurangnya keseluruhan bahan untuk mencapai tujuan pengajaran. Sebaliknya,
yang kedua mengacu kepada pengertian penyeleksian bahan yang memungkinkan siswa
untuk dapat mencapai tujuan pengajaran.
Pemilihan yang dilakukan oleh tim penyeleksi biasanya dilakukan dengan mendaftar bahan pengajaran yang dipergunakan yang dirasa kurang memadai, dan menilai dan menyeleksi bahan baru yang diperoleh melalui penelitian. Karakteristik bahan baru yang diinginkan harus mencerminkan tujuan (goals) dan pandangan hidup, tingkat sekolah, tingkat bacaan, skope, serta sekuen kurikulum.
Pemilihan yang dilakukan oleh tim penyeleksi biasanya dilakukan dengan mendaftar bahan pengajaran yang dipergunakan yang dirasa kurang memadai, dan menilai dan menyeleksi bahan baru yang diperoleh melalui penelitian. Karakteristik bahan baru yang diinginkan harus mencerminkan tujuan (goals) dan pandangan hidup, tingkat sekolah, tingkat bacaan, skope, serta sekuen kurikulum.
2.
Mendapatkan Bahan Kurikulum (Access to Curiculum Materials)
Proses pencarian bahan
kurikulum sering tidak terencana dan sering bersifat kesewaktuan. Para pendidik
biasanya menyadari persediaannya bahan-bahan itu melalui percakapan dengan
kawan sejawat, jurnal, profesional, seminar, penetaran, dan sebagainya. Akan
tetapi, para pendidik sering kurang menanggapi secara sungguh-sungguh karena
meresa sulit untuk mendapatkan bahan itu atau karena kurangnya informasi
bagaimana cara untuk memperolehnya.
3.
Analisis Bahan (Analyze the Meterials)
Analisis merupakan proses
memisah-misahkan suatu keseluruhan material kedalam bagian-bagian atau
komponen-komponen, dan kemudian menguji tiap begian itu serta bagaimana
kaitannya antara satu denga yang lain.
Daftar
analisis bahan itu biasanya dikelompokkan dalam empat kategori,
1. Publikasi
dan informasi
Dalam aplikasi ini kita
akan mendapatkan sejumlah informasi yang perlu dianalisis, untuk melakukan
analisis kita perlu mengajukkan pertanyaan-pertanyaan terhadap sub-ketegori
yang dimaksud.
a. Pengarang:
siapa yang menulis bahan itu, apa lembaganya, bagaimana reputasinya, apa latar
belakang profesinya , dan sebagainya.
b. Sejarah proses pembangunan dan
produk bahan: hal ini akan memberikan wawasan
tentang sifat dan maksud bahan itu.
c. Edisi:
edisi pertama dari cetakan pertama: ada berapa, berapa lama jarak tiap edisi
penerbitan, adakah perubahan bahan pada edisi yang kemudian. Tanggal dan tahun
publikasi: publikasi tanggal dan tahun yang terbaru penting, apalagi untuk
majalah atau jurnal.
d. Penerbit:
siapa penerbitnya dan siapa yang mendisrtibusikannya, dan sebagainya.
2. Kelayakan
Fisik Material
Hal ini juga
dipetimbangkan dalam membuat keputusan adopsi bahan karena buku yang
menguntungkan dalam segi fisik tak akan dibeli orang. Kelayakan fisik ini
antara lain meliputi hal-hal:
a) Komponen:
seperangkat bahan kurikulum kadang-kadang terdiri dari seperangkat komponen.
Kelengkapan dan kemudahan mendapatkan komponen-komponen tersebut aka menentukan
kelayakan bahan tersebut.
b) Daya tahan:
bagaimana daya tahan bahan itu, apakah ia awet, aman terhadap terhadap kondisi
tertentu .
c) Format media:
bagaimana wujut bahan itu, apakah media cetak, audio, film, apakah ia
dilengkapi dengan petunjuk bagaimana mempergunakannya?
d) Kualitas:
bagaimana kualitas bahan itu, jika ia berupa media cetak (misalnya) bagaimana
kualitas kertas, cara pencetakannya.
3. Isi
bahan
Isi kurikulum biasanya dianalisis dalam
pengertian bahan pengajaran atau tujuan tingkah laku, dan dan oendekatan yang
lain memandang isi dala pengertian cakupan dan urutan. Berikut akan dikemukakan
beberapa sub-bagian isi itu.
a. Pendekatan:
filsafat, nilai-nilai, dan praduga tertentu yang mempengaruhi pengembangan
bahan.
b.
Bentuk
tujuan pengajaran: keluaran belajar yang dapat dicapai
melalui bahan itu.
c. Jenis-jenis tujuan pengajaran:
klasifikasi tujuan pengajaran yang pada umumnya meliputi ranah kognitif,
efektif, dan psikomotor yang disarankan oleh Bloom (1956).
d. Orientasi masalah:
isi bahan yang berupa sasuatu yang dipelajari. Orientasi yang terlalu luas
justru menunjukkan ketidaktentuan pengetahuan.
e. Multikulturalisme:
isi yang mencerminkan perspektif dan kontribusi berbagai kelompok kultur dan
etnik.
f. Cakupan dan urutan:
luas topic dan bagaimana sajian urutannya.
