Minggu, 28 Desember 2014

Masjid Agung Banten



SERANG - Banten merupakan daerah di Jawa yang kaya akan wisata ziarah, di antaranya makam Syekh Mansyur di Cikaduen Pandeglang, Masjid Agung Banten Lama di Kasemen Kota Serang, hingga Makam Sultan Pangeran Sunyararas di Tanara, Kabupaten Serang-Banten. Masjid Agung Banten merupakan masjid yang sangat terkenal dan bersejarah di Banten. Masjid Agung Banten termasuk dalam wilayah Desa Banten. Masjid Agung Banten merupakan salah satu masjid tua dengan nilai sejarah yang penting di Nusantara. Dibangun pertama kali oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570 M), sekaligus sultan pertama Kasultanan Demak dan putra pertama Sunan Gunung Jati. Sultan Maulana Hasanuddin pun mempunyai seorang putra yang bernama Sultan Maulana Yusuf. Masjid ini selain sebagai pusat pengembangan Islam di Banten, juga untuk melengkapi bangunan kesultanan yang ada. Masjid Agung Banten berada di kompleks bangunan masjid di Desa Banten Lama, sekitar 10 km sebelah utara kota Serang.

Masjid Agung Banten merupakan bangunan bersejarah masa penyebaran Islam di Jawa bagian barat dan sekarang menjadi tempat favorit peziarah di Jawa. Meskipun telah berumur lebih dari 4 abad tetapi masjid ini masih berdiri kokoh dan terawat baik. Seperti juga masjid-masjid lainnya, bangunan induknya berdenah segi empat. Atap masjid ini bersusun lima dengan bagian kiri dan kanannya terdapat masing-masing serambi.  Atapnya yang bertumpuk lima berbeda dengan masjid di Jawa umumnya yang bertumpuk tiga. Atap lima tumpuk itu mempunyai makna 5 Rukun Islam. Sebenarnya dua atap teratas terlalu kecil untuk disebut atap, jadi terkesan hanya sebuah hiasan atau “mahkota” bangunan saja. Pintu masuk Masjid di sisi depan berjumlah enam yang berarti Rukun Iman. Enam pintu itu dibuat pendek agar setiap jamaah menunduk untuk merendahkan diri saat memasuki rumah Tuhan. Jumlah 24 tiang masjid menggambarkan waktu 24 jam dalam sehari.
Di serambi kiri yang merupakan bagian utara masjid terdapat makam beberapa sultan Banten dan keluarganya, seperti makam Maulana Hasanuddin dan isterinya, Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Abu Nashr Abdul Qahhar. Sedangkan di dalam tepat di serambi kanan selatan terdapat pula makam-makam Sultan Maulana Muhammad, Sultan Zainul ‘Abidin, dan kerabat kesultanan lainnya. Di bagian sisi timur masjid terdapat menara setinggi 24 meter dengan diameter pangkalnya 10 meter. Menara ini dulunya selain tempat untuk mengumandangkan adzan juga untuk mengawasi perairan laut. Dibangun masa Sultan Haji tahun 1620 oleh seorang arsitek Belanda bernama Hendrik Lucaszoon Cardeel. Pada waktu itu, Cardeel membelot kepada pihak Kesultanan Banten, kemudian dianugerahi gelar Pangeran Wiraguna. Bagian Selatan Masjid Agung Banten terdapat bangunan yang dinamakan Tiyamah. Bentuknya berupa segi empat panjang dan bertingkat. Bangunaan ini mempunyai langgam arsitektur Belanda kuno dan menurut sejarah hasil rancangan Lucazoon Cardeel. Dahulu bangunan ini dipergunakan sebagai tempat musyawarah dan diskusi keagamaan.
Setiap hari Masjid Agung Banten ramai dikunjungi peziarah yang datang. Tak hanya dari Banten dan Jawa Barat, tapi juga dari berbagai daerah di Indonesia hingga negara tetangga. Selain sebagai obyek wisata ziarah, Masjid Agung Banten juga merupakan obyek wisata pendidikan dan sejarah. Dengan mengunjungi masjid ini, wisatawan dapat menyaksikan peninggalan bersejarah kerajaan Islam di Banten pada abad ke-16 M, serta melihat keunikan arsiteksturnya yang merupakan perpaduan gaya Hindu Jawa, Cina dan Eropa. Peninggalan bersejaran kerajaaan Islam yang ada di Banten meliputi :

1)      Museum Kepurbakalaan Banten Lama,  museum ini dapat memberikan gambaran garis besar kepada Anda tentang sejarah dan kehidupan Kesultanan Islam Banten. Tarif masuknya Rp1000,00 per orang. Ada ruang pajang dengan beragam artefak dari masa Banten Lama, termasuk saluran air terakota prasarana pengaliran dari Tasik Ardi hingga ke Istana Surosowan. Temukan juga meriam Ki Amuk yang berprasasti huruf Arab. Museum ini buka dari Selasa-Minggu.
2)      Situs Istana Keraton Kaibon, merupakan tempat tinggal Ratu Aisyah, ibu dari Sultan Syaifudin. Reruntuhannya masih dapat dinikmati. Di samping istana terdapat kanal dan pepohonan besar, dimana bisa Anda bayangkan keindahan istana ini dengan kanal trasportasi air sebelum dihancurkan Belanda tahun 1832.
3)      Situs Keraton Surosowan, dikenal juga dengna nama Gedung Kedaton Pakuwan yang dibangun Maulanan Hasanuddin, berupa sisa reruntuhan, tumpukan batu bata merah, dan batu karang masih tampak membentuk sebuah bangunan keraton. Reruntuhan keraton ini seluas sekitar 3,5 hektar dan dulunya merupakan tempat tinggal sultan Banten yang dibangun tahun 1552. Tempat ini dihancurkan Belanda pada masa pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa tahun 1680. Sempat diperbaiki namun kemudian dihancurkan kembali tahun 1813 karena sultan terakhir yaitu Sultan Rafiudin, tak mau tunduk kepada Belanda.
4)      Menara Pacinan Tinggi, awalnya ini adalah kawasan Masjid Pacinan Tinggi, namun saat ini hanya tersisa menaranya saja. Diperkirakan berdiri sebelum Masjid Agung Banten dan memiliki konstruksi bata dan karang.
5)      Vihara Avalokitesvara, merupakan salah satu vihara tertua di Indonesia dan keberadaan diyakini sebagai bukti harmonisasi penganut agama yang berbeda saat itu. Bangunan ini merupakan tempat peribadatan umat Budha pada masa awal yang lokasinya tidak jauh dari Benteng Speelwijk. Di dalamnya Anda dapat menikmati suasana sejuk dengan banyak pepohonan rindang juga tempat duduk yang nyaman untuk beristirahat. Di bagian koridor vihara yang menghubungkan bangunan satu dengan yang lainnya terdapat relief cerita Ular Putih yang dilukis warna-warni.
6)      Benteng Speelwijk, terletak tepat di depan vihara Avalokitesvara. Benteng Spellwijk dulunya digunakan sebagai menara pemantau yang berhadapan langsung ke Selat Sunda, sekaligus tempat ini berfungsi sebagai penyimpanan meriam dan alat pertahanan. Dahulu Belanda menggunakan tenaga orang China untuk membangun benteng ini. Berdiri 1585 dengan menara intai kini akibat pendangkalan tepi laut membuat lokasinya seakan terpisah dari pantai. Benteng ini memiliki parit di sekelilingnya. Areal luas di dalam benteng ini menjadi lapangan bola penduduk sekitar. Temukan juga kompleks makam Belanda (kerkhof)  tak jauh  dari kompleks ini. Di sini Anda dapat merasakan suasana benteng sambil naik ke atasnya untuk memandang pesisir pantai dan kapal nelayan. Kedai es kelapa muda menggiurkan ada di sekitarnya sanggup memuaskan dahaga Anda setelah berkeliling di Banten Lama.
7)      Pangindelan Abang, disebut abang (merah) karena kondisi awal yang masih belum jernih dimana kemudian dari sini lalu dialirkan ke arah Pengindelan Putih.  Pangindelan Abang adalah sebuah tempat penyaringan atau dam sesi pertama dimana air dialirkan dari Tasik Ardi menuju Istanan Surosowan.
8)      Tasik Ardi, berupa danau dengan pulau buatan untuk tempat beristirahat keluarga kesultanan saat itu. Ada saluran air bawah tanah berlapis terakota yang menghubungkan telaga ke istana melewati dua area penyaringan yaitu Pengindelan Abang dan Pengindelan Putih.
9)      Pelabuhan Karang Hantu, kadang  juga ditulis karangantu  dimana termasuk rangkaian jalur sutra (The Silk Road) artinya telah disinggahi pedagang dari berbagai negara Asia dan Eropa. Tempat ini dulunya menjadi pelabuhan Sunda terbesar setelah Sunda Kelapa di Jayakarta.

Di sekitar Masjid Agung Banten ini juga terdapat banyak kuliner dan oleh-oleh yang dapat anda jumpai, salah satunya yaitu emping. Emping  adalah salah satu oleh-oleh yang cukup mudah dijumpai di Serang, pilihannya banyak sesuai kualitas. Selain emping dan ceplis, oleh-oleh lain yang bisa Anda beli adalah semprong wijen, kuping gajah, rengginang, dan juga sagon bakar.











Tidak ada komentar:

Posting Komentar