4. Kelayakan
bahan untuk pengajaran
Kelayakan bahan mungkin
mempunyai nilai khusus pengajaran yang dimaksudkan untuk mempengaruhi siswa
dalam mempelajari isi.
a. Alat penilaian:
alat untuk mengukur keluaran hasil belajar siswa yang berupa tes bentuk
objektif, esai, jawaban pendek, atau tugas-tugas lain.
b. Keterpahaman:
isi bahan yang disajikan dapat dipahami oleh seluruh siswa.
c. Hubungannya dengan bahan kurikulum
yang lain: bahan yang layak sering mempunyai hubungan dengan
bahan-bahan kurikulum yang lain atau dengan kurikulum secara umum.
d. Efektivitas pengajaran:
bahan pengajaran harus melengkapi dirinya dengan bukti bahwa ia merupakan bahan
yang efektif.
e. Langkah-langkah pengajaran:
bentuk urutan aktivitas pengajaran harus disertai rasional yang menunjukkan
bahwa hal itu dapat membantu siswa untuk mencapai tujuan.
f. Sistem pengelolaan:
prosedur untuk memonitor dan mengontrol penngunaan bahan perlu disertakan dalam
perangkat bahan yang kompleks karena hal itu akan membantu guru untuk mengecek
kemajuan belajar siswa.
g. Prerekuisit:
sesuatu yang harus dimiliki siswa sebelum ia mempelajari bahan tingkat
tertentu. Prerekuisit itu biasanya berupa kemampuan atau keterampilan tingkat
tertentu yang dijadikan prasyarat sebelum siswa mempelajari bahan berikutnya.
h. Kegiatan siswa:
aktivitas apa yang diharapkan dilakukan oleh siswa dalam rangka mempelajari
bahan yang dimaksud.
i. Peran guru:
peran apa yang harus dilakukan guru dalam mempergunakan bahan itu pada situasi
pengajaran.
5. Penilaian
Bahan Kurikulum (Appraisal of Curriculum
Materials)
Penilaian terhadap
suatu bahan kurikulum dapat dilakukan melalui tiga strategi, yaitu a) memeriksa
bahan itu sendiri, b) membaca review kritik atau laporan bahan teknis dari
studi evaluasi yang dilakukan evaluator, dan c) melakukan tes lapangan terhadap
bahan (Gall).
6. Pembuatan
Keputusan Adopsi Bahan (Make an Adoption
Decision)
Pembuatan keputusan
untuk mengadopsi bahan merupakan langkah terakhir dalam proses penyeleksian
bahan. Dilaluinya langkah-langkah sebelumnya di atas secara sistematis,
dimaksudkan agar dalam pembuatan keputusan mengadopsi bahan kurikulum sebagai
bagian keseluruhan proses pengembangan kurikulum dapat dipertanggung jawabkan. Setelah
bahan adopsi ditetapkan, selesailah tugas penyaksian bahan kurikulum sekolah.
10. Penentuan Bidang Studi dan Pokok
Bahasan
Penentuan
isi program kurikulum (komponen isi) akan mencangkup dua masalah pokok. Pertama
adalah penentuan jenis-jenis bidang studi atau mata pelajaran yang harus
diajarkan, dan yang kedua adalah penentuan isi program atau pokok bahasan untuk
masing-masing bidang studi tersebut.penentuan kedua jenis isi program kurikulum
tersebut akan sangat ditentukan oleh tujuan masing-masing jenis dan tingkat
sekolah yang bersangkutan.
1.
Penentuan Jenis Bidang Studi
Bidang-bidang studi yang dipilih dan diajarkan pada
sekolah yang bertugas menyiapkan lulusannya untuk melanjutkan ke sekolah
tingkat di atasnya, tidak sama dengan bidang-bidang studi yang diajarkan pada
sekolah yang bertugas menyiapkan tamatannya untuk langsung terjun di masyarakat
kerja. Bidang-bidang studi yang diajarkan pada sekolah golongan pertama
biasanya berupa pengetahuan yang bersifat umum sebagai dasar untuk memasuki
sekolah tingkat di atasnya.
2. Menentukan
Pokok Bahasan/Bahan Pengajaran
Pokok
bahasan dan bahan pengajaran untuk tiap bidang studi menyangkut masalah apa
yang harus diajarkan dan kapan atau di kelas beberapa bahan itu diajarkan.
Dengan kata lain, dalam menentukan bahan pengajaran (isi program) itu
mencangkup masalah skope (luas bahan pengajaran) dan sekuen (urutan penyampaian
bahan pengajaran). Pemilihan masalah apa atau bahan pengajaran itu ditentukan
berdasarkan tujuan-tujuan yang telah dirumuskan, yaitu yaitu tujuan kurikuler
dan instruksional. Bahan-bahan pelajaran yang dipilih harus benar-benar
menopang tercapainya tujuan-tujuan pendidikan tersebut. Dengan demikian bahan
yang kurang atau tidak menunjang tercapainya tujuan tidak perlu diadopsi untuk
diajarkan karena ia hanya akan memberati siswa. Secara umum ada beberapa hal
yang harus dipertimbangkan dalam menentukan urutan bahan pengajaran, yaitu sebagai
berikut:
a.
Tingkat kematangan anak
Tingkat kematangan itu
akan sejalan dengan tingkat perkembangan kejiwaan anak. Pada tiap perkembangan
kejiwaan itu akan diketahuikepekaan anak tentang sesuatu.
b. Tingkat
pengalaman anak
Pengalaman yang telah
dimiliki anak inilah yang dijadikan dasar untuk memberikan
pengalaman-pengalaman edukatif lain yang lebih tinggi tingkatannya. Pemberian
bahan pelajaran yang tidak didasarkan pada tingkat pengalaman anak juga akan
berakibat kurang berhasilnya program pengajaran yang dilakukan.
c. Taraf
kesulitan
Bahan pengajaran harus disusun
berdasarkan taraf kesulitan siswa. Bahan pengajaran harus disusun dari yang
mudah ke yang lebih sulit, dari yang sederhana ke yang kompleks, dari yang
konkret ke yang abstrak, agar pemberian bahan tersebut mudah diikuti siswa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar